
Sudah 5 hari mas Rendy dirumah ibunya, aku sudah berpesan padanya jika sudah selesei acara cepat pulang saja.
Karena disini kan ninggalin udang, sedangkan udang itu setiap harinya harus dikasih makan 2 kali. gak enak sama yang diminta tolong kasih makan, kalo perginya lama-lama.
Tapi yang namanya mas Rendy, gak pernah sekalipun dengerin nasehatku. apa-apa dilakukan seenaknya saja, dia pikir dirinya siapa.
Jujur sipat mas Rendy yang menggampangkan itu yang selalu bikin kesal, sipatnya itu mirip banget sama sipat ayah mertua.
Dari kemarin sudah kutanyakan kapan pulang, tapi mas Rendy selalu jawab belum bisa pulang. seperti sekarng ini, aku lagi telponan sama mas Rendy.
"Mas kapan mau pulang?"tanyaku.
"Sabar ya yang!"jawab mas Rendy.
"Memang disana apa masih sibuk mas?"tanyaku masih dengan mode slow.
"Lumayan, besok malam masih mau pembubaran panitia!"jawab mas Rendy.
"Memangnya kalo gak ada mas Rendy panitia gak bisa dibubarkan ya?"tanyaku ketus.
Mas Rendy sangat aneh, ngapain bela-belain disana lama. sedangkan disini ninggalin udang yang jelas-jelas jadi sumber penghasilan.
Orang tua mas Rendy juga aneh, udah tau anaknya disini ninggalin udang. coba dikasih tau, bukanya enak-enakan disana santai malahan, gak mikir.
"Kalo ngomong itu yang kenapa si? setiap aku disini pasti kamu ribut!"jawab mas Rendy.
"Ya mikir aja sih mas, kamu disana sudah berapa hari. kamu tu ninggalin udang lo, punya dong sedikit rasa gak enak sama orang. bukanya malah santai disitu,"ucapku ketus.
"Orang yang dititipi aja santai, kok malah kamu yang ribut!"jawab Mas Rendy.
"Anak kamu ini udah kangen, nangis terus nyariin kamu."ucapku.
"Makanya kalo ada orang pergi itu ikut!"jawab mas Rendy sambil teriak.
"Haloo yang gak ngebolehi aku ikut siapa? kamu kan, kata kamu kasian Ryu. aku tau kok mas, pasti orang sana nanyain aku sama Ryu kan?
"Dan pasti kamu bilang aku gak mau ikut, iyakan? aku sudah faham sama sifat kamu. kamu yang salah tapi, orang lain yang kamu jadikan umpan!"jawabku tak kalah keras dari mas Rendy.
"Bicara apa kamu?"tanya mas Rendy sambil teriak, aku yakin mas Rendy tersinggung dengan ucapanku.
"Laki-laki tapi lemes, mulutnya seperti perempuan!"ucapku seraya mematikan sambungan telpon.
Dari kemarin aku sudah menahan-nahan emosi, aku kesal sangat kesal bahkan. heran dengan pikiran mas Rendy.
Aku sama Ryu butuh nafkah darinya, tapi mas Rendy masih santai dengan dunianya. dan juga orang tua mas Rendy pun tidak mau menasehati anaknya.
Merekapun punya anak perempuan, seandainya nanti anaknya diperlakukan seperti aku ini, apakah mereka selaku orang tuanya terima.
Mas Rendy tidak menjadi seorang ayah pada umumnya, yang melakukan apapun asal anak serta istrinya cukup.
Mas Rendy justru mengalahkan anak serta istrinya. yang penting dirinya senang, tanpa peduli anak istrinya kekurangan.
...ΩΩΩ...
Selepas Ryu bangun dari tidur siang, kuajak dia keluar dari kamar. kulihat ayah serta ibu sedang santai diteras samping.
Kulangkahkan kaki menuju teras samping, sembari menggendong Ryu."Lo cucu oma sudah bangun?"tanya ibu sembari mengambil Ryu dari gendonganku.
"Baru saja bangun bu."jawabku.
"Makanlah dulu Ros, biar ibu gendong Ryu,"ucap ibu.
"Ayah sama ibu sudah makan, sana kamu cepat makan."jawab ibu.
Aku segera berlalu meninggalkan teras samping, lalu masuk kedalam rumah dan menuju dapur, segera ku isi piring menggunakan lauk pauk serta nasi, setelah itu aku makan dengan tenang.
Selesai makan aku kembali kekamar, niat awal cuma mau ngambil botol susu untuk Ryu. tapi pas aku masuk ada bekas panggila masuk diponselku.
Dan setelah kulihat ternyata Nita yang memanggil, segera ku chat Nita untuk menanyakan ada apa.
"Ada apa Nit?"tanyaku dalam pesan yang kirim, cukup lama aku menunggu balasan dari Nita.
Jika dulu, tak perlu menunggu karna begitu pesan masuk dibaca langsung dibalas. tapi beda dengan sekarang, mengingat Nita sekarang sudah suami.
Setelah menunggu ahirnya Nita membalas pesanku juga " Gak ada apa-apa mba , tadi cuman mau nanyain berapa ukuran sepatu Ryu,"jawab Nita melalu sambungan telpon.
"Ya dikira-kira saja Nit,"balasku.
"Ya mba sudah kok, aku sama ibu juga sudah pulang kerumah."jawab Nita.
Tanpa membalas pesan terlebih dahulu, aku kembali lagi keluar menuju teras samping. dimana Ryu serta ibu berada.
"Bu ini susunya jika Ryu haus,"ucapku seraya mendudukan tubuhku di samping ibu.
"Belum kayaknys Ros!"jawab ibu.
"Ros kapan Rendy pulang? sudah lama ninggalin udang kok gak pulang-pulang,"ucap ayah.
"Mungkin lusa, soalnya tadi bilangnya besok malam mau pembubaran panitia dulu,"jawabku.
"Memangnya harus ada Rendy ya Ros? apa kalo Rendy gak ada gak bisa membubarin panitia?"tanya ibu dengan nada kesal.
"Gak tau juga aku bu,"jawabku.
"Ayah herab sama Rendy, sudah punya anak istri tapi kelakuanya kayak bujangan. gak punya tanggung jawab sama sekali.
"Kaya gini kalo pemikiranya sudah dewasa gak mungkin sampai selama ini disana, apa perlunya dia disana?
"Yang perlu banget kan justru disini, bukanya malah main-main disana. Ayah perhatikan kalo sudah pulang kerumah orang tuanya selalu lama.
"Seperti orang tanpa beban, dan juga mertua kamu itu bukanya menasehati Rendy tapi malah diam saja. sekeluarga aneh semua,"ucap ayah panjang lebar.
Apa yang dikatakan ayah semuanya benar, tentang mas Rendy juga tentang mertuaku. kadang aku pernah berpikir menyesal menikah sama mas Rendy.
Tapi kembali lagi aku berpikir, kalo mas Rendy merupakan jodoh yang dikirim allah untukku. mau bagaimanapun kelakuanya dia tetaplah suamiku, ayah dari Ryu.
"Ros, bukanya kami tidak menyukai Rendy. hanya saja sikap Rendy tidak mencerminkan kalo dirinya itu seoarang ayah.
"Jujur saja ibu kecewa sama Rendy, disinilah tempat usahanya. tempat mencari rezeki untuk anak istrinya, tapi sangat menyepelekan.
"Boleh saja kesana, karna disana juga orang tuanya. tapi carilah waktu yang pas, jangan hanya pas dirinya pengen pulang tanpa memikirkan keadaan disini.
"Kamu juga sebagai istri, harus pandai memberi nasehat Rendy. bukan untuk menjauhkan dari orang tuanya, tapi waktunya harus pas jika ingin kerumah orang tuanya.
"Toh dia itu terbilang sering ketemu, dia juga laki-laki sangat tidak pantas jika sebantar-sebentar pulang kerumah orang tuanya berdalih kangen,"ucap ibu, sangat panjang.
Apa yang belau katakan seluruhnya benar, kalo dibilang lebay mas Rendy pantas. sebentar-sebentar pulang, padahal dia itu anak laki-laki.
Aku saja dulu ketika merantau sangat jarang pulang, bisa dihitung dengan jari. itupun kalo misal pulang kampung ibu gak pernah yang namanya lama, paling mentok selama 3 hari saja.