
Setelah kemarin ada sedikit pertengkaran, selama 2 hari mas Rendy tidak pulang kerumah, melainkan menginap dirumah bi Sari.
Perlu kalian tahu bi Sari sendiri memang baik, tapi omongan pedas dan suka mengadu domba, tapi sepertinya mas Rendy justru lebih percaya bi Sari ketimbang aku.
Buktinya semenjak sering campur dengan bi Sari, mas Rendy justru semakin jauh sama ayah serta ibuku.
Tidak mau bertanya jika ayah atau ibuku tidak bertanya duluan, dan jika ditanya jawabanya selalu ketus.
Pernah ibu sampai tanya keaku, apa salah ayah serta ibu ko mas Rendy sampai seperti itu. sebisa mungkin kujelaskan supaya tidak ada salah paham.
Rencana Awal pernikahan Nita diadakan bulan Agustus, tapi entah kenapa malah dimajukan kebulan April.
Saat aku sedang menyusui Ryu tiba-tiba ponselku bergetar dan setelah kulihat ternyata pesan masuk dari Nita.
"Mba kalo senin besok dijemput Fero bisa gak?"isi pesan dari Nita.
Memang dari kemaren mas Rendy sudah membahas masalah ini, tapi aku sudah bilang jika aku belum bisa kalo kesana.
Memandikan Ryu saja belum bisa, bahkan nifasku pun belum berhenti. entah kenapa bisa sampai selama itu.
Segera ku balas pesan dari Nita."Belum Nit, aku masih belum sehat. lain kali saja,"balasku.
"Yaudah mba, soalnya besok kebetulan Fero libur kerja. kalo besok-besok belum tentu bisa,"balas Nita.
"Gak apa-apa Nit, gak perlu dijemput aku bisa kesana naik mobil lain saja."balasku.
Entah kenapa Nita pun menjadi menyebalkan semenjak aku pulang kekampung ibu, ahh bodo amatlah.
Tak lama mas Rendy sampai, sudah menjadi kebiasaan kalo pulang dari sana mas Rendy langsung kedapur dan mandi, jadi begitu masuk kamar sudah dalam keadaan bersih.
"Makan mas."tawarku pada mas Rendy.
"Nanti saja abis magrib sekalian,"jawab Mas Rendy seraya mencium pipi Ryu yang tengah tertidur pulas.
"Barusan tidur itu mas, tadi siang agak rewel!"ucapku.
"Rewel kenapa?"tanya mas Rendy.
"gatau. kangen ayahnya mungkin 2 malam gak dikelonin,"jawabku.
"Aku minep tempat bi Sari, capek banget mau pulang bantu panen terus 2 hari ini,"jawab mas Rendy.
Mas Rendy sudah merebahkan tubuhnya disamping Ryu, sedangkan aku masih pumping ASI.
"Ya gak apa-apa, nanti kalo panen belikan gula sama minyak,"jawabku.
Tak lama kulihat mas Rendy sudah memejamkan mata, setelah selesei pumping aku segera keluar dari kamar.
Aku berjalan menuju meja makan, ada pindang patin sambal trasi juga timun, kerupuk juga ada. cukuplah untuk makan malam mas Rendy.
Kulihat ibu sama ayah tengah mengobrol diteras sambil meminum teh hangat. setelah selesei mengecek meja makan, aku segera berlalu menuju teras.
"Rendy mana Ros?"tanya ibu.
"Tidur sama Ryu bu."jawabku.
"Gak makan dulu?"tanya ibu.
"Nanti katanya bu abis magrib sekalian, ibu sudah makan belum?"tanyaku.
"Belum Ros, nantilah belum lapar ibu."jawab ibu.
"Rendy kenapa Ros, kalo pulang selalu mukanya kusut?"tanya ayah.
"Mungkin capek yah!"jawabku.
"Ros. kalau sudah berumah tangga ya seperti ini. banyak kebutuhan banyak tanggungan dan juga capek, itulah kosekuensinya.
Seluruh laki-laki merasakan semua yang dirasakan oleh Rendy, jadi jika sekarang dia capek ya jangan mengeluh.
Jangan pula marah atapun memasang wajah kusam, karna tanggung jawab laki-laki itu besar. jangan dikit-dikit marah, dikit-dikit kesal,"nasehat ayah.
"Iya ayah, aku mau kedalam dulu takut Ryu bangun."ucapku.
Aku segera berlalu masuk kedalam kamar, sebentarlagi magrib dan Ryu harus dipangku jika magrib.
Begitu sampai dikamar, kulihat mas Rendy tengah duduk seraya memangku dan tak lupa Ryu tengah mengnyot botol yang berisi ASIku.
"Belum lama, nangis cuman sebentar lalu kukasih susu."jawab mas Rendy.
Setelah puas menyusu Ryu kembali tertidur lelap, kuambil Ryu dari pangkuan mas Rendy takut mas Rendy pegal.
...ΩΩΩ...
Selepas magrib Ryu sudah membuka mata sempurna, sudah menjadi kebiasaan jika siang tidur terus dan setelah magrib bangun sampai malam.
Aku sedang menemani mas Rendy makan malam didapur, sedangkan Ryu tengah bermain bersama oma, opa serta Ontynya.
Aku sendiri tidak makan, karna tadi sore selepas mandi aku sudah makan, Entah jika nanti malam lapar aku baru makan lagi.
Setelah selesei makan, segera kubuatkan kopi untuk mas Rendy, seperti biasa kebiasaan mas Rendy jika sudah makan selalu minum kopi.
"Mas aku kedalam dulu ya, mau pumping."pamitku.
"Iya yang."jawab mas Rendy.
Aku segera berlalu masuk kedalam kamar, pumping ini jadwalnya juga. jadi setiap 2 jam sekali aku harus pumping, supaya ASInya tetap lancar.
Aku sendiri memakai pumping listrik, memudahkanku ketika tengah malam ngantuk gak perlu megang ataupun mencet, hanya tinggal memasangkan dipayudara saja.
Kudengar dari kamar kok sepi, jika tadi ada suara Dinda juga ibu yang sedang tertawa melihat tingkah Ryu, sekarang kok jadi sepi.
Setelah selsei pumping aku segera keluar dari kamar, dan aku kaget ternyata Ryu sudah tidur lagi, tumben banget.
"Ryu tidur bu?"tanyaku.
"Iya nih, ibu pindah kekamar ya Ros,"ucap ibu.
"Iya bu, Ayo!"jawabku.
Setelah Ryu ditidurkan dan ibu keluar dari kamar, akupun ikut berbaring disebelah Ryu. tak lupa aku sambil membaca novel onlin.
Beginilah kegiatanku jika Ryu sudah tidur, hiburanku hanya membaca novel online inilah.
Saat tengah asik membaca novel, mas Rendy masuk kedalam kamar lalu membaringkab tubuh di sebelah Ryu.
"Mas tadi Nita kirim pesan,"ucapku.
"Pesan apa?"tanya mas Rendy.
"Katanya senin besok mau gak aku sama Ryu dijemput Fero,"ujarku.
"Lalu, kamu mau tidak?"tanya mas Rendy.
"Enggak mas!"jawabku.
"Kenapa gak mau?"tanya mas Rendy.
"Aku ini mas nifas saja belum sembuh, apa iya sudah mau perjalanan jauh. dan juga mandiin Ryu aku belum bisa,"jawabku.
Sedangkan mas Rendy masih tetap asik menatap layar ponsel, tidak sekalipun menatapku.
"Oh gitu."jawab mas Rendy
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut mas Rendy, dan teteap matanya focus di ponsel.
"Kamu marah mas?"tanyaku.
"Menurutmu?"mas Rendy balik bertanya.
"Apa iya sih mas aku gak bisa menolak keinginan mereka, sedangkan yang merasakan bagaimana badanku itu aku mas.
Bukan kamu ibumu atau siapapun, Ryu baru berumur satu bulan setengah. yang benar saja mau diajak perjalanan jauh,"jawabku panjang.
"Begitulah kamu, kalo sama keluargaku selalu saja banyak alasan!"ucap mas Rendy.
"Kalo ingin merasakan kamu boleh mencoba mas, biar tau gimana rasanya. biar gak bisanya nyalahin aku terus.
Lagian ibu kamu kan sudah melahirkan dua kepala, harusnya paham dong gimana jadi aku,"ucapku lagi kesal.
Tak ada jawaban dari mas Rendy, kulirik sebentar ternyata mas Rendy sudah memejamkan mata.
Peduli amat mereka, mereka saja tidak peduli padaku. jangankan mereka, mas Rendy yang suamiku sendiri saja tidak peduli.