
Pagi hari, selesai sholat subuh Aretha langsung pergi ke dapur untuk memasak. Di sana di melihat hanya ada bi Wati yang tengah memasak.
Kemanakah Umi nya? Biasanya Umi Fatimah sudah berada di dapur sedari pagi, tapi ini kenapa belum kelihatan juga? Heran Aretha.
"Assalamualaikum bi." salam Aretha pada bi Wati.
"Waalaikum salam nyonya." balas bi Wati.
"Umi belum ke dapur bi?"
"Belum nyonya, sedari tadi saya di dapur belum melihat keberadaan nyonya Umi." jawab bi Wati.
"Ooh gitu. Biar Aretha aja bi yang masak, bibi lanjutin pekerjaan yang lain aja."
"Gak usah nyonya, lebih baik bibi aja yang masak, nyonya istirahat aja nanti nyonya kecapekan."
"Udah gapapa, lagian Aretha juga bosan kalau gak ngapa-ngapain."
"Ya udah kalau gitu bibi mau cuci baju dulu, nanti nyonya kalau ada keperluan bisa pangil bibi."
"Iya Bi."
Bi Wati pun pergi meninggalkan Aretha untuk mencuci pakaian. Sedangkan Aretha melanjutkan masakan yang tadi sudah di buat oleh bi Wati hingga selesai.
Setelah selesai di memangil bi Wati untuk membantunya menghidangkan makanan yang sudah jadi di meja makan.
"Makasih Bi." ucap Aretha yang sudah di bantu oleh bi Wati dalam menghidangkan makanan.
"Sama sama nyonya." balas bi Wati.
"Kalau begitu saya pamit mau pangil tuan besar sama nyonya Umi dulu." pamit bi Wati.
"Iya Bi, Aretha juga mau pangil suami Aretha dulu." balas Aretha.
Bi Wati pun pergi duluan ke kamar, sedangkan Aretha kembali lagi ke dapur untuk mencuci tangannya agar bersih. Saat dia akan menaiki anak tangga, dia tidak sengaja berpapasan dengan Haikal yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada di samping tangga.
"Loh Haikal?" kaget Aretha yang melihat keberadaan Haikal sepagi ini di rumahnya.
"Assalamualaikum kak, selamat pagi." salam Haikal menyapa Aretha.
"Waalaikum salam, selamat pagi juga. Kamu ke sini sama siapa? Kamu yang sabar ya, pasti nanti kakak kamu bakal cepat kete...."
"Pagi Haikal, gimana semalam tidurnya?" tanya Ghibran pada Haikal.
"Alhamdulillah kak, tidur Haikal nyenyak." jawab Haikal.
"Syukurlah kalau gitu, semoga nanti kamu tetap betah ya tinggal di sini."
"Iya kak, makasih." balas Haikal.
"Kamu udah mandi kan? Kalau sudah kamu tungguin kita semua di meja makan aja ya, nanti kita sarapan sama sama, kak Ghibran sama kak Aretha mau ke kamar dulu." Suruh Ghibran.
"Iya kak, Haikal ke sana dulu." balas Haikal dan segera pergi ke ruang makan.
"Ke kamar yuk." ajak Ghibran dan membawa Aretha naik menuju kamar mereka berdua.
"Yang." pangil Ghibran pada Aretha yang tengah membereskan tempat tidur.
"Kenapa mas?" balas Aretha.
"Boleh gak mas minta sama kamu jangan ceritakan ini sama Haikal. Nanti setelah sarapan kamu boleh cerita, biar perut dia terisi dulu. Takutnya nanti dia malah gak nafsu makan setelah tahu kalau kakaknya ternyata kecelakaan." pinta Ghibran.
"Jadi kalian belum kasih tahu Haikal?"
"Iya kita belum ada yang kasih tau dia. Semalam Adam hanya bilang kalau Ruby tengah kamu tugaskan ke luar kota."
"Untung saja tadi kamu cepat datang mas, kalau tidak mungkin aku sudah keceplosan."
"Makanya itu aku tadi potong pembicaraan kalian."
"Kira kira sekarang bang Arthan sama Ruby lagi di mana ya mas, apakah mereka berdua baik baik saja." Aretha kembali teringat dengan kakak serta sahabat nya yang belum juga di temukan keberadaannya hingga sekarang.
"Hei, ingat kamu gak boleh terlalu memikirkan masalah ini. Biar mas sama Abi yang urus semuanya. Kamu tinggal bantu doa supaya bang Arthan dan Ruby cepat ketemu." memegang kedua pundak Aretha.
"Iya mas." sedu Aretha.
Melihat istrinya yang sedang dalam nuansa gak enak pun Ghibran membawa Aretha ke dalam pelukannya, agar Aretha bisa merasa nyaman.
...***...