
Amanda tersenyum ia merasa gemas melihat tingkah putrinya yang tersenyum dengan malu-malu.
diandra pun pergi ke kamarnya dengan sedikit berlari menaiki anak tangga meninggalkan mamanya yang terus menggoda nya.
Diandra membuka pintu kamarnya, dengan senyuman di wajahnya yang tidak pernah luntur, Diandra menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya dan berguling-gulung disana.
Begitulah kebiasaan aneh yang biasa Diandra lakukan saat dirinya merasa sangat bahagia, setelah lama berbaring Diandra bangun kembali dan melihat pantulan wajahnya di cermin.
Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan bersiap-siap untuk menyambut pria yang dicintainya akan datang untuk melamarnya.
lima belas menit berlalu diandra sudah merasa sangat segar, kini ia duduk di depan cermin dan mulai merias wajah nya.
Dengan riasan wajah yang Natural namun masih terlihat cantik, karena pada dasarnya Diandra memang sudah cantik alami turunan dari Mama-nya.
setelah selesai Diandra pun memakai gaun berwarna merah muda yang begitu serasi dengan wajah dan warna kulitnya yang begitu kontras.
"selesai,! kak dalfi apa aku terlihat cantik sekarang?" Diandra tersenyum dan berbicara kepada foto dalfi yang berbeda di meja riasnya.
" kak dalfi apa kau tahu, Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi istrimu, walaupun cintaku padamu terus tumbuh seiring berjalannya waktu, namun saat mendengar perjodohan ini, aku merasa sangat bahagia, aku yakin kau memang di takdirkan untukku, dan kita memang tercipta untuk saling melengkapi, I love you dalfi" Diandra berbicara dengan foto dalfi seolah foto itu adalah dalfi asli.
cup
Diandra mengecvp foto dalfi dan memeluk nya dengan erat.
keluarga besar Dalfi Adiwijaya kini sudah sampai di kediaman Amanda, mereka membawa banyak hadiah untuk acara lamaran malam ini.
para pelayan rumah Amanda pun sibuk merapikan semua hadiah yang di bawa keluarga Wijaya, dengan senang hati Amanda pun menyambut kedatangan mereka di kediamannya.
"terimakasih sudah menyambut kami dengan baik calon besan" alisha membalas candaan sahabatnya.
inilah pertama kalinya ia datang kerumah sahabatnya dengan dengan bersikap formal tidak seperti biasanya.
davin mengajak sahabat sekaligus calon besannya nya masuk, lalu Amanda pergi untuk memanggil putrinya.
di lobby kamar nya Diandra melihat rombongan calon suaminya sudah datang, masuk ke kediaman nya, diandra melihat dalfi yang menatap kearahnya dengan tatapan mata yang berbeda, tiba-tiba saja Diandra merasa sangat gugup karena nya
Diandra menggenggam erat tangannya, dan berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Bagaimana ini kenapa aku merasa sangat gugup sekarang, dan apa tadi kenapa kak dalfi menatap ku seperti itu? apa hanya perasaan ku saja, rara tenanglah semuanya akan baik-baik saja buang semua pikiran burukmu dan berpikirlah dengan positif" Diandra berbicara kepada dirinya sendiri.
ceklek
"Ra, apa kamu sudah siap nak" Amanda berjalan masuk ke dalam kamar putrinya.
"Ma, rara sangat gugup" Diandra berbicara berterus terang kepada mamanya.
"itu sudah biasa terjadi sayang, mama dulu juga sama seperti mu" Amanda mengingat bagaimana perjalanan cintanya dulu,
Amanda mengejar restu tuan Adipurna Iskandar hingga ke negara N, dan pulang dengan tangan kosong, lalu mereka memutuskan menikah tanpa wali, hingga sampai pernikahan Amanda jalani harus tertunda karena kedatangan ayahnya yang menghentikan acara di tengah-tengah ijab qobul yang sedang di ucapkan.
bersambung