After Wedding

After Wedding
dejavu



Sore hari aku pulang kekontrakan seperti biasa dijemput mas Rendy, jantungku terus berdebar dari tadi siang saat mendapat kabar bahwa dava bakal menginap dsini.


Sungguh pikiranku jadi tidak tenang, entah apa yang terjadi padaku, selsei mandi aku menyusul mas Rendy yang sedang duduk didepan tv.


"Lagi ngapain mas?"tanyaku, sambil mendudukan tubuhku dipangkuan mas Rendy.


"Maen game nih yang, tapi kalah terus sial!"jawab mas Rendy.


"Fitu aja kesal mas."jawabku, sambil mengalungkan tanganku dileher mas Rendy lalu kuhisap lembut bibir mas Rendy


"Temanmu jadi kesini yang?""tanya mas Rendy, sambil meletakan ponselnya lalu meremas bokongku.


"Jadi mas, tadi Dava bilang abis maghrib dia kesini."jawabku sambil menciumi leher mas Rendy.


"Oiya oke yang."jawab mas Rendy sambil memejamkan mata menikmati sentuhanku.


"Mas Rendy gak apa-apa Dava bermalam dsini?"tanyaku lagi.


"Tidak apa-apa yang, memangnya kenapa si?"mas Rendy balik bertanya.


"Aku gak enak aja sama mas Rendy,"jawabku sambil kukecup bibirnya.


"Jangan-jangan dava mantan pacarmu jaman sekolah ya yang."tebak mas Rendy seolah mengerti kegelisahaanku.


"Eh tidak-tidak mana ada mas!"ucapku kembali.


"Yang benar sayang?"jawab mas Rendy sambil meremas lembut buah dadaku dari luar baju.


Tak lama tangan mas Rendy sudah masuk kedalam bra, tanpa melepas pengaitnya meremas lembut lalu memilin putingnya.


"Mas nakal ih."ucapku sambil memukul pelan tangan mas Rendy yang berada didalm bajuku, tanpa melepas remasan di buah dadaku mas Rendy justru mencium leherku menghisapnya pelan.


"Mash!"desahku.


Aku menggelinjang nikmat menerima sentuhan mas Rendy, tanpa aba-aba mas Rendy langsung menyingkap bajuku keatas, lalu menyingkap braku dan mulai mengisap putingku seperti anak bayi yang tengah kehausan.


"Enak enggk sayang?"tanya mas Rendy sambil mengelap sisa saliva yang masih tersisa dibuah dadaku.


"Enak mash."jawabku pelan.


"Aku suka banget sama ini yang, besar putih empuk lagi."jawab mas Rendy sambil meremas lembut putingku.


"Mau magrib mas udahan."tolaku secara halus, gk etis bangetkan magrib-maghrib bikin anak.


"Iya ya, nanti mlm saja mau tidur okee."jawab mas Rendy sambil menutup kembali bra ku lalu menurunkan dress pendeku.


...ΩΩΩ...


Pukul 18,40 setelah selesei makan ponselku berdering ada nama Dava dilayar ponsel, segera kuangkat saja.


"Iya halo,"jawabku pelan


"Suara kamu gak berubah Ros!"jawab Dava diujung sana.


"Ada yang bisa ku bantu Dav?"tanyaku mengalihkan topik.


"Eh anu Ros bisa gk kamu arah-arahin kontrakan kamu?"jawab Dava sdikit gugup.


" Bisa sebentar, kamu ngobrol saja sama mas Rendy ya."jawabku sambil menyerahkan ponsel ke mas Rendy.


"Halo mas,"jawab mas Rendy, kulihat mas Rendy berbincang sebentar lalu mengembalikan ponsel padaku.


"Sudah mas?"tanyaku.


"Sudah yang, ayo kita tunggu didepan biar Dava gak bingung nyari kontrakan kita."ajak mas Rendy, aku sama mas Rendy gegas keteras lalu duduk santai disana.


"Ngapain sih mas kita nunggu dsini, nanti kalo dia sampai depan kan bisa nelpon?"tanyaku pada mas Rendy.


"Gak apa yang kasian Dava nanti nyari-nyari."jawab mas Rendy.


Tak lama ada mobil berwarna silver masuk tepat berhenti didepan teras kami, lalu pemiliknya turun jantungku seperti akan melompat dari tempatnya.


" Mas Dava yaa?"tanya mas Rendy ramah.


"Iya mas!"jawab Dava pelan sambil menyalami mas rendy, lalu menyalamiku sejenak kuperhatikan Dava dari atas sampai bawah, tidak ada yang berubah hanya makin tampan saja.


"Apa kabar Ros?"tanya Dava membuyarkan lamunanku.


"Ehm baik, oh ya ayo masuk dulu!"ajaku sedikit gugup, aku sama Rendy jalan didepan diikuti Dava.


"Duduk dulu mas, sayang buatkan minum!"titah mas Rendy.


Segera aku pergi kedapur untuk menenangkan debaran didadaku, yampun aku benar-benar dejavu. sambil membuat minum aku terus saja melamun, hingga tak terasa ada tangan dingn yang menyentuh pundak putihku yang sedikit terbuka.


"Ros jangan melamun."ucap suara yang sangat aku kenal, bahkan sering aku rindui.


"Eh Dav, kamu ngapain ksini?"Tanysku gugup.


"Aku mau numpang ketoilet."jawab Dava sambil terus menatapku lekat.


"Kamu makin cantik Ros, badanmu putih dan bagus. apa kamu sedang hamil?"tanya dava pelan tanpa melepas tatapanya padaku.


"Ehm iya, baru jalan 6 bulan."ucapku sambil mengelus perutku.


"Sebentar lagi aku mau nikah, usahakan datang ya Ros."ucap Dava, kini pandanganya beralih keprutku.


"Semoga aku bisa datang, kuusahakan Dav"jawabku pelan.


"Aku permisi dulu, takut mas Rendy mencariku."jawabku hendak berlalu namun tanganku dicekal oleh Dava.


"Apa kamu mencintai Rendy, Ros?"tanya Dava sontak saja aku membulatkan mata pertanyaan yang tidak masuk akal.


"Tentu saja, bahkan aku sudah hamil anaknya."jawabku pelan.


"Kamu yakin, kamu bisa melupakanku dan semua kenangan kita Ros?"tanya Dava semakin melantur.


"Dava cukup, aku sudah menikah bahkan hamil, dan kamu juga sebentar lagi menikah. jadi tolong tidak usah diingat lagi apa yang sudah terjadi, aku dan kamu hanya teman ya sebatas teman. aku permisi."jawabku tanpa menunggu jawaban dari Dava aku segera keluar mencari mas Rendy.


"Dava mana yang?"tanya mas Rendy.


"Sedang dikamar mandi mas."jawabku cepat.


"Gak kamu suruh makan si Dava yang?"tanya mas Rendy


"Biar aja mas, mungkin dia sudah makan diluar."jawabku singkat.


Sambil menunggu Dava kami ngobrol, tak lama Dava keluar sudah ganti dengan pakaian rumahan. celana pendek hitam serta kaos pendek mustard.


"Mas Dava makan dulu, anggap saja rumah sendiri."bgitulah mas Rendy jika ada tamu.


"Trimakasih mas aku udah makan tadi sebelum kesini."jawab Dava sambil menyesap teh hangat yang sudah kubuatkan.


"Tidur dikamar tamu saja mas, kalo didepan tv nanti dingin!"ucap mas Rendy


"Iya mas trimakasih, maaf ngerpotin."jawab Dava pelan sambil tersenyum.


"Sebelum dapat kontrakan tinggal disini tidak maslah, kamar juga ada 2 dan kami hanya pakai 1 kamar saja."ucap mas Rendy


Aku sungguh kaget mendengar ucapan mas Rendy, bisa-bisanya mas Rendy membiarkan Dava tinggal dsini untuk beberapa hari kedepan.


"Oh iya mas, memang hari-hari ini aku sibuk banget belum sempat cari kontrakan, karna sedang mengurus kepindahanku."Jawab Dava sambil tersenyum manis kearahku.


"Makanya disini saja dulu!"ucap mas Rendy lagi.


"Aku kekamar dulu mas ngantuk, Dav aku tinggal dulu, jika lapar silahkan makan."ucapku.


Tanpa menunggu jawaban dari keduanya gegas aku masuk kedalam kamar, segera kurebahkan tubuhku diatas ranjang sungguh hari ini aku benar-benar merasa dejavu.


Capek dengan pikiranku ahirnya ku terlelap entah jam berapa mas Rendy masuk kekamar, yang pasti ketika aku bangun tengah malam mas Rendy sudah tidur sambil memeluku dari belakang.