
Sore sekitar jam empat, om Budi sama bi Sari sudah sampai. aku sudah selesei mandi saat ini tengah duduk di teras sama mas Rendy.
Sambil jalan pelan-pelan aku disuap telur rebus ayam kampung oleh mas Rendy. kata orang tua kalo mau lahiran harus banyak makan telur rebus, katanya supaya tenaganya tetap kuat.
"Mas sudah aku mau muntah,"ucapku sambil menutup mulut dengan telapak tangan.
"Iya. yasudah kalo kenyang,"jawab mas Rendy.
"Mas aku mau di kamar aja, sakit banget perutnya buat jalan."ucapku sambil meringis menahan sakit.
"Sayang jalan-jalan dulu ya, biar jalan lahirnya cepat kebuka,"jawab mas Rendy pelan.
"Enggk mas aku gak kuat jalan, sakit banget sekarang."ucapku sambil menangis.
Memang sekarang tidak ada lagi jeda, sakitnya sudah terus menerus membuatku benar-benar berat melangkahkan kaki."Yasudah ayo masuk kedalam,"jawab mas Rendy sambil menuntunku masuk.
Sampai didalam kulihat ibu sama bi Sari tengah ngobrol dimeja makan, sedang ayah sama om Budi didepan tv."Mau kemana Ros?"tanya ibu.
"Rosa mau tiduran bu, gak kuat jalan katanya,"jawab mas Rendy sedangkan aku hanya diam.
Mas Rendy segera menuntunku kedalam kamar, begitu sampai kubaringkan tubuhku diatas ranjang. sambil berguling kesana kemari aku menahan sakit yang luar biasa.
Rendy segera keluar dari kamar menuju teras samping, lalu mengeluarkan ponsel guna menelpon kedua orang tuanya.
"Halo bu."sapa Rendy ketika panggilan sudah terhubung.
"Gimana Rend, sudah dibawa keklinik belum Rosa?"tanya ibu dalam panggilan telpon.
"Belum bu nanti abis magrib, biar gak lama-lama diklinik,"jawab Rendy pelan.
"Tapi mulasnya sudah semakin parah kan Rend?"tanya ibu lagi.
"Parah bu. Rosa sudah nangis-nangis terus,"jawab Rendy.
"Ya tidak apa-apa. memang seperti itu kalo mau lahiran. yaudah Rend ibu mau magriban dulu ya,"ucap ibu seraya mematikan sambungan telpon.
Setelah selsei menghubungi ibunya Rendy segera kembali kedalam kamar melihat keadaan Rosa.
...ΩΩΩ...
Sekitar jam setengah delapan sakit diperutku semakin dahsyat, aku sendiri sudah tidak banyak bicara. sakitnya sudah sampai keubun-ubun membuatku tak kuat bicara.
Om rizal sama bi Wati sudah sampai, bi Wati sedang hamil jadi om Rizal datang kerumah memakai mobil.
Aku dibantu mas Rendy tengah mengganti baju, sedangkan tas untuk bayi sudah kusiapkan dari hari-hari kemarin."Ayo Rend antar dulu Rosa ke klinik."ucap ibu.
Aku mas Rendy serta om Rizal berangkat lebih dulu, sedangkan yang lainya menyusul nanti sambil menunggu kabar.
Sampai diklinik aku langsung disambut sama bidan Fitri, lalu diperiksa seperti tadi pagi."sudah bukaan enam Ros, sebaiknya tidak usah pulang lagi. ibumu kabari suruh kesini,"ucap bidan Fitri.
Aku segera keluar menemui mas Rendy juga om Rizal."mas sudah bukaan enam, aku sudah gak boleh pulang kabari orang rumah saja ya mas."ucapku sambil mendudukan tubuh diatas kursi tunggu.
"Iya. kamu jalan pelan-pelan ya, biar cepat nambah bukaanya."ucap mas Rendy sambil mengusap rambutku.
Kulihat om Rizal tengah menelpon, mungkin saja menghubungi orang rumah. pasalnya setelah telpon ditutup tak lama ayah, ibu, Dinda serta bi Wati sudah sampai.
Dengan ditemani ibu serta bi Wati aku kembali berjalan-jalan dihalaman klinik."bu aku sudah tidak kuat lagi, bawa masuk saja bu aku ingin tiduran."ucapku pelan sambil menahan sakit yang luar biasa.
"Ayo temui Fitri dulu ya,"jawab ibu sambil menuntunku diimuti bi Wati dari belakang.
Tak lama datang perawat sambil membawa sebotol infus lalu memasangkan ditangan kiriku.
"Ros sudah tidak usah jalan-jalan, sudah bukaan tujuh udah sakit banget ya,"ucap bidan Fitri seraya mengelus perutku.
Aku sudah tidak mampu menjawab ucapan bidan Fitri, aku hanya diam menikmati setiap rasa sakit. begitu dahsyatnya aku sampai tidak bisa menggambarkan sakit yang kurasakan.
Baju yang kukenakan sudah basah oleh keringatku, mas Rendy sudah duduk disampingku sambil terus mengusap perutku. ibu bi Wati serta bidan Fitri sedang duduk mengobrol dikursi.
Saat sakit itu datang lagi tanpa sadar aku mencakar tangan mas Rendy, didalam hati aku terus beristigfar mohon dikuatkan.
Aku terus menagis, setiap rasa sakit itu datang aku selalu terbayang wajah ibu. aku berasa sangat berdosa selama ini belum bisa menjadi anak yang berbakti.
Seperti inilah perjuangan seorang ibu melahirkan buah hatinya, sampai harus merasakan sakit puluhan jam.
Hingga sampailah aku merasakan sakit yang berlipat-lipat dibanding tadi. lalu aku merasakan seperti ada air yang keluar dari jalan lahirku.
"Ketubanya sudah pecah bu,"ucap perawat.
Dengan tergesa bidan Fitri segera mendekatku lalu menyentuh perutku."Ayo Ros kalo ada rasa seperti ingin buang air besar, kamu cepat mengejan ya,"ucap bidan Fitri seraya mencubit pelan perutku.
Tiba-tiba rasa mulas yang amat sangat muncul. mas Rendy sigap memegang kepalaku, sedangkan bidan Fitri terus mencubit perutku.
eegghhh,"ucapku tiba-tiba
"Ya bagus Ros cepat dorong lagi,"ucap bidan Fitri.
eegghh."untuk kedua kalinya aku mengejan sekuat tenaga.
"Ayo Ros cepat jangan berenti, sudah keliatan kepala anakmu. kasian kalo berenti."ucap bidan Fitri panik. pasalnya kepala anaku sudah keliatan separo tapi aku tidak lagi merasakan kontraksi.
"Ayo sayang dorong adek bayinga sudah mau keluar,"ucap mas Rendy sambil mengecup keningku.
Kami semua tegang karna tiba-tiba Rosa berhenti mengejan. sedangkan bayi sudah keluar separo kepalanya, tak lama kulihat bidan Fitri beranjak dari duduknya mengambil sebuah gunting.
Aku syok melihat bidan Fitri mendekati inti tubuh Rosa sambil memegang gunting, tanpa menunggu lama bidan Fitri menggunting jalan lahir Rosa, yallah hatiku sungguh ngilu melihatnya. daging hidup-hidup langsung digunting seperti itu, aku tidak bisa membayangkan rasanya.
"Ayo Ros coba lagi lebih kuat,"intruksi bidan Fitri. perawat yang beranama dewi segera mencubit perutku tak lama rasa mulas yang amat sangat datang lagi, aku langsung pegangan kuat pada besi ranjang klinik, sedang mas Rendy menahan kepalaku dengan sekuat tenaga yang tersisa aku kembali mengejan.
eeggghhh,"ejanku panjang disisa tenagaku, dengan segera bidan Fitri menarik kepala bayi yang sudah menyembul keluar dan
oekkk
oekkk
oekkk
Tangis anaku pecah memenuhi ruangan klinik, kulirik jam dua belas lebih lima belas menit dini hari, pulahan jam aku menahan sakit ahirnya finaly.
Perawat Dewi membersihkan anaku sedangkan bidan Fitri mengurusku, menjahit kembali jalan lahir yang tadi sempat digunting lalu memasang selang keteter.
"Istitahat dulu ya Ros tidur,"ucap bidan Fitri sambil berlalu dari ruangan.
"Makasih ya sayang."ucap mas Rendy sambil mencium keningku.
"Kita sudah menjadi orang tua, baby Ryu sudah lahir."ucap mas Rendy kembali.
Tak lama perawat Dewi segera menyerahkan baby Ryu pada mas Rendy untuk segera diazani.