
Dering ponsel itu!
Reya berdecak dalam tidurnya. Dering ponsel yang melantunkan sebuah lagu meksiko itu memang bagus. Namun, di saat-saat tertentu sungguh mengganggu. Tangannya mulai meraba-raba permukaan meja di sebelah kasurnya, sampai menemukan benda kotak yang beberapa kali dia pikirkan untuk menonaktifkannya saja.
Tanpa membaca nama pemanggil di layar, masih dengan mata memejam, Reya menjawab panggilan yang merusak paginya itu.
“Halo?”
‘Reya? Kok suara ... kamu masih tidur?”
Reya langsung melejit bangun mendengar suara di seberang. Kantuknya langsung menghilang, bersamaan dengan bulu kuduknya yang meremang. Selanjutnya dia berjanji akan mematikan handphone sampai dia benar-benar bangun.
“Eh, Ibu. Reya lagi—”
“Kok bisa-bisanya kamu baru bangun jam segini?! Siapa yang melayani suami kamu, hah?! Nak Rad kan harus kerja pagi-pagi?! Duh Gustiii, eling tho, Nduk6, kamu itu sudah menikah! Tanggung jawabmu bukan soal dirimu sendiri lagi!”
Reya memejamkan mata, bersiap mendengarkan ceramah yang akan lebih panjang dari ceramah teori politik kontemporer yang ia berikan di kelas.
Setelah sepuluh menit mendengarkan ceramah, Reya bangkit malas-malasan ke kamar mandi. Cuci muka sekadarnya dan mengikat rambutnya sembarangan. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa yang harus dia lakukan untuk Rad? Memasakkan sarapan? Ia tak yakin Rad bisa memakan masakannya tanpa mengalami diare. Menyiapkan pakaian kerja? Dia bahkan tidak tahu pakaian seperti apa yang dipakai pria itu untuk bekerja. Maksudnya, apakah Rad membutuhkan pakaian khusus untuk bekerja?
Reya mulai memijit-mijit keningnya, mengingat apa-apa saja yang biasa Ibu lakukan untuk ayahnya. Namun, Reya keluar juga dari kamarnya. Dia mempunyai pengalaman buruk dengan tidak menaati perintah ibunya.
Setelah keluar dari kamar, Reya melirik jam besar yang berdiri kokoh di perbatasan antara ruang tengah dengan ruang tamu. 05.45. Dapur sepi. Tidak ada aroma-aroma gurih ataupun asap-asap. Dua hari pertama dia kembali masuk kerja, Rad masih memasakkan sarapan untuknya. Namun, setelah dua makanan lezat itu tidak dia sentuh, kini pria itu sudah berhenti bangun pagi dan memasak.
Kalau dipikir-pikir, laki-laki itu pantas mendapatkan ucapan terima kasih. Semalam Rad rela pertemuannya dengan Tommy dia recoki hanya karena masalah listrik padam.
Padahal mereka sepakat untuk tidak mengusik kebebasan satu sama lain. Kebebasan dalam kamus Reya, termasuk hak akan quality time Rad dengan teman-temannya. Seperti Rad yang membiarkan saja dia menghabiskan weekend di rumah Andini. Mereka berbincang sampai larut malam. Tommy adalah sosok pria yang kocak. Andai itu sebuah pesta, kehadirannya pasti menjadi favorit karena keahliannya meramaikan suasana.
Dari Tommy, Reya jadi tahu bahwa Rad pernah terobsesi menjadi pramugara pesawat ketika SMP. Rad begitu percaya pada ketampanannya sehingga membayangkan dirinya dalam balutan pakaian pramugara, memesona penumpang dengan ketampanannya. Lalu, dia juga tahu bahwa obsesi Rad berubah saat SMA. Gara-gara menonton film Forrest Gump, dia mulai terobsesi membuat film. Tapi, satu-satunya film yang berhasil dibuatnya adalah video kucing melahirkan.
Reya tertawa kecil mengingat informasi-informasi memalukan yang disebarkan Tommy. Di sebelahnya, Rad memasang wajah masam karena tidak kuasa membendung sahabatnya itu.
Selesai dengan lamunan, Reya mulai melihat-lihat isi dapur. Jika yang dimaksud memasak adalah menggoreng telur atau membuat indomi rebus, dia sering melakukannya. Tapi, memang cuma sebatas itulah definisi memasak yang dia kenal. Andini bahkan lebih jago di dapur daripada dirinya. Reya menggaruk kepala yang mendadak gatal.
Pagi itu, dengan bantuan Google, akhirnya Reya berhasil membuat nasi goreng yang entah bagaimana rasanya. Sebelum dia berangkat ke kampus, Reya memutuskan untuk membangunkan Rad.
Setelah mengetuk pintu beberapa saat dan menunggu cukup lama, Reya mendapati wajah mengantuk Rad dari balik pintu kamarnya.
“Kenapa?” tanya pria itu sambil menguap lebar.
Reya menjawabnya dengan mengulurkan kopi yang dia bawa. “Morning coflee.”
Mata sipit Rad semakin menyipit heran. “Wow. Tumben?” “Mulai besok, saya bikinkan kamu kopi, ya?”
Sempat dia melihat Rad terkejut. Tetapi, pria itu bisa mengatur ekspresinya dengan cepat.
“Oke,” jawabnya sambil mengedikkan bahu. “Dan apa yang harus saya lakukan untuk segelas kopi setiap pagi itu?”
Reya menggeleng cepat. “Anggap saja itu uang sewa kamar saya.”
Dengan senyum di bibir, Rad menjawab, “Lunas.” Pria itu menghirup aroma kopinya dengan gembira. “Manks.”
“You’re welcome. Saya berangkat dulu,” pamit Reya. Rad mengangkat cangkir kopinya tanda setuju. Sebelum lima langkah, Reya kembali menoleh. “I have something in the pantry. I am not sure you’ll like it, but ... yeah,” Reya mengedikkan bahu, “I tried.”
***
Salah satu yang Reya sukai dari pekerjaannya adalah, dia punya banyak waktu untuk membaca, berdiskusi, dan berpikir tanpa mengabaikan pekerjaan yang lain. Bahkan dalam setiap pekerjaan yang dia lakukan dia tetap melakukan tiga kegiatan itu. Sebelum dia membawa materi ke kelas, setidaknya dia harus membaca ulang bahan-bahan yang dia punya. Sebelum dia mengisi sebuah diskusi publik atau seminar, dia juga harus membuat riset kecil-kecilan dan menyusun paper. Apalagi ketika dia harus menguji skripsi mahasiswa. Tidak seperti Rad yang pergi pagi pulang malam. Malah kadang tidak pulang. Reya masih bisa menikmati kopi di sore hari, sambil berdiskusi tentang isu-isu aktual.
Tak jauh dari kampus ada sebuah warung makan sederhana. Dari luar, orang hanya akan melihatnya sebagai warung makan murah ala mahasiswa. Tapi, untuk orang-orang seperti Reya, warung itu disebut Kang Asep University. Kang Asep adalah pemilik warung, seorang pria Sunda yang bekerja sehari-sehari sebagai penjual buku dan masakan rumahan. Disebut University sebab sering kali warung itu dijadikan tempat nongkrong dosen-dosen dan akademisi untuk berdiskusi. Tak jarang menemui sosok profesor atau penulis buku terkenal di sana, khususnya di bidang ilmu sosial. Biasanya, Reya membawa mahasiswa bimbingannya ke sana untuk menguji mental. Sebelum sidang, dia meminta mahasiswanya untuk presentasi di depan peserta diskusi tak resmi itu. Dengan begitu, mahasiswanya akan mendapat masukan yang lebih banyak untuk karyanya.
Hari ini, setelah beberapa saat tidak muncul di University, Reya menyempatkan diri ke sana selepas kerja. Kebetulan sedang ada bedah buku Politik Utopia, karya salah seorang dosen politik senior. Tapi, ada satu hal yang membuat Reya tak terlalu antusias sore itu. Di University tidak resmi itulah, Hario sering menghabiskan waktunya. Termasuk hari ini.
Reya mengenal Hario sejak dia masih menjadi mahasiswa baru di Universitas Indonesia sekitar tahun 2004. Reya di jurusan Ilmu Politik dan Hario di jurusan Ilmu Filsafat. Mereka bertemu di acara ospek kampus saat Hario menjadi salah satu panitia. Sama sepertinya, Hario konsisten mengambil S2 dan S3 di ilmu masing-masing. Saat ini Hario menjadi dosen di jurusan Filsafat.
Reya tersenyum singkat kepada pria yang duduk di pojokan, yang tengah memegang pinggiran cangkir berisi kopi hitam pekat. Lalu, dia buru-buru mengambil tempat di sebelah Pak Mul, profesor Filsafat berusia lanjut yang sedang menyulut cerutu.
“Sibuk, Prof,” jawab Reya saat Pak Mul menanyakan mengapa dia jarang terlihat.
“Ya, ya. Pengantin baru wajar kalau sibuk.”
Reya hanya tertawa lebar. Bedah buku itu berjalan sekitar satu setengah jam. Pesertanya kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Mungkin Pak Heri, dosen Politik Kontemporer itu menugaskan mahasiswanya untuk me-review jalannya acara, seperti kebiasaannya selama ini.
Di akhir acara, Reya begitu saja ditodong oleh Kang Asep untuk menyanyikan sebuah lagu. Tak hanya itu, Hario juga ditodong mengiringi Reya dengan gitar. Suara Reya memang lumayan, meski tak membuatnya cukup percaya diri untuk ikut acara ajang pencarian bakat di dunia tarik suara. Sudah hal biasa jika dia dan Hario ditodong menjadi penghibur di akhir acara-acara diskusi.
“Nggak ah, Kang. Nggak ada persiapan.” Reya berusaha mengelak.
“Biasanya juga nggak ada persiapan. Satu lagu aja?” Kang Asep membujuk. “Buat penutup nih. Kasihan pada ngebul kepalanya.”
Reya menyengir kecut. Dia tidak keberatan menyanyi.
Tapi, apakah harus dengan Hario?
“Gimana?” tanyanya basa-basi kepada Hario. Berharap Hario keberatan.
Tapi, pria itu hanya tersenyum. “You jump, I jump,” jawabnya menirukan dialog dalam film Titanic.
“Nah, tuh! Udah cepetan!” desak yang lain.
“Tapi, kan—”
Kang Asep yang super kreatif bergerak lebih cepat dengan menyerahkan gitar akustik kesayangannya kepada Hario. Pria itu malah menerimanya dengan senang ditambah maju dengan tenang. Berbeda dengan Reya yang salah tingkah. Ingin menolak, tapi penonton telanjur tepuk tangan. Akhirnya, Reya hanya bisa berdecak-decak dan maju mendekati Hario yang sudah duduk di depan, siap dengan gitarnya. Pria itu menatapnya dengan alis terangkat, bertanya.
“Halo milik Beyonce. What do you think?” tanya Reya. “Okay.”
Hario memulai petikan gitarnya, seketika Reya seperti dilempar ke masa-masa kebersamaan mereka.
“Apa kabar?” sapa Hario ketika acara sudah benar-benar selesai.
Masih memeluk gitar tua Kang Asep, pria itu tersenyum manis. Hario terlihat sama sekali tidak berubah. Wajahnya yang bersih dan cerah selalu terlihat kanak-kanak. Sorot mata hangat itu masih bisa membuatnya merasa nyaman.
Reya mulai merindukan kehidupan lamanya.
***
Reya terbangun dengan perasaan yang luar biasa menyenangkan. Tubuhnya terasa segar dan mood-nya benar-benar baik.
Bunyi alarm yang biasanya membuatnya kesal bahkan seperti alunan lagu favorit. Kebingungan untuk menentukan akan memasak apa pagi ini sama sekali tidak mengganggunya, seperti yang terjadi setiap hari. Mungkin dia akan membuat roti bakar saja. Toh yang penting ada makanan.
Reya meraih tabletnya dari dalam tas. Semalam Hario menyebutkan judul-judul buku filsafat yang pria itu pikir Reya akan menyukainya. Reya mengakses akun Amazon.com miliknya, tempat membeli buku-buku impor yang tidak bisa dia dapatkan di dalam negeri. Setelah mendapatkan buku-buku yang direkomendasikan Hario, Reya segera membuka akun internet banking-nya untuk melakukan pembayaran. Namun, matanya terbelalak melihat nominal saldo rekeningnya. Angka-angka di sana berubah drastis dari terakhir kali dia lihat. Buru-buru dia melihat mutasi rekening. Dahinya berkerut ketika menemukan transaksi uang masuk tiga hari yang lalu dari akun Radina Alief Pramoedya.
Untuk apa Rad mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya? Tahu dari mana pria itu tentang nomor rekeningnya? Lebih-lebih jumlah yang dia transfer hampir tiga kali lipat gaji bulanannya sebagai dosen tetap. Apa Rad salah kirim uang? Tapi, apakah itu mungkin?
“Ya sudahlah. Nanti ditanya,” katanya, memutuskan untuk log out dari akun internet banking-nya.
Reya segera bersiap-siap. Sudah hampir tiga minggu ini dia bangun lebih pagi dari biasanya agar bisa menyiapkan sarapan untuk Rad. Daripada harus mendengar omelan ibunya yang super panjang, Reya lebih suka menyiksa dirinya. Membuat kopi dan sarapan apa pun, kemudian buru-buru pergi sebelum Rad bangun. Bukan apa-apa, Reya tahu betul kemampuan memasaknya. Dia tak yakin seorang chef seperti Rad bisa menelan masakan buatannya sendiri. Dan melihat Rad membuang atau memuntahkan masakannya, pasti akan membuat Reya kesal. Karena itu, Reya memilih buru-buru pergi dan enggan memikirkan apa yang Rad lakukan pada masakannya.
Setelah mencuci muka sebentar, Reya menyeret kakinya ke dapur. Namun, tidak seperti biasanya, dapur pagi ini sudah terisi oleh Rad dan aroma gurih yang membuat perut kenyang pun seketika lapar. Seekor kucing kampung hitam yang baru akhir-akhir ini dipelihara Rad berputar-putar di kakinya, menunggu jatah sarapan.
“Sugeng enjing,” sapa Rad dalam bahasa Jawa krama inggil yang sangat kaku, sambil tersenyum lebar. “Sudah lapar?” Reya menguap sekali lalu masuk ke dalam pantri, melongok wajan yang dipegang Rad. Rad membuat tumis sayuran yang terlihat menggoda.
“Tumben?” tanya Reya.
“Saya ada acara pagi. Jadi, sekalian saja.”
Reya mengambil dua gelas pembuat kopi dari rak di dinding. Rad tidak memiliki mesin pembuat kopi. Dia lebih suka memakai gelas pembuat kopi manual. Dengan sebuah gelas penyaring versi V60, yang dipakai bersamaan dengan kertas penyaring, membuat kopi menjadi lebih mudah. Cangkir V60 di atas teko kopi kecil, kertas penyaring di atas cangkir V60. Biji kopi yang telah dihaluskan ditaruh di atas kertas penyaring. Setelah itu tinggal menyiram biji kopi dengan air panas dalam suhu tertentu. Kertas penyaring akan menahan ampas dan membiarkan ekstrak kopi mengalir ke teko kaca di bawahnya.
“Berapa nilai masakan saya selama ini?” tanya Reya, sambil menunggu air kopi menetes ke teko.
Rad menoleh dengan kening berkerut. Lalu, tertawa lebar. “Mau jawaban bohong atau jujur?”
Reya mengedikkan bahu. “Nggak ada bedanya. Kalau memang buruk, dua-duanya sama-sama menyakitkan,” jawabnya. “Kenapa? Kamu berikan pada Kunyit sarapanmu dua minggu ini?”
Kunyit adalah nama kucing baru Rad, yang sekarang sedang berputar-putar di kakinya, mengeong heboh minta jatah makan. Kucing kampung jantan berwarna hitam total. Besar dan menyebalkan. Angkuh dan pesolek kelas profesional. Tipe kucing yang akan menjadi pertanda munculnya hantu-hantu di film horor. Dalam kegelapan, hanya matanya yang terlihat hijau berkilau. Reya tak tahu mengapa Rad tertarik untuk memelihara kucing kampung. Biasanya orang-orang kaya lebih menyukai kucing-kucing ras mahal. Dan dia lebih tidak tahu lagi kenapa kucing hitam mengerikan itu dinamai Kunyit.
“Enggaklah,” jawab Rad cepat, sambil mengaduk tumisnya yang hampir matang. “Kunyit nggak mau apa pun makan selain nasi dan ikan tongkol.”
Reya mendengus. Bahkan kucing kampung jelek menyebalkan itu pun tak mau makan masakannya.
“Ibu yang maksa saya memasak.” Reya akhirnya berterus terang. “Menyiapkan sarapan dan baju kerja suami adalah tugas istri. Saya tahu saya nggak bisa masak. Saya juga nggak tahu baju apa yang harus kamu pakai untuk kerja. Jadi ... yah.” Reya mengedikkan bahu.
Rad tertawa kecil. “Oh, begitu ceritanya.”
Pria itu mengambil piring besar, lalu menuang tumisnya yang sudah matang. Bau harum menyebar ke mana-mana, membuat Reya mendadak kelaparan. Warna tumis itu terlihat sempurna. Brokoli hijau, wortel merah, sawi putih, dan daging cokelat. Tidak ada yang melebur. Tidak pula hancur. Tidak seperti masakannya yang sering kali terlalu matang hingga hancur tak keruan bentuknya.
Reya mengikuti Rad ke meja makan sambil membawa nampan berisi teko kopi, dua cangkir, dan toples kecil berisi gula halus. Di meja makan, sudah tersedia nasi yang mengepul dan dua piring bersih. Ada pula piring berisi tempe goreng yang kekuningan. Terus terang, Reya merasa iri dengan kemampuan memasak Rad.
“Apakah di tempatmu istri mengambilkan nasi dan lauk untuk suami?” tanya Rad.
Reya berdecak cemberut. Tapi, dia mengambilkan makanan untuk Rad. Nasi secentong, tumis sayuran, dan tempe.
“Mank you.” Rad tersenyum senang.
Keduanya makan dalam diam. Rad makan sambil membaca koran paginya. Sementara Reya masih bertanya-tanya apa yang dilakukan Rad dengan sarapannya tiga minggu ini. Merasakan masakan Rad, meskipun hanya tumis sederhana dan tempe goreng, Reya merasa masakannya seperti makanan basi. Mungkin pria itu membuang makanannya ke tempat sampah dan memilih membeli bubur ayam yang sering lewat depan rumah.
Memikirkan soal beli bubur, Reya teringat pada nominal rekeningnya yang bertambah.
“Rad,” panggilnya perlahan.
“Hmm.”
“Kamu transfer uang ke rekening saya?” “Hmm.”
“Untuk apa, ya?”
“Uang belanja.”
“Belanja?” Reya semakin tidak mengerti. “Belanja apa?” Rad mengangkat wajahnya dari koran sedikit. “Ya … belanja apa pun kebutuhan kamu. Terserah.”
Dengan otaknya yang hari ini berjalan lambat, Reya mulai bisa mencerna. “Kamu nggak perlu melakukan itu, Rad. Saya bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri.”
“Apa di tempatmu suami nggak memberikan nafkah kepada istri?”
Rad meletakkan korannya, lalu menatap perempuan di hadapannya.
“Nanti saya transfer balik,” kata Reya lagi.
“Bagian mana yang membuatmu merasa pernikahan kita bukan pernikahan sesungguhnya?” tanya pria itu dengan nada yang sulit ditebak. Tapi, Reya yakin aura dingin Rad meningkat satu level.
“Ng—”
“Apa itu juga yang bikin kamu berpikir bisa seenaknya kencan dengan mantan pacar?”
Reya terbelalak. Apakah Rad sedang membicarakan soal dia dan Hario? Tapi, dari mana Rad tahu kemarin dirinya menghabiskan hari bersama Hario? Apa pria itu memata-matainya? Untuk apa? Bukankah dia mengatakan bahwa dia akan menjamin kebebasannya?
“Apa pun yang kamu pikirkan soal kita, pernikahan kita bukan pernikahan main-main, Reya. Saya serius dengan ikrar yang saya ucapkan di hadapan penghulu.” Masih dengan nada dingin Rad melanjutkan.
“Tapi, pernikahan ini nggak seharusnya terjadi!” bantah Reya. “Kamu kan sudah sepakat kalau kita akan cerai setahun dari tanggal pernikahan kita?”
“Walaupun kita akan cerai dalam waktu setahun, bukan berarti pernikahan ini mainan, kan? Apa kamu nggak bisa menghargai pernikahan ini meski cuma setahun?”
Reya menelan ludah, merasakan sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya.
***
Apa kamu nggak bisa menghargai pernikahan ini meski cuma setahun?
Reya memijit kening. Kepalanya sudah migrain sejak pagi tadi, tepatnya saat ia meninggalkan meja makan. Semakin menjadi-jadi karena ia belum menelan apa pun selain kopi seharian ini. Sarapan sehat nasi dengan sayur tadi pagi hanya sempat dia makan beberapa sendok. Reya enggan kembali ke meja makan dan memilih langsung berangkat bahkan tanpa menyapa Rad lagi yang masih berada di meja makan. Di
kampus, ia terlalu sibuk dengan kuliah dan mahasiswa-mahasiswanya untuk sekadar mencari makanan.
Kopi tadi pagi membuat perut dan kepalanya mulai bereaksi. Dan kini, saat ia mendapatkan kesempatan untuk istirahat, pertengkarannya dengan Rad kembali menyambangi pikiran.
“Rad,” gumam Reya. Tubuhnya melorot ke kursi, sehingga belakang kepalanya menyandar ke punggung kursi.
Dia bahkan masih sering tertawa jika mengingat hidupnya selama satu bulan belakangan ini—sejak ia bertemu Rad, menerima lamaran, dan pada akhirnya resmi menjadi Nyonya Rad Alief. Reya menelan ludah. Sebab, ia tahu pasti bahwa tidak ada yang tidak sungguhan dalam pernikahannya itu. Tidak ada yang lelucon, meski sebagian dari tragedi memang harus ditertawakan untuk dapat diterima.
Bukan salah Rad, simpulnya dalam hati. Dia meminta dan aku menerima. Resmi. Sah. Nggak ada paksaan ataupun tekanan. Ini semua resmi berasal dari kegilaanku sendiri. Reya kembali menghela napas. Dan sekarang aku membuat Rad seolaholah tokoh jahat yang memaksaku jadi istrinya. What the hell you have done, Rey? Untuk apa mengkambinghitamkan orang lain pada kesalahan yang jelas-jelas ada pada diri sendiri?
Reya mulai meremas rambut. AC di ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.
Tapi, bagaimana caranya menghargai pernikahan? Apakah dia harus berlaku selayaknya istri selama setahun ini? Apa dia harus melakukan tugas-tugas seorang istri? Apakah dia juga harus ... melakukan hubungan suami istri dengan Rad? Apakah dia harus memberikan anak dan cucu bagi suami dan orangtuanya? Bagaimana cara menghargai pernikahan?
“Mbak?”
Reya menegakkan kepala. Seorang mahasiswa sedang melongokkan kepala di ambang pintu. Reya mengenalinya sebagai Anthony, mahasiswa angkatan 2010 yang sedang proses mengerjakan skripsi di bawah bimbingannya.
“Hai. Sini masuk.” Reya melambaikan tangan dan menyeret kursi yang didudukinya mendekati meja. “Gimana? Lancar?”
“Ya gitu deh, Mbak.” Cowok itu menyengir kecut. “Belum ada kemajuan bab empatnya. Saya kurang sumber, Mbak. Agak bingung waktu mengupas politik populisme.”
Reya tersenyum. Anthony sedikit berbeda dengan mahasiswanya yang lain. Kebanyakan mahasiswa mengambil penelitian kuantitatif.Anthony memutuskan mengambil penelitian kualitatif dengan mengangkat tema politik populisme dan perkembangannya di Indonesia saat ini. Karena jarang ada yang mengambil tema ini, wajar kalau Anthony kesulitan akibat minimnya teman diskusi.
“Kamu coba baca bukunya Margareth Canovan deh. Ada nggak? Kalau nggak ada, besok saya bawain. Kalau literatur Indonesia memang agak minim. Kalau mau lebih jauh lagi, kamu baca Eichmann In Jerusalem Hannah Arendt, itu membahas tentang politik—”
Penjelasan Reya terputus saat pintu ruangannya kembali diketuk. Tak lama sosok Rad melongokkan kepala sambil tersenyum lebar. Reya mengerutkan dahi, tapi segera kembali fokus pada mahasiswanya.
“Abaikan aja,” kata Reya. Rad duduk di sofa, menunggu. “Kalau bukunya Hannah Arendt membahas soal logika kerumunan.”
“Saya juga sebenarnya masih bingung, Mbak, perbedaan politik populisme dengan demokrasi.”
“Lho, kamu kan sudah bahas itu di bab dua? Di latar belakang juga udah kamu singgung sedikit.”
Anthony menyengir bersalah. “Saya belum paham benar sih, Mbak. Itu kebanyakan kan saya ngutip-ngutip.”
Ekspresi Reya berubah. “Kalau memang belum paham, sebaiknya jangan ditulis, Anthony. Jangan pernah menulis atau membahas apa yang kamu nggak tahu. Nanti kamu sendiri yang repot kalau ditanya penguji. Tapi, kalau untuk poin yang ini, kamu harus ngerti. Karena ini penting.”
Lalu, Reya mulai menjelaskan panjang lebar mengenai perbedaan demokrasi dengan politik populisme. Jika sudah membicarakan politik, Reya bisa benar-benar lupa waktu. Dia merasa sedang memberi kuliah di kelas jika dia tidak tiba-tiba menatap Rad yang masih menunggu di sofa. Barangkali sudah lebih setengah jam dia menunggu.
“Perbanyak baca lagi, ya.” Akhirnya Reya mengakhiri kuliahnya.
“Siap, Mbak. Maaf bikin Chef Rad menunggu.”
Reya melirik pria yang sibuk memperhatikan ponsel itu. “Nggak apa-apa. Dia aja yang datang di waktu yang nggak tepat. Vira mana? Janjian sama saya jam empat.”
Setelah Anthony pergi, Reya kembali menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Rad yang tadi sempat duduk di sofa segera bangkit mendekat.
“Hei,” sapa Rad. “Boleh saya minta waktu sebentar, Bu Dosen? You know I,” Rad menghentikan kalimatnya dan berjalan cepat mendekati meja, “apa kamu sudah makan sesuatu hari ini?”
Reya menggeleng.
Rad berdecak. Lalu, menggerakkan tangannya menyuruh Reya bangkit. “Let’s go. Ayo. Kita cari sesuatu yang bisa kamu makan. Ayo cepet!”
“Saya lagi nunggu mahasiswa mau bimbingan.”
“I don’t care,” ujar Rad sambil menarik tangan Reya supaya bangkit. “Mahasiswamu juga nggak bisa bimbingan kalau kamu pingsan di tengah jalan.”
***
Rad menyusuri pinggiran cangkir kopi dengan jari-jari pianisnya. Matanya lekat memandang perempuan di hadapan yang sibuk mengaduk-aduk salad buah di piring, terlihat hilang nafsu pada apa pun.
“Saya tahu ini nggak adil untuk kamu,” tambah Reya. “Ini bukan salahmu. Tapi, rasanya saya sakit kepala waktu kamu minta menghargai pernikahan kita. Saya....” Perempuan itu menatap Rad dengan pandangan frustrasi karena tidak bisa menemukan kata yang tepat. Hingga akhirnya Reya mengedikkan bahu, tanda menyerah. “Saya nggak tahu gimana caranya.”
“Tapi, itu nggak berarti kamu boleh nggak makan seharian, Reya.”
Reya tertawa kecut. “Kalau itu … murni karena saya lupa.
Banyak banget kerjaan hari ini.”
“Habiskan dulu makananmu, lalu saya akan kasih saran.” Reya menatapnya dengan pandangan aneh sebelum terta-
wa kecil. Kemudian, dia menunduk menatap piring saladnya yang masih banyak. Senyumnya hilang.
“No, I can’t,” kata Reya sembari menggelengkan kepala dan menaruh sendok garpu ke pinggir piring.
“Jangan harap saya akan biarkan kamu balik ke ruanganmu yang pengap itu.”
Reya mengerang. “Kamu nggak tahu rasanya!”
“What? Menjadi seorang istri atau menghabiskan sepiring penuh salad yang kamu pesan sendiri?”
Reya mengerucutkan bibir. Melihat itu mau tidak mau Rad tersenyum. Reya terlihat seperti gadis menjelang remaja yang sedang merajuk. Padahal, beberapa menit yang lalu, Reya adalah seorang perempuan matang di balik meja kerja yang penuh otoritas. Rad teringat mata kucing itu begitu tegas dan berwibawa saat bicara dengan mahasiswanya. Tapi, kini mata kucing itu terlihat seperti mata anak kecil yang menganggap PR matematika kali ini terlalu sulit.
“Begini saja,” kata Rad masih menahan senyum, “sebagai suami, saya akan menafkahimu. Itu kewajiban saya sebagai suami, kan? Jangan marah-marah lagi kalau saya transfer uang belanja. Mungkin uang dari saya nggak seberapa dibanding penghasilanmu, tapi ya terima saja. Saya nggak peduli kamu mau apakan uang itu. Mau kamu pakai atau kamu sumbangin ke Palestina juga terserah. Itu hak kamu.”
Reya hendak menjawab, namun Rad tidak memberinya kesempatan.
“Sebagai istri, kamu boleh melakukan dan nggak melakukan apa pun yang kamu mau. Kamu mau bikinin saya kopi, oke. Kamu mau beres-beres rumah, terserah. Saat ini rumah saya adalah rumah kamu juga. Saya nggak memaksa kamu ngapain-ngapain. Kamu bebas.” Rad mengerutkan dahi. “Tapi, saya minta satu hal, Reya, tolong jangan bilang pernikahan kita ini main-main.”
Kali ini Reya tidak berniat menjawab, hanya memandangnya penuh pertanyaan.
“Itu membuat saya merasa jadi laki-laki pecundang yang memaksa seorang perempuan untuk dinikahi dengan kontrak atau apalah. Saya merasa telah memaksa kamu untuk menikahi saya untuk maksud-maksud tertentu. Apa saya seperti itu?” tanya Rad.
Reya menggeleng buru-buru.
“Maka dari itu, sebagai dua orang dewasa, mari kita pikul kesalahan ini bersama-sama. Walau cuma setahun, mari kita pertahankan rumah tangga kita ini.”
Reya mengangguk.
“Dan satu hal,” Rad tersenyum tipis, “do not cheating.”
“Apa?!”
“Saya malas menanggapi wartawan jika nanti ada kabar-kabar semacam itu. Itu akan menyita waktu saya. Suka nggak suka, mau nggak mau, kamu menikah dengan seorang public ßgure. Kamu menikah dengan orang yang cukup terkenal. Sorry soal itu. Jadi, saya mohon bantuanmu untuk menjadikan saya lelaki satu-satunya dalam hidupmu setahun ini. Kalau dia memang mencintai kamu, toh, setahun bukan waktu yang lama, kan?”
“Dan bagaimana denganmu?” tanya Reya dengan mata menyipit. Mata kucing tegasnya sudah kembali.
“Kenapa dengan saya?” Rad mengangkat alis.
“Jika saya harus menjadikan kamu sebagai lelaki satu-satunya setahun ini, bagaimana denganmu?”
Bisa meraba arah pembicaraan perempuan itu, Rad tersenyum. “Saya laki-laki dewasa, Reya. Saya tahu bagaimana menghargai pernikahan.”
Reya mendengus.
Rad tertawa. “Saya anggap kamu setuju. Jadi, semuanya gampang, kan?”
“Nggak ada seks.”
Rad mengedikkan bahu. “Oke.”
“Kalau kamu butuh pelampiasan hasrat laki-laki dewasamu, cari sana di luar!”
Rad tertawa. “Saya bisa atur hormon saya. Lagi pula, untuk di ranjang, saya nggak suka perempuan yang terlalu pintar. Mereka membuat saya terintimidasi. Kalau terintimidasi, saya nggak bisa ereksi.”
“RAD!”
Pria itu semakin terbahak-bahak. Dengan wajah merah padam Reya berdiri.
“Tunggu.” Rad menahan tangannya. “Satu lagi.”
Masih dengan wajah cemberut, Reya kembali duduk. “Apa?”
“Sebagai penebus kesalahan kamu kemarin, ya—jalan dengan mantan pacar di belakang suami itu salah, Reya,” tambahnya buru-buru ketika perempuan itu berniat memprotes lagi, “saya minta kamu melakukan satu hal.”
“Satu hal apa?”
“Malam ini, jadilah istri yang mencintai saya.”
“What?!”