
Setelah beberapa saat rio datang kembali membawa paper bag di tangannya, dan menyerahkan nya pada dalfa, dalfa pun menerima nya dan mengganti pakaiannya dengan yang baru.
"Tuan meeting akan segera di mulai, ayo kita berangkat sekarang"
dalfa pun mengiyakan dan mulai berpamitan kepada tuan roman, " Tuan Roman, saya harus pergi sekarang"
"terimakasih tuan Wijaya, maaf aku sudah menyita banyak waktu mu" tuan roman merasa tidak enak hati pada dalfa.
"Tak masalah, semoga kau cepat sembuh tuan" lalu dalfa pun pergi meninggalkan tuan roman dan gio di sana.
saat sebelum dalfa keluar tiba-tiba saja kayla terbangun, "Tuan" Kayla menghampiri dalfa.
"Maaf saya ketiduran" kayla pun menundukkan wajahnya.
"Beristirahatlah tebih dahulu, dan selesaikan urusan mu dengan tuan roman"
"tapi tuan" Kayla merasa sangat ragu-ragu.
"aku tidak akan memotong gajihmu, kau tenang saja."
Kini kayla menatap dalfa pergi, meninggalkan tempat itu bersama dengan Rio.
"Kay, kemarilah" tuan roman memanggil keponakannya.
dengan langkah berat, Kayla menghampiri paman nya, kayla masih merasa kecewa dengan keluarga tuan Roman, namun kayla tau itu bukanlah salahnya.
"Paman" kayla langsung memeluk pamannya, paman yang sejak dulu selalu menyayangi nya dan selalu ada di saat ke dua orang tuanya pergi karena urusan bisnis.
"Maafkan paman kay, paman tidak mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, lebih awal" tuan roman merasa bersalah kepada keponakan nya.
"Sudahlah paman, biarlah semua berlalu kita mulai semua nya dari awal"
...----------------...
di mansion utama dalfi sedang uring-uringan sendiri karena penolakan Daddy-nya tempo lalu, dalfi masih merasa kesal pada Daddy nya yang menolak permintaannya dengan satu alasan menikah setelah kakaknya menikah.
dan kini dalfi semakin merasa kesal, karena ia tidak bisa membujuk mommy nya yang selalu berada di pihaknya, karena Daddy nya membawa mommy tersayang nya berbulan madu ke bali.
"Kenapa orang tua itu tidak mau mengalah kepada anaknya, dia saja yang terus merasakan berbulan madu bersama mommy ku, sedangkan aku" dalfi terus mengomel tak jelas.
"Hay kak, kau itu kenapa? aku perhatikan kau mengomel dan marah-marah saja dari tadi" Diandra muncul tiba-tiba dengan membawa banyak camilan di tangannya.
"jangan terlalu memperhatikan ku, nanti jatuh cinta" canda dalfi.
"Aku memang sudah jatuh cinta pada mu kak" Diandra berbicara dengan raut wajah yang serius.
dalfi terdiam mendengar perkataan Diandra "A.. apa katamu tadi?" dalfi dengan gugup melihat ke arah diandra.
"Aku sudah jatuh cinta pada mu kak" diandra mengulang kembali perkataannya, terlihat sebuah ketulusan di matanya.
dalfi terdiam dan tak tahu harus berbuat apa, karena selama ini karena dalfi hanya menganggap diandra sebagai adiknya.
melihat ekspresi wajah dalfi, Diandra pun tertawa terbahak-bahak, " lihatlah wajahmu lucu sekali' Diandra menunjuk ke arah dalfi sambil terus tertawa dan memegangi perutnya karena terus menertawai dalfi.
"Hey ternyata kau menipu ku, rasakan ini" dalfi menggelitik perut diandra.
dan diandra pun tertawa, ia merasa sangat geli karena ulah dalfi, detik berikutnya karena kurang keseimbangan tubuh dalfi pun terjatuh dan menindih tubuh mungil dianda.
Diandra merasa jantungnya sangat tidak beraturan terlebih lagi jarak di antara mereka sangat dekat.