
"Apa yang kamu katakan Feb, kamu taukan aku sama Dav itu hanya teman tidak lebih. bahkan Dav juga punya kekasih. lalu kenapa kamu justru bersikap seperti ini?"tanyaku pada Feby kekasihku.
"Aku tau Ros, tapi aku juga tau kamu mencintai Dava. dan untuku kamu hanya melampiaskan perasanmu keDava iyakan Ros?"taya Feby dengan suara pelan.
"Tidak Feb tidak sungguh."jawabku.
"Tapi aku merasakan seperti itu Ros, dan aku ingin hubungan kita sampai dsini saja. silahkan kamu lanjutkan hidupmu bersama Dava."ucap Feby sambil pergi meninggalkanku.
Aku menangis, kuingat ucapan Feby bahwa semuanya benar. ya aku tidak pernah mencintai Feby, Feby hanya pelarianku. tak lama datang menyusulku, mungkin Dava melihat aku pergi bersama Feby.
"Ada apa Ros? kenapa menangis?"tnya Dava sambil memeluku.
"Enggk apa-apa Dav." jawabku sambil menggeleng didalam pelukan Dava.
"Feby apain kmu, sampai kamu nangis biar kuhajar."ucap Dava sudah hendak beranjak, segera kueratkan pelukanku.
"Tidak usah Dav, nanti malah runyam urusanya."jawabku lagi.
"Tapi Ros. aku bisa liat kamu nangis, aku gk bisa Ros."jawab dava sambil memeluku erat
"Sudah Dav, ayo kita kembali,"ajaku pada Dava.
Dan semenjak hari itu aku semakin dekat sama Dava. bahkan Dava sampai memutuskan hubungan sama Linda, padahal Linda sudah sering dipakai Dava.
Untuk aku sendiri Dava sangat menjaga dan menghargaiku tak terasa hari-hari berlalu begitu cepat, semua ujian sudah terlewati dan tepat hari ini adalah hari kelulusan.
Pagi-pagi aku sudah bangun, janjian untuk dijemput oleh Dava. setelah bersiap aku segera berjalan munuju gang depan sampai disana Dava sudah menunggu, namun raut wajahnya sungguh beda mungikn ada yang sedang dipikirkan.
"Ada apa Dav? kayaknya kamu lagi sedih,?"tanyaku pada Dava.
"Ros mungkin setelah ini kita akan lama tidak bertemu, mungkin satu tahun sekali bertemu bahkan mungkin bertahun-tahun."jawab Dava pelan.
"Memang kamu mau kemana Dav?"tanyaku penasaran.
"Aku akan meneruskan pendidikanku Ros dikota sebrang."jawab Dava pelan.
"Lo Dav, kamu berubah pikiran?"tanyaku heran, pasalnya Dava tidak pernah punya keinginan untuk kuliah jauh.
"Orang tuaku Ros, orang tuaku yang memaksaku. bisakah kamu menungguku Ros? tunggu sampai aku pulang kembali menemuimu."ucap Dava.
Aku sudah menangis tidak bisa kubayangkan hari-hariku tanpa Dava, aku sedih aku kehilangan arah, kupeluk erat tubuh Dava kutumpahkan segala sesak didadaku.
"Ros kamu dengar aku?"tanya Dava dengan suara bergetar, Dava menangis ya Dava menangisiku.
Seharian ini aku bersama Dava pergi kamanapun yang kumau, hingga menjelang sore hari aku baru diantarkan oleh Dava.
Hari-hari setelahnya komunikasiku masih sangat lancar, hingga dibulan kelima Dava dikota sebrang sudah putus komunikasi.
hari-hari kulalui dengan sendu, ternyata Dava bohong padaku Dava tidak menepati janjinya.
flasback off
...ΩΩΩ...
Pukul 21.30 mas Rendy datang, segera kbuka pintu lalu mas Rendy masuk tak lupa serta memasukan motor kedalam.
"Belum tidur yang?"tanya mas Rendy sambil mengelus rambutku.
"Belum ngantuk mas, ko lama mas disana ngapain aja?"tanyaku penasaran.
"Bantu Dava nata barang-barang dulu yang, lalu setelah selesei ngobrol-ngobrol."jawab mas Rendy.
Kurebahkan tubuhku diatas matras yang ada didepn tv, kuendus-endus aku seperti mencium bau parfum yang kukenal, astaga bau Dava masih tertinggal dsini batinku.
"Tdak apa-apa mas, kita tiduran dulu disini ya mas,"pintaku pada mas Rendy, sambil kupeluk tubuh mas Rendy dari samping
"Boleh, aku ketoilet bentar yang udah keblet."pamit mas Rendy.
Begitu mas Rendy pergi segera kuhirup aroma parfum Dava sepuasnya, sungguh aku seperti orang gila jika seperti ini terus-terusan.
"Bobo kamar yuk yaang,"ajak mas Rendy padaku
"Gendong mas!"ucapku manja sambil menjulurkn tanganku.
"Kalo minta gendong bayaran apa?"tanya mas Rendy sambil tersenyum menggodaku.
"Apapun yang mas mau."jawabku menggoda.
"Satu ronde boleh sayng?"tanya mas Rendy berbisik pelan ditelingaku.
"Evriting for you mas."jawabku sambil ******* lembut bibir mas Rendy.
Sampai dikamr mas Rendy membaringkanku pelan diatas ranjang tanpa melepas pagutan. perlahan tangan dingin mas Rendy masuk kedalam dres pendeku, lalu meremas pelan buah dadaku yang masih terbalut bra berenda.
"Angkat tanganya sayang."ucap mas Rendy dengan suara serak.
Segera kuangkat tanganku lalu mas Rendy menarik dressku melewati kepalaku, kini aku hanya memakai bra hitam dan penutup segitiga warna hitam juga.
"Kamu sexy kalo kaya gini sayang."ucap mas Rendy.
Mulai mngecup bibirku lalu kerahang dan sekarang turun dileherku, disana mas Rendy mengecup, menjilat juga menghisap pelan leherku. aku menggelinjang nikmat merasakan sensasi geli bercampur nikmat.
"ashh,"desahku sambil kuremas rambut mas Rendy untuk menyalurkan rasa nikmat yang tengah menjalari tubuhku. perlahan mas Rendy menurunkan kepalanya lalu mencium dadaku sekilas.
"Sayang ini gede banget."ucap mas Rendy sambil meremas lembut buah dadaku, kupejamkan mataku menikmati sensasi yang menggelikan.
"Mas,"panggilku pelan, segera mas Rendy mendongakkan kepala menatapku.
"Ada apa sayang?"tanya mas Rendy lembut.
"Maafkan aku ya mas, maafkan aku yang sulit menutup serta melupakan masa laluku."ucapku lembut sambil kukecup punggung tangan mas Rendy berulang-ulang.
"Tidak mengapa sayang, untuk sekarang apapun yang terjadi, apapun yang kamu rasakan kamu tetap istriku calon ibu dari anaku."jawab mas Rendy lembut sambile mengelus rambutku.
"Mas meskipun begitu, aku tidak ada niat sedikitpun untuk mencurangimu mas, aku tulus sama kamu."ucapku pelan.
Malam yang awalnya panas berubah menjadi sendu, kulihat juga mas Rendy tidak sesemangat tadi geloranya sudah meredup.
"Sayang sudah, yang lalu ya biarlah berlalu untuk apa dipikrkan lagi. jalan kita masih panjang masih banyak yang lebih penting lagi untuk kita pikirkan, oke."ucap mas Rendy sambil mngecup bibirku.
Gelora yang tadinya sudah meredup kini menyala kembali, kali ini mas Rendy begitu semangat memimpin permaian, terlihat sekali mas Rendy sangat ingin menjadikanku yakin bahwa aku miliknya dan dia miliku.
Kupeluk tubuh mas Rendy kusandarkan kepalaku didada bidangnya. setelah selesai melalukan ibadah malam aku tidak langsung tertidur aku banyak memikirkan ucapan mas Rendy.
Apa mas Rendy tau masalahku dengan Dava, namun aku tak cukup berani untuk menanyakan lebih baik kusimpan untuku sendri.
Tengah malam aku terbangun ketika merasakan kering ditenggorokanku, dengan perlahan kuturunkan kakiku pelan aku sangat pelan supaya tidak membuat pergerakan diatas ranjang.
Namun rupanya mas Rendy merasakan pergerakanku dan perlahan membuka mata.
"Mau kemana?"tanya mas Rendy.
"Minum mas,"jawabku pelan, perlahan mas Rendy bangkit kedapur lalu kembali sudah membawa gelas berisi air putih, setelah minum aku sama mas Rendy kembali merebahkan tubuh keatas ranjang lalu segera terlelap kembali.