After Wedding

After Wedding
muak



Kabarnya mas Rendy hari ini mau pulang kampung dulu ngurus usaha disana, terserahlah aku sudah sangat malam mau ngatur-ngatur.


Ryu kuberikan pada mas Rendy aku segera memutar mesin cuci, lalu beralih mencuci botol susu milik Ryu yang semalam habis digunakan. setelah beres aku berlalu masuk kedalam kamar, segera kubenahi selimut serta sprei yang berantakan.


Aku kembali lagi kedapur, Ryu masih tenang aku langsung menghidupkan kompor merebus botol susu Ryu.


"Bikinin mie ya untuk aku sarapan."pinta mas Rendy sembari berdiri dibelakangku.


Aku kembali sibuk didapur membuat mie untuk mas Rendy, dihalaman belakang sudah ada ayah ibu Nita juga Fero sedang ngobrol-ngobrol santai.


"Mba cucinya sudah tuh, cepetan ya aku juga mau nyuci."ucap Nita, tanpa sempat aku menjawab ia sudah berlalu masuk kedalam.


Aku pun keluar sembari membawa sepiring mie untuk mas Rendy.


"Mandikan dulu Ryu udah siang."ucap Mas Rendy.


"Sebentar aku mau nyelesein cucian dulu."jawabku sambil berlalu.


Aku masih memindahkan cucian setelah digiling kupindah ketempat pengering, tak lama mas Rendy masuk dan langsung membentaku.


"Kamu disuruh mandiin Ryu kok malah sibuk sendiri!"bentak mas Rendy aku seketika menoleh kutatap mata mas Rendy yang masih melotot kearahku.


"Kamu taukan tanganku cuma ada 2, mesin cuci ini udah mau dipakai sama Nita!"tak mau kalah akupun berteriak pula didepan wajah nya.


"Jangan hanya menyuruh mas, liat pakai mata kamu aku ini sedang sibuk apa lagi ongkang-ongkang kaki."lanjutku sembari membalik badan dan meneruskan pekerjaanku.


Mas Rendy yang emosi langsung menaruh piring yang dipegangnya keatas meja, sedangkan Ryu sudah dipangku sama ibu mertua duduk dihalaman belakang. mas Rendy segera menariku masuk kedalam kamar, tapi langsung kuhempaskan tanganya dan aku kembali kedapur.


"Terus-terusin aja sifat kamu seperti itu, jangan kaget kalo aku kasar sama kamu."ucap mas Rendy pelan namun terdengar dingin ditelingaku.


"Silahkan saja, bukankah aku ini istrimu aku milikmu terserah mau kau apakan aku."jawabku santai sembari terus menyelesaikan cucianku.


Kutatap wajah mas Rendy yang terlihat begitu kesal padaku, jika biasanya aku akan diam saja tapi kali ini tidak. aku sudah sangat muak dengan semua kelakuanya, aku capek hidup seperti ini terus bersamanya.


Tak indahkan tatapan tajam mas Rendy, setelah kusiapkan air mandi Ryu segera kuambil Ryu lalu kubawa masuk kembali untuk kumandikan.


"Sama nenek aja yuk mandinya."ucap Ibu mertua sembari tersenyum.


"Biar sama aku aja bu, kalo keseringan sama orang nanti Ryu gak ingat kalo aku ibunya."aku sengaja mengeraskan suaraku berharap mas Rendy mendengarnya, apa yang barusan kuucapkan sama persisi seperti yang mas Rendy ucapkan tempo hari.


Tanpa berlama-lama segera kubawa Ryu masuk, Ryu mandi masih menggunakan Bak. aku memabg sedikit kesusahan karna Badan Ryu sangat gembul dan juga gerakanya sangat kuat, sedangkan aku ini sangat kurus sekarang tidak mampu menahan beban Ryu.


"Nak jangan gerak terus yah, nanti Iyu jatuh loh."ucapku sambil menyabuni perut Ryu, ia yang kegelian langsung tertawa sembari tanganya memainkan air.


Selesei mandi langsung kubawa Ryu kedalam kamar, saat aku sedang memakaikan baju mas Rendy masuk kedalam kamar.


"Ada apa lagi?"tanyaku tanpa menoleh kearahnya.


"Kamu sudah berani melawan aku, ingat aku ini kepala rumah tangga aku harusnya dihormati."mas Rendy sedikit meninggikan suaranya, aku tersenyum lalu menoleh kearahnya.


"Aku tanya sama kamu, ada gak sifat kamu yang mencerminkan kamu itu kepala rumah tangga, kamu itu ayah bagi Ryu. ada gak?"tanyaku santai sembari menatap tajam mas Rendy.


Ia Diam tak mampu menjawab ucapanku, tapi matanya menatapku tajam ia terlihat begitu marah.


"Coba kamu lihat orang yang kamu gauli, ada tidak diantara mereka yang hidupnya lurus yang hidupnya bener?"


"Gak ada kan, tapi kamu senangnya berhubungan dengan mereka. aku muak aku bosan setiap hari lihat tingkah kamu seperti itu, aku diam bukan berati aku nerima aku diam karna aku sudah benar-benar malas sama kamu!"


"Sekarang terserah kamu mau pulang atau tidak, mau budidaya udang atau tidak. tapi jangan salahkan aku kalo sampai aku membawa pergi Ryu, dan jangan harap bisa menemuinya."Setelah berkata segera kugendong Ryu keluar dari kamar, aku segera kebelakang mengambil cucian yang sudah dikeringkan membawa kebawah jemuran.


Aku menjemur pakaian dengan menggendong Ryu, jika biasanya aku akan menitipkan Ryu pada mas Rendy tidak untuk kali ini. ibu mertua yang tau aku ribut sama anaknya hanya diam saja tidak menegurku.


Ryu pintar gak nangis, ia justru tertawa-tawa melihatku jemur baju. apalagi saat kutunjukan bajunya yang berwarna merah marun, Ryu semakin tertawa kencang.


"Lagi ngapain bi?"tanyaku saat memasuki rumah bi Melati.


"Eh mb Rosa, santai aja sini duduk sini Ryu."ucap Bi Melati ramah.


"Sarapan mba masak ikan mas tuh."tawar bi Melati sembari menggendong Ryu.


Ahirnya aku sarapan dirumah bi Melati, Ryu sudah kubawan susu serta guling jadi ia aman bisa tidur dengan nyenyak. tak lama mas Rendy datang, akupun segera keluar mengikuti nya. sebelum keluar kutitipkan terlebih dahulu Ryu pada bi Melati.


"Ada apa?"tanyaku.


"Kamu kenapa sama ibuku?"mas Rendy justru balik bertanya.


"Memangnya aku kenapa, aku nyenggol sedikit saja tidak."jawabku santai.


Seketika mas Rendy mencengkeram kedua bahuku kuat sembari menggoyang-goyangkan.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu tidak menjawab saat ibuku menegur!"mas Rendy sudah berteriak.


"Santai aja sih gausah main kekerasan."ucapku sembari melepas cengkreman tanganya dibahuku.


"Sekarang ayo temui ibu kamu, kapan aku tidak menjawab sapaanya."aku langsung menarik tangan mas Rendy mengajak masuk kedalam rumah ibu mertua.


"Ibuu."panggilku sedikit keras.


Ibu yang tengah mengaduk sayur diatas kompor seketika menoleh, aku yakin dirinya pasti kaget mengdengar teriakan ku.


"Kapan aku gak jawab sapaan ibu?"tanyaku langsung pada intinya.


Seketika wajah ibu mertua menegang namun sedetik kemudia kembali memasang wajah melas sembari menatap wajah anaknya.


"Rend benar tadi ibu sapa Rosa, tapi dia gak jawab."ucap ibu sembari memasang tampang melas dihadapan mas Rendy.


"OH gitu maaf bu mungkin sekarang aku sudah TULI!"jawab sembari berlalu pergi tanpa menghiraukan kedua orang tua dan anak yang masih berdiri mematung.


Mas Rendy berlari mengejarku, dan ia berhasil memegang tanganku membuatku menghentikan langkah.


"Ros kenapa kamu bersikap seperti itu pada ibuku?"kali ini mas Rendy sudah tidak membentak, nada bicaranya pun sudah rendah.


"Sesuai yang kamu lakukan pada kedua orang tuaku!"jawabku sembari melepaskan tangan mas Rendy, aku kembali melanjutkan langkahku tanpa menghiraukanya yang masih berdiri mematung.