
"WHAT!!!" kaget Ruby dari sebrang telefon.
"Astaghfirullah, untung gendang telingaku gak jebol.' sambil menutup telinganya.
"Hehehe sorry sorry, habisnya lo asal ngomong sih.' cengir Ruby.
'Siapa juga yang asal ngomong, orang gw ngomong serius kok.' balas Aretha.
'Seriusan lo tiga hari lagi nikah?' tak percaya Ruby.
'Hmm.' balas Aretha.
'Kok mendadak banget sih?'
'Mana gw tau, itu semua sudah di rencanakan oleh Abi keknya.' balas Aretha.
'Tapi gak papa sih mendadak asal nikahnya sama mas Ghibran.' goda Ruby.
'Apaan sih lo, apa gw kabur aja kali ya.'
'Sembarangan lo kalau ngomong, lo mau bikin Abi sama Umi malu.' tak setuju Ruby dengan ide Aretha.
'Terus gw harus gimana, tiga hari lagi loh. Itu bukan waktu yang lama.'
'Ya mau bagaimana lagi lo ya harus nikah lah, lagian juga calon suami lo tuh ganteng.'
'Ganteng doang mah gak cukup.'
'Udah pokoknya lo harus tetep nikah sama Ghibran, lo tenang aja gw akan selalu ada di samping lo kok nanti.'
'Tauk ahh cape gw.' kesel Aretha.
Tut.
"Lah kok mati." cengoh Ruby di dalam kamarnya.
"Ya udah lah besok aja gw dateng ke rumahnya kalau dia gak masuk ke toko, udah malam juga." monolog Ruby.
Sementara itu di kamar Aretha dia tengah kesal, bukannya tenang dan mendapatkan solusi, dia malah semakin kesal setelah menelfon Ruby sahabat satu satunya itu.
"Awas aja besok gw gak mau pergi ke toko, biar dia tau rasa gak ada yang bantuin kalau banyak pesanan." licik Aretha.
Setelah itu Aretha memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan dia akan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.
-
Keesokan harinya Ghibran sudah berada di sebuah toko perhiasan, dia hendak membelikan cincin sebagai maskawin nanti.
Jangan tanya dari mana Ghibran tahu ukuran jari Aretha, yang pasti Umi Fatimah lah yang memberitahukannya.
"Untung aja ada Umi yang bisa di andalkan." syukur Ghibran.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya salah satu penjual di toko perhiasan.
"Ah Iya, itu saya mau beli cincin." kaget Ghibran karena dia tadi tidak terlalu fokus dengan keadaan sekitar sampai sampai dia tidak menyadari kalau sudah berdiri di depan etalase toko perhiasan.
"Mau perhiasan seperti apa tuan, cincin, gelang, kalung atau yang lainnya?" tanya penjual perhiasan.
"Eeemmm saya mau beli cincin aja." Jawab Ghibran.
"Mari silahkan ke sana tuan, untuk cincin berada di sebelah sana." tunjuk penjual itu pada etalase yang di dalamnya terdapat beberapa macam cincin.
"Mau yang mana tuan?" tanya penjual perhiasan tadi yang mengikuti Ghibran.
"Eemmm yang warna silver apakah tidak ada?" tanya Ghibran.
"Ada tapi itu harus pesan dulu tuan, tidak ada yang sudah jadi." jawab penjual itu.
"Ya udah gak papa saya pesan aja, tapi dua hari lagi sama ambil."
"Mohon maaf tuan, minimal pengambilan pesanan itu satu Minggu, jadi kalau untuk dua hari itu tidak bisa."
"Tidak bisa ya?" tanya Ghibran di angguki penjual itu.
"Bagaimana kalau saya bayar lebih." tawar Ghibran lagi.
"Tetap tidak bisa tuan." balas penjual perhiasan itu sambil pandangannya meneliti penampilan Ghibran dari atas sampai bawah seolah meremehkan Ghibran.
Bagaimana tidak, lihatlah penampilan Ghibran sekarang. Dia hanya memakai celana kain yang panjangnya sampai menutup mata kaki dan sendal slop sebagai alas kakinya. Dan bagian atas yang terdiri dari kaos oblong dengan di lapisi kandigan rajut yang tidak dia kancing kan. Udah gitu rambutnya acak-acakan serta masker putih yang dia gunakan untuk menutupi mulutnya.
Kalau menurut orang sih penampilan Ghibran biasa saja, tapi kalau orang yang melihat Ghibran meneliti lagi dengan cermat pasti orang itu akan terkagum-kagum dengan penampilan Ghibran. Bagaimana tidak, kandigan yang di pakai oleh Ghibran itu harganya berjuta juta dengan merek yang ternama, serta sendalnya juga itu harganya bukan main. Tapi sayang, mereka hanya melihat penampilan Ghibran sekilas saja jadi tidak ada yang spesial menurut mereka.
"Pangil manajer kalian aja deh ke sini." pinta Ghibran.
"Maaf mau ada perlu apa yang tuan, soalnya manajer kami sedang sibuk." tanya yang penjual yang satunya lagi, dia menghampiri temannya saat di rasa ada perdebatan di situ.
"Ya aku mau bilang aja."
"Bilang apa ya tuan?" kepo mereka berdua.
"Ada apa ini?" Belum juga Ghibran menjawab, sudah ada seorang pria yang berpakaian formal datang menghampiri mereka.
Penjual itu pun menggangukkan kepalanya, pertanda hormat kepada orang itu.
"Ini bos, orang ini mau menemui anda, tapi tadi saya bilang kalau anda sedang sibuk." jawab salah satu di antara mereka berdua.
"Benarkah begitu?" tanyanya dan di angguki oleh kedua penjual itu.
"Maaf tuan, ada perlu apa ya anda mencari saya?" tanya orang itu ramah.
"Begini, saya berniat ingin membeli cincin tapi yang silver, kata mereka itu harus pesan dulu. Dan saya berniat pesan tapi saya ambil dua hari lagi dan kata mereka itu tidak bisa, benarkah begitu?" jelas Ghibran.
"Benar tuan, pembuatan perhiasan di tempat kami minimal waktunya satu Minggu, jadi kalau untuk dua hari itu tidak bisa." balas orang itu.
" Kalau saya bayar lebih apakah bisa, soalnya saya sangat butuh buat acara akad pernikahan saya dua hari lagi."
"Kalau soal itu mari kita bicara di dalam saja, mari ikut saya." ajak orang itu yang sepertinya orang penting di toko perhiasan itu.
Ghibran pun mengikuti langkah orang itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang sepertinya untuk tamu khusus.
Dua penjual tadi pun merasa malu sama Ghibran, karena tadi sempat meremehkan Ghibran. Mereka banyak banyak berdoa, semoga saja mereka tidak di pecat sehabis ini.
Sampai di dalam Ghibran bernegosiasi dan mengatakan model cincin seperti apa yang dia inginkan kepada orang itu yang tak lain adalah manajer toko itu, tak lupa pula Ghibran menyebutkan ukuran cincinnya. Hingga akhirnya bisa jadi dua hari lagi, tapi Ghibran harus membayarnya dua kali lihat dari harga cincin itu. Bagi Ghibran mah itu bukan hal yang sulit asal dia bisa mendapatkan cincin itu.
Jika kalian bertanya kenapa harus cincin yang silver, hal itu di karenakan Ghibran ingin juga mengenakan cincin yang sama dengan Aretha. Sedangkan laki laki tidak boleh memakai emas jadi pilihannya adalah cincin yang silver.
Setelah beres, Ghibran pamit pergi. Saat melewati kedua pekerja itu Ghibran malah menundukkan kepalanya sebagai sapaan, hal itu malah membuat kedua penjual itu semakin merasa bersalah dan malu.
...***...