After Wedding

After Wedding
renungan malam



"Coba mas ngobrol dulu sama ayah tentang kebenaranya,"ucapku.


Obrolan kami masih berlanjut, dan aku sengaja mengajak mas Rendy ngobrol diluar, supaya tidak ada yang mendengarnya.


"Iya nanti aku telpon ayah."jawab mas Rendy.


"Aku sakit hati mas sama ucapan Nita, bisa-bisanya dia bilang kalo kita sering minta kirim uang. mas itu yang tegas, jelasin apa yang kita alami disini.


"Kita lagi susah mas, bahkan sangat susah. apa keluargamu tau mas keadaan kita disini? yang mereka tau cuman kita hidup enak, ada usaha sudah,"ucapku, aku sengaja mengeluarkan kata-kata yang sedikit keras.


"Tunggu disini aku mau nelpon ayah!"ucap mas Rendy sembari beranjak sedikit menjauh dari temptku duduk.


Aku gak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dari nadanya aku bisa menebak jika mas Rendy tengah marah dengan ayahnya.


Tak lama mas Rendy sudah kembali duduk disampingku."Udah mas?"tanyaku.


"Udah. kamu gausah memikirkan omongan Nita, aku sudah menjelaskan semuanya ke ayah!"jawab mas Rendy.


"Nita itu sudah kuanggap adiku sendiri mas, jadi tolong bicaranya dijaga. gak lucu kan kalo aku sampai berantem sama dia?"tanyaku.


"Kamu bukan tipekal orang seperti itu yang, aku yakin itu,"jawab mas Rendy.


Aku tersenyum mendengar ucapan mas Rendy." Kenapa mas yakin sekali kalo aku akan terus diam?"tanyaku.


"Karna sifatmu memang seperti itu, gak ada sifat buruknya,"jawab mas Rendy.


"Jika mas Rendy ingin tau sifat buruku, teruslah keluargamu mencampuri rumah tangga kita!"ucapku.


"Kita jauh disini mas, tapi masih sempat ada cek coknya. apalagi kalo kita dekat disana? mungkin sudah ada bacokan diantar kami!"lanjutku.


Mendengar ucapanku mas Rendy hanya menghela nafas panjang, lalu menghembuskan lagi."Sudahlha Nita itu masih labil, jadi ucapanyan masih buruk."ucap mas Rendy.


"Hei mas yang benar saja dia labil. dia sudah menikah mas dan aku yakin sebentar lagi pasti dia hamil. apakah pantas seperti itu disebut labil?"tanyaku.


"Terus saja mas kamu belain adik kamu yang paling terbaik itu,"lanjutku seraya meninggalkan mas Rendy, dan masuk kedalam rumah.


Sampai didalam Ryu masih tertawa-tawa mainan bersama Dinda, Dinda begitu menyayangi Ryu. layaknya seorang ibu yang menyayangi anaknya.


Melihat Ryu tidak rewel aku langsung masuk kedalam kamar, melakukan pekerjaan rutinku yaitu pumping.


Asiku sangat melimpah, bahkan aku sampai bisa menyimpan difrezer dan jika hendak diminum dihangatkan terlebih dahulu.


Selesei Pumping aku keluar dari kamar dan mendekati Ryu, ternyata mas Rendy juga sudah masuk dan sedang bermain bersama Ryu.


"Anak ibu gi pain nih?"tanyaku seraya menoel hidung Ryu.


"Mainan ludah dong bu, kan mainan Ryu sekarang ludah!"jawab Dinda seraya tersenyum.


Sedangkan Ryu ikut-ikutan tertawa, seolah paham dengan yang diucapkan onty nya.


Namun justru Ryu menangis kejer, sontak kami semua tertawa serempak melihat Ryu menangis. dan ketika kami tertawa Ryu sontak terdiam.


Kami kembali tertawa melihat aksi Ryu yang sangat menggemaskan, Ryu menangis kencang tapi tidak mengeluarkan air mata.


Ryu ini dari bayi hobi banget begadang, sampai sekarang pun Ryu masih suka begadang. hanya bisa dihitung dengan jari, Ryu tidur normal selayaknya anak bayi.


...ΩΩΩ...


Semua sudah masuk kedalam kamar masing-masing, mungkin saja sudah ada yang terlelap menjemput mimpi.


Tapi tidak denganku dan mas Rendy, setelah menidurkan Ryu. aku memutuskan untuk kembali mengobrol.


Dulu, saat menjalani hubungan pacaran dengan mas Rendy. dimataku mas Rendy laki-laki sempurna, cukup untukku bersandar dibahunya.


Tapi kenyatanyaanya, justru mas Rendy yang bersandar padaku. dan saat ini ketika sandaranya telah patah, mas Rendy bagaikan layangan yang putus. terbang tinggi tapi tak terarah.


Disaat malam-malam aku sering terjaga, banyak yang kufikirkan. terutama kelanjutan hidup kami ini, menyerahkan semua tanggung jawab ke mas Rendy. seperti halnya seekor keoang mas, dari luar terlihat besar. Namun pada kenyataanya isinya sangat kecil.


Berulang kali aku meminta maaf ditengah sudutku disepertiga malam, Akan fikiran buruk yang selalu kusematan pada mas Rendy. namun inilah kenyataan yang sesungguhnya.


Ingin rasanya aku kembali seperti dulu lagi, tapi kini keadaan sudah tak sama lagi. aku sudah punya Ryu, kehidupan Ryu ada di ASIku. Aku diam memutar otak, bebagai cara kupikirkan untuk bisa membantu mas Rendy.


Jodohku cerminan diriku, inilah yang selalu kuingat. Mas Rendy adalah diriku, seburuk mas Rendy itulah gambaran diriku versi laki-laki. bukan menyesali segela yang sudah digariskan untuku, namun jika aku boleh meminta. aku hanya meminta, mudahkan segala langkah suamiku untuk mencari rezeki.


Disepertiga malam aku selalu bersujud, mengadukan segala keluh kesahku saat ini. aku bukanlah hamba yang taat, namun aku mencoba merayu rabbku untuk membukakan segala pintu kemudahan untuk keluargaku.


Mas Rendy sudah lebih dulu terlelap, namun aku masih setia terjaga. hatiku gelisah pikiranku gundah, kutatap dalam-dalam wajah tampan Ryu. malaikat kecil kami, cahaya ditengah kegelapan ini.


Jika menatap Ryu, berjuta kata maaf selalu kubisikan ditelinganya. Maafkan segala kekurangan ini, sabarlah nak kami sedang berusaha untuk memperbaikinya.


Dulu, Aku tidak pernah membayangkan ada di posisi seperti ini. aku kesusahan finansial, namun sekali lagi aku tetap bersyukur. aku selalu berhusnuzon pada sang pencipta, jika setelah ini akan ada kebahagiaan.


Kukecup kening Ryu dalam-dalam, setetes air mataku jatuh tepat mengenai mata Ryu yang tengah terpejam rapat. aku terisak kecil, mengingat semua yang terjadi ahir-ahir ini menimpaku.


Mungkin dosaku dimasa lalu begitu banyak, hingga sampai saat ini aku masih mengalami kesusahan. ya rabb, diluaran sana masih banyak yang lebih susah dari padaku. tapi kenapa hatiku sudah sangat pedih merasakan semua ini.


Jika sudah seperti ini, bayangan kesalahan, kecurangan serta keburukan yang kulakukan dimasa lalu terbayang kembali disetiap sudut mataku. Andai bisa kuputar waktu, ingin rasanya kukembalikan diriku dimasa lalu dan kuperbaiki semuanya.


Mungkin ibadahku kurang husyuk, mungkin sedekahku kurang banyak hingga aku masih masih belum bisa menepi. saat ini aku tengah berenang ditengah besarnya gelombang, susah sulit namun aku tetap harus berusaha mencapai ketepian.


Kutatap wajah lelah mas Rendy, tubuh yang dahulu bersih kini sudah berubah warna. karna seringnya terpapar langsung, dibawah teriknya sinar matahari. jika dulu mas Rendy selalu tampil modis, berangkat kerja memakai sepatu. berbanding 180 derajat dengan sekarang. bahkan sudah banyak pakaian mas Rendy yang sudah pudar warnanya, karna sudah terlalu sering cuci kering pakai.


Acap kali mas Rendy mengeluh capek, aku berusaha menguatkan dirinya. jika capeknya sekarang adalah tabungan pahalanya diaherat, setiap kali mendengar keluhan darinya sesungguhnya hatiku sakit.


Kuusap pelan kening mas Rendy yang berkeringat, mungkin dia gerah. karna kami memang sengaja tidak memakai kipas angin, kasian Ryu kedinginan.


Kulihat Ryu mengeliat, segera kubaringkan tubuhku disebelah Ryu. segar kupeluk tubuh mungilnya, perlahan ketepuk pelan pantatnya agar segera terlelap kembali.