AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 50



"Ini belok mana?" tanya Arthan pada Ruby.


"Itu di sebelah rumah yang pagar warna hitam." jawab Ruby menunjuk letak rumahnya.


Arthan pun mengikuti petunjuk arahan Ruby dan menepikan mobilnya tepat di depan rumah Ruby.


"Ini rumah Lo?" tanya Arthan mengamati rumah kontrakan yang sederhana.


"Bukan rumah gw, lebih tepatnya kontrakan tempat gw tinggal."


"Ooh lo ngontak, pasti lo anak rantau ya. Asal lo dari mana?" tanya Arthan lagi.


"Gw bukan anak rantau, gw asli Jakarta."


"Terus kalau lo orang Jakarta ngapain ngontrak, mending tinggal di rumah aja kan lumayan uangnya bisa di tabung dari pada buat bayar kontrakan."


"Ya kalau gw gak ngontak, gw mau tinggal di mana sama adik gw. Di kolom jembatan gitu." kesal Ruby.


"Maksud lo?"


"Iisss, gw tuh gak punya rumah. Rumah gw di jual buat bayar hutang, dan sekarang gw sama adik gw tinggal di kontrakan." jelas Ruby sedu mengingat kehidupannya.


"Terus orang tua lo di mana?"


Nih si Arthan kepo banget ya orangnya. Pasti kalau campur dengan ibu ibu dia akan ikut Ghibah.


"Mereka udah di surga." jawab Ruby sambil memaksakan senyum di bibirnya.


"Sorry, gw gak bermaksud,"


"Gak kok emang itu kenyataannya."


"Thanks ya udah mau ngasih tumpangan buat gw, dan jangan lupa bayar hutang Lo. Awas kalau lo kabur gw cari lo sampai lubang semut sekalipun." ancam Ruby sebelum keluar dari mobil sport Arthan.


"Lo gak nawarin gw masuk?" tanya Arthan pada Ruby yang sudah di luar mobil.


"Gak udah malam, udah sana lo pergi gw mau masuk istirahat." usir Ruby.


"Huh pelit, nanti kuburannya sempit loh."


"Biarin gw gak peduli. Bye." Ruby pun masuk ke dalam rumah kontrakannya tak menghiraukan Arthan yang masih ada di sana.


"Salah banget sih gw kalau sampai ambil uang dia." gumam Arthan sambil memandang keadaan rumah Ruby sebelum pergi dari sana.


Arthan pun menjalankan mobilnya menuju jalan raya dan pulang ke rumahnya yang entah di mana alamatnya, author pun tak tahu.


-


Ghibran sudah berada di atas ranjang, dia tengah menunggu kedatangan istrinya yang sedari tadi berada di dalam kamar mandi.


"Lama banget sih, gak tahu apa gw udah kangen." gerutu Ghibran sambil mengigit selimut yang dia pakai.


"Lima menit gak keluar juga, gw dobrak tuh pintu." lanjutnya yang sudah kesal karena menunggu.


satu menit, dua menit sampai lima menit tak kunjung juga Aretha keluar dari dalam sana sehingga membuat Ghibran semakin kesal.


Ghibran beranjak bangun dan berjalan ke arah kamar mandi berniat untuk mendobrak pintu kamar mandi.


Ceklek.


Saat akan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu, tiba tiba saja pintu itu terbuka dari dalam.


"Kamu lagi ngapain?" heran Aretha yang melihat Ghibran seperti hendak meninju seseorang.


"Oh enggak, ini aku cuma latihan aja." ngeles Ghibran sambil tangannya meninju angin.


"Ooh." udah itu doang kata yang keluar dari mulut Aretha.


Aretha melewati Ghibran begitu saja, dia berjalan menuju meja rias untuk memakai krim malamnya agar wajahnya tetap terlihat cantik meskipun tanpa polesan make up.


"Iiihhhh." kesal Ghibran menghentakkan kakinya ke lantai.


Ghibran pun berjalan menuju ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut yang tebal dan menghadap ke samping membelakangi Aretha.


"Kenapa nih orang, perasaan AC nya gak dingin dingin banget." batin Aretha bingung.


Bukannya mencari tahu, Aretha malah senang kalau Ghibran tak mau menatapnya seperti itu. Karena dengan begitu maka dia akan selamat dari hukuman yang akan Ghibran berikan.


Aretha mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur, dan setelah itu dia memejamkan matanya untuk menuju alam mimpi, tapi sebelum itu tak lupa dia berdoa agar dalam tidurnya dia tetap dalam lindungan Allah.


"Iihhh.... " kesal Ghibran yang berada dalam selimut.


Ghibran kesal karena Aretha tidak peduli kepada dirinya. Ghibran pun mencoba membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan menengok Aretha.


Seketika mata Ghibran melotot saat melihat istrinya itu yang malah sudah tertidur, terlihat dari nafasnya yang sudah teratur.


"Iih kok malah di tinggal tidur sih, gw kan tadi maunya di bujuk." menghentakkan kakinya di ranjang dengan keras agar Aretha terbangun, tapi hal itu tidak berhasil mengusik tidur Aretha.


"Tauk ahh." kesal Ghibran dengan sendirinya.


Ghibran pun membalikkan tubuhnya menghadap Aretha dan memeluk Aretha dari belakang, dan tak lupa kepalanya berada di ceruk leher Aretha.


"Sayang bangun iih." pangil Ghibran di telinga Aretha dan tak lupa memberikan kecupan di leher Aretha.


Aretha yang merasa ada yang mengusik tidurnya pun perlahan membuka matanya.


"Perasaan gw baru tidur deh kok udah ada yang bangunin, jam berapa sih ini." gumam Aretha yang masih setengah sadar.


"Ayang...."


Cup cup cup.


Pangil Ghibran sambil menciumi leher Aretha.


"Aa... hmptt..."


Mulut Aretha langsung di bungkam oleh bibir Ghibran.


"Jangan berisik, nanti orang kira aku nyakitin kamu." bisik Ghibran di depan wajah Aretha.


Aretha mengerjapkan matanya berkali-kali, mencerna apa yang baru saja Ghibran lakukan kepadanya.


Cup cup.


"Gemes banget sih." mencium pipi Aretha kanan kiri sehingga membuat Aretha tersadar.


"Kamu ngapain?" sentak Aretha kaget.


"Cium kamu lah, mau ngapain lagi." jawab Ghibran santai.


"Minggir." Aretha berusaha untuk kabur dari Aretha, tapi tak semudah itu dia bisa kabur dari Ghibran.


"Mau kemana hmm?" tanya Ghibran dengan senyumnya yang menyeramkan bagi Aretha.


Apalagi di tambah keadaan kamar yang hanya di terangi lampu tidur, membuat wajah Ghibran terlihat semakin menyeramkan bagi Aretha.


Ghibran mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha lagi dan itu membuat jantung Aretha berdetak tak karuan. Bukan hanya punya Aretha, punya Ghibran pun demikian. Bahkan lebih parah dari punya Aretha.


"Ka-kamu mau a-apa?" gugup Aretha menahan tubuh Ghibran agar tidak terlalu dekat dengan dirinya.


Bruk.


"Aku tuh marah sama kamu, tapi kamunya gak peka." Ghibran menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Aretha dan memeluknya dengan erat sambil kepalanya yang berada di ceruk leher Aretha seperti tadi.


"Aku dari tadi nungguin kamu keluar dari kamar mandi, tapi kamu lama banget. Bahkan aku tadi berniat untuk mendobrak pintu kamar mandi, tapi kamu keburu keluar duluan. Akunya mau di bujuk sama kamu sampai sampai aku ngambek kayak tadi, ehh kamunya gak peka malah aku di tinggal tidur." gumam Ghibran di leher Aretha.


Aretha yang mendengar itu pun rasanya ingin tertawa tapi dia tahan. Bagaimana bisa Ghibran yang dia ketahui sangat menyebalkan bisa semanja ini. Tapi Aretha juga merasakan geli di lehernya karena nafas Ghibran yang rasanya sangat menggelitik sampai perutnya.


"Kenapa diam, aku marah loh." ucap lagi karena Aretha tak menanggapinya.


"Oohhh ada yang marah ternyata, coba lihat kalau marah gimana hmm?" balas Aretha mengelus kepala Ghibran, ya walaupun agak kaku karena ini pertama kali dia lakukan kepada lawan jenis.


...***...