AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 70



Aretha menunggu dengan sabar kedatangan Ghibran hingga sampai jam setengah sepuluh Ghibran belum juga kembali ke dalam kamar. Hal itu membuat Aretha kesal sendiri.


Mau menghampiri Ghibran tapi dia takut nanti ada orang dan melihat dirinya tengah memakai pakaian seperti ini. Setelah berfikir cukup lama, Aretha pun menemukan ide yang menurutnya sangat lah brilian.


Aretha mengambil ponselnya dan segera mencari nomor suaminya.


'Assalamualaikum sayang, ada apa kamu telfon aku?' tanya Ghibran dari dalam ruangan kerjanya yang membuat Aretha kesal sendiri.


'Aduh, kaki aku sakit cepat tolong aku.' bukannya menjawab salam Ghibran, Aretha malah membuat Ghibran panik.


'Sayang kamu kenapa? Kamu tunggu aku sebentar ya aku akan kembali ke kamar.'


Tut.


Ghibran menantikan sambungan telepon dan segera berlari menuju kamarnya untuk melihat keadaan Aretha.


Sedangkan di posisi Aretha, dia langsung bersiap siap setelah Ghibran mematikan sambungan telepon.


Pintu kamar di buka dengan kerasnya oleh Ghibran dan yang Ghibran lihat adalah keadaan kamar yang gelap gulita.


"Sayang kamu dimana?" pangil Ghibran.


Ghibran mencari saklar lampu untuk menghidupkan lampu yang padam kembali dan....


Ceklek.


Mata Ghibran melotot kaget sekaligus tergoda melihat pemandangan di depannya. Istri cantiknya sekarang tengah berdiri di samping ranjang menghadap ke arah nya dengan pakaian haram yang dia pakai.


"Ka-kamu...." gagap Ghibran.


Aretha berjalan menghampiri Ghibran dan berusaha menggoda Ghibran.


"Sayang...." pangil Aretha di telinga Ghibran hingga membuat darah Ghibran mendidih.


" Kamu mau menggoda aku hmm?" balas Ghibran dengan suara seraknya.


"Menurut kamu, huufff...." dengan sengaja Aretha meniup leher Ghibran.


"Kamu yang mulai, jangan salahkan aku kalau aku gak bisa menahannya lagi." ucap Ghibran dan segera mengendong tubuh Aretha menuju ranjang.


Ghibran menghempaskan tubuh Aretha ke atas ranjang dan mengungkungnya di bawah tubuhnya. Ghibran menatap wajah Aretha penuh nafsu, ingin sekali Ghibran langsung memakan Aretha. Tapi mereka belum sholat dua rakaat, jadi Ghibran menahannya lagi.


"Kamu yakin?" tanya Ghibran dan di angguki oleh Aretha.


"Ya udah kita sholat dua rakaat dulu sebelum melakukannya." ajak Ghibran berdiri dari atas tubuh Aretha dan di ikuti Aretha.


Mereka berdua mengambil wudhu dan segera melakukan sholat dua rakaat, setelah itu mereka pun melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan di malam pertama waktu itu.


Ghibran seperti orang kesetanan hingga membuat Aretha kualahan. Ghibran menggempur Aretha sampai pukul dua dini hari, dan itu membuat tubuh Aretha rasanya sangat remuk semua.


Setelah melakukan itu Ghibran dengan telaten Ghibran memandikan Aretha yang sudah lemas tubuhnya dan memakaikan baju tidur untuk Aretha. Setelah membersihkan tubuh Aretha giliran Ghibran yang membersihkan tubuhnya sendiri.


Setelah selesai Ghibran juga mengganti seprai dan selimut untuk mereka tidur. Karena yang tadi ada bekas darah dan air m*n* selesai mereka bercinta tadi.


Jika kalian bertanya di manakah Ghibran meletakkan Aretha, maka jawabannya adalah di sofa. Ghibran membaringkan tubuh Aretha di sofa selama dia membereskan ranjang dan membersihkan tubuhnya.


Keadaan Aretha sekarang sangatlah memprihatinkan. Jalan yang kesusahan dan juga kantung mata yang seperti panda.


Setelah di rasa beres, Ghibran mengendong Aretha ala bridal style dan membawanya kembali ke atas ranjang. Dan setelah itu dia menyusul Aretha pergi ke alam mimpi.


"Selamat malam sayang, maaf ya tadi sudah membuat kamu kesakitan. Dan terimakasih atas semua yang telah kamu berikan kepada ku." ucap Ghibran pada Aretha yang sudah memejamkan matanya.


Cup.


Ghibran mengecup kening Aretha sebelum memejamkan matanya.


Ghibran memeluk Ghibran dengan erat dalam pelukannya, dan Aretha pun membalas pelukan Ghibran tak kalah erat.


-


Pagi hari jam sudah menunjukkan pukul tujuh nol nol tapi sepasang suami istri itu belum juga menunjukkan kesadarannya.


"Assalamualaikum, Ghibran Aretha gw datang nih." teriak seseorang dari depan rumah Aretha dan Ghibran.


"Ghibran sama Aretha nay ada bik?" tanya Arthan sambil nyolong masuk begitu saja sebelum di persilahkan masuk.


"Ada tuan, tapi sepertinya mereka berdua belum bangun." jawab bi Wati mengikuti langkah Arthan yang sudah duduk anteng di sofa ruang tamu.


"Ooh gitu, ya udah biarin aja biar aku tunggu mereka di sini." Balas Arthan.


"Tuan mau minum apa biar bibi buatkan?"tanya bi Wati.


"Terserah bibi aja, yang penting jangan yang dingin dingin." jawab Arthan.


Bi Wati pun pergi meninggalkan Arthan sendiri di ruang tamu menuju dapur untuk membuatkan minuman serta menggambil kan camilan untuk Arthan.


"Dasar pengantin baru, jam segini aja belum bangun." monolog Arthan.


Arthan pun menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel hingga tak sengaja Arthan melihat nomor telepon atas nama Ruby.


"Oh iya gw lupa, gw kan belum transfer uang ke dia." gumam Arthan.


Arthan pun segera mengirimkan pesan yang berisi meminta nomor rekening Ruby dan Ruby membalasnya dengan menyebutkan berapa nomor rekeningnya.


Setelah mendapatkan nomor rekening Ruby, Arthan segera mentransfer uang senilai seratus juta ke rekening Ruby tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


Dasar orang kaya.


Sementara di kamar Aretha dan Ghibran. Mata Aretha mulai terganggu oleh sinar matahari yang lewat dari celah celah gorden yang menutupi jendela kamarnya.


"Eemmhh...." lengkuh Aretha mengerakkan tubuhnya, tapi itu terasa berat.


Aretha pun dengan perlahan membuka matanya dan melihat benda apa yang menimpa dirinya. Dan betapa kagetnya dia saat mendapati tangan besar seseorang yang tengah melingkar di atas perutnya.


Aretha menoleh ke samping dan mendapati wajah tampan Ghibran yang tengah tertidur dengan damai.


"Hufft, aku kira tadi siapa." lega Aretha, Aretha kira tadi orang jahat yang memeluknya ehh taunya malah suaminya sendiri.


"Jam berapa sih ini." gumam Aretha melihat ke arah jam dinding yang terpasang di kamar mereka.


"Hah, jam tujuh lebih." kaget Aretha.


Bagaimana dia bisa sampai kesiangan seperti ini. Tidak seperti biasanya dia bangun sesiang ini. Biasanya juga dia bangun siang kalau dia lagi halangan dan gak ada jam kampus. Tapi ini....


"Mas bangun yuk, udah siang." ucap Aretha membangunkan Ghibran.


"Eemmhh apaan sih yang, aku masih ngantuk." jawab Ghibran sambil matanya tetap tertutup rapat.


"Ayo loh bangun, ini udah siang." menguncang tubuh Ghibran agar terbangun.


"Bentar lima menit lagi." balas Ghibran dan malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Aretha.


"Gak ada lima menit lima menitan, ini udah jam tujuh lebih." garang Aretha.


Dengan malas Ghibran melepaskan pelukannya dan mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat.


"Apaan sih yang ganggu orang tidur aja, aku masih ngantuk." ucap Ghibran setengah sadar.


"Lihat tuh jam berapa, ini udah siang."


Ghibran pun melihat jam di dinding yang sudah pukul tujuh lebih lima belas menit.


"Ya terus kenapa kalau udah siang?"


"Ya harus bangun dong mas Ghibran ku sayang." gemas Aretha.


"Ya udah kamu aja yang bangun duluan toh nanti kamar mandinya juga gantian." suruh Ghibran dan akan memejamkan matanya kembali tapi segera di tahan oleh Aretha.


"Eehh kamu mau ngapain tidur lagi, cepat bangun dan bantuin aku ke kamar mandi." ucap Aretha membuat mata Ghibran terbuka lebih.


"Ya udah kita mandi berdua saja."


...***...