
Reya memandang hampa pada cermin besar di kamar mandi. Sosok perempuan usia akhir dua puluhan dengan mata sembap dan tampang berantakan balas menatapnya. Tatapan penuh protes dan tuntutan pertanggungjawaban atas kesalahan paling tolol seumur hidupnya. Menikahi pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Mengingat hal ini, ingin rasanya Reya tertawa keras-keras. Menertawakan dirinya sendiri dan otaknya yang tak bisa bekerja.
Sejauh inikah pengaruh Hario padaku? tanyanya dalam hati. Sekacau inikah aku setelah ditinggal pria itu sampai aku lupa memakai otakku untuk berpikir sebelum bertindak?
Reya mulai menjambaki rambutnya dan mengutuki dirinya sendiri.
Siapa Rad? Siapa pria yang barusan dia nikahi itu? Bagaimana latar belakang hidupnya? Bagaimana rekam jejaknya? Bagaimana perangainya? Bagaimana dia biasa memperlakukan perempuan? Apa yang ada dalam pikirannya? Dan apa yang membuatnya nekat melamarnya pada pertemuan pertama? Dan apa yang membuat pria itu memilihnya di antara barangkali berjuta-juta perempuan lain?
Dia tahu Rad—nama panjangnya Radina—adalah seorang chef. Dia memiliki beberapa restoran yang tersebar di banyak wilayah. Belakangan dia juga tahu bahwa Rad adalah celebrity chef yang menjadi juri di sebuah kompetisi memasak yang disiarkan di televisi, yang sayangnya tidak pernah dia tonton. Tapi, selain itu, apa lagi yang dia ketahui tentang Rad?
Pikiran ini membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Ketidaktahuannya soal pria itu membuatnya ngeri. Bagaimana jika ternyata Rad adalah seorang psikopat? Atau seseorang dengan kelainan jiwa, yang menikahi perempuan secara sembarangan lantas menjadikannya santapan makan malam seperti di film-film horor? Bagaimana jika pria itu sebenarnya adalah buronan polisi? Atau bagaimana jika Rad adalah bos mafia yang menyamarkan profesinya dengan menjadi tukang masak? Dan bagaimana jika pria itu adalah tipe pria temperamen yang gemar melakukan kekerasan terhadap perempuan? Atau pria mesum, hypersex, yang menebar benihnya di mana pun ada ladang?
Bulu kuduknya mulai meremang. Pikiran-pikiran paranoid ini harus segera dienyahkan. Reya beranjak ke dalam bathtub dan mulai mengguyurkan air dingin ke seluruh tubuh. Namun, tetap saja, pikirannya yang kelewat aktif tak bisa dikendalikan.
Tak lama kemudian sebuah ketukan terdengar.
“Reya,” Rad bersuara. Seluruh tubuh Reya kembali siaga. “I am sorry.”
Reya tidak menjawab. Dia bahkan tidak bergerak, seolaholah Rad akan tahu jika dia bergerak.
“Keluarlah,” pinta Rad lagi. “Saya janji tidak akan menyentuhmu. Saya ... oke, saya akan keluar kamar setelah ini. Kunci pintunya biar aman. Istirahatlah.”
Reya masih tidak menjawab. Namun, beberapa saat kemudian dia mendengar suara pintu ditutup. Reya tidak begitu saja memercayai kata-kata Rad. Bisa saja pria itu sedang bersandiwara. Pura-pura keluar, padahal sedang menunggunya di depan pintu kamar mandi. Dan ketika dia keluar, Rad akan menyergapnya.
Reya bergidik ngeri. Sampai mati dia tidak akan keluar kamar mandi. Dia menyesal tidak membawa serta ponselnya ke kamar mandi. Mungkin dia bisa menelepon Hario untuk meminta bantuan.
Bantuan apa?
Reya mengerjapkan mata. Bantuan apa yang bisa diberikan oleh Hario? Apa yang bisa dilakukan pria itu untuk menyelamatkannya dari pria yang sayangnya adalah suami sahnya? Kalaupun Hario bersedia membawanya kabur, dia hanya akan menempatkan pria itu dalam masalah. Bagaimanapun, secara agama dan negara, Rad seribu kali lebih berhak atas dirinya daripada Hario.
Reya mendesah. Betapa benci dia dengan kata ‘hak’ yang baru saja muncul di kepala. Benci karena menyadari kini ada orang lain yang dinilai berhak atasnya. Apalagi orang itu adalah Rad. Orang asing yang dia bahkan tidak tahu tanggal lahirnya.
Reya beranjak dari bathtub. Air menetes dari ujung gaun pernikahannya dan tubuhnya mulai menggigil. Ada jubah mandi bersih di sebuah rak kecil. Dengan jubah itulah Reya mengganti gaun pengantinnya yang basah. Lalu, Reya mendekati pintu kamar mandi, menempelkan telinganya pada daun pintu, dan mencoba menangkap suara-suara di baliknya. Tidak ada suara. Reya belum puas. Dia mulai mengintip melalui lubang kunci. Tak ada apa-apa. Tapi, Reya tetap tak puas. Dia mencari-cari sesuatu yang bisa dipakai untuk melindungi diri. Lagi-lagi dia berdecak frustrasi ketika tidak menemukan apa pun yang berarti. Tidak mungkin kan dia melindungi dirinya dengan sabun mandi?
Namun, ketika dia nekat membuka pintu kamar mandi, dia hanya menemukan ruangan kosong. Sejauh mata memandang, sejauh dia menjelajahi kamar, tidak ada Rad. Sepertinya pria itu sudah benar-benar pergi. Reya menghela napas lega. Buru-buru dia mengunci pintu depan. Belum cukup, dia menarik meja kecil untuk mengganjal pintu. Baru setelahnya Reya benar-benar merasa aman.
Saat dia kembali ke kamar utama, Reya menemukan nampan berisi nasi goreng di meja rias. Juga secangkir cokelat yang sudah mulai dingin dan sebotol air mineral. Secarik kertas di bawah piring itu bertuliskan:
Lain kali kamu harus makan sebelum beraktivitas.
Take care.
***
Rad berdecak, memukul setir mobilnya dengan kesal. Dia bahkan masih memakai kemeja pernikahannya!
Rad benar-benar tak habis pikir setan apa yang merasuki Reya. Apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berubah pikiran saat semuanya sudah selesai dilaksanakan. Kenapa baru sekarang? Kenapa dia baru sadar sekarang kalau mereka memang melakukan kegilaan dengan menikah?
Rad sendiri tidak menyangkal bahwa apa yang mereka lakukan adalah gila dan seperti lelucon. Dia sudah mengetahuinya sejak dulu dan merasa bahwa Reya mengetahuinya juga.
Reya bersikap sangat sempurna saat pertama kali datang ke Bogor. Jessy yang perfeksionis menyuruhnya membawa Reya ke rumah saat dia datang mengabarkan bahwa dirinya sudah mendapatkan calon istri.
“Meski Jessy minta kamu segera menikah, bukan berarti kamu bisa mengambil perempuan mana pun yang kamu temukan di jalan untuk kamu nikahi, Rad!” kata neneknya itu galak.
Rad sempat khawatir Reya tidak akan lolos seleksi Jessy yang pemilih. Dan kalau sampai Reya tidak lolos seleksi, dia benar-benar tidak tahu harus mencari calon istri di mana lagi. Dia tidak yakin ada perempuan seperti Reya yang mau menerimanya sebagai suami.
Tapi, ternyata semua berjalan lebih lancar dari yang dia harapkan. Reya berhasil mengambil hati Jessy sejak memberikan buket bunga lili yang dia persiapkan.
“Lalu, apa yang membuatmu yakin Rad orang yang tepat?” Rad sempat menguping pembicaraan antara Reya, Jessy, dan ibunya. Saking cemasnya Reya tidak lolos seleksi, dirinya sampai rela menguping supaya bisa muncul untuk menyelamatkan dunia jika situasi mulai tidak menguntungkan. “Jessy, saya nggak tahu apakah Rad orang yang tepat untuk saya atau bukan. Tapi, kita nggak pernah tahu kalau nggak mencoba, kan? Lagi pula, kami sama-sama tahu apa yang kami lakukan, tahu risikonya, dan bersedia menghadapi itu bersama-sama. Apa lagi yang bisa saya harapkan, Jessy?”
Pada saat itu, Rad yakin bahwa dia sudah memilih orang yang tepat. Bukan tepat seperti yang disebut-sebut sebagai belahan jiwa dalam roman picisan, tetapi tepat orangnya. Orang yang memiliki pandangan yang sama. Orang yang barangkali tidak akan keberatan pada ruang gelap di masa lalunya, yang membuatnya tidak bisa menikahi sembarang perempuan. Terutama yang mencintainya.
Pada hari itu, Reya terlihat tahu apa yang dia lakukan.
Rad juga teringat saat pertama kali dia datang ke Yogya menemui keluarga Reya. Pak Handoko, Ayah Reya yang seorang pegawai pemerintahan itu langsung menyentuh inti persoalan.
“Reya,” laki-laki paruh baya itu terlihat pucat, “kamu hamil, Nduk?”
Rad masih ingat saat itu dia mati-matian menahan tawa. Apalagi saat Reya menjawab dengan gelengan kepala dan salah tingkah. Wajahnya sedikit memerah.
“Hubungan kalian sudah kebablasan?” tanya Pak Handoko lagi.
Lagi-lagi Reya menggeleng.
“Lantas mengapa kalian menikah?” Rad nyaris tidak bisa menahan tawa saat melihat ekspresi Pak Handoko yang salah tingkah ketika menyadari pertanyaannya sedikit aneh. “Maksud Bapak, kalian kan belum lama kenal.”
Reya tersenyum. “Gimana aku bisa tahu dia tepat atau bukan kalau nggak dicoba, Pak?”
“Tapi ... apa tidak terlalu terburu-buru?” tanya Pak Handoko. “Apa kalian tidak ingin saling mengenal lebih baik dulu?”
“Aku ingat nasihat Budhe. Buat apa menunda-nunda kalau memang sudah ketemu yang cocok? Umur Reya kan sudah nggak muda juga,” jawab Reya lancar. “Lagi pula, Reya udah cukup kenal Rad.”
Rad mencengkeram setirnya dengan gemas. Menilik dari jawaban-jawaban itu, dia yakin bahwa Reya menerima lamarannya dengan sadar. Dia tahu pasti apa yang sedang dia lakukan. Lantas, mengapa malam ini seolah dia baru terlepas dari mantra sihir?