
Malamnya aku langsung beberes kontrakan dengan dibantu mb Rini juga mas Rendy, rencananya besok pagi kami pindahan kerumah ibu mertua. kebetulan besok hari minggu jadi mba rini serta mas Rendy sudah siap membantu.
"Ros packing saja semua, sisain yang dipakai tidur malam ini saja."ucap mba Rini sambil sibuk mengemas barang-barangku.
"Iya mba. maaf ya mba aku ngerepotin mba Rini terus,"jawabku seraya memasukan tas-tasku kedalam kantong tas besar.
"Iya si Ros kaya sama siapa aja. sepatu kamu sekalian masukin situ biar enak besok tinggal angkut,"ucap mb Rini.
Sambil memasukan barang-barangku aku jadi teringat masih banyak bahan makanan serta makanan instan yang masih layak."mba ambil saja semua yang dikulkas, masih bagus-bagus ko mb aku belum lama ngisinya. ayo mb kita liat,"ucapku seraya menarik tangan mb Rini.
Begitu sampai didepan kulkas segera kubuka lalu kukeluarkan isinya."mba liat roti-rotinya masih belum aku buka, lalu difrizer juga ada ikan, ayam, udang sama bakso. nanti bawang merah sama yang lainya bawa aja ya mb,"ucapku sambil memasukan semua yang dari kulkas kedalam plastik.
"Banyak banget Ros. kenapa gak kamu bawa saja kerumah mertuamu?"tanya mba Rini heran.
"Hehe buat mba aja. dirumah ibu sudah banyak makanan mb, sayangkan kalo dibawa kesana nanti malah gak kemakan."jawabku seraya tertawa. kudengar ada suara ramai diteras aku serta mb Rini segera kedepan.
Begitu sampai depan ternyata sudah ada Rizal teman mas Heru, tapi sudah akrab juga sama mas Rendy."bikin minum ya tiga,"ucap mas Heru sambil menatap kami berdua.
"Iya. ayo Ros,"jawab mb rini seraya menariku menuju kontrakanya.
Sampai didapur mb Rini segera menyiapkan tiga gelas untuk membuat kopi."Ros buka saja rotinya ya untuk teman mereka ngopi,"ucap mb Rini sambil membuka satu bungkus roti.
"Silahkan mba,"jawabku sambil menuang air panas kedalam gelas.
Setelah selesei segera kami bawa keluar kopi serta rotinya, aku ngobrol sama mba Rini hingga jam setengah sembilan malam.
Setelahnya kami masuk kedalam menyisakan para lelaki yang tengah asyik main game, entah jam berapa mas Rendy masuk kamar karna aku sudah terlelap lebih dulu.
...ΩΩΩ...
Paginya sekitar jam enam aku sudah bangun, kuregangkan tubuhku untuk melemaskan otot-otot yang kaku.
Setelahnya aku segera turun dan langsung menuju kamar mandi, selesei mandi segera kubangunkan mas Rendy.
"Mas ayo bangun udah siang,"panggilku sambil menggoyang pundak mas Rendy pelan.
"Jam berapa sekarang yang?"tanya mas Rendy masih dengan mata terpejam.
"Setengah tujuh, cepat bangun mas beli sarapan aku lapar."jawabku, mas Rendy bergegas turun dari ranjang langsung masuk kedalam kamar mandi.
Begitu selesei ganti baju mas Rendy segera mengeluarkan motor lalu melaju untuk membeli nasi uduk.
"Hai mba sudah sarapan belum,"tiba-tiba Nita datang sambil membawa plastik ditanganya.
"Eh Nit, belum masih nunggu mas Rendy lagi beli sarapan,"jawabku setengah kaget karna mendapati Nita sudah melongok dipinggir pintu kamar.
"Hehe kaget ya mba, ini aku bawa bubur ayam mba buat sarapan,"ucap Nita sambil memperlihatkan plastik bawaanya.
"Wahh enak tuh. tapi kita tunggu mas Rendy dulu ya nit mungkin gak lama lagi sampai,"jawabku.
"Oke mba,"ucap Nita sambil meletakan plastik dilantai tepat disebalhku, ternyata benar tak perlu menunggu lama mas Rendy sudah sampai.
"Lo Nit pagi-pagi dah kesini ada apa?"tanya mas Rendy.
"Nasi uduk, kamu juga bawa sarapan?"tanya mas Rendy.
"Iya mas. yaudah basing mau sarapan yang mana, aku sih mau sarapan bubur ayam aja,"ucapku seraya mengambil satu sterofom, lau diikuti Nita juga mas Rendy.
Setelah selesei dengan acara sarapan, kami kembali berkemas dibantu mba Rini serta mas Heru.
Tepat setelah selesei berkemas mobil yang kami sewa untuk mengangkut barang-barang sudah sampai.
Setelah semua tertata diatas mobil aku segera pamit pada pemilik kontrakan tak lupa mengembalikan kuncinya, aku dengan mas Rendy Nita sendiri sedangkan mobil yang kami sewa mengikuti dari belakang.
...ΩΩΩ...
Sehabis magrib aku sudah tiduran diatas ranjang kamar mas Rendy dirumah mertua.
Aku merasa benar-benar capek setelah tadi seharian beberes barang-barang yang barusaja kami bawa dari kontrakan.
"Capek?"tanya mas Rendy sambil mengusap perutku.
"Iya mas. besok malam saja gimana mas usgnya, aku udah mager banget ini mas,"jawabku seraya memeluk guling.
"Ya gak papa besok malam juga oke. sini pijitin kakinya yang dari jalan terus gak mau berenti."ucap mas Rendy seraya memijat kakiku.
"Mas berati aku pulang duluan ya sama ibu, trus mas Rendy nyusulnya kapan?"tanyaku sambil memejamkan mata menikmati pijatan mas Rendy.
"Ya entah dua hari atau tiga hari sayang, mas ngurus bpjs kamu dulu nanti kalo sudah kelar mas langsung susul kamu,"jawab mas Rendy sambil tanganya tetap memijat kakiku.
"Tapi jangan lama-lam loh mas, nanti aku keburu lahiran."ucapku sembari tertawa.
"Kalo ngomong yang benerlah, orang masih tujuh bulan masa mau lahiran,"jawab mas Rendy sedikit ketus.
"Iya-iya maaf sih maaf gitu aja marah,"ucapku tak kalah ketus.
"Makanya kalo ngomong yang baik-baik, kamu taukan ucapan itu adalah doa. makanya kalo ngomong baik tandanya doa baik paham!"jawab mas Rendy dengan tangan masih tetep mijat kakiku.
"Kalo gak iklas mending gausah mijet deh, nanti kakiku yang ada malah nambah sakit bukanya sembuh."ucapku dengan nada tinggi.
"Enggk sayang, iklas lo masa iya buat istri yang lagi hamil enggak iklas,"jawab mas Rendy sudah dengan suara santai.
"Kali aja gak iklas. ngedumel dalam hati emang aku tau, gak kan?"ucapku dengan suara ketus, entah kenapa aku jadi uring-uringan sendri malahan.
"Lah ko malah marah, orang dipijit itu biar cepat tidur ini malah cepat marah,"jawab mas Rendy sambil tertawa.
Mendengar mas Rendy tertawa aku malah semakin emosi, ditelingaku ketawa mas Rendy terdengar mengejek membuatku semakin emosi.
"Ish udah lah gausah pijat lagi,"jawabku sambil menelentangkan tubuh.
"Hei tidak boleh tidur seperti itu, ayo balik sana lagi cepat mas pijat lagi. dan satu lagi jangan banyak omong cepat tidur,"ucap mas Rendy seraya memiringkan tubuhku.
Lalu mas Rendy segera membaringkan tubuhnya dibelakangku lalu mengelus pinggangku.
"Jangan banyak pikiran oke. biar nanti lahiranya lancar adek bayinya juga sehat ya,"ucap mas Rendy seraya mengelus punggungku lalu mengecup leherku dari belakang, setelahnya aku benar-benar terlelap.