
Selesai melaksanakan sholat Maghrib, Ghibran mengajak Aretha masuk ke dalam restoran. Aretha di buat heran dengan keadaan restoran yang sepi, seperti sudah tutup.
"Kok sepi banget, apa sudah tutup?" tanya Aretha heran.
"Yuk masuk." ajak Ghibran tak menghiraukan pertanyaan Aretha.
Aretha mendengus kesal saat tangan Ghibran tanpa permisi menggenggam tangannya.
Sampai di dalam, Aretha semakin bingung. Para pekerja berbaris menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat datang tuan dan nyonya, mari silahkan." ucap salah satu dari mereka dan mempersilahkan Ghibran dan Aretha untuk mengikutinya.
Mereka di persilahkan memasuki ruangan yang sudah di desain khusus untuk mereka berdua.
"Silahkan menikmati tuan, nyonya." ucap nya mempersilahkan Ghibran dan Aretha untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan.
"Kalau ada apa-apa silahkan pangil kami di depan." lanjutnya sebelum pergi dan di angguki Ghibran.
Ghibran menarik tempat duduk buat Aretha.
"Ini kamu yang siapin semuanya?" penasaran Aretha.
"Kalau aku bilang iya, apakah kamu percaya?" balik tanya Ghibran.
"Kamu dapat uang dari mana bisa boking restoran ini. Aku yakin ini harganya tidak murah."
"Selalu ada rezeki kalau itu untuk menyenangkan istri." balas Ghibran sambil tersenyum.
"Kerjaan kamu apa sih?"
"Kerjaan aku mencari uang yang penting halal."
"Tau lah terserah kamu, apa susahnya sih tinggal jawab doang." sebal Aretha.
"Kok cemberut gitu, jelek loh. Besok aku ajak kamu ke tempat kerja aku, sekarang kamu makan dulu."
"Hmm."
Aretha memakan makanan yang ada di depannya dengan kasar, bahkan ketika memotong daging pun Aretha menancapkan pisau dengan kasar. Dan hal itu dapat membuat Ghibran ngeri.
"Sini aku potongin." ucap Ghibran hendak memotongkan daging milik Aretha.
"Gak usah, aku bisa sendiri." judes Aretha.
"Kamu marah?"
"Diam, kalau makan jangan sambil bicara." tegas Aretha tanpa menatap Ghibran membuat Ghibran diam seketika dan melanjutkan acara makannya.
Ghibran melihat ada sisa makanan yang menempel di sudut bibir Aretha, Ghibran pun mengambil tisu berniat ingin menghapusnya tapi keinginan itu segera di tepis saat pergerakannya dapat di baca Aretha.
"Gak usah aku bisa sendiri." mengambil tisu dengan kasar dan menghapus sisa makanan di sudut bibirnya dengan kasar.
"Sepertinya gw salah nih, niat hati ingin romantis romantisan ehh malah jadi begini." batin Ghibran.
"Dah yok pulang." ajak Aretha yang sudah menyelesaikan makannya.
Ghibran mendongakkan kepalanya menatap Aretha.
"Kenapa?" tanya Aretha dengan nada sinis.
"Kamu gak lihat makananku belum habis?" balas Ghibran.
"Lagian dari tadi makan lelet banget kayak siput."
"Makanya suapin biar cepat." goda Ghibran sambil menaik turunkan alisnya.
"Punya tangan kan?" Ghibran menganggukkan kepalanya.
"Ya udah berarti kamu makan sendiri, baru nanti kalau dah gak punya tangan aku suapin."
"Huss kalau ngomong gak boleh yang jelek jelek. Kamu doain tangan aku buntung gitu?"
"Makanya diam aku mau makan dulu, katanya tadi kalau makan gak boleh sambil bicara, nah ini kamu ngajak aku ngobrol terus."
"Ya udah."
Karena sebal Aretha pun mengambil ponselnya yang berada dalam tas dan memainkannya untuk mengalihkan perhatiannya agak tidak tersulut emosi.
"Besok kita berangkat ke Malang ke tempat kakek nenek, tapi sebelum ke sana aku mau ngajak kamu ke suatu tempat dulu." ucap Ghibran tiba tiba, dan hal itu mengejutkan Aretha.
"Hah, pergi ke Malang. Kok kamu gak bilang bilang dulu sih,"
"Ya itu aku udah bilang."
"Iya tapi kamu bilangnya terlalu mendadak."
"Ya mau bagaimana lagi, aku aja baru merencanakan tadi pagi."
"Udah kamu tenang aja, semuanya sudah aku urus. Kita tinggal berangkat aja." lanjut Ghibran.
"Terserah kamu lah."
"Ya udah yuk kita pulang, nanti kita sholat isya di musholla depan dulu biar tidak ke malaman." ajak Ghibran berdiri dari kursinya dan di ikuti Aretha.
Mereka sholat berjamaah di musholla yang ada di dekat restoran. Mereka hanya sholat berdua karena yang lainnya sudah pada bubar selesai sholat.
Selesai sholat mereka pulang, tapi saat di jalanan tiba-tiba Ghibran menepikan mobilnya di pinggir jalan dan berhenti di sana.
"Loh kenapa berhenti, jangan bilang kalau mobil kamu mogok?" tanya Aretha bingung.
"Sini deh." Ghibran melepaskan sabuk pengaman yang Aretha pakai dan menarik tangan Aretha dalam genggamannya.
"Kamu tahu?"
"Enggak." balas Aretha.
"Iisss... aku belum selesai ngomong sayang, dengerin dulu." gemas Ghibran pada istrinya yang cantik jelita ini.
"Ya makanya kalau ngomong jangan di potong potong, nanti bisa buat orang salah faham."
"Jangan ngegas dong, kalem kalem." ucap Ghibran sambil mencolek dagu Aretha.
"Apaan sih, kamu ketempelan jin di resto ya?" Aretha menepuk pipi Ghibran bergantian.
"Iya aku kerasukan jin cinta." balas Ghibran menggenggam tangan Aretha yang berada di pipinya.
"Kamu tahu, aku tadi ngajak kamu makan di restoran sampai aku bela belain boking semua tempatnya agar tidak ada yang menggangu." menarik nafasnya sebentar, "Aku itu mau romantis romantisan sama kamu. Aku mau dinner berdua sama kamu, aku mau ungkapin perasaan aku sama kamu. Tapi kamunya malah kayak tadi, jadi ilang deh romantisnya." ucap Ghibran panjang lebar sambil menatap mata Aretha dalam sampai sampai Aretha seperti terkena hipnotis.
"Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, dan aku juga cinta sama kamu saat pertemuan pertama kita di teras masjid itu." ungkap Ghibran sambil menunjuk masjid yang berada di sebrang jalan.
"Bu-bukannya kita pertama kali ketemu di cafe tempat kamu kerja ya?" heran Aretha sambil terus membalas tatapan Ghibran dan jantungnya yang sudah dangdutan.
"Itu adalah pertemuan kedua kita." balas Ghibran.
Aretha diam memikirkan kapan dia sholat di masjid itu dan bertemu Ghibran, tapi Aretha tak dapat mengingatnya karena memang dirinya sering sholat di masjid itu dan banyak sekali bertemu orang.
"Kamu gak bakal ingat, saat itu hanya aku yang mengetahui keberadaan kamu. Sedangkan kamu tidak tahu aku." ucap Ghibran yang tahu kalau Aretha tengah mencoba mengingat sesuatu.
"Aku sayang sama kamu, boleh gak aku minta kamu untuk belajar membalas perasaanku!" pinta Ghibran selanjutnya.
"Aku tahu itu akan sangat sulit buat kamu, tapi plis beri aku kesempatan untuk membuat kamu nyaman dengan keberadaan ku. Aku gak bisa kalau kamu suruh jauh jauh sama kamu, sedangkan kita satu rumah." mohon Ghibran.
Aretha mencerna apa yang Ghibran ucapkan, hatinya entah kenapa sakit mendengar ucapan Ghibran. Apakah perkataannya tadi pagi sangat melukai hati Ghibran, sampai sampai sekarang Ghibran mau membuat dirinya nyaman berada di dekat Ghibran.
"Maaf tadi pagi aku...."
"Ssttt... kamu tidak perlu meminta maaf, aku ngomong gini bukan karena masalah tadi pagi di dapur, kan tadi kita sudah saling memaafkan. Aku ngomong gini karena aku ingin meyakinkan kamu agar percaya sama aku kalau aku beneran cinta dan sayang sama aku." ucap Ghibran memotong ucapan Aretha.
"Boleh ya, aku dekat dan sering pegang tangan kamu seperti ini."
...***...