After Wedding

After Wedding
Aqiqah Ryu



Pagi ini badanku terasa sedikit kurang enak, mungkin efek semalam kurang tidur karna Ryu yang terus menerus menangis.


Ryu sudah mandi dan sekarang sedang tidur lelap, aku mengingat pesan perawat Dewi semalam, jika sudah dua jam tidur sebaiknya bangunkan Ryu untuk diberi asi.


Bidan Fitri hari ini kesini yang memandikan Ryu. kalo dikampung ibu sini, kalo ada bayi yang baru lahir memandikan bayi itu kewajiban bidan yang menolong, sampai putus pusarnya baru boleh dimandikan sendiri.


"Ros ada yang kamu rasakan?"tanya Bidan Fitri.


"Enggak bu. cuman aku sedikit pusing, mungkin efek kurang tidur semalam!"jawabku


"Iya makanya Ros kalo siang jangan dibiarkan tidru terus."ucap bidan Fitri.


"Coba kakinya tekuk sebentar, saya mau liat jahitan kamu,"ucap bidan Fitri.


Perlahan kutekuk sedikit kakiku, aku masih ngeri taku jika nanti jahitanya robek. perlahan kakiku dilebarkan lalu bidan Fitri melihat intiku yang kemarin dijahit.


"Sudah menyatu Ros nanti lama-lama pasti jadi daging."ucap bidan Fitri.


Setelah aku diberi suntikan serta obat, sudah selesei semua bidan Fitri pamit pulang.


Setelah bidan Fitri pulang, segera kurebahkan tububku diatas ranjang. tadi bidan Fitri sempat berpesan jika aku harus banyak istirahat.


Dan pula usahakan jangan terlalu banyak pikiran, bisa jadi semalam Ryu nangis gara-gara aku yang sedang setres.


Perlahan kupejamkan mataku, Namun belum juga aku terlelap Ryu sudah kembali otak atik mungkin saja dia haus.


"Ada apa nak hausny?"ucapku seraya mengelus pipinya.


"Nah ini susunya sudah siap sayang."ujarku.


Ternyata benar Ryu haus, dengan hitungan menit saja susunya tinggal separo botol, begitu kenyang Ryu kembali terlelap.


Segera kurebahkan kembali tubuhku diatas ranjang, perlahan mulai kupejamkan mata dan tanpa menunggu waktu lama aku sudah terlelap.


...ΩΩΩ...


Sekitar aku tidur, ibu masuk kedalam kamar dan membangunkan aku."Ros bangun, saudar kamu pada datang!"ucap ibu seraya menggoyang pundaku pelan


Aku sedikit berjingkat kaget, segera kubuka mata dan kulihat ibu sudah berdiri disamping ranjang."Ada apa bu?"tanyaku.


"Budenya Rendy datang! cepat kamu duduk. pasti sebentar lagi masuk sini mau liat Ryu."ucap ibu.


Segera kududukan tububku diatas ranjang, lalu setrlah nyawa benar-benar terkumpul aku turun dari ranjang dan mulai meyisir rambutku yang berantakan.


"Bu mas Rendy mana ya? dari tadi aku belum liat,"ucapku.


"Lagi sibuk ngurus kambing, dibantu om kamu sama ayah juga,"jawab ibu.


Kulihat ibu sedang membangunkan Ryu, takut tidur ya kelamaan terus ngamuk kaya semalam jadi kami semua antisipasi.


Benar kata ibu, ibu mertua masuk kekamar di ikuti bibi serta budenya mas Rendy. mereka kemudian bergantian menggendong Ryu yang masih tetap awet tidurnya.


Setelah menemani ngobrol sebentar ibuku pamit kebelakang, tinggalah aku bibi bude serta ibu mertua yang sedang memangku Ryu.


Kulihat ibu tadi masuk sambil membawa bungkusan plastik kecil, dan aku yakin itu pasti celana tiga biji yang dibelikan untuk Ryu.


"Nduk buka dulu plastiknya ibu mau liat celana Ryu,"titah ibu.


Segera kuambil plastik yang tergeletak diatas lemari baju Ryu dan segera kusobek plastiknya lalu kukeluarkan isinya.


"Nah kan kalo gini banyak udahan celana Ryu,"ucap ibu.


Dengan satu tangan ibu meraba bahan dari celana yang baru saja dia belikan untuk Ryu.


"Loh Nita ini bagaimana sih, sudah dibilang bahanya yang biasa saja malah beli yang bagus,"ujar ibu mertua.


"Memangnya kenapa mba kalo bahanya bagus, kan malah lebih awet,"ucap bude.


"Bukanya begitu, kalo make yang tebal itu nyucinya sedikit susah apalagi kalo kena eek Ryu,"jawab ibu.


"Lagian nanti Ryu cepat besar dan gak kepake, sayangkan kalo kaya gitu."lanjut ibu.


Aku hanya diam saja malas menimpali ucapan ibu mertuaku yang sangat aneh, Eh ralat ya bukan aneh tapi pelit.


"Kulihat celana Ryu hampir semua bahanya seperti itu mba,"ujar bibi.


"Iya itu yang belikan ibunya, kalo aku yang beliin ya mending kucarikan yang bahan biasa saja, harganya murah nyucinya juga enak."jawab ibu masih tidak mau kalah.


"Sudahlah mba gak apa-apa cuman tiga biji saja, masa iya mau dipulangin lagi,"ujar bude.


"ya gak apa-apa, untung cuma tiga. kalo banyak tak suruh tukar lagi si Nita.


Yampun ibu keterlaluan banget, cuman hal kecil seperti itu kok dipermasalahkan si. jujur saja aku aslinya gak pengen dibelikan apa-apa karna kedua orang tuaku ini paket lengkap, yang perempuan lelit yang laki-laki suka ngungkit-ngungkit kalo ngasih.


"Nanti kalo sudah gak dipakai bajunya Ryu bisa dikasih anaknya Nita,"jawabku ketus.


"Anaknya Nita mah masih lama nduk, sekarang saja belum menikah,"ucap ibu.


"Kita lihat saja bu."jawabku.


Ish dasar mertuaku sudah pelit julid pula yampun, gimana dulu aku bisa dapat mertua yang model begitu.


Dan aku sudah merasakan aneh sewaktu Nita kesini kemarin, badanya jika kukihat seperti perempuan yang sedang ngisi alias hamil.


Tapi aku cukup diam saja, untuk apa juga aku bilang keorang-orang. tinggal kita lihat saja bagaimana kedepanya.


Setelah puas mengobrol ibu mertua dan yang lainya keluar dari kamar karna dipanggil ibu untuk makan siang.


Setelah mereka keluar aku membuatka susu untuk Ryu, keadaan ramai kaya gini tidak mungkin aku pumping karna sebentar-sebentar pasti ada orang masuk nengok Ryu.


Aku sengaja membuat susu nunggu ibu mertua keluar dulu dari kamar, karna jika ada ibu mertua Ryu tidak boleh minum susu formula.


Ryu dipaksa minum asi langsung daru aku, dan jika sudah seperti itu bisa dipastika Ryu akan mengamuk.


Selesei membuat susu segera kukasihkan ke Ryu, dengan kutepuk-tepuk pipinya ahirnya Ryu mengeliat dan dengan segera kusuapkan susu kemulutnya.


Saat tengah menyusui Ryu tiba-tiba mas Rendy masuk kedalam kamar."Yang minta uang buat beli rokok."ucap mas Rendy.


"Berapa mas?"tanyaku.


"Kirnya cukup untuk beli satu pres."jawab mas Rendy.


Kulihat wajah mas Rendy sangat kusut, mungkin kecapean ditambah semalam kurang tidur. segera kuberikan yang seratusan tiga lembar.


"Sudah makan belum mas?"tanyaku.


"Belum, barusan kelar ngurusin kambing yang."jawab mas Rendy.


"Setelah makan nanti kesini saja mas, istirahat dulu disini,"ujarku.


"oke


Setelahnya mas Rendy keluar dari kamar, kasian jika melihat dia seperti itu. tapi ya seperti inilah kosekuensinya menjadi orang tua.


Untung saja aku lahiran disini, keluargaku semuanya peduli. jadi begadanga malampun mas Rendy tetap ada yang menemani.


Apalagi mencari keperluan untuk aqiqah Ryu, semua saudaraku turun tangan membantu banyak meringankan beban mas Rendy.