
Hari pernikahan Nita tinggal 3 hari lagi, rencananya mas Rendy besok akan pulang kerumah ibunya. dan aku sudah diputuskan untuk tidak ikut mas Rendy.
Pasalnya saat ini covid sedang ganas-ganasnya, rawan jika aku bawa Ryu kerumah mertuaku disana pasti ramai. lagian sekarang ini hanya sekedar akad nanti resepsinya dibulan Agustus.
Ibuku sendiri sudah menyiapkan amplop untuk dititipkan ke mas Rendy, sedangkan Dinda sudah membelikan tas sebagai kado.
Aku tidak menitip apa-apa, sesuai sama yang dilakukan Nita ketika aku menikah. sama sekali tidak memberiku apa-apa.
Sore ini mas Rendy sudah pulang, dan masih ngobrol bersamaku didalam kamar. sambil menemani Ryu yang tengah menyusu.
"Jadi gimana ini yang, masa iya gak ngasih uang?"tanya mas Rendy.
Memang dari kemarin mas Rendy mengatakan ingin memberi uang orang tuanya, untuk sekedar pegangan.
Masalahnya kami ini sedang susah, boro-boro ngasih ibunya buat pegangan. buat dia beli rokok sama bensin saja tidak ada.
Tapi mas Rendy sangat memaksakan, bahkan menyuruhku meminjam uang ke Dinda. aku gak mau, aku malu sering minjam uang.
"Mas kita ini sedang susah, uang mana lagi yang mau dikasih ke ibu? ngasih uang gak harus waktu hajatan kan mas?"tanyaku.
"Yaiya yang, tapi alangkah gak pantes kalo sampai gak kasih uang walau cuman 100 atau 200 ratus ribu!"jawab mas Rendy.
"Ya terserah kamu deh mas, tadi aku sudah bilang sama Dinda. tapi dia cuman ada 500 ribu. silahkan mas Rendy bawa semua uangnya!"ucapku.
"Hanya segitu mana cukup yang."jawab Mas Rendy santai.
"Mas ini kita minjem lo ngutang, bukan nagih. jadi berapapun yang dikasih ya itulah yang kita terima,"ucapku ketus, aku kesel banget sama mas Rendy, orang minjem tapi seenaknya sendiri.
"Maksud aku bukan gitu, seandainya Dinda ada bisa gak minjemin 1 juta?"tanya mas Rendy.
"Gak ada mas, adanya ya cuman itu. ibu ada kemaren tapi dipake buat nitip amplop ke mas kan."ucapku.
"Mas lagian ini sekarang lagi gak ada, lagi susah jadi gak perlu terlalu memaksakan. susu Ryu saja ibu sama Dinda yang selalu beliin mas!"lanjutku.
"Ya ya yasudah tidak perlu ngoceh panjang!"jawab mas Rendy ketus seraya menatap tajam kearahku.
"Ya harus dijelasin, karna mas Rendy kalo gak dijelasin kaya gini gak akan ngerti!"ucapku tak kalah keras dari mas Rendy.
"Kamu selalu seperti itu, jika menyangkut kelurgaku gk pernah mau ngusahakan,"ucap mas Rendy.
Sontak saja aku kaget mendengar omongan mas Rendy, yang mengatakan aku tak mau mengusahan.
"Mas yang benar saja jika bicara, coba lagi di ingat-ingat kapan aku tidak mengusahakan?"tanyaku.
"Bukanya selama ini keluargamu lah yang selalu menyusahkan, selalu meminjam uang baik ayahmu atau pun adik mu.
"Apa pernah keluargaku yang datang pada kita minta tolong? apalagi orang tuaku. bahkan orang tuakulah yang selalu membantu kebutuhan kita disini mas."ucapku seraya berteriak, aku sampai lupa jika ada Ryu yang tengah tertidur.
Mungkin kaget karna aku berteriak, sontak Ryu menjerit dan langsung menangis kencang. segera kuambil lalu kutimang agar bisa meredakan tangisnya.
"Gara-gara mulut kamu yang gak diatur Ryu sampai kaget!"bentak mas Rendy seraya menatap tajam kearahku.
"Peduli apa mas sama Ryu, bukanya yang kamu pedulikan hanya kesenanganmu serta keluargamu!"teriaku seraya membawa Ryu keluar dari kamar.
Kubawa Ryu keruang tamu sambil terus kutimang-timang, tak lama ibu datang dari dapur."Loh Ros, Ryu kenapa kok nangis kejer kaya gitu?"tanya ibu.
"Gak tau bu, tadi itu tidur kok tiba-tiba kaya kaget gitu terus nangis."jawabku, tak mungkin aku menceritakan yang sebenarnya.
Sampai dikamar tidak kutemui mas Rendy, entahlah mungkin saja dia sudah pergi.
Aku sampai diruang tamu sudah ada Dinda, rupanya Dinda baru saja sampai. sedangkan ayah yang sekarang gantian menggendong Ryu.
"Mba kenapa Ryu bisa nangis kaya gitu?"tanya Dinda.
"Tadi itu dia tidur pulas, terus tiba-tiba kaya kaget gitu lalu nangis kenceng,"jawabku.
Kudekati ayah yang tengah menggendong Ryu diteras depan."Ros ayahnya Ryu mana?"tanya ibu.
"Gatau bu, tadi dikamar mungkin sedang kekamar mandi."jawabku.
"Rendy selalu saja seperti itu jika anaknya ngamuk!"ucap ibu.
"Sudah bu, mungkin saja Rendy sedang sakit perut,"jawab ayah.
Sudah hampir setengah jam Ryu menangis, berbagai cara sudah dilakukan supaya Ryu mau diam. tapi nihil Ryu masih terus menangis.
Selama itu pula mas Rendy tidak muncul, entah kemana perginya. aku pun enggan untuk memanggil, biasanya jika Ryu sedang mengamuk sengaja ku dekatkan pada mas Rendy tapi tidaj untuk kali ini.
Setelah bergantian ibu, ayah serta Dinda yang menggendong, sekarang kucoba aku gendong kembali Ryu. kuambi Ryu dari gendongan Dinda lalu kuajak dia keluar diteras.
"Ryu sayang maafin ibu ya nak, Ryu kaget ya denger ibu teriak. ibu janji gak teriak-teriak lagi, asalkan Ryu diam."bisiku tepat ditelinga Ryu.
Entah kebetulan atau bagaimana, yang jelas seketika Ryu terdiam. setelah Ryu tenang, kubawa Ryu masuk lalu menudurkan diatas matras ruang tv.
Kususui Ryu kembali, tidak membutuhkan waktu lama. Ryu sudah kembali tertidur lelap.
"Biarkan disini saja dulu Ros, nanti kalo sudah malam baru dipindah kekamar,"ucap ibu.
Kutinggalkan Ryu bersama ayah sert ibu, sedangkan Dinda tengah membersihkan tubuh. kulangkahkan kaki mencari keberadaan mas Rendy.
Kulihat mas Rendy sedang duduk diteras samping, sembari memainkan ponsel. kulihat disebelahnya belum ada kopi, aku buru-buru masuk kedalam rumah untuk membuatkan kopi mas Rendy.
Beres membuat kopi, segera kubawa langkahku menuju teras samping tempat dimana mas Rendy berada.
"Kopu mas."sapaku seraya meletakan kopi didepan mas Rendy, lalu kududukan tubuh disebelah mas Rendy.
"Ryu sudah diam?"tanya mas Rendy dengan suara dingin.
"Sudah, sekarang lagi tidur ditemani ayah serta ibu,"jawabku.
"Kamu ngapain disini? sana masuk temani Ryu."ucap mas Rendy.
Tanpa menjawab ucapanya aku segera beranjak dan masuk kedalam rumah, sampai dalam kulihat Ryu masih tetap anteng dengan posisi sama seperti tadi.
"Bu aku mau pumping dulu ya, mumpung Ryu masih tidur,"Pamitku pada ibu.
"Iya. yaudah sana cepat kalo Ryu bangun pasti langsung haus."jawab ibu.
Aku segera berlalu masuk kedalam kamar, segera kududukan tubuhku diatas kursi. lalu segera memasang pumpin dipayudaraku dan mulai pumping.
Sambil pumping aku terus memikirkan kejadian tadi, terlihat sekali jika mas Rendy sangat membandingkan keluargaku dengan keluarga kandungnya.
Bukankah jika sudah menikah kita harus bisa adil, harus bisa seimbang. tapi sekarang ini kenyataanya tidak.