
Paginya aku lebih dulu terbangun, semalam aku hampir dini hari baru bisa memejamkan mata. aku bergegas bangun dan segera melakukan subuh, meski aku bukan orang yang tepat waktu saat melaksanakan ibadah. namun tetap kusempatkan untuk menunaikan kewajibanku sebagai muslimah.
Jika dulu ketika aku masih bisa merasakan hidup enak, aku justru melupakan sang pemberi rezeki. saat ini aku tengah bertekad memperbaiki diriku sendiri, usiaku semakin tua kapan lagi memperbaiki jika tidak sekarang.
Selesei subuh, kembali kutengok Ryu yang masih terlelap dipelukan mas Rendy. kuambil botol susy Ryu, lalu segera kubawa kebelakang untuk dicuci. selesei mencuci botol, aku lanjut mencuci baju.
Sambil menunggu cucian selesei aku membantu ibu yang tengah memasak."Masak apa bu?"tanyaku.
"Mau ngesop ini, ayahmu pengen makan sayur sop Ros,"jawab ibu.
"Kalo Rendy nanti bikinkan saja lauk lainya, itu ada udang dikulkas masakan saja Ros,"lanjut ibu.
Mas Rendy bukan tidak mau makan sayur sop, hanya saja jika dibawa untuk bekal kurang suka. makanya jika ibu masak sayur yang berkuah aku kadang membuatkan lauk sendiri untuk mas Rendy.
Cucianku selesei, segera kubawa keluar menuju teras samping dan langsung kujemur. beres menjemur aku kembali kedapur, tak lama mas Rendy keluar dari kamar seraya menggendong Ryu."Eh Iyu sayang udah bangun!"ucapku seraya menerima Ryu dari tangan mas Rendy.
Sedangkan mas Rendy segera berlalu menuju kamar mandi."Iyu mau aem pake sayur sop?"tanyaku seraya menciumi perut bulat Ryu.
Balita berusia 3 bulan itu hanya terkekeh, mendapat serangan ciuman dariku. selsei dari kamar mandi kuberikan kembali Ryu pada mas Rendy, akupun bergegas membuatkan kopi untuknya.
"Ros ajak dulu Ryu jalan-jalan, nanti jika sudah siap airnya ibu panggil!"titah ibu.
"Iya bu!"jawabku seraya berlalu meninggalkan ibu.
Sampai didepan ternyata Ryu sudah digendong sama Dinda, segera kuletakan kopi dimeja depan mas Rendy duduk."Mas ibu masak sop, kamu mau dibikinin lauk lagi enggk?"tanyaku.
"Itu sajalah yang, nanti gausah bawa bekal. mungkin aku pulang siang hari ini,"jawab mas Rendy.
Karna tidak jadi membuat bekal ahirnya aku santai, tak lama ibu keluar."Ros airnya sudah siap, cepat mandikan Ryu,"ucap ibu
"Ah ya bu, udangnya gausah keluarin bu. mas Rendy gak bawa bekal hari ini,"jawabku.
"Kenapa gak bawa bekal Rend, kamu mau makan siang dimana?"tanya ibu.
"Aku pulang siang bu, mungkin makan siang nanti aku udah sampai rumah,"jawab mas Rendy.
Ibu buru-buru kembali kebelakang, karna meninggalkan tempe yang tengah digoreng. segera kususul Dinda yang tengah menggendong Ryu.
"Din pulang yuk, Ryu mau mba mandikan!"ucapku.
"Memang ini jam berapa si mba?"tanya Dinda.
"Mungkin setengah 7, kamu juga cepat mandi nanti kesiangan Din!"ucapku.
Dinda segera membawa masuk Ryu serta melepas semua pakaian yang menempel dibadan gemuk Ryu, sedari lahir kulit Ryu putih bersih. banyak orang yang bilang Ryu sangat putih kulitnya, jauh berbeda dengan bayi seusia dirinya.
Segera kumandikan Ryu, sekarang memandikan Ryu sudah enak. karna Ryu tidak menangis, jika dulu Ryu sudah pasti mengamuk saat dimandikan.
"Mas jangan digelitikin dulu Ryunya, nanti gerak terus susah makein baju!"ucapku.
Sedari tadi mas Rendy menciumi ketiak Ryu, sampai Ryu tertawa terbahak-bahak bahkan kakinya sampai diangkat naik menendang mukaku."Ibu lemah ya, masa sama Iyu aja kalah haha."ucap mas Rendy seraya mencium perut gembul Ryu.
Beres memakaikan baju Ryu, segera kubikinkan dia susu lalu kutinggal kebelakang. sedangkan mas Rendy masih setia menemani Ryu."Din titip pampers Ryu ya, ini uangnya."ucapku sembari menyerahkan uang 100 ribuan pada Dinda.
"Susunya Ryu masih banyak gak mba?"tanya Dinda seraya menyendokan nasi kedalam mulutnya
"Masih ada kalo susu Din."jawabku.
"Ambil aja uangnya mba, biar aku belikan saja pempers untuk Ryu,"ucap Dinda seraya menyerahkan uang itu kembali.
"Tidak apa-apa Ros. uangnya bisa buat beli bensin Rendy."ucap ibu menimpali.
"Ya bu, aku mandi dulu kalo gitu bu."jawabku seraya berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Selesei mandi aku segera masuk kedalam kamar, sampai dalam ternyata Ryu sudah tidur."Mas cepat mandi, nanti aku siapkan sarapanya!"ucapku.
Tanpa menjawab, mas Rendy langsung berlalu keluar dari kamar seraya membawa handuk. beres ganti baju aku segera menyiapkan sarapan untuk mas Rendy, kuambilakan nasi beserta lauk pauk lalu keletakan diatas meja makan
"Sarapan mas."sapaku, saat kulihat mas Rendy keluar dari kamar sudah memakai pakaian rapi.
"Kamu gak sarapan yang?"tanya mas Rendy.
"Nanti aja mas aku belum lapar."jawabku, kutemani mas Rendy sarapan, setelah mas Rendy pergi aku kembali kekamar untuk pumping ASI. sambil pumping aku membuka aplikasi baca novel onlen, menurutku hiburan terbaik adalah membaca.
...ΩΩΩ...
Siangnya setelah bangun tidur, Ryu digendong sama ibu diajak main kerumah sebelah. kebetulan disana juga ada bayi seusia Ryu, yang 1 usianya cuman lebih tua satu bulan sama Ryu. Sedangkan yang 1 nya lagi lebih muda satu bulan dari Ryu.
Jika diajak kesana Ryu sangat suka sekali, karns disana rame bayi-bayi itu. sedangkan aku masih tiduran dikamar, mumpung Ryu main aku ingin santai-santai dulu lah dikamar.
Tiba-tiba ponselku bergetar tandanya ada pesan masuk, segera kubuka untuk melihat siapa si pengirim pesan."Mba ini mba Nita ko minta no reg, katanya mau kirim uang ke mba Ros."isi pesan itu, dan ternyata Dinda yang mengirim.
Deg
Emosiku kembali memuncak saat membaca pesan dari Dinda, untuk apa pula si Nita pengirin uang. Setelah kemaren sempat berdebat dan mas Rendy marah barulah dikirim, kenapa gak dari kemarin-kemarin saja.
"Kasih Saja Din,"balasku pada Dinda, tak lama Dinda pun kembali membalas pesanku dengan emot jempol.
Pikiranku kembali berkelana, kenapa mereka seperti itu? kami ini keluarganya lo. tapi kok seoalah kami ini beban untuk mereka, Aku meminta menagih uang yang pernah dipinjam, bukan meminta secara cuma-cuma.
Jujur saja aku sangat tersinggung dengan perlakuan mereka, kalo memang niat balikin kenapa gak dari kemarn. Aku kesal terutama dengan Nita, aku ini saudara tua dan aku ini iparnya.
Punya dong sedikit saja rasa enggak enak, tapi dia sama sekali gak punya perasaan itu. sifatnya sangat mirip dengan mas Rendy, ya rabb lagi-lagi hatiku sakit. luka yang kemarin saja belum kering, hari ini sudah ditambah luka baru lagi.