AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 35



Ghibran sudah selesai dengan kegiatan mandinya, tapi dia tetap diam di depan pintu kamar mandi memandang istrinya yang tengah bolak balik seperti setrikaan.


Aretha yang tidak mendengar pintu kamar mandi terbuka pun tetap melakukan kegiatannya yang tadi memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa terhindar dari Ghibran malam ini.


"Kamu sedang apa?" tanya Ghibran mengagetkan Aretha.


Bruk.


"Aduh." ringis Aretha karena kakinya terkilir dan terjatuh akibat dia tidak hati hati dalam membalikkan tubuhnya.


"Kamu gak papa?" tanya Ghibran panik dan menghampiri Aretha.


"Sakit tauk kaki aku, ini semua gara gara kamu." balas Aretha menyalakan Ghibran.


"Lah kok aku?"


"Iya, gara gara kamu ngagetin aku, jadi ginikan."


"Iya iya gara gara aku, sini aku bantu kamu bangun." ngalah Ghibran, dari pada debat dengan istrinya mending dia yang ngalah. pikir Ghibran.


"Gak usah aku bisa sendiri." tolak Aretha mentah mentah.


Aretha pun berusaha untuk bangun meskipun agak susah karena kakinya terasa sangat sakit di bagian pergelangan kakinya.


"Aiss...." ringis Aretha saat akan berdiri.


"Aaa...." teriak Aretha karena Ghibran tiba tiba menggangkat tubuhnya ala bridal style menuju ranjang.


"Berisik tau gak, dari tadi teriak teriak mulu." ucap Ghibran datar sambil membaringkan tubuh Aretha di atas ranjang.


" Ya ka...."


"Udah diam di sini, aku cari obat urut dulu buat kaki kamu." potong Ghibran sebelum Aretha makin ngoceh.


"Tapi...." Aretha ingin protes tapi Ghibran sudah berlalu pergi dari sana keluar kamar.


"Hufft...." hela nafas Aretha, " lagian nih kaki gak bisa di ajak kerjasama banget. Masak cuma gitu doang bisa jatuh." lanjut Aretha memarahi kakinya sendiri.


Sementara itu Ghibran pergi ke lantai bawah untuk mencari minyak urut buat kaki Aretha. Dan kebetulan sekali saat dia baru menginjakkan kakinya di lantai dasar dia sudah bertemu dengan bi Ira, pelayan di rumah Aretha.


"Malam Den." sapa bi Ira.


"Malam juga bi, bibi tau gak di mana letak kotak P3K?" balas Ghibran sambil bertanya.


"Tau den, ada di laci dekat dapur, emang mau buat apa den?"


"Itu bi Ghibran mau cari minyak urut buat kaki istri Ghibran." jawab Ghibran menyebut Aretha sebagai istrinya.


"Ooh kalau minyak urut sih kayaknya gak ada di sana den, tapi bibi punya di kamar kalau Aden mau bisa bibi ambilkan." tawar bi Ira.


"Apa gak ngerepotin bibi?" tanya Ghibran, pasalnya kamar pelayan itu ada di paviliun bagian belakang sendiri jadi Ghibran takut nanti akan membuat bi Ira capek.


"Enggak kok den, kalau gitu bibi ambilkan sebentar ya. Adem tunggu di ruang televisi aja." balasan bi Ira ramah.


"Makasih ya Bu."


"Iya den, bibi ke belakang dulu." pamit bi Ira.


Ghibran pun memutuskan untuk pergi ke ruang televisi seperti apa yang di perintahkan oleh bi Ira tadi. Sambil menunggu bi Ira datang, Ghibran menyempatkan diri untuk mengecek keadaan saham saham miliknya, karena sudah dua hari dia tidak melihatnya gara gara sibuk mengurus acara pernikahan tadi.


"Oh, makasih ya bi nanti Ghibran ganti." ujar Ghibran menerima minyak urut.


"Sama sama den, udah gak usah di ganti lagian juga buat non Aretha juga."


"Iya Bi, kalau gitu Ghibran ke atas dulu ya."


"Iya deh, nanti kalau ada apa-apa atau perlu bantuan aden pangil bibi saja di belakang."


"Iya Bi."


Ghibran pun naik menuju kamarnya lagi untuk mengobati kaki istri tercinta, siapa lagi kalau bukan Aretha. Hmm sepertinya malam pertama dirinya kali ini di isi dengan memijat kaki istrinya yang terkilir itu, bukan dengan kegiatan enak enak.


Ceklek.


Ghibran membuka pintu dan melihat Aretha yang masih di posisi yang sama tapi kali ini tangannya sibuk memijat mijat pergelangan kakinya.


"Ehh,,, jangan asal di pijat nanti makin parah." cegah Ghibran menghampiri Aretha.


"Emang kenapa?" tanya Aretha tidak tahu dan menghentikan kegiatannya tadi.


"Kamu gak bisa memijat kan?" tanya Ghibran di balas gelengan kepala oleh Aretha.


"Nah itu, kalau kamu asal pijatnya nanti yang ada terkilirnya makin parah." jelas Ghibran melebih lebihkan.


"Beneran? Terus gimana dong ini, udah terlanjur dari tadi aku pijitin." panik Aretha.


"Udah kamu tenang aja, sini biar aku benerin kakinya." ucap Ghibran sambil berusaha menahan tawanya.


Kenapa Aretha sekarang jadi bego sih, biasanya juga dia akan sadar kalau lagi di kerjain oleh seseorang. Tapi ini entah mengapa dia malah percaya saja sama Ghibran yang ingin memanfaatkan suatu keadaan untuk berdekatan dengan dirinya. Atau mungkin karena Ghibran suaminya ya, jadi Aretha percaya saja.


"Ehh, tapi kan kita...."


"Apa, bukan mahram? Kamu lupa kalau kita tadi pagi udah sah menjadi suami istri?" potong Ghibran yang seketika membuat bibir Aretha menggantup sempurna.


"Tapi kan kita masih punya wudhu?" ucap Aretha lagi meningkatkan Ghibran.


"Air masih banyak, kaki kamu harus di perhatikan dulu biar gak makin parah." balas Ghibran dengan serius sehingga membuat Aretha setuju setuju saja.


Dengan pelan Ghibran duduk di samping Aretha dan mengangkat kedua kaki Aretha dan meletakkannya di pangkuannya. Ghibran mulai mengoleskan minyak urut di salah satu pergelangan kaki Aretha dan mulai mengurut serta memijatnya.


"Auw...." ringis Aretha.


"Maaf sakit ya?" tanya Ghibran lembut dan di balas anggukan oleh Aretha.


Ghibran pun mengurangi tenaganya lagi agar tidak terlalu keras memijatnya karena Aretha kesakitan. Sedangkan Aretha dia sekarang tidak terlalu fokus pada rasa sakit di kakinya, dia malah asik memandangi wajah tampan Ghibran yang tengah serius memijat kakinya. Entah mengapa kalau sedang seperti ini ketampanan Ghibran makin berkali kali lipat lebih tampan dari biasanya, apalagi kalau di lihat dari samping seperti ini. Makin bikin hati Aretha berdebar-debar lah.


Padahal tadi niatnya Ghibran hanya iseng saja mengurut kaki Aretha karena dia kira itu tidak terlalu parah, tapi setelah melihat Aretha yang kesakitan saat kakinya dia pegang yang menandakan kaki Aretha ternyata beneran parah terkilirnya membuat Ghibran jadi lebih serius lagi dalam memijat dan mengurut kaki Aretha.


"Kamu kok bisa mijat sih?" tanya Aretha mencairkan suasana, setelah dia sadar sudah terlalu lama memandangi wajah tampan Ghibran.


"Kan aku tinggal di panti mulai dari kecil. Jadi dulu aku dan teman teman sering gantian memijat kalau di antara kita ada yang pegal atau terluka seperti kamu. Jadi ya kebiasaan deh sampai sekarang bisa memijatnya." jawab Ghibran sambil menoleh kearah Aretha sebentar.


"Ooh gitu, kenapa gak jadi tukang pijat atau tukang urut aja, kan lumayan nanti penghasilannya, dari pada kamu kerja di cafe milik orang kan?"


JEDER.


...***...