After Wedding

After Wedding
ibu mertua super pelit



Setelah sarapan aku izin istirahat dikamar Nita, karna kamarku biar dipakai ibu serta bibiku jika ingin istirahat.


Aku serta mas Rendy tertidur dikamar Nita, tepat jam setengah dua aku bangun. aku berjingkat kaget lalu segera menuju dapur guna menemui ibuku.


"Sudah makan siang belum bu?"tanyaku pada ibu ketika sudah sampai dapur, kulihat ibu mertuaku tidak ada mungkin saja tengah zuhuran.


"Udah Ros, sana makan make soto,"jawab ibu sambil tersenyum.


"Entar aja bu nunggu mas Rendy."jawabku sambil memposisikan duduk disebelah ibu.


"Memang Rendy kemana Ros?"tanya bi Salma.


"Tidur bi dikamar Nita, ayah mana bu?"tanyaku lagi.


"Maen kerumah oom mu sambil zuhur disana,"jawab ibu, tak lama ibu mertua masuk kedapur.


Langsung menghampiri bibi serta bude yang tengah membungkus es cendol, dalam adat jawa jika ada acara tujuh bulanan harus ada rujak serta es cendolnya.


"Rim sedikit-sedikit saja cendolnya biar cukup."ucap ibu mertua sambil memperhatikan bi Rima yang tengah membungkus es cendol.


"Yampun mb Sita ini lo sudah sedikit, mau dikurang seberapa lagi? gak pantes kalo terlalu sedikit mba."jawab bi Rima, kulihat bi Rima kesal dengan ibu mertua yang terlalu irit.


"Ya kamu atur aja, inikan cuman buat syarat saja jadi tidak perlu banyak-banyak."jawab ibu mertua tetap kekeh, kudekati bibi yang sedang membungkus es cendol.


"Memang tadi beli berapa es cendolnya bu?"tanyaku pelan, sebisa mungkin aku menahan emosi.


"Beli dua bungkus Ros, lagian buat apa banyak-banyak kan cuman butuh untuk acara saja. sayang kalo sisa banyak,"jawab ibu enteng.


Allahuakbar ibu, dsini banyak orang ada keponakan mas Rendy juga yang masih kecil. jujur aku benar-benar menyesal mengadakan acara disini.


"Ya kalo sisa kan bisa diminum kami bu,"jawabku tetap kurendahkan nada bicaraku. kulihat ibuku serta bi salma hanya melihat saja tanpa angkat bicara.


"Udahlah Ros, secukupnya saja. yang lain tidak minum juga tidak apa-apa."jawab ibu lagi sambil berlalu masuk kedalam ruang tengah.


"Ya seperti itu ibumu Ros, iritnya kebangetan. kamu mau esnya? ini bibi kasih sedikit biar gak ileran,"ucap bi Rima sambil memberiku setengah pendek gelas es cendol.


"Tidak apa-apa Ros, kami sudah paham semua sama sipat ibumu."ucap bude sambil mengelus pundaku.


"Ibu sama bi Salma mau? kita bagi tiga yaa,"ucapku sambil kembali duduk disebelah ibuku.


"Tidak Ros, minum kamu saja,"jawab ibu sambil mengelus kepalaku, kulihat mata ibu berkaca-kaca.


"Ros cepat diminum, setelah itu bangunkan Rendy ajak makan ini sudah siang,"ucap bi Salma.


Segera kuhabiskan es cendol hanya dengan satu tegukan saja, setelahnya aku segera berlalu masuk kekamar mas Rendy.


"Mas bangun, makan siang dulu yuk,"panggilku sambil menggerakan sedikit pundaknya.


"Hmm, makan sama apa yang?"tanya mas Rendy sambil mengucek-ngucek matanya.


"Sama soto. aku buatkan, nanti mas rendy cepet susul aku kedapur yaa,"pesanku sambil kukecup kening mas Rendy sekilas sebelum aku berlalu kedapur.


...ΩΩΩ...


Setelah selesei makan aku Nita, ibu serta bi Salma tengah duduk diruang tengah. Nita sama ibu mertua baru saja pulang dari pasar karna membeli jajanan anak-anak.


Karna kalo tujuh bulanan juga harus ada jajanan anak-ananya sebanyak tujuh macam.


"Kuenya mana Nit? kita bungkus aja sekarang?"tanya ibuku.


"Itu bu masih sama ibuku, mungkin sebentar lagi masuk,"jawab Nita pelan sambil senyum. benar saja kulihat ibu mertua masuk sambil menjinjing satu kantong plastik warna hitam berukuran kecil.


"Oni bu, bungkus saja kuenya biar enak nanti tinggal di tata saja."ucap ibu mertuaku sambil menyerahkan plastik pada ibuku.


"Liya bu sini saya bungkus."jawab ibu, setelahnya ibu mertua kembali berlalu menuju dapur.


Segera kubuka plastik yang tadi diberikan ibu mertua keibu. astaga ibu, hanya ada satu bungkus permen kiss berwarna hijau, lalu satu bungkus kue untir-untir dan satu bungkus stik berukuran pendek rasa stroberry.


"Hanya ini Nit?"tanyaku, karna kan tadi ibu mertua kepasar sama Nita.


"Iya mungkin mba, soalnya tadi aku nunggu ibu diparkiran. ko dikit banget ya mba?"ucap Nita justru kembali bertanya.


Sungguh aku sangat marah, ibu mertua sangat gak niat untuk membuatkanku acara tujuh bulanan kue segitu cukup sampai mana sedangkan tamu undangan saja hampir tujuh puluh orang.


"Nit antarkan ibu kewarung yuk, kita beli tambahan kue saja. kasian mb Rosa apa-apanya serba kurang,"ucap ibu pelan, kulihat lagi raut wajah ibu menyiratkan kekecewaan.


"Ayo bu, kita pakai motor saja ya bu."jawab Nita sambil berlalu kedepan disusul ibuku.


"Mau kemana ibumu Ros?"tanya ibu mertua saat melihat ibu pergi bersama Nita.


"Mau beli kue bu, buat tambahan soalnya ini kurang,"jawaku pelan, sejujurnya aku sangat malas bicara sama ibu mertuaku yang kelewat pelit.


"Memang udah dibungkusin? ko udah bilang kurang,"ucap ibu mertua lagi.


"Kurang bu, ini hanya tiga macam. sedangkan sekarang ini acara tujuh bulanan bu harusnya tujuh macam,"jawab bibi sedikit menekan suara, kilihat bi Salma sangat kesal dengan mertuaku ini.


"La kan ini cuman buat sarat aja bi,"ucap ibu mertua tidak mau kalah.


"Sarat itu yang bagusnya sesuai yang sudah-sudah bu, kasian bayinya Rosa. malu juga sama tetangga kalo apa-apa kurang pasti jadi omongan,"jawab bi Salma lagi. ibu tidak menjawab lagi ucapan bibiku segera saja dia berlalu masuk kedalam dapur.


"Keterlaluan sekali Ros mertua kamu, pelitnya minta ampu. padahal cucu pertama dari anak laki-laki pertamanya, tapi sangat-sangat keterlaluan,"ucap bi salma.


Kangankan bibi aku saja sangat kesal dengan ibu mertuaku, ini hanya tujuh bulanan bagaimana jika nanti lahiran, untung aku sudah siap lahiran drumah ibu.


"Kebangetan banget ya bi, sama anak sendri ko kayak gtu, pelit banget,"jawabku pelan. tak lama ibu sudah kembali membawa dua plastik merah berukuran besar berisi bermacam-macam kue.


Anehnya lagi ayah mertuaku yang tadinya menghitung undangan hanya kisaran tujuh puluh orang sekarang sudah mendekati sembilan puluh.


Sedangkan apa-apanya hanya sedikit, ibuku harus kembali kewarung sampai tiga kali, bahkan ada beberapa bungkus kotak nasi yang tidak ada es cendolnya, karna tidak kebagian.


Aku pribad sedih sekali padahal ini cucu pertama tapi diperlakukan seperti ini, seolah aku ini menantu yang tak diinginkan.