After Wedding

After Wedding
kebersamaan



Setelah mekera jauh, aku langsung masuk kedalam kamar sambil menggendong Ryu. kubaringkan dan langsung kususui, biasanya dijam seperti ini Ryu sudah tidur.


Benar, tak lama Ryu sudah terlelap. kubiarkan sejenak botol susu yang menempel dimulut Ryu, karna jika belum lelap banget diambil dotnya Ryu langsung bangun lagi.


Kuambil uang dari ibu mertua yang taro disaku celananku, semuanya 50 ribuan. dan setelah ku hitung jumlahnya ada 20 lembar, berarti pas uang ini untuk membayar hutang Nita. aku tersenyum miris menatap uang 1 juta yang ada ditanganku, seandainya aku hidup berkecukupan pasti sudah kukembalikan lagi uang ini.


Uang ini cuman 1 juta, tapi gara-gara uang inilah mereka menggoreskan luka yang sangat dalam dihatiku. mungkin mas Rendy sudah baik-baik saja, apalagi kedua orang tuanya sudah kesini. tapi enggak dengan aku, selamanya aku pasti ingat. gimana ucapan Nita, ucapan ibu mertua serta ucapan ayah mertua yang paling pedas.


Dulu ketika aku masih kerja punya penghasilan sendiri, mereka layaknya malaikat. tapi sekarang aku sudah tidak punya apa-apa, barulah muncul sifat asli mereke. mertuaku tipikal peli benar-benar pelit, untuk anaknya sendiri pun tetap pelit.


Aku beranjak bangun dari ranjang, ku simpan uang dari ibu mertua kedalam lemari. nanti tinggal ngasih tau kalo mas Rebdy sudah pulang, aku kembali keranjang dan merebahkan tubuhku disebelah Ryu.


...ΩΩ...


Puasa sudah hampir usai, dan sebentar lagi lebaran. aku beberapa hari ini sibuk membantu ibu bikin kue, aku sama ibu hobi bikin kue basah maupun kering. kami pribadi dibanding beli lebih baik bikin, bahanya berkulitas serta yang terutama itu rasanya.


Seperti hari ini aku sama Dinda sedang bantuin ibu bikin nastar, kebetulan lagi gak kerja jadi lumayan bisa bantu-bantu. aku sama ibu sudah star dari setelah sahur, tapi namanya bikin nastar ribet jadi sampai jam 11 siang belum selesei.


Ryu sudah mulai resah, inginya dia mainan bareng-bareng. susah banget kalo diajak ngerjain sesuatu kaya gini, gak betahan.


"Din kamu ajak Ryu kekamar saja sana, mungkin dia mau tidur,"ucapku.


"Iya mba."jawab Dinda sembari menggendong Ryu dibawa masuk kekamar.


"Ros udangnya mau dipanen kapan?"tanya ibu.


"Abis lebaran bu, sambil nunggu pasar buka."jawabku sembari memasukan loyang berisi nastar kedalam oven.


"Semoga saja Ros hasilnya banyak. bisa buat modal lagi, juga buat kebutuhan kamu,"ucap ibu.


Disini aku tinggal bersama kedua orang tuaku, tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. mau lebaran kaya gini pun baju Ryu dibelikan sama ibu juga Dinda, aku serta mas Rendy pun dibelikan. meski hanya 1 potong, dan itu untuk seragaman keluarga.


Sekali lagi aku sangat bersyukur hidup ditengah keluargaku ini, jika aku tinggal bersama mertua belum tentu aku seperti sekarang ini. namun yang membuat aku kesal adalah mas Rendy, sebesar apapun bantuan yang diberikan keluargaku tidak pernah dilihat sama mas Rendy.


Tapi kalo ibunya itu yang datang ngasih uang Ryu 200 ribu saja, itu sangat berharga dimata mas Rendy. aku kadang jengkel mengingat kelakuan mas Rendy, buka matanya jika orang tua dia gak sebaik orang tuaku.


...ΩΩΩ...


Jam 3 sore baru selesei membuat nastar, kutengok kekamar ternyata Ryu sudah terlelap bersama Dinda. kubuka pintu sepelan mungkin tanpa menimbulkan suara, kudekati Ryu yang tidur miring sembari memeluk guling.


Sampai detik ini aku kadang masih suka tidak percaya, jika aku memiliki anak sudah sebesar Ryu. Ryu yang ganteng, kulitnya putih serta bibirnya merah. banyak yang heran dengan Ryu, karna dia gak mirip sama aku ataupun mas Rendy.


Kukecup kepala bulatnya yang baru ditumbuhi rambut sedikit, gemas lalu kukecup pipi bulatnya. Ryu mengeliat, tapi segera kutepuk-tepuk pantatnya supaya terlelap kembali.


Aku menyusul ibu yang sudah sibuk didapur menyiapkan menu buka puasa, hari ini hanya aku yang tidak puasa. lainya puasa semua, ayah yang dulunya agak susah jika disuruh puasa. sudah beberapa tahun belakangan ini semakin rajin.


"Mau masak apa bu?"tanyaku.


Ibu sedang berdiri didepan kulkas, dengan pintu yang terbuka."Apa ya Ros, ibu juga bingung."jawab ibu.


"Ibu pengenya apa?"tanyaku.


"Yaudah bu masak sup ayam, terus nanti Dinda dibikinin rica-rica bebek,"ucapku.


"Ah iya benar juga kamu Ros,"jawab ibu sembari mengambil bahan yang akan digunakan untuk memasak.


Kalo ibu selalu ada stok ayam serta sayuran yang lainya, nah kalo bebek kebetulan kemarin sempat motong. karna ayah punya banyak bebek, telornya pun kadang dijual. kalo bebeknya sudah pasti dimasak sendiri, karna kami semua suka daging bebek.


"Bu bikin bakwan udang ya, tadi mas Rendy pesen pengen bakwan udang,"ucapku sembari mengambil udang dari fizer lalu dicairkan.


"Bikin ya bikin Ros, nanti pasti Dinda beli makanan juga buat buka."jawab ibu sembari mulai memotong sayuran


Jam 4 sore Ryu bangun, Dinda kedapur sembari menggendong Ryu."Mau masak apa bu?"tanya Dinda.


"Bikin sup. tapi kamu ibu masakin rica-rica bebek jangan kawatir oke."jawab ibu sembari tertawa.


"Loh cucu oma yang ganteng udah bangun ya?"tanya ibu sembari mengecup perut bulat Ryu.


"Udah dong. mau bantuin oma masaka!"jawab Dinda, sedangkan Ryu tertawa geli perutnya dicium ibu.


"Bu sudah mau kelar belum? aku mau keluar dulu beli bukaan."tanya Dinda.


"Sebentar lagi Din, 1 gorengan bakwan lagi udah beres."jawab ibu.


"Mba. mas Rendy suka gak degan campur pokat?"tanya Dinda.


"Suka dong. mb juga suka kok, kalo kamu mau keluar nanti mba titip uang buat beli tahu walik kesukaan ayah,"ucapku sembari mengangkat bakwan udang terahir.


"Yaudah mana uangany,"pinta Dinda.


Aku segera masuk kedalam kamar, kuambil uang 10 serta 20 ribuan."Nih Din. kamu memang mau beli apaan sih?"tanyaku.


"Aku pengen beli somay mba, nanti beli degan pokat juga buat buka,"jawab Dinda.


"Serah kamu lah Din, awas kalo sampai gak kemakan!"ancamku.


"Iya-iya."jawab Dinda sambil berlalu pergi.


Sudah sering kejadian, kalo mau buka puasa apa-apa dibeli. giliran buka gak dimakan karna kenyang, besok paginya kebuang. kan sayang banget uangnya, kayak sekarang ini aku yakin besok pasti nyisa.


Sudah bikin bakwan udang, Dinda mau beli somay sama degan pokat. akupun menitipkan tahu walik, ayahku sangat menyukai itu. jadi sering dibelikan, baik puasa maupun hari-hari biasa.


"Ibu liat Iyu udah mandi,"ucap Ibu sembari masuk kedalam kamar sambil menggendong Ryu.


"Loh Iyu kok mandinya gak bareng ibu sih?"tanyaku sembari menoel pipi bulatnya.


"Ibu kelamaan, Iyu udah gerah."jawab ibu.


Ibu segera mengganti pakaian Ryu, aku segera berlalu menuju kamar mandi. selesei mandi kuajak Ryu jalan-jalan, gantian ibu yang mandi. sambil menunggu azan magrib Ryu diajak ayah jalan-jalan, sedangkan aku menyiapkan piring gelas yang akan kami gunakan buka puasa.