AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 77



"Ghi-ghibran." jawab Nafisah lirih.


Wahyu terdiam dia bingung harus berekspresi seperti apa. Pantas saja Nafisah sampai belum move on dari mantannya, orang mantannya aja Ghibran. Udah ganteng, kaya, keren dan juga ilmu agamanya bagus, bagaimana dia tidak insecure coba.


"Dan apa anda tahu tuan, kenapa kemaren sampai dia bohong soal kepergiannya dengan Ghibran waktu di Malang. Itu karena dia ingin membuat rumah tangga Ghibran dan Aretha hancur. Dan setelah itu dia akan mengambil Ghibran dari Aretha. Dan pastinya anda tahu dong kalau sudah begitu apa yang akan terjadi? Anda akan di buang begitu saja seperti sampah." ucap Arthan sambil tertawa licik.


"Anda itu ganteng tuan, saya aja mau sama anda. Apalagi anda juga kaya. Bahkan saking kayanya anda sampai tidak sadar kalau harta anda perlahan mulai berkurang karena di ambil oleh nona cantik." timpal Ruby.


"Ruby kamu ngomong apa ya, gak usah ngada ngada kamu hanya punya aku." hak paten Arthan.


"Apaan sih posesif banget."


Wahyu terdiam, dia baru sadar sekarang ternyata memang benar selama ini dirinya hanya di manfaatkan oleh istrinya dan juga keluarga istrinya. Beruntungnya tadi dia belum sempat mengatakan kepada Nafisah kalau dia akan mengubah semua hartanya atas nama Nafisah.


Dan sekarang setelah mengetahui ini semua, jangan harap Wahyu akan melakukan hal itu. Itu semua hanya akan jadi angan angan Wahyu belaka.


"Oke nona cantik dan tuan Wahyu, berhubung masalahnya sudah jelas maka saya dan rekan kerja saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Karena tindakan nona cantik ini sudah membahayakan nyawa orang sekaligus merugikan tempat ini." ucap Ruby.


"Enggak aku gak mau di penjara." bantah Nafisah.


"Mas tolong aku mas, aku gak mau di penjara mas." mohon Nafisah agar Wahyu mau membantunya.


"Maaf aku tidak bisa membantu kamu, mungkin dengan ini kamu bisa belajar akan banyak hal. Dan dengan berat hati aku akan melepaskan kamu." ucap Wahyu kelu.


"Maksud kamu apa mas, kamu gak akan ninggalin aku kan?"


"Maaf kan aku mungkin ini yang terbaik buat kita, kamu juga tidak bisa terus terusan hidup dengan orang yang tidak kamu cintai. Maka detik ini hari ini juga dan mereka yang jadi saksinya aku talak kamu."


Jreng jreng....


"Wah seru nih." ucap Ruby menikmati drama kehidupan yang ada di depannya.


"Enggak mas aku gak mau pisah sama kamu." tangis Nafisah pecah.


"Maaf tapi keputusan aku udah bulat, mungkin ini memang yang terbaik buat kita."


"Dan untuk tuan Arthan, aku serahkan semuanya kepada anda. Terimakasih karena sudah menyadarkan saya dari wanita seperti dia. Dan untuk kerugian yang di alami oleh toko ini saya akan menggantinya." lanjut Wahyu.


"Saya permisi dulu, Assalamualaikum." pamit Wahyu.


"Waalaikum salam." balas mereka.


"Enggak mas kamu jangan tinggalin aku sendiri di sini, aku gak mau mas. Mas plis aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri di sini." mohon Nafisah sebelum Wahyu beneran keluar dari ruangan kerja Aretha.


"Maaf aku tidak bisa, dan kamu bisa menunggu beberapa hari untuk menandatangani surat perceraian kita nanti." setelah mengucapkan itu Wahyu beneran keluar meninggalkan Nafisah di kandang macam.


"Mas Wahyu, jangan tinggalkan aku mas. Aku gak mau pisah sama kamu." teriak Nafisah memangil nama Wahyu tapi tak di hiraukan oleh Wahyu.


"Ssttt jangan berisik ini udah malam." ucap Ruby menghampiri Nafisah sambil di tangannya memegang dua buah roti yang mengandung obat pencahar.


"Tenang nona cantik, saya tidak akan ngapa ngapain anda kok."


"Pasti nona belum makan ya, sini aku suapin biar kenyang." lanjut Ruby memotong satu kue menjadi dua bagian.


Dengan paksa Ruby memasukkan roti itu ke dalam mulut Nafisah dengan jumlah besar.


"Uhuk uhuk." Nafisah memberontak tak mau menelan roti itu hingga membuat dia tersedak.


"Telan. Aku bilang telan." bentak Ruby dengan mata melotot.


Nafisah pun dengan terpaksa menelan kue itu dan di tambah lagi oleh Ruby sampai dua buah kue itu habis tak tersisa sedikit pun. Bahkan yang berceceran di lantai pun Ruby ambil dan memasukkannya ke dalam mulut Nafisah.


Meskipun jijik Nafisah tetap menelannya karena terpaksa. Ruby akan terus mengisi mulutnya dengan roti itu sampai dia benar benar menelannya.


Sedangkan Arthan dia hanya duduk dengan tenang menikmati keindahan yang ada di depannya. Tak lupa dia menyuruh anak buahnya untuk merekam semua itu untuk dia tunjukkan kepada Aretha dan Ghibran besok.


"Dah selesai, pinternya nona cantik kalau makan. Pasti enak banget ya kue nya. Emang sih kue buatan ku itu gak pernah gagal." ucap Ruby songong sambil mengelap tangannya mengunakan tisu basah. Tak lupa dia juga memakai hand sanitizer, agar kuman yang ada di tangannya bisa hilang.


"Aduh perut aku mules." adu Nafisah yang mulai merasakan mules di perutnya.


"Toilet aku mau ke toilet." teriak Nafisah.


Ruby dan Arthan hanya memperhatikannya saja tidak memperdulikan Nafisah yang mulai kesakitan.


"Duuttt...." Nafisah membuang angin yang begitu bau dan menuhi ruangan kerja Aretha.


"Huek huek, dasar jorok Lo. Buang angin gak tahu tempat." umpat Ruby dan keluar dari sana karena tidak kuat dengan baunya.


"Kalian bawa dia ke kamar mandi, kurung dia sampai pagi. Tapi jangan di kamar mandi yang ada di sini, taruh saja di di kamar mandi yang ada di belakang dekat gudang. Dan bereskan semua ini hingga bersih tak meninggalkan jejak apapun termasuk bau yang tidak sedap ini." perintah Arthan pada anak buahnya sebelum dia pergi menyusul Ruby.


Arthan pergi tak lupa dia membawa laptop serta ponselnya yang terdapat bukti bukti kejahatan Nafisah.


Sedangkan Nafisah hanya pasrah saja di bawa ke kamar mandi dekat gudang karena dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin buag air besarnya.


Sampai di kamar mandi Nafisah begitu saja di kunci dari luar. Bahkan tali yang mengikat tangan Nafisah pun tak di lepaskan, sehingga membuat Nafisah kebingungan saat ingin membuang air besar dan kencing.


"Aahh si*l*n." umpat Nafisah.


Karena sudah tidak tahan, akhirnya Nafisah ngompol dan bab dengan keadaan masih mengenakan pakaian serta ****** ********.


Kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana menjijikkannya hal itu.


Nafisah terus terusan bab dengan bau yang tidak sedap, sampai dirinya sendiri saja rasanya tidak kuat mencium dirinya sendiri. Mau cebok pun kesusahan karena tangannya masih di ikat, jangankan cebok, cuci tangan aja susah.


Nafisah sudah pasrah dengan ini semua, mungkin ini balasan atas perbuatan dia selama ini.


...***...