
Pagi ini aku bangun sedikit siang, jam setengah 6. biasanya aku selalu bangun jam 5 lalu masak untuk sarapan mas Rendy.
Namun hari ini aku sedikit sungkan karna ada Dava, takut keganggu dan juga ruang geraku gak leluasa ada laki-laki lain drumahku. begitu bangun aku gegas kekamar mandi untuk membersihkan tubuhk.
Selesei mandi aku baru mulai memasak, belum selesei masak ternyata Dava sudah lebih dulu bangun dibanding mas Rendy.
"Pagi Ros, sedang apa?"tanya Dava, masih dengan muka bantal serta rambut acak-acakan semakin menambah tingkat ketampananya.
"Ehm iya pagi, buat sarapan."ucapku pelan sambil menunduk, entah kenapa aku benar-benar gugup untuk berbicara langsung dengan Dava.
"Apa setiap pagi kamu selalu masak Ros sebelum pergi kekantor?"tanya Dava sambil mendudukna tubuhnya dikursi makan.
"Iya. ehm mau teh atau kopi, sekalian aku mau bikinin mas Rendy?"tanyaku sambil mengambil 3 gelas teh, pagi ini hujan sedikit lebat entah kenapa tiba-tiba aku juga ingin minum teh.
"Teh saja Ros."jawab Dava, sambil terus memperhatikanku.
Setelah selesei membuat teh segera ku taruh didepan Dava, tak lama mas Rendy juga bangun lalu gabung bersama Dava.
"L sudah bangun mas, ujan-ujan apa tetap mau berangkt kerja?"tanya maa Rendy sambil mendudukan tubuhnya dikursi sebelah Dava.
"Kerja mas inikan hari pertama, masa udah harus izin,"jawab Dava sambil tertawa.
Kubuat roti bakar untuk menemani kopi mas Rendy, begtu selesei membuat roti segera kupersilahkan untuk dinikmati. aku sendri mengmbil 1 potong lalu memakanya dengan cepat.
"Mas antar aku bawa payung ya biar gak kujanan."ucapku sambil memberasihkan gelas bekas tehku.
"Bareng aku saja Ros, ngapain minta anter."ucap Dava.
Aku baru ingat jika Dava bawa mobil, tapi sungguh aku tak ingin hanya berdua denganya. aku takut perasaanku semakin menggila aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.
"Terserah kalo mau bareng Dava yang, malah gak repot bawa payung."jawab mas Rendy santai sambil menikmati kopi dan roti bakar.
"Enggk mas. kitakan beda arah nanti Dava kesiangan, aku ganti baju dulu."ucapku.
Sebelum berlalu pergi aku sempat melihat kekecawaan dimuka Dava. begitu masuk kamar aku segera mengganti baju dan bersiap, tak lama mas Rendy menyusulku masuk kedalam kamar.
"Sayang apa tidak bareng Dava saja biar tidak keujanan?"tanya mas Rendy lembut sambil mengusap kepalaku.
"Mas Rendy malas mengantrku yaa karna hujan,"jawabku sambil memeluk tubuh mas Eendy dari depan.
"Bukan malas sayang, tapikan ini ujan deras kalopun pakai payung juga masih tetap basah.
nanti kamu kerja make baju dingin malah masuk angin, kasian dedek bayi."jawab mas Rendy panjang lebar.
"Jadi aku hari ini berangkat kerja bareng sama Dava?"tanyaku lagi.
"Iya sayang gak apa-apa kan nanti sore aku jemput janji."jawab mas Rendy.
Ahirnya aku mengalah, aku keluar dari kamar bersama mas Rendy. kulihat Dava sedang memakai sepatu dia juga sudah siap dengan pakaian kerjanya.
"Hai Ros, barang aku saja."sapa Dava sambil tersenyum.
"Iya aku numpang sama kamu."ucapku pelan.
"Yaudah ayo jalan nanti kesiangan, mas Rendy aku jalan dulu ya,"pamit Dava pada mas Rendy.
"Iya sayang hati-hati!"jawab mas Rendy sambil mengecup keningku, kulirik Dava sekilas dia sudah masuk kedalam mobil.
...ΩΩΩ...
Dalam perjalanan menuju kantor, aku hanya diam sedangkan Dava focus menyetir.
"Ros apa kamu bahagia sama Rendy?"tanya Dava padaku.
"Pertanyaan macam itu, sudah jelas aku bahagia kamu lihat sendri kan aku sedang hamil."ucapku ketus, aku sungguh kesal dengan pertanyaan Dava.
"Kenapa si Ros kamu gak mau terbuka sama aku? kita ini kenal sudah hampir 15 tahun."ucap Dava sambil terus menatapku.
"Yang benar saja kamu Dav mana mungkin aku bisa terbuka sama kamu, seandainya aku terbuka sama kamu apa yang aku dapatkan?"tanyaku sambil menatap tajam kearah Dava.
"Kita bisa seperti dulu lagi Ros, aku cerita sama kamu begitu pula sebaliknya."jawab Dava enteng, aku tertawa sinis mendengar jawaban Dava.
"Haha yang benar saja kamu, aku ini wanita bersuami sedang hamil dan kamu sebentar lagi menikah."ucapku.
"Tapikan keluarga,"ucapan Dava kupotong segera.
"Cukup Dav cukup, kita ini sudah masa lalu kita sudah selesei sebelum dimulai. segera cari kontrkan dan pindah Dav aku mohon."ucapku.
Tak terasa air mataku sudah jatuh, bayangan masa lalu selalu menyelimuti diriku, aku terkepung aku terpenjara apalagi setelah kehadiran Dava.
"Ros maafkan aku, aku gak berniat membuatmu sedih maafkan aku."jawab Dava sambil menepikan mobil.
Dava mendekat hendak memeluku, segera kumundurkan tubuhku dan kugelengkan kepalaku memberi isyarat.
"Hampir 5 tahun aku menunggumu Dav aku selalu bersamamu tapi seolah tak ada. apa yang tidak aku lakukan untukmu?
Semua kulakukan demi kamu, ya memang kita tidak sepdan makanya kamu tidak pernah menganggapku ada. jadi sekarang tolong jangan datang lagi Dav,
Susah payah aku membuka hati untuk mas Rendy, susah payah aku melalui hari-hariku tanpamu. pergilah Dav pergi jauh dariku dan ingat jika menikah jangan undang aku Dav."ucapku sambil mengis tersedu.
Begitu lama aku menahan semua ini sendrian, hingga ahirnya hari ini tiba aku bisa ungkapkan dengan Dava.
"Ros, apa kmu ingat aku begitu benci ketika aku tau kamu pacaran sama Febry? aku sangat benci Ros aku tidak rela kamu bersama Febry, baik Febry ataupun yang lainya.
Apa kamu lupa Ros jauh-jauh aku rela jemput kamu, aku rela terlambat demi menunggumu? betapa senangnya aku ketika aku dengar kamu dan aku satu kota ketika pkl.
Aku sering datang kekosanmu bahkan menyusulmu ditempatmu kerja?"tanya Dava, Dava menatapku begitu tajam mukanya memerah serta matanya berkaca-kaca.
"Aku cinta sama kamu Ros, tapi untuk saat itu aku masih belum bisa mengutrakan perasanku. karna aku sadar aku buruk bahkan sangat buruk, aku gak rela Ros kamu nikah sama orang lain, aku gak rela kamu hamil anak orang lain."ucap Dava berteriak dangan suara bergetar.
Aku semakin tersedu mendengar semua pengakuan Dava, namun apapun itu aku tidak mungkin bisa bersama lagi.
"Dava pergilah jauh dariku, lupakan aku lupakan semua tentang kita. aku ingin hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu. begitupun dirimu bahagialah dengan pendampingmu. kudoakan semoga kamu bahagia."ucapku pelan hampir tak terdengar karna aku sambil menahan tangis.
"Aku cinta kamu Ros sungguh, sedari kita bersama. kita bersama dari kecil Ros kita selalu bareng Ros.
Aku selalu merindukanmu Ros hampir setiap malam aku memikirkanmu. aku berhubungan badan dengan Sinta tapi selalu bayangan kamu yang muncul."ucapan Dava terhenti ketika aku beteriak.
"Hentikan. cukup Dava turunkan aku disini,aku jalan kekantor!"triaku, sungguh aku tidak kuat mendengar ucapan Dava. darahku terasa mendidih jantungku berdebar kencang.