After Wedding

After Wedding
kontraksi



Sesuai janji mas Rendy hanya menginap satu malam dirumah orang tuanya, malam acara lamaran Nita siangnya sudah pulang lagi kerumah ibu. semakin lama tinggal bersama kedua orang tuaku sikap mas Rendy justru semakin mengesalkan, mas Rendy tidak menunjukan sikap dewasa sama sekali.


Justru sebaliknya seperti anak remaja yang bebas tanpa beban. hari-hari yang dikerjakan mas Rendy hanya main game melalui ponsel, kadang saking asyiknya ngegame diajak ngobrol pun gak nyambung.


Aku pribada merasa gak enak sama orang tuaku sendiri, sekaligus malu sama tingkah mas Rendy. hari ini jadwalnya aku chek-up kandungan diklinik terdekat sini, bidanya juga sudah akrab sama ibu jadi aku semakin nyaman jika nanti tiba waktunya melahirkan. terhitung hanya tinggal menghitung hari saja waktu lahiranku tiba.


"Masih belum ngerasain mulas-mulas apa Ros?"tanya bidan Fitri, karna kami sekeluarga sudah sangat akrab dengan beliau maka ketika periksapun kami ngobrol seperti teman.


"Belum lo bu. paling mentok kadang cuman pinggang pegal aja, itu juga cuma sebentar lalu sembuh,"jawabku apa adanya itu yang kurasakan.


"Coba si kamu sering hubungan badan Ros, siapa tau nanti jalan lahirnya cepat kebuka. wes gak nafsu ya sekarang?"tanya bu Fitri seraya tersenyum, bidan Fitri asli suku lampung tapi karna tinggal dilingkungan jawa jadi bidan Fitri fasih bahasa jawa.


"Iya lo bu. mana susah kan ya perutnya dah besar jadi udah jarang banget,"jawabku tanpa sungkan, katanya jika kita sedang hamil apapun yang dikeluhkan harus terbuka sama bidan supaya mudah menanganinya.


"Iya si Ros saya paham. tapi kan siapa tau pake rangsangan itu kamu jadi cepat lahiran, bilang ya sama mas Rendy,"pesan bidan Fitri sambil tertawa.


Selesei pemeriksaan aku sama mas Rendy segera menebus vitamin yang diresepkan, dan setelah dapat kami segera pulang karna aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat berbaring punggung rasanya sangat pegal.


...ΩΩΩ...


Malamnya usai makan aku mengajak mas Rendy duduk diteras depan, entah kenapa sedari bangun tidur siang aku merasa aneh dibadanku tapi entah apa.


"Mas badanku ko rasanya aneh ya,"ucapku pada mas Rendy yang tengah sibuk main game diponsel.


"La aneh gimana sayang?"tanya mas Rendy langsung menengok kearahku.


"Ya entah apa, tapi semenjak bangun tidur siang tadi aku ngerasa badanku gak enak mas,"jawabku sambil mengelus perutku yang seharian ini kurasa geraknya sedikit berkurang.


"Apa mau lahiran ya yang?"tanya mas Rendy lagi.


"Kalo dari HPLnya sih belum mas ini kan masih tgl lima belas, sedangkan HPLnya tgl dua satu,"jawabku.


"Ya tapikan kita gak tau yang. siapa tau maju dari HPLnya,"ucap mas Rendy. sesaat aku diam sambil mencerna ucapan mas Rendy, kalo aku googling bayi jika hendak lahir memang jarang bergerak tapi ini aku tidak sakit perut ataupun mengeluarkan darah.


Usai ngobrol diteras aku masuk kedalam rumah langsung duduk didepan tv, sedangkan mas Rendy tiduran disampingku."Ros kalo sakit sewaktu-waktu langsung panggil ibu ya,"pesan ibu tidak hanya sekali tapi sudah berkali-kali.


"Mba Ros udah mau lahiran?"tanya Dinda antusias. Dinda senang sekali ketika dengar ponakanya laki-laki, bahkan Dinda banyak membelikan baju serta mainan untuk calon keponakanya.


"Belum. maksutnya kalo sewaktu-waktu sakit lo."jawab ibu, setelah mendengar jawaban ibu seketika senyum Dinda hilang dari wajahnya.


"Sabar yah Onty. nanti kalo aku dah lauching Onty siap-siap aku ompolin,"ucap mas Rendy seraya menirukan suara anak bayi.


Sontak aku ibu serta Dinda tertawa keras, sedangkan ayah yang tengah focus dengan tv hanya menoleh sekilas. sekitar jam sembilan aku sama mas Rendy sudah masuk kamar, entah kenapa semenjak hamil tua ini aku jadi gak betah melek bawanya kalo dekat bantal langsung ngantuk.


...ΩΩΩ...


Awalnya aku diam saja mungkin cuma kontraksi palsu, tap lama-lama kok jaraknya makin dekat. dengan gerakan pelan kubangungan mas Rendy supaya tidak kaget.


"Mas Rendy."panggilku pelan.


"Mas bangun dulu sebentar,"kali ini sambil kuusap lembut pundak mas Rendy, mas Rendy mengeliat lalu membuka mata sempurna.


"Ada apa sayang?"tanya mas Rendy dengan wajah panik campur kaget karna kubangunkan malam-malam.


"Perutku sakit mas,"jawabku sambil mengelus perut buncitku.


"Terus gimana yang, kupanggilkan ibu ya?"tanya mas Rendy masih dengan muka panik.


"Gausah mas."jawabku singkat sambil meringis karna tiba-tiba rasa mulas itu datang lagi.


"La terus gimana, mau keklinik jam segini yang masih malam,"ucap mas Rendy pelan.


"Iya mas. sebaiknya usap saja punggungku mas,"jawabku seraya memiringkan tubuh membelakangi mas Rendy.


"Iya yang. kalo masih bisa ditahan sampai besok pagi yang,"ucap mas Rendy seraya mengusap lembut punggungku.


"Iya mas. ini aku mau coba tidur dulu sambil menunggu pagi," jawabku seraya memejamkan mata, perlahan kantuku datang dan seraca bersamaan rasa mulasnya juga hilang lalu aku terlelap


Entah berapa lama aku terlelap, yang jelas aku kembali terbangun sangat rasa mulas itu datang disertai rasa panas dibagian perut bawah. lagi-lagi kubangunkan mas Rendy untuk menemaniku ketoilet.


"Mas temenin aku toilet yuk."ajaku seraya menggoyan pelan pundak mas Rendy.


"Hm ayo yang."jawab mas Rendy dengan suara serak, untung saja kali ini mas Rendy gak susah dibangunin. begitu sampai ditoilet aku sengaja buang air kecil dilantai guna melihat ada darah keluar dari jalan lahir gak.


Saat membuang air kecil perutku sakit dan sangat panas rasanya, begitu selesei aku segera berdiri dan ternyata benar, ada darah yang keluar dari jalan lahir aku semakin yakin kalo mau melahirkan.


"Mas aku mau lahiran."ucapku begitu sampai luar.


"Hah. ko kamu tau kalo mau lahiran, terus gimana ini sayang masih malam?"tanya mas Rendy langsung panik.


"Ya kita tunggu sampai pagi mas, lagian ini juga belum tau udah bukaan berapa,"jawabku sambil berjalan menuju kamar.


"Tapi kalo belum sampai pagi udah lahiran gimana yang?"tanya mas Rendy masih penasaran.


"Enggak ko mas, yaudah ayo tidur mas. mumpung aku masih bisa tidur. kalo besok pagi, siang sama sore udah pasti gak kuat tidur,"ucapku pada diriku sediri.


Begitu sampai kamar segera kurebahkan tububku diatas ranjang, mas Rendy pun sudah menyusulku dari belakang lalu segera mengambil posisi dibelakangku, tanpa lama aku benar-benar terlelap sebelum rasa sakit diperut itu kembali.


Hai kak, ini karya pertama aku. maaf typo karna baru karya pertama😄🙂