
Pagi hari saat diandra terbangun ia dari tidurnya, ia tidak melihat dalfi berada di sampingnya dianda pun memindai seluruh ruangan menemukan suaminya yang tertidur di sofa.
Diandra tidak mempermasalahkan hal yang sepele menurut nya, asalkan suaminya tidur di satu ruangan yang sama dengan nya maka diandra akan merasa lebih tenang.
Dia itu manis dan menggemaskan, tidak cocok berwajah dingin seperti kakaknya, ups .. keceplosan.
Diandra tersenyum melihat wajah teduh dalfi yang masih tertidur pulas.
diandra meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
setelah selesai dengan aktivitas nya kini Diandra merasa sangat lapar, namun ia melihat dalfi yang masih tertidur pulas.
Diandra ingin membangun kan dalfi namun ia takut jika nanti dalfi akan marah pada nya, karena kini hubungan antara mereka saat ini tidaklah sedekat dulu lagi.
"bangunkan atau tidak ya?" Diandra merasa ragu untuk membangunkan suaminya.
"bangunkan saja! ahh tidak bagaimana kalau dia semakin marah dan menjauhi ku, sebaiknya aku pergi mencari makanan dulu"
karena Diandra tidak terlalu menyukai masakan hotel ia pun memutuskan untuk mencari makanan rumahan di luar hotel untuk sarapan dirinya dan juga suami nya.
Saat Diandra keluar kamarnya ternyata kakak iparnya pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang sedikit di tekuk.
"Pagi kak" sapa diandra.
''pagi juga ra, kamu mau kemana?" kayla langsung menghampiri adik iparnya.
" aku mau cari sarapan nih kak, kakak sendiri mau kemana" Diandra sedikit kepo karena melihat ekspresi wajah kayla yang terlihat kesal.
"sama, kakak juga mau cari sarapan, maklumlah makanan hotel tidak cocok dengan selera orang kampung seperti ku, lalu dimana dalfi" kayla celingak-celinguk mencari keberadaan adik iparnya.
"Dia masih tidur kak" bisik diandra.
Kayla mengangguk mengerti.
"Kau sudah lama mengenal dua pria kembar itu, pasti kau juga sudah tahu apa kebiasaan mereka kan ra"
kayla tersenyum kecut mengingat suami dinginnya yang selalu sibuk dengan semua berkas-berkas yang berada di hadapannya.
"mungkin kak dalfa sedang sibuk dengan pekerjaan nya karena dia seorang yang gila kerja." tebak diandra.
"Seratus untuk mu" kayla mengacungkan dua jempol nya.
Akhirnya mereka berdua pun tertawa, mengingat nasib percintaan mereka berdua.
"Mungkin nasib percintaan kita hampir mirip kak, menikah karena suatu alasan" diandra langsung saja curhat dadakan dengan kakak iparnya.
"Kamu benar ra" kayla pun membenarkan perkataan Diandra.
mereka berdua terlalu asyik curhat dadakan hingga mereka lupa apa tujuan mereka keluar dari kamarnya masing-masing.
Di dalam hotel dalfi mencari keberadaan istrinya yang sudah meninggalkan kamar, Tanpa ijin pada nya.
awalnya dalfi tidak terlalu mempedulikan nya, dalfi berpikir mungkin Diandra keluar sebentar saja namun setelah ia selesai mandi pun istrinya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Kemana gadis nakal itu pergi jika sampai mom tahu dia keluar tanpa aku, bisa-bisa sebelah telingaku copot dari tempatnya"
dalfi pun mulai mengingat bagaimana bila mom alisha sedang marah padanya, maka telinganya lah yang akan selalu menjadi korban keganasan mommy nya itu.
tanpa sadar dalfi pun langsung memegangi ke-dua telinganya.
saat dalfi menyusuri hotel tersebut, ia berjalan mundur saat ada seseorang yang menarik nya tangannya dengan sangat kencang, dan memojokkan nya ke tembok.
"Kau, apa yang kau lakukan disini''