After Wedding

After Wedding
belum dewasa



Cukup lama menunggu Ryu tidur kembali, setelah Ryu tidur kulihat mas Rendy pun sudah tertidur pulas disebelah Ryu.


Perlahan ku letakan kembali Ryu diatas ranjang sedikit dipinggir, aku sengaja gak menidurkan Ryu disebelah mas Rendy. supaya aku bisa tidur disebelah nya mas Rendy.


Pelan kurebahkan tubuhku disamping mas Rendy, kumiringkan tubuhku menghadap mas Rendy mencium bibir mas Rendy sekilas.


"Mas Ryu sudah tidur,"ucapku pelan berbisik ditelinga mas Rendy.


Mas Rendy mengeliat sambil memeluk tubuhku, tak lupa mengecup bibirku lembut. sudah cukup lama aku sama mas Rendy tidak melalukan hal seperti ini.


"Ryu sudah tidur dari tadi yang?"tanya mas Rendy setelah melepas pelukanku.


"Udah mas, udah lelap kok dari tadi."jawabku.


Lama tidak melakukan seperti ini, entah kenapa jantungku berdebar seperti baru pertama kali melakukan.


"Ko deg-degan yang?"tanya mas Rendy sambil mengelus dadaku.


"Iya mas, aku deg-degan!"jawabku pelan.


"Mas aku udah abis ngelahirin Ryu, sudah pasti rasanya gak sama lagi kaya dulu. kamu jangan kaget!"lanjutku.


"Kita gak melakukan sekarang yang, kamu cukup membantuku pelepasan!"jawab mas Rendy.


"Kenapa gak melakukan mas?"tanyaku.


"Aku masih kebayang-bayang kepala Ryu keluar dari jalan lahirmu yang,"jawab mas Rendy sambil ******* bibirku lembut.


Tanganya sudah meremas payudaraku dari luar, semenjak lahir Ryu payudaraku dua kali lebih besar, bahkan sudah hampir sebesar kelapa.


Entah karena sudah lama tidak tersalurkan atau bagaimana, yang jelas kali ini mas Rendy sangat liar.


Mas Rendy sudah intes meremasi payudaraku, bahkan sekarang kancing piayamaku sudah dibuka semua, mas Rendy sudah mulai mengecupi payudaraku.


Saat tengah asik meremas tiba-tiba ASIku menetes, mungkin saja mas Rendy terlalu semangat meremasnya."Mas jangan kuat-kuat asinya netes!"ucapku.


Tak lama mas Rendy sudah berenti meremas dan sekarang sudah menghisap payudaraku, sedangkan aku membantu mas Rendy melepaskan dahaga yang selama ini tidak tersalurkan.


...ΩΩ...


Sekitar pukul 2 dini harin Ryu terbangun dan langsung menangis kencang, aku sampai kaget mendengar tangisan Ryu. kupikir ketindih mas Rendy sampai sekencang itu nangisnya.


Ternyata Ryu haus, sedangkan tidak punya stok susu. tadi setelah acara melepas rindu aku langsung tertidur tidak sempat pumping dulu.


"Mas bangun mas!"panggilku.


Mas Rendy mengeliat sebentar lalu duduk."Ryu kenapa yang?"tanya mas Rendy.


"Haus mas. tolong bikinkan susu!"titahku sambil terus menggendong Ryu.


"Kamu gak pumping susu?"tanya mas Rendy.


"Enggak mas. udah cepet bikinkan susu!"ucapku.


Segera mas Rendy segera turun dari ranjang, lalu berjalan menuju meja yang sudah tersedia susu dan perlengkapan yang lainya.


Sambil menunggu susu selesei, aku terus menimang Ryu. aku tidak enak jika sampai ibu terbangun karna dengar Ryu nangis.


"Susunya yang,"ucap mas Rendy sambil menyerahkan sebotol susu.


Segera kubaringkan Ryu diatas tempat tidur lalu ku beri susu, begitu mengenyut dot Ryu langsung diam.


Tak butuh waktu lama, satu botol kecil susu formula sudah tandas oleh Ryu. dan setelah habis Ryu kembali tertidur lagi.


Tak lama mas Rendy sudah kembali sambil membawa secangkir kopi."Dari mana mas?"tanyaku.


"Bikin kopi yang, kepalaku pusing karna kaget dengar Ryu nangis tadi."jawab ngopi kembali menananyakan perihal Nita.


"yang kamu tadi sudah jadi nanyain uang ke Nita?tanya mas Rendy.


"Jadi kok mas."jawabku.


"Terus gimna?"tanya mas Rendy lagi.


"Ya tadi si bilangngnya mau ditf tapi ya gatau kapan,"jawabku.


"La memang dia gak bilang kapan mau tf gitu?"tanya mas Rendy


"Enggak, yaudah aku ngantuk mas."jawabku sambil tidur memunggungi mas Rendy. aku tidak tahu tidur jam, karna aku sudah mengantuk jadi sudah tidak memikirkan mas Rendy.


...ΩΩΩ...


Seminggu sudah jarak antara aku nanyain uang ke Nita, tapi belum ada tanda-tanda mau di tf. bahkan aku sudah beberapa hari ini meminjam uang Dinda untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mas Rendy.


Dan mas Rendy sendiri benar-benar aneh, sudah tau uang ridak punya penghasilan pun tidak ada. tapi mas Rendy seolah tidak mau mengerti keadaan.


Rokok masih tetap surya, walapun anknya tidak punya susu mas Rendy gak peduli asalkan dia sudah punya surya.


Keterlaluan memang mas Rendy, uang dari ngutang ke Dinda justru habis buat mas Rendy beli rokok. hitung saja rokok surya1 bungkus 25bribu, sedangkan 1 bungkus hanya dipakai 1 hari saja.


Seperti siang ini, aku sedang ngobrol bersama ibuku. sedang mas Rendy sudah pergi memberi makan udang sedari pagi tadi.


"Ros coba dikasih tau dulu si Rendy, gausahlah ngerokok surya dulu karna sekarang keadaanya lagi gak ada,"ucap ibu.


"Sudah bu, aku sudah berkali-kali tau mas Rendy supaya tidak dulu merokok surya. tapi ya tetap saja bu,"jawabku pelan.


"Orang kok gak ngerti keadaan, mbok ya nanti kalo keadaanya sudah ada silahkan kembali beli rokok surya. untuk sekarang pakai dulu yang agak murah."ucap ibu kesal.


Aku tau gimana perasaan ibu, pasti ibu kasian denganku. diam-diam aku memikirkan mas Rendg, tapi yang dipikirkan seolah tidak tahu dan tetap santai.


Seperti apapun keadaanga mas Rendy kalo sudah punya rokok surya dan bisa main game dia sudah tenang, sangat tenang tak lagi memikirkan apapun.


Kalo dibilang belum Dewasa umur mas Rendy bahkan lebih tua dari aku, kalo sudah dewasa tapi kelakuanya seperti anak kecil.


Jam 4 sore mas Rendy sudah pulang, saat mas Rendy pulang aku tengah menemani Ryu menyusu dikamar.


Ibu masuk kedalam kamar dan memberitahuku kalo mas Rendy sudah pulang."Sini Ros Ryu biar sama ibu saja, kamu urus saja Rendy sudah pulang,"ucap ibu seraya menggendong Ryu.


"iya bu,"jawabku pelan.


Setelah ibu membawa Ryu keluar dari kamar, akupun segera menyusulnya dari belakang."Mas sudah pulang dari tadi?"tanya saat kulihat mas Rendy duduk di kursi makan.


"Belum lama, coba kamu minta Dinda suruh beliin pulsa 100 ribu dulu untuk daftar paket,"ucap mas Rendy.


Aku sendiri sudah sangat tidak enak mau berhutang lagi ke Dinda, aku tidak enak. pasalnya kemarim habis pinjam uang, masa iya mau hutang lagi.


"Iya coba nanti aku chat dulu ya mas, soalnya inikan udah mau ahir bulan. masih ada uang enggk Dinda itu,"jawabku, kuiyakan saja dulu permintaan mas Rendy. kalo langsung menolak bisa-bisa langsung ngamuk mas Rendy.


"Iya. yaudah aku mandi dulu,"ucap mas Rendy.


Setelah mas Rendy berlalu kekamar mandi, akupun segera beranjak untuk membuatkan kopi. begitu selesei aku segera menyusul ibu yang tengah menggendong Ryu.


Dalam hati aku masih bersyukur tinggal sama ibuku, disini aku makan numpang sama ibu serta kebutuhan Ryu ada yang membantu, yaitu Dinda sama ibu.