
Dinginnya angin malam yang berhembus kencang, namun tidak membuat seorang gadis cantik itu kedinginan, Diandra menatap langit malam yang mendung dan suara Guntur pun saling bersahutan di atas langit itu.
Langit hitam itu pun seakan tahu apa yang sedang Diandra rasakan saat ini, sakit hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Diandra merasa dia hanyalah di jadikan boneka saja oleh pria yang sangat ia cintai, menangis dan terluka itulah yang sedang ia rasakan saat ini.
Ingin sekali diandra berteriak sekeras mungkin, agar semua orang tahu betapa rapuhnya dirinya saat ini, namun diantara tidak ingin membuat orang tuanya membenci dalfi karena keputusan nya.
Diandra merasa sangat dilema, haruskah ia mempertahankan cintanya, ataukah melepaskan nya begitu saja.
di dalam angin yang berhembus kencang malam itu sosok bayangan nya pun muncul di hadapannya, bayangan dirinya terus menertawakan kesedihan nya.
"Diandra kau adalah gadis bod*h dan naif, kasihan sekali nasibmu yang sangat menyedihkan itu, harus menelan pil pahit sebelum merasakan kebahagiaan" bayang ilusi itu pun terus menertawakan dirinya.
"tidak tidak tidak, aku tidak menyedihkan! aku bisa bahagia, aku juga bisa membuat nya mencintai aku, dengan cara ku sendiri" teriak diandra di iringi hujan yang begitu deras, membasahi tubuh mungilnya.
"Aku bukan wanita lemah, aku akan mempertahankan cinta pertama ku" Diandra kini duduk di lantai dengan tubuhnya, yang sedikit basah karena air hujan.
"Aku akan membuktikan bahwa cinta dalfi hanya untuk diandra saja, dan tidak ada siapapun yang bisa memisahkan kami"
diandra berkata dengan mata yang sedikit memerah, karena terlalu banyak menangis, dengan api semangat yang membara ia akan berusaha menggapai cinta pertamanya.
...----------------...
"nyaman banget gulingnya, tapi sejak kapan di kamar kontrakan ada guling?" kayla bergumam, ia masih mengingat bahwa saat ini dirinya masih berada di kontrakan kecilnya, karena merasa sangat nyaman kayla pun semakin mengeratkan pelukannya, tanpa membuka matanya dan kembali tertidur pulas.
Kayla masih merasa mengantuk dan malas untuk bangun, karena suara Guntur yang bersahutan malam tadi membuatnya sulit tidur hingga kayla pun terjaga sampai larut malam.
dalfa terbangun dari tidurnya karena terganggu oleh pergerakan Kayla, dalfa melihat tangan putih Kayla sedang melingkar di pinggangnya.
namun dalfa melihat istri siri nya masih tertidur pulas, dengan perlahan dalfa membuka pelukan kayla, namun kayla semakin mengeratkan pelukannya.
Dalfa melihat istri sirinya yang tertidur sangat nyaman memeluknya pun, tak tega untuk membangunkan nya.
sejenak dalfa memandangi wajah kayla, dan kembali memejamkan matanya setelah melihat kayla yang perlahan-lahan membuka matanya , kayla pun meregangkan otot tubuhnya yang sedikit kaku.
kayla kini terbangun dari tidurnya, dan Kayla baru menyadari bahwa yang ia anggap sebagai guling adalah suami sirinya.
perlahan kayla mengangkat kakinya yang menindih kaki dalfa, kayla merasa lega melihat dalfa yang masih tertidur pulas.
"untung saja dia belum bangung kalau tidak, apa yang akan dia pikirkan tentang ku nanti" gumam kayla, dan dengan cepat kayla pun turun dari tempat tidur nya dan berlari menuju kamar mandi.
setelah mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan tertutup, dalfa pun bangun dari tidurnya ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, " selain pintar dia juga sangat konyol." gumam dalfa.
bersambung..