After Wedding

After Wedding
obrolan pagi



Setelah kepulangan ayah, ibu serta bibi hari ini aku sudah kembali kekantor, untuk beberapa hari kedepan aku bisa mengambil berbagai kenangan.


Karna setelahnya aku sudah resign, begitu resign aku akan segera membawa barang-barangku kerumah ibu mertua.


Kebetulan sewa kontrakan kami juga sudah habis jadi yasudah kami bawa pindah sekalian barang-barang yang ada dikontrakan.


Entah kenapa ahir-ahir ini aku sangat malas memasak, seperti hari ini sebetulnya aku sudah bangun dari jam lima pagi karna aku sudah terbiasa bangun pagi.


Tapi untuk bangun dari atas ranjang itu rasanya malas sekai jadi hanya bermain ponsel ataupun membaca novel onlen sambil menunggu hari terang.


"Aturan kalo bangun dari pagi mah mending jalan-jalan yang, bukan malah main ponsel."ucal mas Rendy saat aku mengatakan sudah bangun dari subuh.


"Mas kamu tu gak ngerasain gimana rasanya hamil, makanya gak bisa ngertiin aku."jawabku ketus jujur saja aku tersinggung mendengar ucapan mas rendy.


"Yang aku memang gak bisa merasakan hamil tapi aku setidaknya tau hal-hal baik apa yang harus dilakukan ketika hamil."jawab mas Rendy santai.


"Pokoknya aku mau jalan-jalan pagi jika sudah pulang kerumah ibu."ucapku masih saja ketus.


"Yaudah jika memang itu maumu terserah, yang penting aku sudah ingatkan. awas dulu yang aku mau mandi,"titah mas Rendy segera turun lalu masuk kedalam kamar mandi.


Aku pun segera beranjak turun lalu segera kedapur membuatkan kopi mas Rendy, kudengar diteras ada suara orang mengobrol saat kuintip dari jendela ternyata mba Rini sama mas Heru.


"Pagi mba mas,"sapaku ramah saat membuka pintu kontrakan.


"Pagi Ros."jawab mas Heru.


"Pagi Ros. lo kamu tidur dsini aku kira minep dirumah orang tua Rendy,"ucap mba Rini sambil duduk mendekatiku.


"Enggk mba, hari-hari pindah udah dekat sayang kalo gak dipakai tidur,"jawabku singkat, tak lama mas Rendy juga keluar sambil membawa secangkir kopi panas.


"Gak pada kerja apa mas sama mba Rini?"tanya mas Rendy sambil mendudukan tubuh dikursi sebelahku.


"Kerja. tapikan yo nanti Rend ini lo masih jam berapa."jawab mas Heru.


"Oiya juga si mas, game dulu gimana mas?"tanya mas Rendy bersemangat.


"Boleh. kau pindah sini saja biar Rini yang kesitu."titah mas Heru. segera mas Rendy duduk disamping mas Heru, sedang mb Rini pindah kesampingku.


"Ros maaf ya. mau tanya tapi kamu jangan tersinggung ya,"ucap mba rini.


"Tanya aja lo mba, silahkan kaya sama siapa aja,"jawabku santai menjadi tetangga kurang lebih satu tahun setengah membuatku tahu karakter mba Rini, dia bukan tipekal yang suka ghibah.


"Anu Ros acara tujuh bulanan kamu kemaren kok kayaknya kurang sesuai ya, bukanya ayah ibu serta mertuaku orang jawa?"tanya mba Rini serius.


Ayahku serta ayah mertuaku asli suku jawa. sedangkan ibu mertuaku juga jawa tapi ngapak, sedangkan ibuku, ibu campuran kalo nenek buyut kami aslinya suku lampung tapi menikah dengan suaminya suku jawa barat.


"Ya mb memang seperti itu, itu juga ibuku bawa apa-apa dari kampung. gimana kalo mertuaku semua yang belanjain."jawabku pelan, aku sudah menduga orang terdekatku pasti akan menanyakan hal ini.


"Harusnya tujuh bulanan itu sayuranya ada tujuh macam Ros, lalu rujakanya tujuh macam buah. kalo kaya kamu kemeran kesanya kaya cuman buat sarat aja,"ucap mba Rini pelan takut didengar mas Rendy.


"Ya begitu kata ibu mertua, cuman buat sarat ngapain banyak-banyak. mba tau kan es cendolnya itu seberapa?"tanyaku pada mb Rini.


"Iya dikit banget, kaya gitu gak pantes lah Ros apalagi ayahmu kan pns. malu kalo kaya gitu,"ucap mba Rini sambil pindah duduk dibawah.


"Ibuku aja sampai kesal mba, bentar-bentar kewarung beli ini itu karna pas kepasar belinya dikit takut sisanya banyak. apalagi kue pasar itu masa cuman beli tiga macam doang, ibuku langsung kewarung diantar Nita beli lagi."jawabku mulai berapi-api.


Jujur saja jika mengingat kejadian tujuh bulanan aku sangat emosi sama ibu mertuaku pelitnya itu gak ketulungan.


"Iya Ros keliatan banget kok kalo mertua kamu pelit, aku juga liat ibumu kalo kesini pasti oleh-olehnya buanyak,"ucap mb Rini karna dia sudah paham ibuku jika kesini apa-apa dibawa dan mb Rini selalu dapet jatah.


"Aku jadi pengen liat mba, nanti kalo acaranya Nita gimana ya,"jawabku sambil mendudukan tubuh dibawah menyusul mba Rini.


"Sekali pelit ya tetap pelit lah Ros, mb Dewi aja kemaren juga bilang kok kaya gini,"ucap mba Rini.


Gak cuman mb Dewi sama mb Rini semua yang dapat undangan itu pasti heran sama nasi kotaknya yang punya hajat terlalu pelit.


"Iya mba, heran deh untuk anak cucu kok kaya gitu ya mba,"ucapku sambil tersenyum.


"Kalo udah sipat itu susah Ros, udah ah pagi-pagi ko udah ghibah si."jawab mba Rini sambil tertawa.


"Gak apa-apa lah mb ghibah kan juga senam, biar bibir kita ini gak kaku."ucapku lalu sambut gelak tawa mb Rini.


Lama kami mengobrol mb Rini lebih dulu masuk kedalam kontrakan untuk mandi. tak lama mba Rini pergi akupun segera masuk untuk mandi dan siap-siap.


"Mas ayo aku udah siap,"ajaku kemas Rendy satelah aku siap, kulihat mba Rini sama mas Heru juga sudah tidak ada mungkin sudah pergi kerja.


"Sebentar yang ngabisin kopi dulu ya,"jawab mas Rendy sambil mengangkat cangkir yang isinya tinggal sedikit lagi.


"Iya mas tapi jangan lama-lama ya, nanti aku kesiangan."jawabku sambil berlalu masuk kedalam rumah, aku mengambil roti lalu duduk lagi diteras menemani mas Rendy.


"Kapan yang rencananya mau resign?"tanya mas Rendy.


"Setelah gajian ini mas, nanti sebelum pulang kampung aku siapin semua dulu kebutuhan adek bayi supaya enak nanti gak harus beli lagi,"jawabku sambil memasukan roti kedalam mulutku.


"Kamu yakin sayang tetap mau lahiran dikamoung ibu?"tanya mas Rendy sambil menatapku.


"Yakin mas yakin banget."jawabku singkat sangat yakin setelah kehadian acara tujuh bulanan kemarin, aku gak bisa bayangin kalo sampai lahiran dirumah mertua.


"Yasudah kalo memang kamu yakin, ayo kuantar nanti keburu siang."ucap mas Rendy sambil berlalu masuk kedalam rumah, lalu keluar lagi sambil menuntun motor setelahnya kami segera melesat menuju kantor tempatku bekerja kurang lebih selama hampir enam tahun.