After Wedding

After Wedding
sayonara



Lima hari terasa begitu cepat, seperti cuman lima jam saja. saat ini aku masih dikantor mengurus surat pengunduran diriku, serta membereskan barang-barang pribadi dengan ditemani Mutia.


Sedangkan Rio serta Arga tengah duduk anteng dikursi sambil memantauku sama Mutia.


"Jadi rencananya kapan Ros kamu mau pulang kampung?"tanya Mutia.


"Mungkin tiga hari lagi Mut, nanti malam aku mau usg dulu. pengen tau dia cewek atau cowok."jawabku seraya mengelus perutku.


"Kudoakan semoga lancar semuanya ya Ros, aku ada sesuatu buat kamu. enggak seberapa tapi tolong diterima ya,"ucap Mutia sambil menyerahkan satu bungkusan bergambar boneka.


"Makasih ya mut. kamu gak perlu repot-repot sebenarnya, nanti aku buka kalo sudah sampai rumah ya."jawabku sambil tersenyum.


"Malo sudah kelar ayo kita segera keluar makan siang!"seru Rio sambil duduk santai.


Tak lama Arga berdiri lalu berjalan santai mendekati mejaku."Ros kamu jangan lupakan aku yang tampan ini ya, semoga anakmu nanti mirip aku jadi kamu selalu ingat."ucap Arga dengan wajah sendu.


"Iya Ga, aku minta maaf ya kalo selama kita kerja disini aku sering buat kamu kesal,"jawabku pelan sambil menahan tangis.


Sungguh aku benar-benar berat mereka semua, meski hanya teman tapi sudah seperti saudara.


"Enggak Ros. justru aku yang sering bikin kamu kesal, aku yang minta maaf."ucap Arga dengan suara bergetar, matanya merah bibirnya bergetar demi apapun aku kaget Arga nangis.


"Aku kesal kalo kamu ngejek aku. tapi aku sering ketawa kalo kamu lagi ngelucu,"jawabku.


Tak lama Rio datang menghampiri kami berdiri tepat disebelah Mutia."sudah Ga. kamu ini malah bikin berat Rosa saja, orang tua Rendy masih disini pasti Rosa akan sering kesini,"jawab Rio tegas.


"Iya Io. ehm Ros ini aku ada sesuatu buat kamu, nanti dibuka kalo sudah sampai rumah tapi jangan ketawa ya Ros,"ucap Arga serius.


"Yampun Ga kamu repot-repot. tapi terimakasih ya Ga,"jawabku sambil tersenyum hangat.


"Yaudah yuk kita makan siang dulu, nanti abis makan siang kita beres-beres lagi Ros,"ajak Mutia, dan disanggupi oleh kami semua.


Kami segera melangkah bersama kebawah, kebetulan kami akan menumpang menggunakan mobil Rio seperti biasa.


Setelah kami semua siap naik kemobil Rio segera melajukan mobil menuju jalan raya.


"Ngomong-ngomong mau makan dimana kalean?"tanya Arga sudah mulai tengil lagi.


"Enaknya dimana Mut menurutmu?"tanyaku pada Mutia.


"Cafe ladyrose saja yuk. kabarnya belum lama grandopeningnya."jawab Mutia santai.


"Boleh juga, kali ini biar aku saja yang traktir."jawab Arga dengan senyum sumringah.


"Oke deh fix. Arga yang traktir kita hari ini,"ucap Rio sambil sesekali menoleh kebelakang kearah Mutia.


Melihat tingkah mereka aku jadi ingat aku sama mas Rendy beberapa tahun yang lalu, saat kami tengah dimabuk cinta dunia seolah milik kami berdua. tak ada beban yang ada hanya hari-hari manis yang kamu lalui berdua.


...ΩΩΩ...


Setelah selesai dengan acara makan siang kami segera kembali kekantor. begitu sampai kantor kami segera kembali kemeja masing-masing begitupun aku, aku duduk dikursiku untuk terahir kalinya.


Kupindai setiap sudut ruangan begitu banyak kenangan yang kulalui disini suka maupun duka. kulihat didinding banyak sekali foto kami berlima, ada satu foto dalam ukuran besar kami berlima terlihat bahagia.


Aku ingat itu foto saat kami memenangkan tender Mega Compny beberapa tahun yang lalu. aku teringat saat Arga masuk kerja, aku begitu kesal karna tingkahnya yang sangat tengil.


Meski sering kumarahi tapi tetap saja dia selalu menggodaku, mataku menghangat ada air mata jatuh dipipiku, begitu beratnya aku harus melepas semua ini dadaku terasa sesak.


"Ros."panggil Rio tiba-tiba sudah berdiri disamping mejaku.


"Kamu nangis Ros. sudah Ros namanya ada pertemuan pasti ada perpisahan, lagian mertuamu kan masih disini jadi kamu masih sering kesini kan."ucap Rio. aku tau dia berusaha membuatku tenang.


"Iya Io."hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku. aku justru tergugu mendengar ucapan Rio.


"Ros ini bukan untuk kamu, tapi untuk anakmu nanti kalo sudah lahir jangan lupa pakaikan ya,"ucap Rio seraya mengulurkan paperbag berukuran besar padaku.


"Makasih Io, jangan lupa nanti kalo kalian nikah kabari aku ya. aku usahakan datang,"jawabku dengan suara bergetar.


"Pasti. doakan kami ya Ros akupun tak lupa selalu mendoakanmu, semoga kebaikan selalu menyertai keluargamu. aku permisi,"ucap Rio sambil berlalu tanpa menunggu jawabanku.


Kutarik paperbag dari Rio, kuintip sedikit lalu kututup kembali. kumatikan komputerku untuk terahir kalinya, kepalaku mendongak berat rasanya namun memang inilah jalanya.


Kuhirup udara sebanyak-banyaknya lalu kuhembuskan, kukabari mas Rendy untuk menjemputku lima belas menit lagi. kuayunkan langkah kakiku menuju meja Mutia sambil membawa beberapa bingkisan dari meraka.


"Mut."panggilku pada Mutia yang tengah asik dengan layar monitor didepanya.


"Eh Ros sudah mau pulang ya,"jawab Mutia sambil berdiri lalu berjalan menghampiriku.


"Mut maaf ya jika selama aku menjadi timmu banyak salah, tanpa sengaja menyakitmu."ucapku dengan suara bergetar.


"Enggk Ros. kamu sudah kuanggap saudariku sendri, jangan lupa ya Ros sama aku. setelah kamu pergi pasti ruangan ini semakin sepi Ros, banyak kenangan Ros yang kita lalui bersama."jawab Mutia, Mutia menangis seraya memeluku punggungnya bergetar kuat.


"Doakan aku ya Ros, aku takut menghadapi semua sendrian kamu jauh. aku gak bisa setiap saat bertemu lalu bercerita sama kamu. akupun akan selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu,"ucap Mutia lagi.


Aku semakin tergugu dipelukan Mutia lidahku kelu untuk sekedar menjawab ucapan Mutia.


"Makasih ya Mut, kamu sudah anggap aku saudara kamu. ada apapun jangan sungkan untuk cerita sama aku, langsung saja hubungi aku Mut,"jawabku disela tangisku.


Tak lama Rio serta Arga sudah menghampiri kami yang tengah berpelukan seraya menangis, kalo aku melihat wajah mereka berjuta kenangan kebersamaan terlintas dimataku.


"Ros jika nanti lahiran kabari kami ya, kami usahan kesana untuk menengok anakmu. agar anakmu tau kalo onty sama uncle nya banyak."seru Arga seraya tersenyum.


"Sudah tidak usah menangis. kamu percayakan sama aku Ros, aku akan menjaga Mutia sebaik mungkin. kamu tidak perlu kuatir Ros,"ucap Rio seraya mendekat kearahku.


"Maafkan aku Ros, aku sempat menyukaimu meski aku tau kamu sudah bersama Rendy. tapi itu dulu sebelum aku bersama Mutia, aku janji untuk segera menghalalkan Mutia."ucap Rio lagi seraya mengelus kepalaku.


Aku semakin tergugu mendengar ucapan Rio, hanya anggukan kepala yang mampu aku lakukan.


"Ayo kita kebawah nanti takutnya Rendy menunggu terlalu lama."ucap Arga, lalu kami berempat segera turun kebawah dengan digandeng aku menuruni tangga yang sudah menemaniku bertahun-tahun.


Kulihat barang-barangku sudah dibawa oleh arga serta Rio, sampai bawah kulihat mas Rendy sudah duduk di kursi parkiran.


"Rend sudah lama,"sapa Rio ramah, seraya menyerahkan beberapa barang pada mas Rendy.


"Belum Io, aku sengaja tidak mengabari Rosa pasti dia masih nangis-nangis, eh ternyata benar."jawab mas Rendy seraya tersenyum.


"Rosa nangis terus dari tadi sedih."jawab Arga, sedang mas Rendy hanya tersenyum.


"Aku pamit dulu ya. Mut Io Arga makasih iya kalian udah baik banget sama aku,"ucapku singkat seraya menjabat tangan mereka bertiga.


"Makasih sudah menjaga selama dikantor. kudoakan semoga Rio sama Mutia segera halal, dan untuk arga segera menemukan tambtan hati,"ucap mas Rendy seraya tersenyum


"Kami permisi ya,"pamit mas Rendy, dengan diiringi tatapan mata mereka bertiga.


Mas Rendy membawaku keluar dari bangunan yang sudah bertahun-tahun menjadi tempatku mencari rezeki, sampai benar-benar menghilang dari pandangan mataku aku baru bisa mengalihkan tatapan dari kantorku.