
Sekarang sudah jam 11 malam, sedangkan Rosa belum juga memberiku kabar, atau sebaiknya ku ikuti saran dari ayah katanya suruh lapor polisi.
Tapi biarkan aku tunggu sampe besok pagi mendatang, saat ini aku mas Heru serta mas Erik tengah duduk diteras rumah mas Heru sambil ngobrol.
"Rend apa tidak kamu lapor polisi saja besok, jika Rosa belum juga memberi kabar."ucap mas Heru.
"Iya mas sambil nunggu sampai besok itu Rosa ada kabar tidak."jawabku pelan.
"Rend kalo memang nanti Rosa masih pengen sendiri dulu biarkan saja, biarkan dia menyembuhkan luka hatinya terlebih dahulu, kamu jangan memaksa,"nasehat mas Erik
"Iya Rend, benar kata erik mungkin saja Rosa sangat sakit dengan ucpanmu. jadi sebaiknya berikan dia ruang untuk sendri."tambah mas Heru.
Aku sangat bersyukur selalu di kelilingi oleh orang-orang baik. saat kami tengah ngobrol karna malm sudah semakin larut tidak memungkinkan lagi untuk mencari Rosa, ahirnya kuputuskan untuk menunggu sampe besok pagi.
...ΩΩΩ...
Sementara ditempat lain Rosa tengah mengobrol dengan bi Sumi, sedikit bi Sumi memberi nasehat agar Rosa memberikan kabar pada suaminya, meskipun belum ingin pulang guna menenagkan diri terlebih dahulu.
"Ros sebaiknya kamu kabarin Rendy saja, maksut bi Sum bukan minta untuk dijemput, tapi setidaknya biar mereka tenang Ros."nasehat bi Sum.
"Iya bi tapi nanti kalo mas Rendy maksa mau jemput gimna? aku gak mau ketemu dulu sama mas Rendy bi,"ucapku, aku malas banget ketemu sama mas Rendy.
"Tidak-tidak, nanti jika Rendy maksa biar bi Sum bantu ngomong ya Ros,"jawab bi Sum lembut sambil memijat kakiku.
"Iya bi tapi aku tetap belum mau pulang!"ucapku lagi dan bi Sum hanya mengangguk.
Segera kuhidupka ponsel yang sedari tadi kumatikan. begitu hidup ada banyak pesan yang masuk, mb Rini mb Dewi juga mengirimi pesan kulihat Nita juga, tapi tidak dengan mas Rendy dia sma sekali tidak mengirimiku pesan.
Pesan mb Rini kubuka terlebih dahulu, ada banyak dengan waktu yang berbeda, setelah kubaca ada sedikit rasa kasian pada mas Rendy.
Dalam pesanya mb Rini mengatakan jika kasian Rendy bingung cari-cari aku bahkan sampai nangis, tapi segera ku tepis rasa kasian itu iya aku masih sangat kesal sama mas Rendy.
Ternyata ada juga pesan dari Mutia, Rio juga Arga, berarti mas Rendy mencariku kekantor juga. terserahlah intinya aku belum mau ketemu dulu aku masih sangat kesal. dari sekian banyak pesan masuk hanya dari mb Rini yang kubuka lalu kubalas.
"Mba katakan pada mas Rendy tidak usah cari aku, malam ini aku belum ingin pulang aku masih malas ketemu mas Rendy. biarkan saja dia merenungi kesalahanya sendri.
Dan mb aku baik-baik saja anakupun begitu, kami aman jadi tidak perlu kawatir dan sampaikan pada Rendy gausah pake acara lapor polisi lebay!"tulisku dalam pesan yang kukirim ke mb Rini, setelah pesan terkirim dan dibaca, segera kumatikan ponselku seperti tadi.
...ΩΩΩ...
"Rend ini Rosa balas pesanku, coba kamu baca!"titah mb Rini padaku, segera kuambil ponsel mb Rini dari tanganya.
Entah kenapa tanganku gemetaran saat menerima ponsel mb Rini dan jantungku berdebar kencang seperti akan melompat keluar.
Perlahan mulai kubaca isi pesan dari Rosa, deg jantungku bertambah kencang debaranya, berati malam ini Rosa tidak akan pulang, dimana dia tidur. bagaimana jika dia tidak tdur kalo tidak kuelus, aku harus menjemput Rosa harus.
"Rend Tend udah belum bacanya?"tanya mb Rini, sedangkan mas Erik dan mas Heru hanya memperhatikanku.
"Mb Rosa bilang tidak dia ada dimana? biar aku jemput mba,"ucapku.
"Baca mba. tapi kalo malam Rosa tidak bisa tdur jika,"ucapan terhenti ketika mendengar suara mas Heru.
"Rend biarakan dulu Rosa tenang, setidaknya untuk sekarang Rosa baik-baik saja. jika dia dculik tidak mungkin dia akan mengirim pesan pada Rini,"ucap mas Heru pelan.
"Tapi mas kalo sebenarnya Rosa diculik dan pesan itu,"lagi-lagi ucapanku terhenti dengan suara mas Erik.
"Rend berpikirlah positif, maka hanya kebaikan yang kamu dapatkan, jangan sekalipun memikirkan hal nengativ."ucap mas Erik sedikit keras suaranya
"Tapi mas aku,"aku tak bisa lagi meneruskan ucapanku.
"Kami tau ketakutanmu Rend, tapi mengertilah jika Rosa butuh waktu sendri. biarkan dia tenang dulu yakinlah dia baik-baik saja."ucap mas Heru lagi.
Aku terduduk kembali dikursi, aku sama sekali tidak menyangka akan seperti ini kejadianya. Rosa begitu sakit hati dengan sikapku.
"Ini sudah hampir pagi Rend aku pamit pulang dulu, atau kamu mau nginap drumahku?"tanya mas Erik memecahkan lamunanku, aku juga kaget mas Erik mengatakan sudah hampir pagi.
"Trmakasih mas sudah menemani, maaf saya sama Rosa merepotkan."jawabku pelan.
Aku sudah lelah kepalaku pusing ditambah siang tadi aku agak banyak minum, apalagi sekarang pusing memikirkan Rosa.
"Tidak Rend, itulah gunanya sodara yaudah aku permisi."pamit mas Erik kemudian berlalu menuju rumahnya.
"Minep sini saja Rend, apa kamu mau pulang kerumah orang tuamu?"tanya mas Heru, kulihat mba Rini sudah tidak ada mungkin sudah kedalam.
"Aku pulang kerumah ibu saja mas!"jawabku pelan sekali.
"Jamu yakin? ini sudah mau pagi Rend."ucap mas Heru lagi.
"Yakin mas, yasudah istrahatlah mas aku minta maaf sudah merepotkan."jawabku lagi.
"Tak apa Rend, jika kamu tidak mau menginap disini hati-hati Rend. tenangkan pikiran aku yakin Rosa baik-baik saja, hanya dia memang butuh waktu untuk sendri."nasehat mas Heru.
"Iya mas, trimakasih sudah banyak membantu, aku permisi dulu mas."pamitku, dan mas Heru hanya mengangguk.
Perlahan ku kendarai motorku menuju rumah ibu, karna ini sudah hampir pagi maka aku jarang menemui kendaran, hanya 1 atau 2 saja itupun truk besar yang membawa barang berat menuju provinsi sebelah.
Dalam perjalanan pikiranku terus tertuju pada Rosa. sefatal itu aku melukai hatinya hingga dia tidak mau pulang malas bertemu denganku, padahal itu hanya pertengkaran kecil.
Dulu kami pernah hampir berpisah tapi Rosa tidak seperti ini. apa ini karna bawaan hamil karna memang semenjak hamil Rosa jadi emosional.
Padahl Rosa bukan tipikal orang yang pemarah, dia itu penyabar bahkan sangat sabar menghadapi semua sikapku.
Mungkin saat ini Rosa benar-benar lelah badan dan terutama pikiran. saking asyiknya melamun, aku sampai tidak sadar jika sudah sampai dihalaman rumah orang tuaku.
Suasana rumah sudah sunyi sepi aku yakin penghuninya sudah tidur lelap, perlahan kuketuk pintu pelan takut mengagetkan orang tuaku.