
Terhitung empat hari sudah mas Rendy drumah orang tuanya, sudah berkali-kali kutanyakan kapan pulang kesini tapi jawabanya besok entah besoknya itu kapan. seperti saat ini mas Rendy tengah menlponku tak lupa kutanyakan kapan pulang.
"Pulang kesini kapan si mas, dari kemaren besok terus jawabanya tapi gak pulang-pulang."ucapku ketus jujur saja aku kesal mas rRndy disana lama-lama. apalagi ayah sama ibu sudah berkali-kali menanyakan, bukan apa-apa hanya kasian aku.
"Sabar yang sebentar lagi,"jawab mas Rendy santai seolah tidak punya beban, padahal dia ninggalin istri yang lagi hamil besar.
"Mas dari kemaren jawabnya cuman gitu terus kalo ditanyain, niat kesini gak si mas. aku ini istri kamu lo aku lagi hamil anak kamu,"ucapku dengan sura tinggi, aku sudah tidak bisa menahan lagi emosi yang sudah beberapa hari aku tahan.
"Ros aku disini tempat orang tuaku, lagian baru empat hari kamu udah reseh banget nyuruh aku pulang,"jawab mas Rendy tak kalah keras suaranya.
"Iya memang disitu orang tua kamu, tapi kamu sudah punya istri mas dan lagian apa sibuknya kamu disitu, kamu cuman main kan setiap hari. jadi ngapain lama-lama disitu gak ada manfaatnya,"ucapku sudah meledak kekesalanku dengan ucapan mas Rendy, seolah-olah ngegampangin aku.
"yampun baru ditinggal beberapa hari udah kaya gitu, makanya kalo gak mau ditinggal itu lahiran dsini. kalo kamu lahiran disini pasti gak akan aku tinggal kemana-kemana,"jawab mas Rendy.
"Yakin kalo aku lahiran disitu gak akan kamu tinggal, lalu gimana sama teman-teman sehidup semati kamu. bukanya mereka kalo gak ada kamu gak bisa hidup?"tanyaku dengan suara sedikit membentak.
"Aku gak bisa bayangin kalo lahiran disitu, kerjaan kamu cuman maen aja. mau jadi apa aku sama anku, sedangkan disitu semua saudara ipar aku sungkan mau minta tolong, bisa-bisa aku mati muda karna tertekan,"ucapku panjang lebar sedangkan mas Rendy cuma diam.
Aku sangat ingat dulu waktu aku sakit sebelum hamil diajak pulang kerumah mertua dan malam itu waktu aku sedang parah-parahnya mas Rendy justru keluar maen dan pulang-pulang sudah subuh dalam keadaan mabuk.
Gimana jadinya aku lahiran dirumah mertuaku, ibu mertua saja tidak perhatian sama sekali sama menantu, jangankan menantu sama anaknya sendiri saja cuek.
"Yasudah lah terserah kamu, yang jelas aku belum bisa pulang hari ini. mungkin besok kalo gak lusa,"jawab mas Rendy santai.
"Terserah kamu mau pulang besok atau lusa atau mau nikah lagipun disana terserah, aku gak peduli."ucapku seraya mematikan sambungan telpon.
Kubanting ponsel diatas ranjang, dadaku sesak sekali rasanya mengingat ucapan mas Rendy sangat keterlaluan.
Lagian orang tua mas Rendy masa gak kasih tau anaknya untuk segera pulang kesini, kan mereka juga tahu kalo menantunya sedang hamil besar. dasar anak sama orang tua sama saja.
...ΩΩΩ...
Semenjak kejadian itu aku tidak menghubungi mas Rendy, begitupun mas Rendy tidak menghubungiku untuk sekedar menanyakan kehamilanku.
Keterlaluan sekali kalo memang kesal sama aku okelah tidak masalah, tapi dia juga sama sekali tidak ingat anaknya yang masih dalan kandunganku.
"Ros kok Rendy lama ya, gak pulang-pulang kesini?"tanya ibu.
"Gak tau bu. mungkin masih ngurus pencairan uang pesangon,"jawabku, lagi-lagi aku berbohong sama ibu. ini semua gara-gara ide gila mas Rendy.
"Oh iya mungkin, yaudah gak apa-apa Ros kamu kan sama ibu disini. biarkan Rendy menyelesaikan urusanya."jawabku dengan wajah berbinar. ibu gak tau kalo dirinya sedang dibohongi oleh mantu serta anaknya sendiri.
"Ayahmu pergi sama temanya, mau lihat lokaasi yang mau dibangun ruko. ayahmu dapat borongan ruko Ros lumayan."jawab ibu sumringah, ayahku memang tidak punya sawah yang luas hanya dua lokasi.
Itupun yang satu lokasi sawah miliku, tapi sedari dulu ayah pemborong kecil-kecilan jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak bingung, justru bisa dibilang lebih.
"Oiya, memang dimana lokasinya bu?"tanyaku penasaran.
"Didesa sebelah Ros. gak jauh kok ayahmu bisa pergi pagi pulang sore,"jawab ibu sambil tersenyum, ini lokasinya terhitung dekat bahkan dulu ayah pernah dapat lokasi yang jauh jadi sampai satu bulan penuh tidak pulang kerumah.
"Iya bu dekat. bu aku ngerasa Dinda semakin dekat sama bosnya aku kawatir bu,"ucapku pada ibu.
Selama aku disini sudah beberapa kali dinda pulang diantar bosnya, dan dari yang kulihat mekeka itu layaknya sepasang kekasih bukan sekedar bos dan karyawan.
"Masa si Ros, tapi ibu liat mereka biasa saja."jawab ibu, aku maklum karna ibu sudah tua cukup dengan omongan saja beliau sudah percaya. tapi lain denganku aku masih muda sangat paham hal-hal seperti itu.
"Iya bu, aku yakin mereka itu punya hubungan spesial. coba ibu kasih tau Dinda pelan-pelan mumpung belum terlalu dalam perasaanya, nanti kalo semakin lama semakin susah bu,"ucapku.
"Ros ibu ini gak cuman sekali duakali ngasih tau Dinda tentang masalah itu, namun Dinda itu kalo ibu kasih tau justru marah. dia salah paham dia pikir ibu tidak percaya sama dia."jawab ibu sambil menghela napas panjang.
"Nah berati benar bu apa yang aku kawatirkan selama ini. aku semakin yakin kalo Dinda memang ada hubungan sama bosny. biar nanti aku saja bu yang ngomong sama Dinda,"ucapku sedikit kesal, bisa-bisanya Dinda seperti itu padahal dia tau kalo Dinda sama bosnya gak bisa bersama.
"Iya coba kamu ngomng, tapi pesan ibu sebaiknya kamu jangan sambil emosi ngomong sama Dinda nanti salah paham,"nasehat ibu. aku paham mungkin ibu takut aku sama Dinda cekcok.
"Ya bu tapi ya tergantung Dinda. kalo Dinda bisa mengerti aku gak akan marah, kalo dindanya ngeyel kekeh sama kemaunya sendri ya apa boleh buat bu."jawabku.
"Ibu harap kalian gak sampai bertengkar, ibu gak mau anak-anak ibu sampai selisih paham,"ucap ibu seraya mengelus rambutku.
"Iya bu, yaudah bu aku mau kekamar dulu. ngantuk ni mau tidur siang dulu bu,"pamitku, setelah mendapat jawaban dari ibu aku segera berlalu menuju kamar.
Sampai didalam kamar segera kubaringkan tubuh lelahku diatas ranjang, kali ini tidak hanya tubuhku yang lelah tapi juga pikiranku.
Untung saja kehamilanku ini bukan tipe hamil yang menye-menye, anaku ini sangat pintar dan kuat gak rewel sedari hamil muda.
Seperti apapun alasanya Dinda tetap tidak bisa bersama bosnya, karna ada suatu hal yang memungkinkan mereka berasama dan itu tidak bisa ditentang.
Aku berharap setelah nanti kami ngobrol dia bisa mengerti, harusnya dia sudah mengerti meski tanpa dikasih tau.
Tapi kalo sudah yang namanya cinta itu sulit, cinta memang indah jika untuk pasangan yang memang tidak punya kendala. tapi jika seperti Dinda dan bosnya itu yang disebut cinta buta.