
Sekitar jam 2 siang ayah serta ibu mertuaku datang, mereka tidak datang sendiri melainkan bersama Fero juga Dika. Aku kaget pas ada Fero, berati Nita sendirian dirumah. aku gak habis pikir sama Fero, tega-teganya ninggalin Nita yang lagi hamil muda.
Terlebih Dika, aku semakin kaget waktu liat Dika ada disana. dengan sangat tidak tau malunya dia ikut kesini, dan maaf saja sampai matipun aku gak akan mau bertegur sapa denganya.
"Bangun tidur nduk?"tanya ibu saat aku menyalaminya.
"Hehe iya bu, mumpung Ryu tidur. aku juga ikutan tidur."jawabku sembari tersenyum.
Ayah ngobrol sama ayah mertua, Fero juga Dika. sedangkan ibu mertua lagi mangku Ryu yang baru saja bangun, aku segera pamit kebelakang karna ingin membantu ibu menyiapkan makan siang.
Aku mulai membawa keluar nasi lauk serta piring dan lain-lainya, setelah itu mereka semua makan bersama. tidak dengan aku, aku hanya berdiri dipintu sembari menggendong Ryu.
Jujur saja aku sangat kesal sama mas Rendy, ngapain juga si Dika sialan ini pakek acara boleh ikut kesini juga. sudah tau aku ini kesal banget sama dia, kok masih aja berhubungan.
Setelah selesei makan siang, Ryu kuberikan pada ibu mertua. aku segera membantu ibuku memberesi bekas makan, segera kubawa kebelakang dan langsung kucuci.
Tak lama Fero, Dika serta ayah berangkat menemani mas Rendy, aku juga bawain bekal untuk mereka juga mas Rendy. Mas Rendy juga minta bawain baju ganti, karna bajunya udah kotor semua.
Setelah mereka semua pergi aku langsung kedapur, sedangkan ayah ibu serta ibu mertua sedang ngobrol di teras depan.
Sudah jam 4 sudah waktunya Ryu, kuambil Ryu yang berada digendongan ibu mertua lalu kumandikan."Nduk Ryu mandinya pake air hangat?"tanya ibu mertua.
"Iya bu. masih kecil kasian kalo mau make air dingin."jawabku.
"Dilatih nduk nanti kebiasaan sampai besar,"ucao ibu mertua.
Yampun ibu mertua yang benar saja Ryu suruh mandi air dingin, kasian kali lah. mandi kesorean atau airnya kurang hangat saja kembung malamnya, bisa-bisanya suruh make air dingin.
"Iya bu nanti kalo udah agak gede dikit, sekarang masih kecil banget kasian!"jawabku ketus.
Jujur saja aku kesal sama ucapan ibu mertua, seperti orang yang gak pernah punya bayi. kalo mau yang aneh-aneh nantilah kalo Nita lahiran, kalo Ryu mah jangan kasian anaku.
"Nah Ryu sudah ganteng sini gendong sama nenek."ucap ibu mertua seraya menimang Ryu.
"Kitinggal mandi dulu ya bu."pamitku seraya beranjak masuk kedalam kamar.
Kulihat ibu membawa Ryu keteras, dan disana sudah ada ayah sama ibu yang sedang santai. Segera aku berlari kekamar mandi, aku mandi sengaja santai. biarkan saj toh Ryu sama neneknya, neneknya kan jarang-jarang momong Ryu.
Selesei mandi dan ganti aku tidak langsung menyusul Ryu, aku santai-santai dulu sembari main ponsel. seperti biasa jika sedang santai aki selalu membuka aplikasi novel online, lumayan penghilang setres.
...ΩΩΩ...
Sesudah magrih aku makan malam bersama Dinda, sedangkan yang lainya bilang masih kenyang. selese makan aku langsung keruang tv, disana sudah ada ayah ibu serta Ryu.
"Apa ayah gak pulang bu?"tanyaku pada ibu mertua.
"Enggak. katanya mau minep disana nemenin Rendy, kasian Rendy sendirian."jawab ibu mertua.
Seketika aku sama ibuku saling menatap, mendengar ucapan ibu mertua seketika aku emosi. namun dengan cepat ibuku menggelengkan kepala, itu tandanya jangan.
"Memang betah bu sama nyamuk, katanya suka gatal-gatal?"tanya ibuku.
"Ya gak betah bu demi anak, kalo anaknya digigit ayahnya juga biar digigit."jawab ibu mertua.
Tak lama ayah kembali masuk kedalam rumah, membuat kami penasaran siapa gerangan yang bertamu."Siapa yah?"tanya ibuku.
"Pak adi."jawab Ayah tersenyum.
"Lo kok pulang malahan si ayah?"gumam ibu mertua sembari berdiri langsung keluar dari rumah.
Kami semua segera mengikuti langkah ibu mertua, akupun segera menggendong Ryu lalu keluar menuju teras.
"Lo yah katanya mau nginap disana?"tanya ibu mertua begitu sampai diteras.
"Ayah gak tahan sama nyamuk, lagian disana dingin ayah pasti gatal-gatal bu."jawab ayah mertuaku.
"Lah si ayah mah gitu aja pulang, lalu siapa yang nemenin Rendy?"tanya ibu mertua ketus.
"Ibu disanakan ada Fero juga Dika, jadi ibu perlu kawatir."jawab ayah mertua.
"Ros bikinin ayahmu kopi!"titah ayahku yang duduk disebelah ayah mertua.
"Iya yah."jawabku sembari meletakan Ryu dipangkuan ibu.
Aku segera masuk kedapur, meracik kopi sesuai selera ayah. aku hampir saja gak bisa nahan ketawa liat ekspresi ibu mertua, dia terlihat kaget waktu denger suaminya pulang lagi. udah terlanjur dibangga-banggain eh taunya pulang lagi.
Astagfirulah ampuni aku yallah, secara gak sengaja aku lagi ghibahin ibu mertua sama diriku sendiri. Selesei membuat kopi aku sehera keluar, lalu meletakan kopi diatas meja depan ayah mertua.
"Rendy disana gak sendiri, para tetangganya juga pada maen kerumah."
"Tentu saja pak namanya mau panen, pasti pada maenan kartu."jawab ibuku.
"Iya bu Sita gak perlu kawatir, biarkan Rendy dewasa."ucap ayahku.
Ibu mertua hanya diam tak lagi menyahuti, tak lama kuajak beliau masuk kedalam kamar. karna ini sudah jam 9, dan besok harus bangun pagi. masak dan setelah matang baru dibawa kesana,jarak dari rumah ibu kedesa agung tidaklah jauh. hanya perjalanan 1 jam saja, tak masalah jika masakanya dibungkus lalu dibawa kesana.
"Tidur sebelah Ryu bu."
Karna ibu berbaring dikasur matras, tempat mas Rendy tidur kalo pas pulang.
"Iya nduk, ini ibu lagi mikirin Rendy."jawanya.
"Bu mas Rendy sudah dewasa. lagian disana ada temanya dan ada rumahnya juga, jadi tak perlu kawatir kehujanan."
"Tetangga disana semua sudah akrab sama mas Rendy, jadi gak mungkin mas Rendy kesusahan."ucapku.
Aku berdiri setelah meletakan Ryu diatas ranjang, aku segera membuatkan susu untuk Ryu. sepertinya dia sudah mengantuk, kulihat matanya juga sudah merah.
"Nduk tetangga ibu disana ada lo anknya yang dikasih susu kalengan. coba Ryu dikasih, kalo cocok kan lumayan harganya murah,"ucap ibu mertua.
Seketika kubalikan badan menatap mulut ibu mertuaku yang sangat pedas jika berbicara, yang benar saja Ryu suruh ngasih susu kaleng.
"Enggk bu. aku masih sanggup buat beliin susu Ryu, lagian bayi segitu belum waktunya minum susu kaleng!"jawabku.
Kubaringkan tubuhku disebelah Ryu, tak kupedulikan lagi ibu mertua yang mulutnya tajam seperti silet. kesini bukanya bikin senang, justru bikin saki hati saja.