
"Bagaimana para saksi, Sah?"Tanya pak penghulu setelah Arthan mengucapkan ijab qobul.
"SAH." balas semua orang yang menjadi saksi akad nikah Arthan dan juga Ruby.
"Alhamdulillah...." di lanjut dengan doa.
Setelah itu Arthan di bawa menuju kamar Ruby untuk bertemu dengan Ruby.
"Aduh Ret, sumpah gw gugup banget." ucap Ruby yang nervous.
"Tarik nafas terus keluarkan, lanjutin sampai lo merasa tenang." suruh Aretha dan di laksanakan oleh Ruby.
"Lo mah enak kalian berdua sudah saling mencintai, lah gw dulu nikah secara paksaan." ucap Aretha.
"Tapi sekarang lo bahagia kan?"
"Ya iya sih, tapi kan dulu rasanya kek gimana gitu nikah sama orang yang baru beberapa hari kita kenal."
Tok tok tok.
Saat mereka asik berbincang, tiba tiba pintu kamar di ketuk.
"Kayaknya itu rombongan mereka deh." ucap Aretha dan langsung beranjak untuk membukakan pintu kamar.
Dan Ruby pun bersiap di depan pintu kamar.
Ceklek.
"Assalamualaikum." salam Arthan di temani Abi Umar dan Kiyai Mahfudz serta bapak penghulu.
"Waalaikum salam." balas Aretha dan juga Ruby.
Arthan di tuntun Kiyai Mahfudz untuk mendekati Ruby dan melafalkan doa dan di lanjut dengan mengusap kepala Ruby. Baru setelah itu Ruby mencium punggung tangan Arthan yang sudah sah menjadi suaminya.
"Aamiin." balas mereka berdua.
Setelah itu mereka di bawa ke tempat akad nikah tadi untuk menandatangani surat surat penting.
Setelah selesai di lanjutkan acara makan bersama keluarga, dan setelah itu acara pun selesai.
-
Sementara di tempat lain, Ghibran saat ini dia tengah menemui salah satu klein yang akan mengajak dia untuk kerja sama.
"Assalamualaikum, selamat siang tuan." sapa Ghibran pada kliennya.
"Waalaikum salam, siang juga tuan Ghibran." balas klien Ghibran.
"Perkenalkan nama saya Wibowo, saya di sini berniat untuk mengajar tuan kerjasama." ucap klien Ghibran yang ternyata bernama pak Wibowo.
"Salam kenal taun Wibowo, dan dengan senang hati saya akan menerima tawaran bapak kalau itu bisa menguntungkan kedua belah pihak." balas Ghibran.
"Saya yakin ini sangat menguntungkan tuan, mengingat sekarang lagi maraknya dunia perkpop-an, jadi saya berniat untuk mengajak anda untuk membangun sebuah cafe di negara Korea sana tuan." jelas pak Wibowo mengutarakan maksud kedatangannya.
"Kebetulan sekali tuan, saya memang berniat untuk membangun cafe di sana. Dan saya juga berencana akan mencari dukungan orang, ehh ternyata tuan sudah menemui saya terlebih dahulu. Mungkin saya bisa menerimanya nanti." balasan Ghibran ramah.
Mereka membicarakan keuntungan apa saja yang akan mereka berdua raih jika kerja sama ini berjalan dengan lancar. Ghibran sangat antusias menyambut kerjasama ini, mengingat sekarang banyak orang Indonesia yang berbondong-bondong pergi ke Korea.
Nanti Ghibran di sana akan membangun sebuah cabang cafe miliknya, yang pastinya makanannya halal semua dan non alkohol.
Dan tak lupa nanti Ghibran akan semakin menambah cita rasa dengan ciri khas Indonesia, supaya cafenya nanti memiliki ciri khas tersendiri di sana.
Setelah menandatangani surat kontrak kerjasama, pak Wibowo pun pamit undur diri. Dan Ghibran pun memutuskan untuk pulang setelah dia berpamitan pada Adam. Karena sekarang di rumahnya sedang ada kegiatan pernikahan kakak iparnya.
...***...