
Reya mematut diri di depan cermin kamar pas. Gaun hitam membalut tubuhnya dengan sempurna. Bahan satin yang lembut itu terlihat sederhana sekaligus elegan pada saat yang sama. Bentuk A-line menampilkan badannya yang proporsional. Panjang gaunnya sebatas lutut, menunjukkan kaki-nya yang jenjang.
Hanya rambutnya yang terlihat tak bisa diselamatkan. Rambut panjangnya tergerai bebas, terlihat sedikit mengikal bekas diikat. Bagaimana lagi? Dia tidak punya waktu untuk ke salon. Tapi, setelah dilihat-lihat lagi, ternyata tidak burukburuk amat. Rambutnya jatuh menimpa pundaknya yang terbuka karena kerah sabrina pada gaun, menimbulkan perpaduan hitam dan putih yang eksotik.
Reya tersenyum puas. Untuk sebuah penampilan yang mendadak, sepertinya tidak terlalu mengecewakan. Jika mengecewakan, itu salah Rad sendiri yang mengajaknya ke acara resmi tanpa pemberitahuan.
Rad memintanya untuk ikut dalam acara ulang tahun pemilik stasiun TV yang menayangkan programnya. Acara itu memang privat, tidak disiarkan di stasiun TV yang bersangkutan. Namun, Rad meyakinkan bahwa acara itu tidak akan kalah megah dengan acara wisuda mahasiswa. Rad bahkan rela menunggu sampai Reya selesai bimbingan dengan mahasiswa untuk memastikan Reya ikut. Tapi, karena sudah terlalu sore, mereka tidak sempat pulang.
Rad akhirnya memberi solusi— mereka akan mampir ke butik dahulu untuk memperbaiki penampilan Reya. Kemeja flanel longgar dan jins hitam yang dia pakai tentu tidak cocok untuk menghadiri pesta tersebut. Setelah memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya, Reya keluar dari kamar pas. Rad menunggunya di kursi, tempat para pria tersiksa menunggu kekasihnya memilih baju. Pria itu tengah sibuk menelepon dan tidak memperhatikan keberadaannya. Reya sudah menyarankan supaya Rad menunggu di kafe yang ada di mal sementara dia mencari baju. Tapi, Rad menolak. Katanya, kalau dia dibebaskan, bisa jadi Reya akan menghabiskan waktu semalaman untuk memilih baju.
Selain itu, ada gunanya juga Rad ikut ke butik. Reya harus mengakui bahwa Rad mempunyai selera yang bagus untuk baju-baju perempuan. Gaun hitam ini juga salah satu rekomendasi Rad.
Reya berdeham, mengabarkan keberadaannya. “Oke. Mis is good. Let’s go,” katanya sambil berjalan melewati Rad, menuju ke kasir.
Pria itu mengikuti Reya dari belakang, masih sambil mengobrol dalam bahasa Inggris, membicarakan mengenai janji bertemu untuk interview. Tepat di depan kasir, Rad mengakhiri pembicaraannya. Sambil mengeluarkan kartu kredit dari dompet, pria itu menatap Reya lekat-lekat. Terus begitu selama beberapa detik, sementara penjaga kasir memproses kartu kreditnya.
“What?” tanya Reya jengah. “Apa kelihatan kalau saya belum mandi?”
Rad menggeleng cepat. Sebuah senyuman muncul di bibirnya. “Pretty.”
Reya mengerutkan dahi, kemudian ikut tersenyum mengejek. “Susah ya menjadi pendamping Rad. Berat di kartu kredit.”
Rad tertawa lebar. “Mau pakai daster juga kamu sudah cantik di mata saya. But, Darling, jins dan kemeja nggak bisa dipakai untuk acara formal seperti ini.”
Reya manyun. Semakin manyun saat melihat mbak-mbak penjaga kasir ikut tertawa mendengar rayuan Rad.
Acara itu digelar di sebuah ballroom hotel VIP. Ruangan dengan langit-langit megah yang diukir dengan lukisanlukisan Eropa abad pertengahan itu terlihat luar biasa megah. Musik jazz melantun merdu dari musisi terkenal yang sedang mengisi acara di panggung. Sejauh mata memandang, Reya menemukan wajah-wajah yang sering ditemuinya di layar kaca.
Rad sibuk membalas sapa-sapa yang ditujukan kepadanya. Terutama dari perempuan-perempuan cantik dalam balutan gaun-gaun seksi. Reya mendadak merasa tidak nyaman. Ini jelas-jelas dunia yang asing baginya. Di sini, dia tidak bisa bersaing dengan argumen, hasil belajarnya selama bertahuntahun, karena semua orang jelas memperhatikan penampilan. Reya yakin dirinya terlihat seperti upik abu meskipun tadi Rad jelas-jelas memujinya ‘pretty’. Reya lebih percaya diri bersaing di ruang sidang dengan argumennya daripada di depan layar kaca dengan penampilannya.
Reya mengalihkan mata dari sosok Luna Maya yang sedang berpose di depan kamera. Mereka tertahan karena Rad bertemu teman lamanya, seorang pria Tionghoa yang datang bersama perempuan cantik. Reya mengedarkan mata ke sekeliling ruangan. Hingga matanya menemukan sosok yang dikenalnya di kejauhan.
“Tiara,” desis Reya lirih. Ekspresinya lalu berubah masam saat melihat sosok yang di sebelah Tiara. “Hario,” tambahnya masih dalam bisikan untuk diri sendiri.
Entah sekarang dia harus senang atau sedih. Seharusnya senang karena setidaknya dia mengenal dua orang lain di dunia asing ini. Tapi, seharusnya sedih karena Hario masih menjalin hubungan pura-pura atau apalah itu dengan Tiara. Reya menghela napas, lalu menunduk, menatap kedua kakinya yang saling bertaut. Tingkahnya seperti anak kecil yang kalah dalam permainan.
“Yuk.” Rad menyentuh lengannya.
Barulah Reya mengangkat wajah. Sialnya, Rad membawa Reya ke arah Tiara dan Hario. Reya menggigit bibir. Rasanya dia ingin menarik tangan Rad dan mengajaknya putar arah. Tapi, dia tahu tingkah seperti itu sangat konyol. Reya menghela napas saat Tiara dan Hario menyadari keberadaannya. Keduanya terlihat salah tingkah. Ini kali kedua Reya bertemu Tiara sejak insiden ranjang tiga bulan yang lalu. Dia masih tak habis pikir bagaimana sahabatnya itu bisa mengkhianatinya sedemikian rupa. Padahal—
Reya tersentak ketika sebuah tangan melingkari pinggangnya dengan protektif, membawanya lebih dekat ke Rad. Dengan cepat Reya menoleh, meminta penjelasan pada suaminya itu. Tapi, Rad hanya tersenyum manis, mengajaknya terrus melangkah, melewati Tiara dan Hario yang masih salah tingkah.
Sepanjang acara Rad benar-benar menempelnya dengan ketat, entah mengapa. Pria itu tidak membiarkan Reya jauhjauh dari jangkauan. Padahal, Reya sudah berkali-kali melirik sofa nyaman di pojok ruangan. Mata dan kepalanya berat karena ia sudah beraktivitas sejak pukul delapan pagi. Mungkin karena itu Reya tidak berminat nimbrung obrolan Rad dengan teman-temannya. Dia hanya berkomentar sesekali jika ada yang bertanya. Selebihnya, ia lebih banyak memperhatikan lampu gantung di tengah-tengah ballroom.
Ketika dia menguap untuk keempat kalinya, Reya tak tahan lagi. Sebaiknya dia cuci muka sedikit. Mengikuti petunjuk Rad, Reya mencari toilet yang berada di sebelah kanan ballroom. Koridor itu terlihat senyap. Gelak suara dari ballroom terdengar samar-samar. Sambil mengucek mata dan menguap beberapa kali, Reya menyusuri koridor menuju ke toilet di ujung.
Setelah membasuh muka dan memperbaiki make up-nya yang luntur, Reya segera keluar dari toilet. Rasanya, dia bisa ketiduran jika terlalu lama di sana. Koridor itu masih sama sepinya. Suara stiletto-nya bergema ke seluruh ruangan. Namun, ada seseorang yang berdiri tak jauh dari toilet, membuat Reya berhenti melangkah. Hario. Pria itu menyandar ke dinding di belakangnya, terlihat seperti menunggu. Ketika menyadari kehadiran Reya, Hario tersenyum lebar.
“Rey,” sapanya sambil melangkah mendekat. “Senang sekali ketemu kamu di sini.”
Reya bergeming. Ada rasa senang di hatinya ketika Hario melepaskan diri dari Tiara dan menemuinya. Tapi, dia segera teringat kesepakatannya dengan Rad.
“Aku berpikir untuk mengajakmu keluar dan cari makanan di jalanan depan. Bagaimana menurutmu?” tanya Hario. “Kita bisa keluar dari pintu belakang. Lewat tangga.”
Sebuah ajakan yang menggiurkan. Menikmati kuliner pinggir jalan di malam hari, sebagaimana yang dulu sering mereka lakukan bersama.
“Tiara?” tanya Reya tanpa sadar.
“Nggak masalah. Nanti aku bilang sama dia. Lagi pula, tugasku sudah cukup malam ini.”
Reya menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Aku nggak bisa, Hario.”
Senyum cerah di wajah Hario lenyap. “Kenapa?”
“Aku ... punya suami, Ri.”
Hario tidak segera menjawab. Pria itu menatapnya lekatlekat, seolah memilah-milah ekspresinya. Reya menatap jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya, enggan balas menatap Hario karena dia tahu itu bisa menggoyahkan hatinya.
“Aku nggak bisa begitu saja jalan dengan pria lain di belakang suamiku,” tambah Reya tidak tahan.
“Do you love him?” tanya Hario.
“It doesn’t matter whether I love him or not, but,” Reya menatap pria itu tepat di mata, “aku menikahinya.”
Ada jeda sekitar tiga detik, sebelum Hario tersenyum. “Okay. I wish you a happy life.”
“Manks.”
Hario memeluknya singkat, sebelum meninggalkannya sambil tersenyum. Reya tahu, kali ini dia benar-benar berpisah dengan Hario. Reya menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan pandangan nanar. Ingin rasanya dia meneriakkan pertanyaan yang membebani pikirannya. Tidak bisakah kamu menungguku setahun lagi, Ri?
Reya menggeleng-gelengkan kepala. Itu tidak adil untuk Hario. Tidak adil meminta orang lain menuggu sementara dia sendiri tak yakin apa yang akan terjadi selama setahun ke depan. Dia tak bisa menjanjikan apa pun karena dia tak tahu apa pun. Dia tak mau membuat kesalahan-kesalahan lain akibat keputusan yang tergesa-gesa. Saat ini, yang perlu dia lakukan hanyalah menyelesaikan kesepakatannya dengan Rad. Setelah semua beres, baru dia bisa membuat rencana.
Oke. Setahun doang, Rey. Nggak lama. Nggak akan lama.
Sekali lagi Reya menghela napas. Dengan langkah berat, dia kembali ke ballroom, mencari-cari sosok Rad.
Orang yang dia cari duduk tak jauh dari pintu keluar, sedang mengobrol dengan seorang perempuan yang memakai dress merah darah seksi. Reya memicingkan mata, tak asing dengan paras perempuan itu. Mungkin dia pernah melihatnya di televisi, entahlah. Terlalu banyak artis di sini. Tapi, yang jelas, mereka berdua terlihat akrab. Ada rasa kesal dalam diri Reya. Bagaimana mungkin, setelah memintanya untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan gosip—sementara dia baru saja mematahkan hatinya sendiri dengan sepenuhnya meninggalkan Hario, pria itu malah asyik-asyikan dengan perempuan lain? Mana yang katanya dia paham cara menghargai pernikahan? Hah!
***
“Belum tidur, Nduk?”
Reya tersenyum mendengar suara ibunya. Jika sedang sadar, hanya mendengar suara ibu atau ayahnya saja sudah bisa membuatnya tersenyum.
“Belum, Bu. Lagi ngerjain disertasi. Ibu lagi apa?”
“Ini habis bikinin mi goreng buat Ayah. Malam-malam minta makan.”
Reya tertawa kecil mengingat kebiasaan random ayahnya. Kadang, di dini hari ayahnya kelaparan dan minta dibuatkan mi goreng. Kalau Ibu sedang lelah, Ayah akan keluar untuk membeli mi goreng matang beberapa bungkus. Lalu, Ibu akan membangunkan anak-anaknya untuk makan mi goreng, pukul satu dini hari.
“Kuliahmu kapan beres tho? Kok perasaan lama banget.”
Reya tertawa lagi. “Kalau nggak ada hambatan, Reya sidang bulan Juni.”
“Terus setelah itu? Kamu mau ambil sekolah lagi?”
“Belum tahu, Bu. Mau fokus ngajar dulu.”
“Mbok ya udahan sekolahnya. Mau cari gelar sebanyak apa lagi sih, Nduk? Sudah saatnya kamu urus suami. Sekolahnya sudah cukup. Sekarang waktunya membina keluarga.”
“Iya, Bu, iya. Ini juga dilembur biar cepat selesai sekolahnya.”
“Nak Rad ndak apa-apa kamu tinggal lembur begini?”
Reya tersenyum kecut. Rad bahkan belum pulang sampai saat ini. Kalau saja ibunya tahu bahwa dia dan Rad hanya bertemu beberapa kali minggu ini. Rad selalu sibuk. Terkadang dia mendengar suara sepatu Rad pukul dua malam. Dan paginya, pria itu sudah pergi sebelum dia bangun. Reya malas memikirkannya. Kalau memaksa memikirkannya, dia malah berpikir Rad bertemu dengan merah seksi-merah seksi yang lain.
Dan dia juga malas memikirkan apakah itu benar atau tidak. Yang penting, dia sudah melakukan apa yang pria itu minta sebagai wujud penghargaan atas komitmen yang mereka buat. “Nggak kok. Rad ngerti kalau Reya lagi ngejar sidang.”
“Yowis. Pokoknya jangan sampai pekerjaanmu bikin kamu lupa sama kewajibanmu sebagai istri lho. Itu cita-citamu sejak dulu, kan? Jadi wanita karier sekaligus jadi istri yang baik. Seimbang.”
“Iya, Bu.”
“Oh iya, Nduk. Kalau ndak ada halangan, adikmu sama Rayhan mau nikah bulan Agustus. Kemarin sudah ketemu tanggal baiknya.”
Senyum Reya mengembang. “Syukurlah.”
“Ya sudah. Kamu istirahat, Nduk. Jangan bergadang terus.”
“Iya, Bu.”
Lima detik setelah ibunya memutuskan sambungan, Reya masih memandangi layar ponsel. Akhirnya, Lia dan Rayhan bisa menikah. Reya selalu merasa bersalah setiap kali mengingat tentang tertundanya niat baik Lia dan Rayhan hanya karena dia belum menikah.
Senyum tipis menghiasi bibir Reya. Setidaknya, ada satu manfaat dari pernikahannya dengan Rad.
***
Pukul dua dini hari Rad tiba di rumah. Tubuhnya bau rokok dan alkohol bukan main. Dia memang hanya meminum beberapa sloki alkohol yang bahkan tidak membuatnya mabuk. Namun, suasana kelab malam yang didominasi asap rokok dan aroma alkohol menempel di mana-mana.
Ada banyak faktor yang membuat Rad mendatangi kelab malam minimal sekali dalam sepekan. Tidak bisa dipungkiri bahwa tempat itu, selain menyediakan hiburan, juga menyediakan peluang bisnis bagi pengusaha seperti dirinya. Banyak pebisnis yang datang ke sana baik dengan tujuan yang sama atau berbeda. Tak jarang pertemuan dengan seseorang di sana berlanjut pada sebuah kerja sama bisnis yang menguntungkan.
Hari ini, dia bertemu dengan Seno Suwandi, seorang produser kawakan. Pria setengah baya itu menawarinya untuk memegang sebuah program TV tentang kuliner. Tugasnya mudah. Hanya jalan-jalan dan memasak. Sejak menjadi juri di sebuah kompetisi memasak bertaraf nasional tahun lalu, yang disiarkan di TV yang juga milik Seno Suwandi, namanya melejit. Sudah banyak tawaran untuk acara serupa, namun Rad belum berminat. Untuk tawaran kali ini, Rad berpikir untuk mempertimbangkannya. Kelebihannya ada pada jalan-jalan. Memasak yang ditawarkan oleh Seno Suwandi bukan memasak di dapur studio bersama bintang tamu-bintang tamu seksi seperti yang sudah-sudah. Memasak ala Seno Suwandi adalah Rad berkeliling ke pelosok-pelosok Indonesia, bahkan luar negeri, dan mempelajari resep-resep tradisional daerah tersebut, kemudian mencoba memasaknya.
Rad mengambil air mineral dingin dari kulkas di dapur. Sebelum memasuki kamarnya, Rad melirik pintu cokelat yang terletak di seberang kamar. Reya pasti sudah lelap. Rasanya dia jarang melihat perempuan itu seminggu terakhir. Bukan salah Reya, memang dirinya yang sedang sibuk mempersiapkan akademi tata boga yang ingin dia dirikan. Dia sibuk ke sana kemari untuk mencari mitra kerja.
Meskipun demikian, Rad tahu hubungan keduanya semakin membaik. Reya sudah mau tinggal di rumah di akhir pekan. Beberapa kali bahkan mereka memasak atau menonton film bersama. Reya juga bisa mengobrol berlama-lama dengannya. Jelas ini kemajuan. Akhir pekan lalu, mereka ke bioskop berdua karena kebetulan mereka sama-sama penasaran dengan film Soekarno, yang katanya akan segera dicabut dari layar lebar karena kontroversial.
Tiba-tiba Rad teringat dua pesan yang diterimanya sore tadi. Satu pesan dari teman lamanya yang kini tinggal di Kalimantan dan satu lagi SMS dari mamanya, yang segera berubah menjadi telepon saat dia tidak segera membalas. Mengingat hal itu, Rad refleks berjalan menyeberangi ruangan menuju kamar Reya. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu, namun menjadi ragu saat melihat jam sudah menunjukkan pukul dua pagi.
Tapi, dari lampu kamar yang masih menyala, kemungkinan Reya masih terjaga. Rad mempertimbangkan sejenak, sebelum memutuskan untuk coba-coba. Diketuknya pintu cokelat itu perlahan.
Ketukan pertama tidak mendapat respons. Rad memutuskan untuk mengetuk sekali lagi. Saat ketukan kedua juga tidak mendapat respons, Rad memutuskan bahwa Reya memang sudah tidur. Namun, baru dua langkah dia berjalan, pintu di belakangnya terbuka. Wajah Reya menyembul. Gadis itu sudah memakai piama dan sandal kamar tidur. Tapi, kacamata berbingkai hitam masih menempel di hidungnya. Rambut panjangnya juga hanya diikat asal-asalan.
“Hai. Sudah pulang?” tanya perempuan itu dengan senyum tipis.
“Hai,” jawab Rad senang. “Belum tidur?”
Dari celah pintu kamar yang terbuka, Rad melihat laptop Reya masih menyala. Buku-buku dan diktat bertebaran di atas meja.
“Belum.” Reya menguap lebar.
“Ngerjain apa?”
“Ngerjain bab dua. Besok pagi deadline terakhir.”
“Disertasi?”
“How are you?” tanya Rad.
Perempuan itu menoleh, lalu mengerutkan dahi dan tertawa lebar. Rad tahu pasti apa yang ditertawakan. Rumah tangga macam apa yang mendiami atap yang sama, tapi bertanya ‘how are you?’ selarut ini?
“Tiga malam ini saya menghabiskan stok kopi,” jawab Reya.
Tanpa diminta, Reya curhat panjang lebar mengenai apa yang dilakukannya tiga malam terakhir. Kemarin malam dia harus membaca dan mengoreksi dua skripsi mahasiswa yang harus dia uji siang tadi. Malam sebelumnya, dia harus menyelesaikan jurnal penelitian tentang politik adat berdasarkan sebuah penelitian yang dia lakukan bersama beberapa teman dosen. Dua tugas itu membuatnya melupakan tugasnya sendiri, yang seharusnya diselesaikan di awal pekan dulu. Profesor pembimbingnya sudah mulai ngambek karena diabaikan. Besok pagi adalah deadline terakhir yang dia berikan supaya Reya menyetorkan bab dua disertasinya. Jika tidak bisa, lebih baik sidangnya ditunda semester depan. Dan itu artinya, dia harus menambah biaya sendiri karena beasiswa S3 yang dia dapat maksimal hanya untuk dua tahun masa studi.
“Jangan terlalu kejam pada diri sendiri,” komentar Rad. “Kamu bukan robot, Reya.”
“I have no choice, Rad. Ah ya, tadi kamu mau ngapain?” tanya Reya, sambil menunggu kopinya turun ke bawah. “Bukan cuma mau nanyain kabar saya, kan?”
“Itu salah satunya.” Rad tertawa lebar sambil menggaruk belakang kepalanya. “Sama satu lagi, Mama minta kita ke Bogor besok pagi.”
Reya mengalihkan pandangannya dari teko kopi ke Rad. “Besok ada arisan keluarga. Acara ini digelarnya dua bulan
sekali. Biasanya sih sehari semalam. Kebetulan besok itu lokasinya di rumah Bogor.”
Gadis itu tidak segera menjawab. Dia malah mengambil cangkir dan menuang kopi hitam pekat dari teko.
“Tapi, kalau kamu nggak bisa, ya nggak apa-apa. Saya bisa datang sendiri.”
“Bisa.” Reya menghirup uap panas yang mengepul dari cangkir kopinya sambil memejamkan mata. Terlihat benar dia sangat menikmati aroma kopi arabica itu. “Deadline saya jam delapan pagi kok.”
“Yang benar?
Reya mengedikkan bahu. “Pasti keluargamu bertanyatanya kalau saya nggak datang sama kamu. Jam sembilan dari sini apa kesiangan?”
Rad menggeleng. Reya keluar dari pantri dengan cangkir kopi. Gadis itu bejalan kembali ke kamarnya.
“Rey,” panggil Rad. Reya menoleh dengan alis terangkat. “Istirahat,” katanya singkat.
Reya tersenyum lebar, lalu kembali ke kamar tanpa menjawab. Lagi-lagi Rad menggaruk belakang kepalanya. Dia tak yakin Reya bisa pergi ke Bogor esok pagi. Itu artinya, dia harus mengarang alasan yang sangat masuk akal sehingga keluarganya tidak akan banyak bertanya. Sambil melepas dasi, Rad berjalan menuju kamarnya sendiri. Otaknya berpikir untuk tidak usah datang saja. Namun, dengan segera pilihan itu tereliminasi, mengingat Jessy bisa ngambek dan mamanya bisa menelepon menyuruhnya datang—dari rumah sakit.
***
Pertama kali Reya datang ke rumah Pramoedya, rumah itu sepi karena dihuni oleh tiga orang yang tidak bisa dibilang muda lagi. Satu di antaranya, Eddie Pramoedya. Ia adalah Rad versi lebih tua.
Hanya ada suara televisi di pos satpam dan lagu dangdut dari arah belakang. Bi Inah bisa pusing kalau nggak mendengarkan dangdut sehari aja, kata Rad saat Reya bertanya. Tapi, saat ini rumah megah itu terasa sesak. Mobil-mobil berjejalan di garasi dan halaman. Suara riuh rendah terdengar bahkan sejak Reya dan Rad turun dari mobil.
Reya menatap Rad yang juga baru turun. “Rame banget,” katanya sedikit khawatir.
“Kalau sepi, namanya upacara bendera.”
Reya menghela napas panjang-panjang, membuat Rad menatapnya dan tersenyum geli.
“Seharusnya kamu se-nervous ini saat saya membawamu ke sini pertama kali.”
Reya balas menatap suaminya. Benar juga, jawabnya dalam hati.
Meski sudah pernah bertemu semua keluarga Rad waktu acara pernikahan, Reya belum pernah benar-benar berinteraksi dengan keluarga Rad selain Papa, Mama, Soraya dan suami, Nadia dan suami, serta Jessy. Paling-paling hanya saling bersalaman saat resepsi. Menilik dari riuhnya suara, Reya bisa membayangkan jumlah om dan tante, pakdhe dan budhe. Ini aneh. Bahkan ketika bertemu Papa, Mama, dan Oma, dirinya tidak segugup ini. Rad tidak banyak membantu. Pria yang hari ini hanya memakai celana selutut dan kaos oblong itu sibuk mengambil tas dari kursi belakang sambil bersiul-siul. Tidak tahu istrinya sudah mulai berkeringat dingin.
“Ayo. Ini nggak akan lebih mengerikan daripada sidang tesis.”
Berusaha menepis kecemasannya, Reya membayangkan sedang dalam suasana sidang doktoral yang akan dialaminya setelah disertasi selesai nanti. Suara riuh itu pasti suara penonton. Bisa jadi itu suara para guru besar dewan penguji yang sedang membicarakan disertasinya. Reya memejamkan mata, menghela, serta mengembuskan napas dua kali. Tangannya memegangi ujung kaos Rad.
“Waaah, ini dia nih. Pengantin baru!”
Reya membuka mata. Suara riuh yang didengarnya di depan memang tidak menipu. Rumah besar itu bahkan terasa sempit. Reya bisa menandai beberapa wajah sebagai dua kakak perempuan Rad beserta suami-suaminya. Om Johan, adik Papa Rad, dan istrinya. Lalu, ada Opa James, adik kandung Jessy, yang duduk di kursi roda. Dan wajah-wajah lain yang pernah dia lihat tapi tak tahu namanya. Sementara Rad hanya cengar-cengir, Reya memasang senyum terbaiknya. Rad salah. Ini terlihat akan lebih mengerikan dari acara sidang tesis. Reya sedikit menyesal tidak berdandan lebih layak. Celana kapri krem dengan blouse putih ini jelas terlalu kasual. Apalagi dengan scarf dan kacamata lebar yang tidak mampu menyembunyikan matanya yang sipit karena kurang tidur.
“Om Chef!” Seorang anak perempuan berumur sekitar lima tahun berlari mendekati Rad. Dua ekor kudanya berayun-ayun. “Om Chef!”
“Hi, Honey!” Rad langsung menyambut gadis kecil itu dengan gendongan. “How are you doin’, Sweety?”
Reya terselamatkan saat Jessy dan Sintya, Mama Rad, memanggilnya sebelum memeluknya erat-erat beberapa kali.
“Are you okay, Honey? Kamu kelihatan pucat?” tanya Jessy. Reya meringis. Kurang tidur berhari-hari karena harus membaca naksah-naskah skripsi mahasiswa untuk diuji, ditambah nervous yang datang tiba-tiba, tak heran wajahnya sepucat mayat. Empat jam tidur sepanjang perjalanan tentu tak sebanding dengan waktu tidurnya yang hilang selama beberapa hari ini.
“I am ßne, Jessy, Ma,” jawab Reya. “Cuma kurang tidur.”
Setelah memastikan Reya baik-baik saja, Sintya mulai membawanya berkeliling, memperkenalkan secara kasual pada setiap orang yang hadir. Keluarga Pramoedya ternyata sangat besar. Jika dibuat peta silsilah, Reya langsung membayangkan peta silsilah keluarga Sirius Black di film Harry Potter. “Kalau sama-sama sibuk, terus kalian ketemunya kapan?” tanya Diandra, sepupu Rad, cucu dari Opa James. “Aku aja yang nggak kerja cuma bisa santai sama Mas Bram kalau akhir
pekan.”
“Kita ketemu setiap pagi dan malam sebelum tidur,” jawab Reya dengan senyum lebar. “Kami sarapan dan nonton TV bersama sebelum tidur. Aku dan Rad merasa itu cukup.”
“Lagian, kenapa kamu nggak di rumah aja sih?” Tante Dewi, ibu dari Diandra menambahi. “Toh Rad pasti bisa ngasih kamu nafkah. Kamu nggak perlu kerja.”
Reya meringis lagi. “Tante, saya bisa stres kalau tiap hari cuma diam di rumah menunggu Rad pulang.”
“Ya kan bisa mengerjakan sesuatu di rumah? Bisnis online, misalnya. Jadi, kamu selalu ada waktu suamimu pulang ke rumah.”
“Tapi, saya—”
“Lagian yang Tante dengar, istri yang bekerja di luar berpotensi selingkuh lebih besar daripada yang full ibu rumah tangga.”
Reya menelan ludah. Pikirannya dengan segera melontarkan protes-protes atas pernyataan saudara jauh suaminya itu. Bagaimana dengan suami? Kenapa hanya istri yang dibebani potensi selingkuh itu? Tapi, tentu semua pertanyaan itu hanya bisa dia tanyakan dalam pikirannya. Beruntung Sintya segera menggamit lengannya dan mengajak Reya ke dapur.
“Jangan didengerin,” kata Sintya dengan nada rendah. “Tantenya Rad yang satu itu memang agak menyebalkan.”
Reya hanya tersenyum kecut.
“Mama nggak masalah kok kamu kerja. Rad juga nggak. Setiap rumah tangga punya aturannya masing-masing. Itu urusan kalian. Selama kamu dan Rad nggak ada masalah, ya berarti nggak ada masalah.”
“Ma.” Reya meraih tangan mertuanya. Lalu, dipeluknya perempuan tua itu penuh sayang. “Mama beneran mertua idaman,” katanya.
Sintya tertawa kecil. “Mama punya dua anak perempuan, Rey. Tiap hari ada aja yang dikeluhin soal mertua.” Sintya mengelus punggungnya. “Mama nggak mau kamu begitu.”
“Makasih ya, Ma.”
“It’s okay, Honey. Bantu Mama nyiapin makan siang, yuk.” Dibantu Bi Inah dan Soraya, kakak sulung Rad, mereka mulai menyiapkan hidangan untuk makan malam. Acara keluarga ini biasanya diawali dengan arisan dan diakhiri dengan olahraga bersama besok pagi. Reya dan Rad melewatkan arisan karena datang terlambat.
“Rad udah ngebet banget jadi bapak kayaknya,” Soraya berbisik di telinganya.
Reya langsung berjengit menoleh dan menatap kakak iparnya heran. Yang ditatap mengedikkan dagu ke satu arah. Reya mengikuti isyarat Soraya dan menemukan Rad sedang dikerumuni oleh anak-anak kecil. Dalam gendongannya ada Sarah, putri tunggal Soraya, yang memanggil Rad ‘Om Chef’. Entah apa yang sedang menjadi topik pembicaraan forum makhluk-makhluk kecil itu. Tapi, terlihat bahwa Rad begitu excited dikelilingi anak-anak kecil.
Soraya tertawa geli. “Dia om favorit bagi semua anak kecil di sini. Sarah, kalau udah telepon omnya, mereka bisa ngobrol berjam-jam.”
Reya masih memandangi Rad dan rakyat kecilnya. Pemandangan itu begitu lucu bagi Reya. Melihat Rad berinteraksi dengan anak kecil membuatnya senang. Padahal dia sendiri tidak terlalu suka pada anak kecil. Rasa tidak sabarnya sering kali membuatnya stres saat menghadapi anak-anak kecil. Tapi, sepertinya Rad memiliki itu semua.
“Kalian nggak menunda untuk punya anak, kan?”
Reya lagi-lagi seperti tersengat lebah mendengar pertanyaan itu. Sialnya, pertanyaan itu keluar dari Sintya, yang memandangnya dengan rasa ingin tahu.
“Biasanya pasangan yang sama-sama berkarier suka menunda punya anak. Sebaiknya, kalian nggak. Kamu sama Rad udah nggak muda lagi, lho.”
Reya menelan ludah. Pikirannya mendadak tidak mau diajak bekerja. Sekali lagi ia menelan ludah, berusaha memikirkan sebuah jawaban dan sebuah alasan. Tapi, tak ada inspirasi yang muncul di kepalanya. Sampai kemudian sebuah lengan kuat mendarat di pundaknya, merangkulnya dengan hangat.
“Kok istriku diumpetin di dapur mulu sih, Ma?”
Itu suara Rad. Reya mengucap syukur dalam hati. Pria itu datang di saat yang tepat.
“Daripada dia dicecar sama tantemu?”
Rad menunduk menatap Reya. “Kamu kena serangan apa dari Tante Dewi?” tanyanya dengan nada geli. “Cuekin aja. Diandra sama Tante Dewi emang gitu orangnya. Suka nyinyir.”
Reya berusaha tertawa. “Setiap keluarga punya tante-tante model begitu. Kamu pasti kaget kalau ketemu keluarga besar saya.”
“Kenapa?”
“Hampir semuanya begitu.”
“Oh, ya? Seram amat?”
“I know.”
“Itu sebabnya kamu malas pulang ke Yogya sejak lulus kuliah?”
Reya meringis kecut. “Kamu juga pasti males kalau tiap pulang selalu dapat pertanyaan ‘mana pacarmu?’, ‘kapan nikah?’, ‘jangan terlalu lama, kamu udah tua’, ‘seumuranmu, Budhe udah punya Tyo’.” Reya mengerutkan dahi seolah membayangkan, lalu meringis lagi.
Rad tertawa lebar dan mengacak rambut Reya. Hal itu membuat Soraya langsung berdeham sebal.
“Bisa nggak kalau mesra-mesranya nanti aja di kamar?
Banyak anak-anak nih.”
Rad mencibir. “Sirik aja!”
“Eh, pertanyaan Mama tadi belum dijawab sama Reya,” Sintya menyela.
“Pertanyaan apa?” tanya Rad.
“Jadi, kapan kalian mau ngasih Mama cucu?”
Rad bisa merasakan perempuan di sebelahnya menahan napas. Kepalanya sendiri mendadak gatal. Rad mulai menggaruk-garuk kepala. Sementara wajahnya menyunggingkan cengiran salah tingkah.
“Nanti, Ma,” jawab Rad cari aman.
“Kapan? Jangan nunda-nunda. Kamu sih enak tinggal bikin. Kasihan Reya yang melahirkan.”
Reya menghela napas. Awkward moment seperti ini sudah pernah dia pikirkan sebelumnya. Sesempurna apa pun kesepakatan yang dia buat dengan Rad, selalu ada efek samping akibat dari status resmi di antara mereka.
Tapi, Reya sepertinya salah. Awkward moment yang sebenarnya bukan pertanyaan soal bayi ini, melainkan malam nanti, saat semua terlelap.