
"A-anu...."
"Apa hmm, tidak mungkinkah kamu amnesia?"
"Aduh aku kebelet, ntar dulu ya aku mau ke kamar mandi." Aretha melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Ghibran dan berlari ke kamar mandi.
Ghibran tersenyum melihat tingkah istrinya itu, dia pun ikutan beranjak dan pergi ke luar untuk memakai kamar mandi di tempat lain.
-
Aretha sudah selesai dengan kegiatan mandinya, tapi dia lupa tidak membawa handuk serta pakaian ganti. Sekarang dia tengah kebingungan di dalam kamar mandi, bingung bagaimana cara keluar dari kamar mandi.
"Aduh gimana nih, gimana kalau Ghibran masih di depan. Lagian lo kok bisa ceroboh banget sih, udah tahu sekarang lo gak tinggal sendiri di kamar Lo." Aretha mondar mandir di dalam kamar mandi.
Tok tok tok.
"Sayang kamu gak papa kan?" tanya Ghibran dari luar.
Ya, Ghibran sudah menyelesaikan mandinya sepuluh menit yang lalu, tapi Aretha belum juga keluar dari kamar.
"Iya bentar." jawab Aretha dari dalam.
"Cepat ya, kita belum sholat subuh tadi."
"Iya."
Ghibran pun beralih menyiapkan peralatan sholat untuk mereka berdua, saat akan mengambil mukena untuk Aretha, pandangan Ghibran tertuju pada tempat handuk.
"Aku tahu." gumam Ghibran sambil tersenyum, entah apa yang ada di pikiran Ghibran kali ini.
Ghibran bukan hanya mengambil mukena, tapi dia juga mengambil handuk serta memilihkan gamis serta pakaian dalam Aretha. Pertama kali memegang benda itu, rasanya seperti gimana gitu, tapi Ghibran mengabaikan rasa itu. Yang ada di pikirannya adalah istrinya yang akan kedinginan karena kelamaan di kamar mandi.
"Sayang." pangil Ghibran.
"Apaan sih sayang sayang." gerutu Aretha dalam kamar mandi saat mendengar panggilan sayang Ghibran.
"Sayangku Aretha...." pangil Ghibran lagi.
"Kamu tidak ketiduran di dalam kan?" tanya Ghibran.
"Iya." jawab Aretha dari dalam.
"Iya apa, kamu tidur? Aku dobrak nih." ancam Ghibran.
"Ehh, jangan jangan."
"Makanya cepat keluar, keburu siang ini."
"Iya bentar."
"Aduh gimana nih." bingung Aretha.
Aretha pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi.
Ceklek.
Pintu kamar mandi hanya terbuka sedikit saja dan hanya kepada Aretha lah yang tampak.
"Ayo cepat." ajak Ghibran.
"Emmm...." Aretha bingung mau ngomongnya gimana sama Ghibran.
"Kenapa, gak bawa baju ganti sama handuk ya?" goda Ghibran.
"Kok-kok kamu tahu?"
"Apa sih yang aku gak tahu soal kamu. Nih udah aku siapin sekalian sama pakaian dalamnya juga." menyerahkan gamis, handuk serta pakaian dalam Aretha.
"Kamu...."
"Udah cepet sana, nanti aja kalau mau debat. Atau kamu mau aku yang pakaiin?" potong Ghibran sambil menggoda Aretha sebelum Aretha berbicara panjang.
"Enggak usah."
Aretha menutup pintu dengan kerasnya karena malu dengan ucapan Ghibran.
"Seru juga godain istri, tau gini aku nikah dari dulu aja." gumam Ghibran dan berlalu mengambil ponselnya sambil menunggu Aretha selesai.
Seperti biasa, Ghibran akan memantau grafik saham miliknya. Ghibran sangat teliti kalau soal urusan saham, karena dia tidak mau rugi. Oleh karena itu meskipun hanya punya cafe dan saham tapi kekayaan Ghibran bisa di bilang banyak. Tapi semua itu juga tak luput dari doa dia di setiap harinya.
-
"Aduh pengantin baru bangunnya kesiangan ya?" goda Abi Umar.
"Iya Abi, tadi kita kebangun udah hampir jam enam." jawab Aretha dengan polosnya.
Aretha mengambil tempat duduk di samping Ghibran dan berhadapan dengan Umi Fatimah, sedangkan Ghibran berhadapan dengan Abi Umar. Meja makannya ini untuk ukuran empat orang, jadi pas untuk mereka berempat.
"Gimana nak semalam?" tanya Abi Umar pada Ghibran sambil menaik turunkan alisnya.
"Biasa aja bi, kita tidur." jawab Ghibran agak berbohong dikit. Pasalnya mereka semalam malah membuat perjanjian yang unfaedah.
"Yah, Abi kira kalian udah itu."
"Abi...." tegur Umi Fatimah.
"Hehehe iya Mi." cengir Abi Umar.
"Ya udah ayo kita mulai makan. Aretha ambilkan makanan untuk suamimu." perintah Umi Fatimah.
"Iya Mi." balas Aretha dan mengambil piring yang ada di hadapan Ghibran.
"Segini cukup?" tanya Aretha setelah mengambil nasi.
"Iya segitu aja." jawab Ghibran.
"Kamu mau lauk apa?"
"Terserah kamu aja, aku gak ada alergi apapun kok." jawab Ghibran.
Mendengar itu pun Aretha segera mengambilkan beberapa macam lauk pauk yang sudah di masak oleh Umi serta di bantu oleh bi Ira.
Seperti biasa mereka makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara, karena itu tidak di perbolehkan.
"Bi, Mi sebelumnya Ghibran mau minta maaf, Ghibran mau izin bawa Aretha pulang ke rumah Ghibran apakah tidak apa apa?" tanya Ghibran setelah selesai makan, mereka sekarang sedang bersantai di ruang televisi sambil menonton infotainment.
"Itu terserah kamu nak, Abi memberikan izin kalau kamu minta izin. Kalaupun kamu tidak meminta izin sama Abi dan Umi pun itu tidak apa apa karena Aretha sekarang sudah bukan tanggung jawab kita, melainkan tanggung jawab kamu." balas Abi Umar.
Aretha hanya diam saja, mau protes pun percuma karena dia juga tau kalau itu memang sudah takdirnya yang harus ikut suami kemanapun dia pergi.
"Abi hanya meminta sama kamu jangan bikin anak Abi menangis ya. Dan kalian kalau ada masalah jangan langsung marah marah tapi bicarakan lah dengan baik baik. Kalian sudah pada besar, jadi jangan gedein ego masing-masing." lanjut Abi Umar.
"Makasih Bi, iya Ghibran akan berusaha membuat Aretha bahagia. Tak akan Ghibran biarkan air mata Aretha turun kecuali air mata kebahagiaan." balas Ghibran.
"Umi...." rengek Aretha berhambur ke pelukan Umi Fatimah.
Aretha terharu mendengar ucapan Abi Umar yang sangat menyayanginya. Tapi dia selama ini malah sering membuat pusing Abi Umar serta Umi Fatimah.
"Ssttt udah jangan nangis, malu sama suami kamu." ucap Umi Fatimah menenangkan Aretha.
"Pasti nanti Aretha bakal kangen sama Umi dan Abi. Umi sama Abi jaga kesehatan ya, jangan sampai kecapekan. Nanti Aretha akan sering sering main ke sini kalau pulang dari toko." ujar Aretha masih dengan memeluk Umi Fatimah.
"Iya nanti kamu harus sering ke sini jengukin Abi sama Umi. Tapi, kamu harus izin dulu sama suami kamu." balas Umi Fatimah sambil mengelus punggung anaknya.
"Aku boleh kan nanti sering sering main ke sini?" tanya Aretha mantap Ghibran penuh harap dan di balas anggukan oleh Ghibran.
"Udah dong jangan melow gini, rencananya kamu mau ajak Aretha pindah kapan?" tanya Abi Umar untuk mencairkan suasana agar tidak melow.
"Secepatnya sih Bi, soalnya kerjaan Ghibran semuanya ada di rumah. Dan dari sini ke cafe juga jaraknya lumayan jauh dari pada di rumah Ghibran." jawab Ghibran.
"Ya udah kalian siap siap aja sekarang biar bisa pindah hari ini."
"Abi ngusir Aretha." melepaskan pelukannya pada Umi Fatimah dan menatap Abi Umar dengan tajam.
...***...