
Kuajak Ryu setelah cukup lama ngobro dirumah bi Melati, sudah jam setengah 7 sudah waktunya Ryu mandi. mas Rendy sudah pulang lebih, mas Rendy sakit perut. begitu sampai didapur rumah ibu sudah ramai, ayah ibu Nita juga Fero sudah lengkap farmasi.
"Sini dulu yang duduk."panggil mas Rendy.
Tanpa menjawab aku bergeges duduk disebelah mas Rendy, Ryu kuturunkan dari gendongan lalu diambil sama mas Rendy.
"Jadi gini, rencananya resepsinya Nita mau ayah adakan ahir bulan ini. sehari setelah disini langsung pindah kerumah Fero."ucap ayah mertua membuka pembicaraan.
Aku kaget dong, pasalnya aku sudah sangat tidak betah disini. yang membuatku tidak betah itu karna kelakuan mas Rendy yang membuatku benar-benar muak, main terus tanpa ingat waktu. sedangkan kedua orang tuanya gak pernah sama sekali menegur, padahal tau kalo malam Ryu sering begadang sampai lewat jam 12 malam.
"Jadi kalian berdua sebaiknya pulang nanti setelah acara, ayah disini gak ada yang bantuin."lanjut ayah mertua.
Kulihat wajah mas Rendy begitu bersinar, ia bahagia mendengar ucapan ayahnya aku yakin. dia yang sangat ogah-ogahan pulang kerumah ibu, ditambah akan ada acara kaya gini semakib hore-hore saja mas Rendy.
"Kamu nanti bantuin ibu ya nduk, dulu kan bu Tika sudah pernah hajatan jadi sudah paham."ucap ibu sembari menoleh padaku.
"Ya harus itu, kamu disini nanti gantinya ibumu."ucap Ayah mertua.
"Em iya bu."jawabku singkat.
Aku dapat melihat perubahan diwajah mas Rendy, aku yakin dia kesal dengan jawabanku. aku tidak peduli, dia saja tidak memikirkan perasaanku. untuk apa aku memikirkan nya, buang waktu saja.
Selesei mendengarkan mereka ngobrol aku masuk kedalam rumah menyiapkan air untuk mandi Ryu, setelah siap kuambil Ryu dari gendongan mas Rendy lalu kumandikan.
Selesai mandi aku masih dikamar menyusui Ryu, tak lama pintu kamar dibuka dari luar. dan ternyata Nita yang masuk kedalam kamar.
"Ryu tidur mba?"tanya Nita sembari menutup kembali pintu kamar.
"Belum Nit, masuh nyusu ini."jawabku sembari tersenyum kearahnya.
Ia masuk lalu naik keatas ranjang, dan membaringkan rubuhnya disebelah Ryu.
"Aku pusing mb."keluhnya.
Nah kan tepat seperti dugaanku, dia akan berkeluh kesah padaku. oke mari kita dengarkan apa yang akan diceritakan.
"Pusing kenapa Nit?"tanyaku sembari menepuk-nepuk pantat Ryu.
"Fero itu lo mba ko kaya gitu ya, kemarin kan kami kondngan kerumah saudara ibunya.
"Terus pakai mobil nyewa, eh malah disana dia nyamperin mantan pacarnya."ucap Nita.
"Oh mungkin saja ada urusan Nit."
"Gak mba, memang Fero masih hubungan sama perempuan itu. aku lagi hamil kok dia malah kaya gitu ya mba, trus tambah pusing karna sekarang dia gak kerja sedangkan kebutuhan banyak."lanjut Nita
"Yah kaya gitulah kalo udah keluarga."
Jujur saja aku malas mendengar keluhanya si Nita, rumah tanggaku sendiri aja belum bener malah ketambahan dia ngeluh.
"Pusing aku mba, untung aja aku honor ini. jadi masih bisa buat sehari-hari,"lanjut Nita.
Nita terus bercerita banyak, ia juga mengatakan Fero cuman ngabisin uang dan gak bisa nyari uang.
Dalam hati aku bukan mau ngapokin yah, hanya saja aku merasa allah itu adil. dulu aku digituin sama kakaknya, dan sekarang adiknya pun dapet perlakuan yang sama dari suaminya.
Semenjak kejadian aku cekcok sama mas Rendy, aku jarang bertegur sapa untuk sekedar ngobrol. diapun sering main, berangkat pagi pulangnya sore. kalo mainnya malem abis magrib, yah pulangnya hampir subuh. dia gak peduli anak dirumah mau nangis atau apalah, yang terpenting dirinya bahagia bersama teman-temanya.
Suami idaman banget kak, mas Rendy gitu loh. aku kadang sampai jengah sendiri dengan kelakuan nya, masih seperti anak bujang lo gila banget kan.
Seperti biasa siang sehabis zuhur Ryu bangun tidur, kubawa dia keluar keterasa samping. suasana rumah sepi banget, karna Nita sama Fero tidur dikamarnya. ibu sama ayahpun tidur dikamarnya, aku sama Ryu yang bangun duduk diteras samping.
Ryu sudah tengkurap dilantai sembari mainan ludah, sedangkan aku duduk disampingny."Ryu capek, bangun dulu yah nak."ucapku sembari mendudukan Ryu dipangkuanku.
Kuajak Ryu ngobrol sambil sesekali kuciumi perutnya yang gembul, dia tertawa-tawa karna geli. tak lama mas Rendy datang, entah dari mana aku tak peduli males tanya.
Begitu turun dari motor dia langsung berbaring disebelahku, aku hanya diam enggan bertanya. dari aroma yang keluar dari tubuhnya dapat kusimpulkan jika mas Rendy habis mabuk, tapi sudah tidak peduli. jikq dulu aku akan memaki-maki, tapi tidak dengan sekarang aku memilih diam.
"Ryu sini sama ayah nak."ucapnya sembari memejamkan mata.
Aku tak bergeming sama sekali, aku diam saja. muak banget aku sama kelakuan mas Rendy, dia gk mencerminkan sikap seorang ayah sama sekali.
"Ryu sini nak."panggilnya lagi.
Segera kuangkat Ryu yang lagi mainan dilantai sembari tengkurap, kududuk kan disamping tempat mas Rendy berbaring.
"Lo Iyu, semalem kok nangis ngapa sih nak?"tanya mas Rendy sembari menciumi perut Ryu.
"Iyu pengen bobok dipeluk ayah ya?"
"Nanti malam ya ayah peluk Iyu tidur."lanjut mas Rendy sambil terus menciumi perut ketek kakinya Ryu.
"Ibu Iyu kok diem aja sih?"tanya Mas Rendy sembari mencolek pinggangku.
Aku diam tetap diam, aku sudah benar-benar males sama mas Rendy. sudah berhari-hari aku disini, hubunganku sama mas Rendy tetap kaya gini. kembali kekehidupan ku yang dulu, sebelum hamil Ryu.
"Mint tolong ambilin makan dong ibu Ryu."ucap Mas Rendy.
Tanpa menjawab aku segera bangkit berdiri, segera ku berlalu masuk kedapur. kuambil piring lalu memasukan nasi dan lauk pauk, dan segera kubawa kedepan.
"Ni mas."ucapku sembari menyerahkan piring kedepan mas Rendy.
Bukq mas Rendy yang semangat, tap malah Ryu yang semangat mendekat langsung tanganya masuk kedalam piring.
"Eh sayang jangan ya, ini pedas."ucapku sembari mengangkat Ryu menjauh dari piring.
Tak terima, Ryu langsung menangis saat tubuhnya kuangkat. kuajak Ryu jalan dihalaman belakang, sedangkan mas Rendg kubiarkan makan sendiri.
Tak lama mas Rendy menyusulku kebelakang, diapun mendekati Ryu yang terus menangis dalam gendonganku.
"Coba sama ayah yuk."ucap mas Rendy sembari mengulurkan kedua tangan.
Ternyata Ryu menolak, ia justru semakin menangis sembari menunjuk-nunjuk arah jalan.
"Ryu mau main yah? ibu ajak Ryu main tapi gak boleh nangis ya."aku mencoba membujuk Ryu sembari kulangkahkan kakinya kearah jalanan.
Tangisnya sudah berubah tawa, apalagi saat kuajak duduk didepan rumah bi Melati tepat dibawah pohon. kebetulan samping nya ada kolam ikan, Ryu jadi semakin senang sembari melihat ikan yang berenang kesana kemari.