
Hari ini kepulanganku kekampung ibuku, setelah kemarin aku usg dan dilanjut pijat perut ahirnya hari ini aku bisa pulang kampung ibuku. saat ini aku tengah menunggu kedatangan ibu mungkin sekitar satu jam lagi.
"Sayang diliat lagi ada yang ketinggalan enggak?"tanya mas Rendy seraya memasukan bajunya yang akan kubawa kedalam tas besar, sedangkan mas Rendy sendiri belum ikut kerumah ibu hari ini.
"Iya mas udah semua kok, mas aku gak ada jangan maen malam terus ya."ucapku seraya menatap mas Rendy.
"Maen kemana lo yang, lagian mungkin lusa aku udah susul kamu."jawab mas Rendy seraya mengecup keningku.
"Bener ya mas, jangan lama-lama nanti aku kangen."ucapku seraya mengecup bibir mas Rendy sekilas.
Sekitar satu jam menunggu ahirnya ibu sampai juga, ibu menjemputku bersama oom. karna oom ada keperluan ahirnya ibu menunggu drumah mertuaku sampai urusan oom budi selesei.
"Apa kabarnya bu tika, tadi pagi berangkat jam berapa dari sana?"sapa ibu mertuaku ramah.
"Kabar baik bu. tadi pagi berangkat jam tujuh karna si Budi ada urusan katany bu."jawab ibu tak kalah ramah.
"Makan siang dulu yuk bu, sambil menunggu Budi istirahat dulu tidur siang dulu bu."ucap ayah mertua yang kebetulan tidak pergi sekolah.
"Ayo bu, silahkan makan dulu biar nanti tidak perlu makan dijalan."ucap bu mertuaku seraya memasukan nasi kedalam piring.
Setelah selsei makan siang kuajak ibu istirahat terlebih dahulu dikamar sambil menunggu om Budi. tepat jam dua siang om Budi sudah sampai.
"Hati-hati dijalan ya nduk nanti kalo sudah sampai segera kasih kabar."ucap ibu mertua.
"Iya bu."jawabku simple.
"Yasudah bu Sita pak Adi, kami permisi dulu doakan lancar diperjalanan,"pamit ibu seraya menjabat tangan ayah serta ibu mertuaku, sedangkan mas Rendy segera mencium punggung tangan ibuku serta om Budi bergantian.
"Iya bu amin,"jawab bu Sita.
"Om jalan dulu yaa,"pamit om Budi seraya menepuk pelan pundak mas Rendy.
"Iya om, pelan-pelan saja ya om,"pesan mas Rendy. segera kuhampiri lalu kucium punggung tangan mereka bergantian.
"Hati-hati ya sayang, jangan lupa cepat kabari kalo sudah sampai,"pesan mas TlRendy seraya mengelus kepalaku, dan kujawab dengan anggukan kepala saja.
Setelah berpamitan om Budi segera masuk kedalam mobil langsung mengambil duduk dikursi belakang kemudi, setelahnya aku serta ibu segera mendudukan tubuh dikursi bagian tengah.
Setelah semua siap perlahan om Budi menjalankan mobil pelan keluar dari halaman rumah ibu mertuaku. kukeluarkan kelapaku untuk membalas lambaian tangan mas Rendy ayah serta ibu, sedangkan Nita sudah pergi sedari pagi tadi.
...ΩΩΩ...
Diperjalanan aku terus terpikirkan kedua mertuaku, selama hamil dsini saja tidak pernah memberiku apa-apa bahkan kemarin sebelum pulang kampung ibu ribut minta aku dipijat perut dulu, alasanya ingin mengetahui jenis kelamin bayiku.
Sedangkan mereka sudah dikasih tau oleh mas Rendy kalo anak kami laki-laki, tapi seolah tidak percaya dengan ucapan mas Rendy.
Sempet kuceritakan bahkan kukasih tau dengan jelas kalo teman kantor semua memberi kado untuk adek bayi, bukanya merasa tidak enak atau apa.
Ibu mertuaku teteap enjoy sampai aku pulang kampung kerumah ibu tidak membelikan satupun baju atapupun perlengkapan yang lainya untuk anaku.
"Ros ada apa, jangan melamun ih pamali ibu hamil melamun,"ucap ibu seraya memberikan jeruk yang sudah dikupas, tadi sebelum jalan jauh om Budi sempat mampir dikedai buah untuk membeli oleh-oleh.
"La bu siapa yang melamun," jawabku menyangkal ucapan ibu.
"Dari tadi lo kamu melamu, kamu mikirin mertua kamu?"tanya ibu.
"Ngapain dipikirin bu, semuanya sudah kulengkapi sendri. gak perlu dibelikan oleh siapapun."jawabku seraya mengunyah jeruk.
"Ada apa memang mb?""tanya om Budi dari kursi depan.
"Ini lo mertuanya Rosa pelit banget sama cucu menantu,"jawab ibu terang-terangan.
"Masa pelit Ros, kan ayah mertuamu PNS pasti uangnya banyak."jawab om Budi santai sambil terus memperhatikan jalanan.
"Uangnya banyak tapi kalo pelit ya sama aja to Bud,"jawab ibu lagi, bukanya ibu julid tapi aku paham banget sama perasaan ibu. ibu tidak terima anak sama cucunya diperlakukan seperti itu.
"Coba saja nanti kita liat kalo Rosa lahiran gimana,"ucap om Budi lagi.
"Aku sebenarnya gak ngerpin dikasih si om, tapikan ini cucunya yang pertama. apalagi keadaan ibu itu bukan orang yang kekurangan, jadi sudah sewajarnya kan om kalo anaku dapat yang istimewa."ucapku pelan.
"Ya harusnya seperti itu Ros."jawab om Budi singkat.
"Harusnya. tapi kalo memang tidak ya gak apa-apa Ros, asalkan nanti lahiranya normal gangsar serta sehat semua,"jawab ibu sambil tersenyum lalu mengelus kepalaku.
"Iya Ros benar apa yang dikatakan ibumu, jadi kamu gak perlu banyak pikiran ya Ros. jangan memikirkan hal-hal yang gak penting, bawa santai saja semuanya agar nanti lahiranya lancar."ucap om budi seraya tersenyum.
"Iyaa om siap. makasih nasehatnya aku senang banget ahirnya hari ini bisa pulang kampung kerumah ibu,"jawbku pelan sambil tersenyum kusandarkan pelan tubuhku dikursi mobil untuk mengurangi sedikit pegal dipunggungku.
"Omm mampir dipertamina dulu yaa, aku pengen kencing."ucapku ketika baru setengah perjalanana, mungkin efek dari hamil tua jadi aku sebentar-sebentar kencing.
"Iya Ros sebentar itu didepan ada pertamina,"jawab om Budi, tak lama kulihat om Budi sudah membelokan mobil menuju pertamina. begitu mobil berhenti aku segera turun dari mobil dibantu ibu.
"Bu antar aku sampai toilet ya."pintaku. takut jika didalam toilet licin, namanya juga toilet umum.
"Ayo Ros,"ucap ibu seraya menuntunku menuju toilet. begitu selsei melepas hajat aku serta ibu segera kembali kemobil.
Sampai dimobil kulihat om Budi sedang ngobrol ditelpon entah dengan siapa, yang jelas terlihat begitu akrab. begitu melihat aku serta ibu sudah kembali, om budi segera mengahiri sambungan telpon.
"Ayo Ros, nanti kita kemaleman dijalan,"ucap om budi, dengan segera aku naik lalu mendudukan tubuh dikursi. dengan segera om budi menjalankan mobil lalu keluar dari halaman pertamina.
"Tidur sini Ros dipaha ibu, perjalanan masih separo lagi. jika sudah sampai nanti ibu bangunkan,"titah seraya menarik kepalaku menindurkan diatas pahanya.
"Mungkin selepas magrib kita sampai rumah mba. tidak apa-apakan?"tanya om Budi.
"tlTidak apa-apa santai saja. jangan ngebut ya Bud,"jawab ibu dan dijawab anggukan oleh om Budi. setelahnya tak terdengar lagi obrolan keduanya, aku benar terlelap karna kelelahan padahal ini baru separuh perjalanan.