
Seperti kata pepatah cinta berawal dari mata turun sampai ke hati, begitulah gambaran cinta diandra kepada dalfi.
karena terbiasa bersama hingga muncullah sebuah perasaan cinta, namun Diandra tahu bahwa dalfi hanya menganggap nya sebagai seorang adik saja.
Hingga Diandra tak berani mengungkapkan rasa cintanya kepada dalfi, Diandra takut dalfi menjauhi nya saat dalfi tahu bahwa ia mencintainya lebih dari seorang kakak dan adik.
Lama sudah dalfi dan diandra saling berpandangan, hingga diandra tersadar dari lamunannya, saat dalfi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Diandra.
"Rara, helow ra kok malah bengong sih, kesambet set*n lewat lho ra" dalfi berbicara sedikit berteriak karena melihat Diandra hanya melamun saja, tak mendengarkan perkataan nya.
"Ehh maaf kak," Diandra sedikit gelagapan saat dalfi berbicara dengan nya.
"Jangan terlalu banyak melamun, nanti kesambet jin iprit baru tahu rasa loe ra"
"Iya-iya" Diandra hanya mengiyakan saja perkataan dalfi padanya.
"Sudahlah, sekarang aku mau pergi dulu, bye. adik ku yang paling bawel" dalfi mencubit gemas pipi diandra, lalu meninggalkan ruangan itu dan melambaikan tangannya pada diandra.
"sakit kak" rengek Diandra.
Diandra menatap punggung dalfi yang semakin menjauh dari pandangan nya.
"Andaikan saja kau tahu kak, yang sebenarnya aku katakan tadi adalah hal yang sebenarnya , Jika saja aku mengatakan hal yang sebenarnya apa kita masih bisa sedekat ini kak? Diandra bertanya dalam hatinya.
Dalfi mengendarai mobilnya keluar dari mansion utama, untuk pergi ke perusahaan Wijaya menemui pujaan hatinya yang selama beberapa hari terakhir tidak bertemu karena terlalu sibuk dengan pekerjaan nya .
dalfi bersiul dengan hati gembira, karena akan segera bertemu dengan kayla, walau kayla masih selalu mengacuhkan nya, namun dalfi masih tetap berusaha keras untuk mendapatkan hati seorang kayla.
Setelah sampai di perusahaan Wijaya, dalfi pun langsung menuju ruangan kayla, namun kayla tidak berada di ruangannya.
kemudian ia keluar dan mencari kayla di ruangan kakak nya, dan benar saja kayla, Rio dan dalfa berada di satu ruangan yang sama sedang membahas soal proyek baru yang akan mereka bangun di luar kota.
ceklek
Dalfi masuk tanpa mengetuk pintu dahulu, hingga dalfa, rio dan kayla pun melihat ke arah pintu.
dalfi hanya tersenyum memamerkan gigi putih nya, " Maaf apa aku mengganggu?"
namun tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan dalfi, mereka bertiga kembali pokus dengan rencana pembangunan proyek baru mereka yang akan di laksanakan secepat mungkin.
dangan sabar dalfi duduk di sofa, menunggu mereka sampai selesai, "Sebenarnya apa saja yang sedang mereka bicarakan, kenapa lama sekali" gamam dalfi .
sudah satu jam dalfi menunggu dengan berbagai pose dan gaya duduk nya, namun ketiganya masih membahas proyek yang sama yang akan mereka kerjakan.
"Semua akan indah apa bila di adakan taman bermain atau waterboom untuk anak-anak, agar anak-anak tidak merasa bosan saat menginap di penginapan kita nantinya." kayla memberikan usulan nya.
"Kau benar juga, anak-anak pasti akan sangat bosan jika liburan mereka tidak melakukan apapun."
"bagaimana menurut anda tuan?" kayla bertanya kepada big bos nya.
"Baiklah uruslah semuanya dengan sempuna, dan kau rio kirimkan semua datanya pada email ku"
"Iya tuan"
akhirnya diskusi mereka tentang proyek baru pun selesai.