
Benar kata om Budi, sudah hampir masuk waktu isya' kami baru sampai dirumah ibu. sampai rumah sudah ada Dinda, ayah serta bi Sari istri dari om Budi.
"Ayo masuk mba."ucap Dinda seraya menggandengku masuk kedalam rumah.
"Ayo. Din bawa itu plastik yang warna putih isinya cemilanku."jawabku sambil berlalu masuk kedalam kamar. begitu sampai kamar aku langsung membaringkan tubuh diatas ranjang.
"Mba ini taro disini aja sementara waktu,"ucap Dinda seraya meletakan tas besar dipojokan.
"He.m, aku mau bersih-bersih badan dulu Din. ayo antar,"ucapku sambil berlalu kekamar mandi diikuti Dinda dari belakang.
Setelah selesei bersih-bersih badan aku segera kembali kedepan, sampai depan sudah ada bibi oom ayah sama ibu sudah duduk ngobrol didepan tv.
"Ros gimana kabarnya sehat semua kan?"tanya bi Sari seraya mengelus perutku.
"Baik bi, sehat semua. bibi sendiri gimana sehat kan bi?"tanyaku pada bi Sari.
"Baik Ros. makan dulu yuk nanti kamu terus istrahat ya,"ucap bi Sari seraya beranjak pergi menuju dapur.
Kulihat om Budi tengah ngobrol serius sama ayah entah apa yang diobrolin, sementara Dinda masih didalam kamarnya."bu apa Dinda masih kerja ditempat yang lama?"tanyaku pada ibu.
Dinda kerja disebuah bank swasta dikampung ibu, setau aku Dinda dekat sama bosnya bahkan ibu sama ayah pun dekat. aku merasa sedikit kawatir jika ada yang diincar dari bosnya Dinda.
"Iya Ros masih, Dinda betah banget bosnya juga baik sama Dinda pengertian,"jawab ibu sambil memijat kakiku yang setengah berbaring menyender di dinding.
"Bu bukanya aku gak suka kalo Dinda kerja disitu, tapi aku ko merasa kalo bosnya Dinda itu ada perasaan ya bu ke Dinda,"ucapku pelan-pelan takut didengar oleh bi sari serta Dinda.
"Ibuu juga awalnya gitu Ros, tapi Dinda sudah bilang kalo antara dia sama bosnya gak ada apa-apa selain hubungan antara bos sama karyawan,"jawab ibu.
"Dan ibu percaya, kita gak tau bu apa terjadi antara mereka. karna mereka tiap hari ketemu tiap hari berasama, aku pribadi kawatir bu,"ucapku pelan sangat pelan hanya ibu saja yang bisa mendengar.
"Kita mikir positivnya aja Ros, kamu sesekali kasih tau Dinda biar dia gak kebablasan,"jawab ibu pelan. obrolan kami berhenti karna ada bi Sari, terus terang saja gak enak kalo sampai obrolan kami terdengar bi Sari.
"Ayo makan sudah kusiapkan dimeja makan mba."panggil bi Sari.
"Ayo, biar kupanggil Dinda supaya bisa makan bareng-bareng."jawab ibu seraya berlalu menuju kamar Dinda.
Sedangkan aku sama bi Sari, kami berjalan meuju meja makan. begitu sampai segera kududukan tubuhku dikursi.
Kulihat ada banyak menu yang dihidangkan malam ini mungkin saja menyambut kedatanganku."banyak amat bi menunya,"ucapku seraya menghitung banyaknya macam menu makan malam.
"Iya dong, ini semua bibi yang masak untuk menyambut kedatangan ponakan bibi."jawab bisari seraya menoel pipiku yang cuby.
Harus kalian tau semenjak hamil berat badanku naik drastis, dari yang tadinya cuma 48 kg sekarang sudah mendekati 60 kg hihihi.
"Hahaa bibi tau aja kalo aku makanya banyak."ucapku seraya tertawa diikuti bi Sari, tak lama ibu serta Dinda sudah bergabung dimeja makan.
Begitu pula ayah sama om Budi juga sudah bergabung. setelahnya kami semua makan dengan lahap terutama aku. entah kenapa rasanya semua masakan begitu nikmat aku sampai kekenyangan, aku jadi teringat mas Rendy kalo ada dia pasti semakin nikmat makan malam kali ini.
Sesudah makan malam kami semua kumpul diruang tv, mengobrol seraya menikmati siaran tv. akupun ikut serta menimpali beberapa obrolan yang memang benar-benar aku paham, selebihnya aku berbalas pesan dengan mas Rendy.
"Ya Ros, kapan Rendy nyusulin kamu kesini?"tanya ibu
"Entah bu. pokoknya setelah selesei ngurus bpjs aku mas Rendy langsung kesini,"jawabku seraya mengelus-elus perutku yang kembali bergelombang.
"Memangnya bisa dipakai Ros bpjs mu itu, kalo nanti lahiran disini?"tanya bi Sari.
"Bisa bi. yang namanya bpjs itu bisa dipakai dimana saja, asal masih di indonesia. bibi sama oom minep sini kan?"tanyaku seraya memasukan kelanting udang kedalam mulutku.
"Iya lah Ros, bibimu ini lebih betah disini ketimbang drumah sama oom."jawab om Budi kali ini angkat suara, setelah sedari tadi asyik dengan ponselnya.
"Enggk gitu Ros. bibi kesepian banget kalo dirumah, apalagi gak ada Kurnia dan kamu tau sendirikan oomu sering pergi."jawab bi Sari pelan tapi masih bisa kami dengar.
Petrlu kalian tahu ya dikampung ibuku ini mayoritas penduduknya petani padi begitu pula dengan kedua orang tuaku.
Namun beda dengan om Budi, beliau tinggal didesa sebelah jarak satu jam dari desa ibuku dan didesa om budi mayoritas penduduknya budidaya udang dan banyak yang sukses.
Contohnya om Budi dan adiknya ibu yang bungsu hidupnya justru lebih makmur jika dibanding om Budi.
"Tidak apa-apa bi, aku justru senang kalo bi Sari sering minap disini semakin ramai. apalagi nanti kalo aku lahiran."jawabku seraya menguap.
"Kalo ngantuk tidur saja ros, nanti biar ditemai dinda. ibu gak kuat kalo make kipas angin sedangkan kamu semalam suntuk harus selalu hidup kipasnya."ucap ibuku, dan aku maklum kalo dipaksa nemenin aku bisa-bisa besok pagi ibu dirawat malah repot.
"Yaudah ayo Din mba ngantuk."jawabku seraya berjalan menuju kamar. sampai dikamar segera kujatuhkan tubuhku keatas ranjang.
"Mba kipasnya jangan diarahin kebadan kita, aku bisa tiada kalo kaya gitu."ucap Dinda seraya menarik selimut tebal menutupi tubuhnya sebatas leher.
"Iya inikan sudah mba arahin ketembok,"jawabku seraya mengarhkan kipas angin menghadap tembok.
Sambil berbaring aku memperhatikan Dinda yang tengah bermain ponsel, kadang tertawa kadang kayak ekspresi marah kadang juga mukanya datar biasa aja.
"Din mba tau kamu sudah dewasa. mba juga tau gimana rasanya kalo sedang jatuh cinta, tapi minta jangan kalo sama bos kamu. dan alasanya pun kamu sudah tau tanpa harus mba jelaskan,"ucapku seraya memiringkan tubuh menatap kearah Dinda.
"Iya mba Dinda tau, mba tenang aja gausah kuatir. yang utama sekarang kehamilan mba, aku udah gak sabar pengen cepet-cepet ketemu sama ponakanku,"jawab Dinda seraya mengelus perutku yang buncit.
Ketika Dinda mengelus perutku kurasakan ada pergerakan didalam.
"Wahh mba dia bergerak, halo anak ganteng ini onty dinda."ucap Dinda lagi seraya mencium perutku.
Wajar saja dia begitu ingin aku lahiran dirumah pasalnya dia begitu antusias membelikan banyak kebutuhan untuk calon keponakanya, mulai dari kereta dorong, baby bouncer, baby walker baju dan masih banyak yang lainya.
Aalagi setelah tahu jika keponakanya laki-laki Dinda semakin senang sampai-sampai hampir setiap hari telpon tanya kapan pulang kerumah ibu kita.