
Sudah berhari-hari setelah kejadian aku bercerita jika akan dijemput, baik aku maupun mas Rendy tidak pernah membahas lagi.
Baik ibunya maupun Nita sendiri juga tidak pernah lagi bertanya melalui pesan singkat, saat ini aku tengah krisis.
Uang peganganku sudah habis, sedangkan mas Rendy setiap hari bolak balik juga perlu bensin sama rokok.
Pengeluaran setiap hari sedangkan pemasukan tidak ada, aku pribadi sangat pusing memikirkan bagaimana kelanjutan hidup ini.
Saat tengah asik berpikir tiba-tiba aku teringat jika Nita dulu pernah meminjam uang 1 juta padaku, aku masih ingat jelas dulu Nita meminjam uang itu untuk persiapan skripsi.
Tapi juga tidak bisa gegabah langsung meminta uang itu, meski uang yang kupinjamkan saat itu adalah uang pribadiku.
Tetap saja aku harus tetap menunggu mas Rendy, takut-takut jika nanti aku salah menagih duitku sendiri.
Jam setengah lima sore mas Rendy sudah sampai rumah, saat mas Rendy sampai aku tengah duduk diteras bersama Ryu.
Ryu dikereta dorong sedangkan aku duduk dikursi sebelah Ryu, Ryu sendiri jika sudah sore seperti ini pasti mintanya dibawa keliling atau sekedar dihalaman rumah.
Begitu sampai mas Rendy langsung berlalu kedalam kamar mandi dan langsung mandi, setelah segar barulah menghampiri aku sama Ryu dihalaman.
"Mas mau makan sekarang apa nanti?"tanyaku.
"Nanti saja yang, belum seberapa lapar kok!"jawab mas Rendy.
"Tumben mas masih siang udah pulang?"tanyaku.
"Iya. udah kangen sama Ryu,"jawab mas Rendy seraya menciumi pipi gembul Ryu.
"Cuma sama Ryu? ibuknya Ryu gak dikangenin?"tanyaku.
Mas Rendy hanya diam tanpa merespon ucapanku, aku yang merasa diabaikan jadi kesal. tanpa banyak bicara aku segera berlalu masuk kedalam rumah.
Tak lama mas Rendy menyusulku masuk sambil menggendong Ryu, tapi tumben Ryu sudah tidur. biasanya dia suka kalo dibawa keluar liat-liat daun yang gerak-gerak.
"Yang kok Ryu ditinggal?"tanya mas Rendy.
"La kan ada kamu mas, kamu itu ayahnya kan? aku balik tanya.
Mas Rendy tersenyum dan langsung meletak kan Ryu diatas Ranjang."Iya maksutku kok ninggalin aku sama Ryu?"tanya mas Rendy.
"Yampun mas orang cuma sini situ aja masak iya takut masuk sendiri kedalam rumah!"ucapku.
Mas Rendy tidak lagi menjawab dia sudah membaringkan tubuhnya disamping Ryu yang tertidur lelap.
"Yang uang kita udah abis ya?"tanya mas Rendy.
"Abis mas sudahan, aslinya Nita masih ada sangkutan 1 juta sama aku mas,"jawabku.
"Minta saja. diakan mau nikah pasti punya uang banyak,"Ucap mas Rendy.
"Sebenarnya aku sudah mau nagih dari kemaren tapi aku gak enak sama kamu, takutnya mas Rendy marah."jawabku.
"Kenapa marah? itukan uang kamu, dan sekarang kita sedang butuh makanya ya diminta."ucap mas Rendy
"Yasudah mas nanti malam ku hubungi Nita, tak tanyain uang yang sejuta."jawabku.
Tak lama azan maghrib sudah berkumandang, dengan cepat kuambil Ryu lalu segera kupangku. dan tak lupa kubangunkan pula mas Rendy yang tengah tertidur.
...ΩΩΩ...
Selepas magrib kutemani mas Rendy makan, sedangkan Ryu sedang ditunggu oleh ayah ibu serta Dinda.
"Mas kalo Nita gak mau bayar gimana?"tanyaku.
"Ya maulah yang, namanya punya utang dan sudah ditagih itu ya sudah pasti diusahakan."jawab mas Rendy.
Aku beranjak membuatkan kopi untuk mas Rendy, setelah selesei membuat kopi aku segera masuk kedalam untuk melihat Ryu.
Sampai diruang tv ternyata Ryu sudah bangun dan sedang bermain bersama Dinda, segera kuhampiri dan duduk disebelah Ryu yang tengah tertawa ngekek.
"Ryu udah bangun dari tadi ya nak?"tanyaku sambil mencium ketiak Ryu.
"Udah dong ibu, bu si pacalan teyus sama ayah jadi gak tau Lyu bangun,"jawab Dinda menirukan suara anak bayi.
Ryu sendiri seoalah tahu dengan arah pembicaraan kami, dia terkikik geli seraya memainkan tanganya dimulut
Akupun tertawa melihar reaksi Ryu yang sangat menggemaskan, kehadiran Ryu ditengah-tengah kami membuat warna baru.
Kalo dulu rumah ini sunyi sepi, beda lagi sekarang. sekarang sudah rame dengan jerit tangis Ryu, kadang juga tawa Ryu.
Puas bermain dengan Ryu aku pamit kedalam terlebih dahulu. Ryu masih diluar bersama ibu dan yang lainya, sedangkan mas Rendy masih didapur.
Begitu sampai didalam kamar segera kurebahkan tubuhku diatas ranjang, tapi baru saja aku merebahkan tubuhku aku sudah teringat jika aku belum pumping.
Segera aku beranjak untuk mengambil alat pumping, sambil pumping aku mengmbil ponsel dan segera membuka aplikasi whatshap lalu mengirim pesan ke Nita.
"Hai Nit apa kabar?"tanyaku melalu pesan whatsap.
"Baik mba, mba sendiri gimana? Ryu sudah bisa apa sekarang?"tanya Nita.
"Mba juga baik Nit, Ryu sudah pintar ngamuk sekarang. oiya Nit aku mau nanyain uang 1 juta yang dulu pernah kamu pakai waktu itu.
"Aku sekarang lagi butuh banget Nit, udah gak punya pegangan lagi."jawabku melalu pesan.
Agak lama Nita membalas pesanku, sudah dibaca tapi belum dibalas juga. Aku jadi merasa tidak enak sudah menanyakan uang itu.
Tapi kalo dipikir-pikir lagi, sudah sewajarnya lah namanya juga hutang pas kita sedang butuh ya harus ditanyakan.
"Iya mb nanti aku tf ya,"balas Nita.
Singkat sekali balasanya, jujur saja aku sudah merasakan kejanggalan dari pesan yang Nita kirimkan, tapi aku sekali gak menyadari dimana letak kesalahanku.
Kuletakan ponselku diatas nakas, tanpa berniat membalas pesan Nita. dari cara dia membalas pesan saja aku sudah bisa menilai, jika Nita tengah kesal padaku.
Aneh aja menurutku, punya hutang ditagih malah marah. hutang itu udah lama setahun kayaknya, seandainya aku gak kepepet kaya gini gak mungkin aku nanyain.
Setelah selesei pumping aku merebahkan tubuhku diatas ranjang, mumpung Ryu masih didepan aku bisa santai sejenak.
Tak lama mas Rendy masuk kedalam kamar, seraya menggendong Ryu yang masih tertidur pulas.
"Lo mas Ryu udah tidur lagi?"tanyaku.
"Udah yang. ayah sama Dinda juga sudah berada dikamar, cuman tinggal ayah saja yang masih liat tv."jawab mas Rendy.
"Oh iya mas, yaudah tidur mas tadi katanya ngantuk,"ucapku.
Mas Rendy gak mendengarkan ucapanku justru berjalan mendekat kearahku dab mencium bibirku lama.
Jujur saja semenjak kelahiran Ryu sampai sekarang, aku sama mas Rendy belum pernah berhubungan badan, hampir dua bulan.
"Cium boleh? udah lama banget semenjak Ryu lahir enggak pernah dicium lagi!"ucap mas Rendy.
"Boleh mas!"jawabku.
Tanpa membuang waktu, mas Rendy segera memeluku dan ******* bibirku lembut. entah apa sebabnya ******* ini terasa begitu nikmat.
Saat mas Rendy sudah mengangkat tangan hendak menyentuh payudaraku, tiba-tiba terdengar suara jeritan Ryu yang menggema.
Dengan wajah kesal bercampur frustasi, mas Rendy segera turun dari ranjang. dan langsung mendekati Ryu yang tengah menangis kencang.