
Begitu pintu terbuka aku langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuh lelahku diatas ranjang.
Entah bagaimana ceritanya yang pasti aku terbangun ketika sudah pagi, bukan lagi pagi tapi siang.
Aku kaget lantaran ponselku menjerit-jerit, aku tergagap segera ku geser tombol hijau dilayar ponsel tanpa kulihat namanya.
"Halo."sapaku dengan suara serak.
"Halo Rend apa kamu masih tidur, dimana Rosa Rend kok ponsel nya enggk aktip ibu telpon-telpon?"tanya pemilik suara yang ternyata ibu mertuaku, yampun aku jadi salah tingkah.
"Ehm maaf bu tadi setelah mengantar Rosa aku tiduran kurang enak badan bu. oiya ponsel Rosa rusak bu sedang dibenerin dikonter,"jawabku pelan, maafkan aku bu tidak bisa bercerita yang sebenarnya.
"Oh yasudah Rend. ibu pikir ada apa sama Rosa, kalo sakit segera berobat Rend. istri lagi hamil kamu jangan sampai sakit, ibu tutup dulu yaa."ucap ibu sambil menutup sambungan telpon.
Seketika aku ingat jika aku belum menemukan Rosa. aku bergegas bangun lalu masuk kedalam kamar mandi, setelah selsei mandi aku segera mengganti bajuku dengan baju yang bersih.
Aku sengaja menyisakan baju-baju bujangku dirumah, antisipasi jika ada yang urgent. setelah rapi aku segera keluar dari kamar, kulihat ayah serta ibuku sedang ngobrol diruang tv.
"Sarapan dulu Rend."tawar ibu begitu melihatku keluar dari kamar.
"Iya bu sebentar lagi,"jawabku pelan sambil mendudukan tubuh disofa samping ibu.
"Ehm sebenarnya apa yang terjadi Rend, sampai istrimu kabur?"tanya ayah dengan mimik wajah serius.
"Tidak ada apa-apa yah, cuman pertengkaran kecil,"jawabku masih mengelak.
"Jika hanya masalah kecil ko sampe Rosa pergi dari rumah selama ini?"tanya ayah lagi.
"Ceritakan saja apa yang terjadi, supaya kami bisa membantu,"ucap ibu, ahirnya karena didesak mengalirlah cerita dari awal hingga ahir pertengkaran kami.
"Rend kamu kan sudah dewasa, sebentar lagi punya anak hal-hal seperti itu tidak usah lagi dilakukan. apalagi sekarang kamu tidak kerja ada uang sedikit mending buat yang lainya. nagapain beli seperti itu, kalo ibu jadi Rosa mungkin ibu sudah minggat yang jauh biar tau rasa kamu."ucap ibu sambil mimik muka berapi-api, begitu mendengar ucapan ibu aku justru semakin takut bagaimna jika Rosa pergi jauh membawa anak kami.
"Ibu jangan bicara begitu semakin memperkeruh suasana saja."ucap ayah dengan nada sedikit tinggi.
"Jadi ayah belain Rendy, yang sudah jelas-jelas salah masih saja dibela."jawab ibu tak kalah keras dengan suara ayah.
"Ayah tidak membela Rendy. hanya saja ucapan ibu kurang tepat,"ucap ayah mencoba memberi pengertian keibu.
"Alah alasan. wanita manapun pasti melakukan hal sama, jika posisinya sama seperti Rosa,"jawab ibu sambil berlalu meninggalkan aku dan ayah yang masih mematung disofa.
"Ibumu itu kenapa, dikasiah tau malah berubah jadi jaranan seperti itu?"tanya ayah sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak tau yah mungkin ibu sedang bingung,"jawabku sekenanya saja.
"Jadi bagaimna Rend, apa hari ini kamu mau lapor polisi?"tanya ayah.
"Tidak yah. semalam Rosa ngasih kabar mb Rini jika aku tidak perlu mencarinya dan juga tak perlu lapor polisi. dia hanya butuh waktu sendiri."jawabku apa adanya.
"Mana bisa yadudah yah, Rosa itu membawa anaku kalo terjadi apa-apa dengan anaku bagaimna?"tanya sedikit dengan nada keras.
"Rosa itu sudah dewasa Rend, tidak mungkin dia membahayakan janinnya sendri. dia pasti berhati-hati."jawab ayah lagi.
"Sudahlah yah aku mau cari Rosa lagi,"ucapku sambl berlalu tanpa menunggu jawaban dari ayah.
...ΩΩΩ...
Disinilah aku sekarang didepan kantor Rosa bekerja, berkali-kali ada karyawan lewat tapi sayangnya tidak kukenali. hingga ahirnya yang kutunggu-tunggu datang juga yaitu Mutia sama Rio.
"Pagi Mut pagi Io,"sapaku ramah ketika mereka sudah mendekat padaku.
"Pagi Rend tumben ksini ada apa?"tanya Rio, rupanya dia belum tahu jika Rosa pergi.
"Ehm Rosa belum pulng Io, dari tadi malam,"jawabku pelan.
"Apah jadi Rosa belum pulang dari semlem,trus tidur dimana yampun Rosa lagi hamil,"ucap Mutia dengan mimik wajah yang hampir menangis.
"Kamu sudah lapor polisi Tend?"tanya Rio dengan wajah serius.
"Semalam Rosa kirim pesan pada mba Rini tetangga kontrakan kami. dia pesan tidak usah dicari apalagi sampai lapor polisi katanya mau menenangkan pikiran dulu, tapi tetap saja aku kawatir Io."jawabku dengan suara pelan.
"Oh jadi selama ini Rosa tertekan ya hidup sama kamu makanya dia sampai minggat. dasar laki-laki gak ada pikiran istrinya hamil masih saja disakiti."jawab Mutia sambil berteriak dan menunjuk-nunjuk mukaku.
"Mut kendalikan dirimu. jangan teriak-teriak malu kalo ada orang dengar,"ucap rio pelan sambil mengusap pundak mutia.
"Biar saja semua orang tau kalo laki-laki ini tidak menghargai istrinya, jadi pantas kalo dtinggal minggat,"jawab Mutia ketus sambil berlalu meninggalkan kami berdua.
"Maafkan Mutia ya Rend, tenang saja aku yakin Rosa pasti baik-baik saja,"ucap Rio sambil menepuk pundaku.
"Io kalo Rosa masuk kerja atau ngubungi kalian segera kabari aku ya Io. aku sangat kuatir sama keadaanya Io takut kenapa-napa,"pesanku sungguh-sungguh pada Rio.
"Iya Ren iya pasti segera kukabari kamu jika ada info dari Rosa. ini udah siang aku keatas dulu ya Rend,"pamit Rio sambil tersemyum dan kujawab dengan anggukan kepala saja. sejenak kududukan tubuhku dikursi parkiran kantor, pikiranku buntu benar-benar buntu. harus kemana aku mencari Rosa aku ingin istirahat sungguh tubuhku lelah apalagi pikiranku, inginku pulang kekontrakam tapi kunci dibawa Rosa. pulang kerumah ibu malah menambah pikiran semakin pusing, hari-hari seperti ini mas Heru atau mas Erik juga sudah pasti kerja. hendak kemana aku ini, ahirnya setelah lama berpikir pulang kerumah ibu pilihanya. segera kuhidupkan motor lalu perlahan kujalankan menuju rumah ibu. sampai dirumah ibu kulihat ada oom juga bibi yang tengah mengobrol.
"Bagaimana Rend sudah ada kabar?"tanya oom.
"Belum om. entahlah om mungkin Rosa benar-benar marah sama Rendy,"jawabku pelan sambil mendudukan sikursi tepat depan oom.
"Rend lain kali jika istri sedang hamil banyaklah mengalah karna perempuan hamil itu benar-benar sensitiv Rend mudah tersinggung."nasehat bibi sambil mengelus rambutku.
"Iya bi aku menyesal sekali aku terbawa emosi. aku tidak menyangka jika Rosa sampai seperti ini,"jawabku lagi pelan.
"Kita tunggu saja sampai Rosa sembuh sakitnya, om yakin tak lama lagi Rosa pasti kembali hanya menunggu waktu saja."nasehat om lagi, beruntung oom serta bibiku tidak seperti ayah serta ibuku yang justru semakin membuatku pusing. setelah bercakap-cakap sebentar aku pamit kekamar untuk merebahkan tubuh lelahku diatas ranjang.