
Pagi-pagi aku sudah bangun, kali ini aku memasak penuh semangat entah kenapa semenjak kemarin abis beli perlengkapan bayi aku jadi semangat sekali.
Sebelum pergi kekantor aku sudah menyiapkan sarapan serta kopi untuk mas Rendy, setelah urusan dapur selesei aku segera mandi selesei bersiap-siap kubangunkan mas Rendy pelan-pelan.
"Mas bangun, ayo anterin aku."panggilku sambil kukecup hidung serta bibirnya sekilas.
"Hm."mas Rendy hanya mendehem lalu memeluk guling lagi.
"Ayo bangun udah siang."kupanggil lagi mas Rendy.
Kali ini kumasukan tanganku kedalam celana boxer mas Rendy, jika pagi-pagi seperti ini sudah pasti adik kecil mas Rendy on fire, kuelus pelan lalu kukocok sebentar sambil menunggu reaksi mas Rendy.
"Ehmm,"desah mas Rendy, perlahan matanya terbuka lalu tersenyum.
"Lagi-pagi kok udah ngajakin sih yan?"tanya mas Rendy sambil tangan meremas buah dadaku dari luar.
"Bukan ngajakin, tapi mas Rendy dibangunin susah banget, giliran dielus sebentar aja langsung on."jawabku sambil tertawa.
"Namanya juga normal sayang, nanti kalo gak bangun gak bisa bikin kamu keenakan."ucap mas Rendy sambil mencium bibirku sekilas.
"Yaudah ayo mas cepetan bangun trus antar aku kekantor."jawabku sambil berlalu pergi dari kamar.
Kulihat mas Rendy bangun langsung kekamar mandi, tpi cuman sebentar mungkin hanya cuci muka sama sikat gigi.
"Kamu gak sarapan dulu yang?"tanya mas Rendy.
"Enggk lah mas, sarapan dikantor aja."jawabku, aku memang sangat jarang sarapan drumah.
"Gimana kamu ini udah masak tapi gapernah sarapan."ucap mas Rendy.
Mas Rendy sudah mengeluarkan motor aku segera naik, perlahan mas r
Rendy melajukan kendaraan menuju kantor.
"Hati-hati yang kerjanya jangan capek-capek jangan lupa makan!" pesan maa Rendy ketika aku sudah trun dari motor.
"Iyaa mas, aku masuk dulu yaa daah." pamitku setelah mencium punggung tangan mas Rendy. aku segera naik keatas diatas sudah ramai, Arga juga sudah masuk rupanya.
"Pagi semuaa,"sapaku riang.
"Pagi Ros, yampun Ros aku kangen banget sama kamu."ucap Arga bahkan tanganya sudah siap memeluku
"Ingat ga istri orang."ucap Rio, sontak arga menurunkan kembali tanganya.
"Katannya ibu kamu sakit ya Ga? gimana udah baikan?"tanyaku kembali.
"Sudah Ros, kemarin sakit karna terlalu memikirkan aku, kangen aku katanya."ucap Arga sambil tersenyum.
"Memang kamu jarang pulang?"tanyaku penasaran.
"Jarang Ros, Arga lebih suka disini daripada drumah ibunya."kali ini Rio yang menjawab.
"Ya begitulah, oiya Ros katanya kamu kmaren jatuh dari kamar mandi?"tanya Arga
"Iya Ga, tapi gak apa-apa kok aku cuman istirahat 2 hari setelahnya aku sudah kerja kembali."jawabku sambil tersenyum.
"Nanti kita makan diluar yuk!"ajak Mutia, ahir-ahir ini senyum Mutia selalu mengembang jika sedang berbicara.
"Ide bgus itu, kali ini biar aku saja yang traktir."ucap Arga sambil tersenyum.
"Boleh-boleh yee ahirnya Arga mau traktir."ucapku bersorak gembira.
"Yampun Ros, kamu nih kaya apa aja sih sampai girang gtu."ucap Mutia sambil tersenyum.
"Iya dong, jarang-jarang lo Arga mau traktir, apalagikan sebentar lagi aku mau resign."jawabku sambil tertawa.
"Yahh jangan ngomongin masalah resign dulu, aku jadi swedih nih."jawab Arga sambil pura-pura nangis.
"Yasudah ya aku mau kemeja dulu, nanti dilanjut lagi ngobrolnya,"ucapku sambil berlalu meninggalkan Arga, Rio juga Mutia.
...ΩΩΩ...
Jam 11.55 aku masih duduk sambil meregangkan otot-otot leherku bergerak kekanan dan kekiri, kumatikan komputerku, dan segera memberesi barang-barang pribadiku.
Tak lama ponselku bergetar bertanda ada pesan dari massenger yang masuk, tumben banget masih ada yang kirim pesan dari masanger segera kubuka karna penasaran.
"Ros minta nomormu penting, aku sekarang sedang dikotamu,"isi dari pesan tersebut.
Jantungku berdebar kencang membaca pemilik nama dari pengirim pesan tersebut, Dava iya Dava sahabat kecilku termasuk cinta masalaluku yang belum kelar sampai sekarang.
Sekelebat bayangan masa putih abu-abu bersama Dava terlintas dimataku, lama ku pandang pesan dari Dava, hingga ahirnya Dava kembali mengirimiku pesan.
"Ros, please aku sedang butuh bantuanmu."pesan dari Dava, aku kembali tersadar. aku sudah menikah dan Dava juga dikabarkan akan segera menikah, kami ini hanya teman ya teman.
"Ini 08xxxxxxxxxx,,"balasku pada Dava, tak lama sebuah pesan masuk di aplikasi whatsapku.
"Ros aku Dava, boleh tidak aku minta bantuanmu?"isi pesan dari Dava.
"Apa yang bisa kubantu?"balasku kembali.
"Mulai hari ini aku kerja di bank BRI cabang sini, boleh tidak untuk malam ini saja aku menginap ditempatmu. aku belum dapat kontrakan."isi pesan dari Dava.
Sejenak aku berpikir, sebenarnya aku masih belum bisa bertemu Dava tapi bagaimana aku tidak enak karna keluarga kami sudah dekat sejak lama.
"Bagaimana ya, kontrakan ku hanya ada 1 kamar."balasku.
"Aku tidur didepan tv saja tidak apa-apa Ros, apa kamu takut sma suami kamu?"tanya Dava dipesan.
"Tidak-tidak, yaudah boleh nanti chat aku saja kalo sudah mau pulang."balasku ahirnya.
"Yaudah terima kasiah ya Ros."balas Dava.
Aku segera menghubungi mas Rendy menceritakan tentang Dava yang akan menginap dikontrakan kami.
Mas Rendy tidak keberatan mas Rendy sangat welcome orangnya. setelah memberi kabar pada mas Rendy aku segera beranjak menuju meja Mutia.
"Mut sudah kelar belum?"tanyaku pada Mutia yang masih sibuk dengan layar monitornya.
"Baru saja kelar, sebntar kumatikan komputer dulu yaa,"jawab Mutia, sambil membereskan juga barang-barangnya yang berserakan dimeja.
"Ros kita mau makan dimana harini?"tanya Arga, sambil berjalan mendekatiku.
"Gurame bakar madu saja Ga, disaung yang lesehan kayaknya seru."sambil tertawa.
"Wahh cocok itu nanti minumnya air dengan saja,"jawab Rio.
"Mantap, fix disaung saja."ucapku kembali.
"Sesuai perintah baginda ratu."jawab Arga santai, sontak aku Mutia juga Rio tertawa kencang mendengar ucapan Arga.
"Pake mobilku saja yaa biar gak pisah-pisah."ucap Rio sambil menggenggam tangan Mutia.
"Iya sih iya, yang udah punya pacar tolong kasihan sedikit sama yang masih jomblo ini."ucap Arga sewot, aku hanya tertawa melihat aksi Arga aku yakin pasti Arga misuh-misuh didalam hati.
"Yaudah sini sama aku saja Ga."jawabku sambil tersenyum, kulihat Rio sama Mutia juga tersenyum melihat tingkah Arga.
"maaf ya ros, aku laki baik-baik, aku tidak mau dicap sebagai pembinor,,,"jawab arga dengan muka serius.
"Apa itu pembinor Ga?"tanya Rio serius.
"Perebut bini orang."jawab Arga ketus.
Kami bertiga hanya bisa tertawa. lagi-lagi Arga berulah, setlah sampai diparkiran kami segera masuk kemobil Rio, perlahan Rio menjalankan mobil menuju saung yang menjadi tujuan kami untuk makan siang.