After Wedding

After Wedding
masa lalu



Sudah 4 hari Dava menginap bersama kami, selama itu pula Dava seperti menghindariku. aku mengerti mungkin ini memang yang terbaik, tadi sore ketika aku masih dikantor aku dapat kabar katanya malam ini Dava akan pindahan.


Ada rasa senang karna aku tidak bertemu Dava, karna semakin sering bertemu perasaanku semakin menggila namun ada rasa sedih entah kapan lagi aku bisa melihat Dava.


Aku sudah pulang dijemput mas Rendy, tapi kulihat Dava belum sampai kontrakan barang-barang Dava juga sudah tidak ada, mungkin sudah dibawa tadi.


"Davanya mana mas?"tanyaku penasaran.


"Mungkin sebentar lagi sampai sayang, tadi dia kesini ambil barang-barang lalu kekantor lagi."jawab mas Rendy.


Sambil menunggu Dava aku sama mas Rendy ngobrol diteras. tak lama Dava sudah datang, hari ini dia memakai motor sungguh jauh lebih tampan dari pada mengendarai mobil.


"Udah lma nunggu mas?"sapa Dava ramah pada mas Rendy.


"Enggk mas!"jawab mas Rendy singkat.


"Tadi aku angkut-angkut dulu barang kekontrakan mas, oiya aku bereskan pakaian dikamar dulu mas."pamit Dava pada mas Rendy.


"Silahkan mas."jawab mas Rendy.


"Kamu siapin makan malam dulu yang, sebelum pergi sebaiknya makan dulu disini, aku keluar dulu sebentar."jawab mas Rendy sambil bernjak dari duduknya


"Mas Rendy mau kemana?"tanyaku.


"Beli rokok sebentar yang."jawab mas Rendy.


"Jangan lama-lama ya mas."ucapku.


Setelah mas Rendy berlalu aku segera menuju dapur, menghangatkan lauk pauk serta menata piring gelas yang akan dipakai.


"Ros kamu sedang apa?"tanya Dava, sontak aku berjingkat kaget, kenapa tiba-tiba ada Dava dipintu dapur.


"Sebelum pergi sebaiknya makan dulu Dav, biar nanti malam tidak kelaparan."jawabku sambil masih sibuk memasukan sayur kdalam mangkuk besar.


"Maafkan aku Ros,"jawab Dava, tiba-tiba sudah memeluku dari belakang.


"Dav jaga sikapmu!"jawabku ketus, sontak Dava langsung melepas pelukan.


"Aku enggk nyangka Ros kita bakal berahir seperti ini."ucap dava pelan.


"Sudahlah Dav, mungkin ini memang sudah jalanya, kita jalani saja apa yang sudah ditakdirkan, aku berdoa kelak kamu bahagia berasama Sinta.


Aku mencoba rela mencoba iklas meski sangat menyakitkan. kuharap kamu juga begitu Dav doakan aku iklaskan aku."jawabku sambil menunduk, aku menahan sekuat tenaga agar buliran bening yang menggenang dipelupuk mataku tidak jatuh.


"Doakan aku Ros, mungkin stelah ini kita tidak akan bertemu lagi. aku takut bertemu denganmu membuat perasaanku semakin gila Ros, jika kamu melihatku segeralah menepi Ros. begitupun aku, jika aku melihatmu aku akan langsung berbalik arah Ros."ucap Dava dengan suara bergetar.


"Hem."aku sudah menangis terisak, hatiku sungguh sakit kenapa harus seperti ini.


"Aku nunggu mas Rendy di teras saja Dav."ucapku.


Dava hanya mengangguk pelan. segera kuberlari menuju teras untuk menunggu mas Rendy, sedikit lama aku duduk sendri hingga ahirnya mas Rendy datang.


"Lama banget si mas?"tanyaku ketika mas Rendy sudah turun dari motor aku segera memeluknya.


"Tadi ketemu Ardi yang, jadi ngobrol dulu sebentar."jawab mas Rendy sambil mengelus rambutku.


"Bener ketemu Ardi? bukan mampir dulu kan?" tanyaku sedikit cemberut.


"Yampun sayang beneran, Dava mana kita makan dulu yuk."ucap mas Rendy sambil membimbingku masuk kedalam rumah.


"Cari rokok mas, yuk mas makan dulu nanti baru kuantr kesana. kamu ikut kan yang biar tau kontrakan Dava sekaligus bantu nyapu-nyapu?"tanya mas Rendy padaku.


"Enggk mas aku drumah saja, sedikit capek mas saja yang ngantar Dava. enggk apa-apakan Dav?"tanyaku pada Dava.


Sedangkan Dava hanya mengangguk pelan, setelahnya kami makan dalam tenang tidak ada yang berbicara diantara kami.


...ΩΩΩ...


Selesei makan mas Rendy juga Dava langsung berangkat menuju kontrakan Dava yang baru, aku hanya mengantar sampai teras, begitu mereka menjauh aku segera msuk kedalan kamar.


Dikamar aku kembali menangis sialnya lagi-lagi bayangan semasa SMA kembali muncul. aku merasa sangat bersalah pada mas Rendy, bisa-bisanya aku menangisi laki-laki ketika sedang mengandung anak mas Rendy.


flasback on


Jam 7 pagi aku baru saja bangun, karna ponselku terus saja berbunyi setelah kulihat ternyata dari Dava.


"Halo Dav."jawabku dengan suara serak khas bangun tdur.


"Ros kamu baru bangun? kamu mau sekolah tidak? aku sudah menunggumu digang rumahmu."jawab Dava sambil teriak.


"Tunggu Dav aku segera mandi oke."jawabku sambil mematikan sambungan telpon.


Setelahnya aku segera berlari kekamar mandi, mandi kilat merias diri lalu melesat keluar rumah, begitu sampai gang depan kulihat Dava sudah menungguku sambil memasang muka masam.


"Dav, maaf ya aku kesiangan."ucapku sambil memegang tangan Dava.


Perlu diketahui aku sama Dava sudah berteman dari tk, saat sekarang kami sangat dekat bahkan banyak yang mengira kalo kami berpacaran. sejatinya aku hanya menyayangi Dava entah bagaimana dengan Dava sendri.


"Kamu selalu saja kesiangan Ros!"jawab Dava sambil tersenyum tak lupa mengusap-ngusap kepalaku pelan, begitulah Dava semarah apapun dia ktika aku sudah tertawa pasti langsung luluh.


"Yaudah ayok, nanti kita telat."jawabku sambil menaiki motor sport Dava.


"Kita memang sudah telat Ros!"jawab Dava sambil tersenyum manis, Dava sungguh manis memperlakukanku.


Selalu menungguku jika pulang atau berangkat sekolah, selalu mengikuti kemanapun aku mau. kami selayaknya sepasang kekasih yang sedang diambuk cinta namun sejatinya tidak, kami hanya teman ya sebatas teman.


...ΩΩΩ...


Hari ini senin kebetulan sekolah kami setiap senin selalu mengadakan upacara rutin, kuusahakan hari ini aku tidak terlambat kesekolah.


Dengan meminta kekasihku menjemput sepagi mungkin. ya aku punya kekasihku namanya Feby kami satu sekolah bahkan satu kelas, lucu ya.


Sedangkan Dava sendri juga punya kekasih, namaya Linda satu sekolah namun jurusan lain, hari ini tidak ada yang mencurigakan dari Feby, sampai upacara usai dan bahkan jam istirahat.


Namun saat setelah istirahat Feby mengajaku ngobrol serius aku mngiyakan, dan kami dsini sekrang di kantin sekolah, karna memang ini jam kosong.


"Ada apa Feb?"tanyaku ktika kami sudah duduk dikantin.


"Apa kamu cinta sama aku?"tanya Feby, aku sungguh kaget mendengar pertanyaannya.


"Apa yang kamu tanyakan, kita ini sepasang kekasih Feb."jawabku sambil tersenyum


"Aku sudah menduga Ros, kamu pasti tidak bisa menjawab pertanyaanku. aku kekasihmu tapi seperti orang lain untukmu.


Aku juga manusia Ros aku punya perasaan, aku memang cinta sama kamu tapi jika seperti ini aku tidak bisa Ros, aku seperti orang ketiga diantara kamu sama Dava."ucap Feby, seketika jantungku berdebar kencang mendengar ucapan Feby.