
Selesei pumping aku merebahkan tubuhku disebelah Ryu, sebenarnya aku inginnya Ryu nen langsung ke aku.
Tapi entah kenapa Ryu selalu menolak, bukan aku tidak mau mengurus anak. tapi kalo sudah tengah malam dan harus bangun pumping rasanya aku ingin menangis.
Masih sangat untung sekali aku tinggal bersama ibu, jadi ibu sangat membantuku mengurus. bahkan jika malam, Ryu sering tidur bersama omanya.
Aku kadang hanya pumping sekali, lalu kuantar kekamar ibu. setelahnya aku bisa tidur dengan nyenyak, tapi kadang mas Rendy melarangku jika Ryu diajak tidur ibu.
Alasanya kasian ibu, kalo tidur sama Ryu sering bangun malam. tapi kalo tidur bersamaku, walau Ryu nangis mas Rendy tetap tidur pulas.
Dan jika dibangunkan selalu marah, dia bilang capek jadi aku suruh ngurus sendiri. mas Rendy fikir, dirumah ngurus anak itu gak capek.
Coba aja dia suruh seharian dirumah ngurus Ryu, kayak aku setiap harinya. namanya ngurus bayi itu malah lebih capek ketimbang kerja diluaran.
Pagi-pagi sekali Ryu sudah bangun, seperti biasa jika Ryu bangun langsung diambil sama Dinda. kadang aku bisa tidur lagi, kadang juga sudah di suruh bangun sama mas Rendy.
Mas Rendy sangat tidak pengertian, setau dia yang paling capek itu dirinya. kalo dirumah mah enak santai, itulah yang ada dipikiranya.
Ryu sudah diambil sama Dinda, aku segera membereskan kamar. lalu membawa keluar baju kotor serta botol susu Ryu untuk dicuci.
Mas Rendy sendiri sedang ngopi diteras sambil bercanda bersama Dinda juga Ryu, ayah sedang kesawah. dan ibu sedang sibuk didapur.
Selesei memasukan baju ke masin cuci aku cepat-cepat mencuci botol susu Ryu, dan langsung merebusnya.
Beres semua aku segera keteras menyusul Ryu, karna jika sampai Ryu menangis dan aku belum menyusul, sudah bisa dipastikan mas Rendy akan ngedumel.
"Din mandi sana nanti kesiangan!"ucapku.
"Bentar lagi mba."jawab Dinda sembari memainkan tangan Ryu.
"Din yang mau kamu kasih mb Nita sudah siap belum?"Tanyaku.
"Sudah mba, memang Mas Rendy mau berangkat pagi-pagi ini?"tanya Nita.
"Iya Din. nanti biar sekalian mampir tempatmu ya, ngambil uang yang kemarin itu."ucapku.
"Iya mb. yaudah ya Iyu onty mau mandi dulu besok main lagi ya,"ucap Dinda seraya mencium pipi gembul Ryu.
Dinda segera berlalu kedalam rumah, kuambil Ryu dari keretanya lalu kugendong dan kuajak jalan keliling halaman.
Dan mas Rendy? mas Rendy sudah pasti sibuk dengan ponselnya donk jangan sampai enggak, aku sebenarnya eneg liat kelakuan mas Rendy.
Jika sudah ngopi, pasti langsung main game. dan jika sudah seperti itu, tidak bisa lagi diajak ngomomg. makanya lebih baik kuajak Ryu jalan saj, ketimbang deket ayahnya tapi sibuk sama ponsel.
"Bu Ryu pup ini, mandiin sekalian aja ya?"tanyaku saat masuk kedapur.
Tadi waktu lagi jalan-jalan, tiba-tiba Ryu kentut dan tak lama langsung pup, cepat kuajak pulang karna memang sudah sedikit siang.
"Ya langsung mandikan, sebentar ibu siapkan airnya ya,"jawab ibu seraya menyiapkan air untuk Ryu mandi.
Didesa ibu sini dekat sekali sama laut, jadi airnya tidak jernih dan juga rasanya asin. kalo keluarga kami pribadi, mandi dan yang lainya menggunakan air hujan. disini membuat tampungan air hujan dalam ukuran besar.
Tapi jika musim kemarau, kami beli air untuk sekedar mandi dan nyuci. untuk air minumpun kami disini beli aqua.
Tapi khusus Ryu, kami memandikan menggunakan air aqua. takut iritasi kalo make air ujan, secara kulit anak bayi lebih sensitiv.
Selesei mandi segera kubawa Ryu kekamar dan kupakaiakan baju, saat tengah memakaikan baju Ryu mas Rendy masuk kekamar.
"Berangkat jam berapa mas?"tanyaku.
"Ryu ayah mau kerumah nenek ya, Ryu dirumah gak boleh rewel. harus pintar,"ucap mas Rendy seraya menciumi perut Ryu.
"Ayah cuma nemenin onty Nita saja, kalo sudah selesei ayah langsung pulang oke,"lanjut mas Rendy.
sedangkan Ryu yang diajak ngobrol cuman ketawa-ketawa seraya memainkan air ludah.
"Iyaa ayah, jangan lupa pulangnya bawa oleh-oleh yang banyak ya,"jawabku menirukan suara anak kecil.
"Eh Iyu nya ibu yang ganteng, no no mainan ludah ya sayang,"ucapku seraya mengelap ludah Ryu yang sudah merata dipinggir bibirnya.
Ryu hanya tertawa mendengar ucapanku, setelah selsei memakai baju segera kubuatkan Ryu susu. ditemani mas Rendy Ryu minum susu dengan tenang.
Aku segera berdiri mengambil ransel kecil mas Rendy, yang biasa dia pakai kalo pulang kerumah ibunya.
"Bawa baju yang mana saja mas?"tanyaku sembari membuka lemari baju.
"Mana saja yang, asal menurutmu pas,"jawab mas Rendy.
Seger kumasukan beberapa potong kaos untuk harian, lalu kubawakan celana dasar serta baju batik untuk dipakai pas acara.
Tak lama Dinda masuk kekamar seraya membawa kotak besar yang sudah dibungkus cantik."Mas nanti titip ini untuk mba Nita ya,"ucap Dinda sembari meletakan kado diatas meja rias.
"Iya Din, makasih ya."jawab Mas Rendy.
"Iya mas. aku jalan duluan nanti mampir saja ya mas,"pesan Dinda.
"Mas nanti juga ada titipan amplop dari ibu, ingat ya mas jangan dibuka. ini amanah dosa kalo gak disampaikan!"ucapku.
Sebenarnya aku sedikit kwatir ibu nitip amlop ke mas Rendy. bukan tidak percaya, hanya saja aku sudah paham betul dengan karakter mas Rendy.
"Yampun yang curigaan banget sama aku,"jawab mas Rendy kesal.
"Kan mas Rendy memang seperti itu, wajar dong aku curiga,"ucapku sambil menutup resleting tas ransel mas Rendy.
Kulihat Ryu sudah tidur, susu didalam botolnya juga sudah habis. ku beri guling dipinggir badan Ryu supaya tidak sampai jatuh dari ranjang.
"Mas segera mandi, setelah terus sarapan,"ucapku.
"Enggak sarapan lah yang,"jawab mas Rendy.
"Kenapa? udah gak doyan makanan disini, udah gak sabar pengen makan dirumah ibumu,"ucapku ketus.
Mas Rendy memang selalu seperti itu, jika mau pulang kerumah ibunya pasti tidak mau sarapan. kalo dulu mungkin aku diam, makanya sekarang ini sengaja kuceploskan mau sakit hati juga terserah, karna itulah kenyataanya.
"Kok ngomongñya kaya gitu?"tanya mas Rendy.
"Memang kenyataan kan, sudah cepat mandi sana. mau sarapan atau tidak terserah!"jawabku kesa.
Mas Rendy berlalu kedalam kamar mandi, aku segera kebelakang melihat cucian. sampai belakang ternyata cucianku sudah selsei dan langsung kujemur.
Selesai menjemur aku masuk kedalam rumah, niatku ingin sarapan karna aku sudah lapar dan haripun sudah siang.
Kulihat ternyata mas Rendy sedang mengobrol sama ibu sembari sarapan, tanpa menegur aku langsung mengambil piring lalu mengisi nasi dan lauk pauk.
Selesei sarapan, kuantar mas Rendy sampai teras. mas Rendy juga dibawain beras sama ibu serta amlop untuk ibu mertua.
Setelah mas Rendy berangkat, aku kembali masuk kedalam kamar. mumpung Ryu sedang tidur aku membuka aplikasi baca novel online untuk menghilangkan kebosanan.