
Pagi-pagi sekali ibu sudah mengetuk pintu kamar, dan kulihat mas Rendy juga udah gak ada sepertinya udah bangun lebih dulu.
"Ros apa iya perutmu sudah sakit?"tanya ibu begitu masuk kekamar.
"Ehm iya bu dari semalam. tadi juga pas aku buang air kecil ada darahny yang keluar bu,"jawabku pelan dengan suara serak.
"Yaudah nanti setelah sarapan kamu ke klinik saja Ros periksa. ayo bangun dulu jalan-jalan,"ucap ibu seraya berlalu dari kamar
Dengan gerakan pelan kuturunkan satu kakiku lalu aku berjalan menuju kamar mandi, setelah buang air kecil kulihat sudah lebih banyak darah yang keluar dan perutku semakin mulas.
Setelah selesei dengan urusan dikamar mandi aku segera keluar dari kamar menuju dapur."bu mas Rendy mana ya?"tanyaku pada ibu, karna tak kulihat mas Rendy duduk dikursi meja makan.
"Jemur pakaian Ros. pagi-pagi banget Rendy sudah nyuci baju,"jawab ibu sambil memotang sayuran.
Tak lama Dinda juga keluar dari kamar sudah rapi dengan setelan kerjanya."Mba Rosa udah mau lahiran ya?"tanya Dinda seraya mengelus lembut perutku.
"Kayaknya iya Din. soalnya udah mulai mulas juga udah keluar darah sedikit,"jawabku.
"Apa aku gak usah kerja aja ya mba?"tanya Dinda semangat, dia sudah janji jika aku lahiran mau nungguin.
"Kerja aja Din. lagian mb yakin lagirnya pasti nanti malam, nanti periksa dulu kalo udah bukaan banyak kamu mb kabari,"jawabku seraya mengelus kepala Dinda. aku sama Dinda layaknya sahabat apapun kami saling berbagi cerita, kami saling menyayangi satu sama lain.
"Iya deh oke mba. aku jalan dulu asalamualaikum,"pamit Dinda sambil mencium tanganku ibu tak lupa mencium tanganku.
Setelah kepergian Dinda, aku menemui mas Rendy yang tengah menjemur baju disamping rumah. sampai disana ternyata mas Rendy sudah santai sambil main ponsel."mas udah selsei jemurnya?"tanyaku sambil mendudukan tubuhku dikursi sebelah mas Rendy.
"Lo sayang ko udah bangun, sengaja tadi gak mas bangunkan,"jawab mas Rendy seraya mengelus perutku.
"Sudah mas. mas nanti abis sarapan antar aku ke klinik ya, ini rasanya udah makin sakit dari semalam."ucapku sambil tangan menekan-nekan pinggang yang terasa pegal.
"Iya sayang. ayo kamu mandi dulu ya,"jawab mas Rendy seraya menuntunku menuju kamar mandi.
Selesei mandi mas Rendy segera mengambilkanku sarapan lalu menyuapinya, selesei sarapan kami bergegas menuju klinik guna memeriksakan kandunganku.
...ΩΩΩ...
Sampai dklinik aku segera meminta suster jaga untuk memanggil bidan Fitri, karna sudah terbiasa periksa dengan beliau jadi aku lebih nyaman kembali dperiksa bidan Fitri.
"Ada keluhan apa Ros?"tanya bidan Fitri begitu aku sama mas Rendy masuk kedalam ruangan.
"Bu dari semalam ko perutnya mulas, terus tadi pas pipis ada keluar darah dari jalan lahir,"jawabku sedetail mungkin.
"Yasudah ayo baring dulu Ros."ajak bidan Fitri sambil menuntunku berbaring dibrankar klinik. Tak lama bidan Fitri memakai sarung tangan putih lalau menyelimutiku dari sebatas perut sampai kaki.
Dengan telaten bidan Fitri menekuk kakiku menjadi posisinya seperti akan melahirkan.
"Ros tangan nafas bentar ya, rileks saja jangan tegang,"titah bidan Fitri.
Tapi tiba-tiba aku merasakan jari bidan Fitri sudah menusuk area intiku seketika aku kaget.
"Bu.."pekikku seraya menoleh ke arah mas Rendy yang masih setia menungguku.
"Gak apa-apa ini udah ko."jawab bidan Fitri seraya menarik jarinya dari initi tubuhku. ada sakit sedikit mulas juga rasanya benar-benar aneh, sangat jauh berbeda jika mas Rendy yang menusuk.
"Baru bukaan satu ya Ros. sebaiknya pulang dulu dan kamu rajin jalan-jalan supaya cepat nambah pembukaanya, nanti jika sudah gak kuat lagi boleh bawa sini ya Ros,"ucap bidan Fitri sambil melepas sarung tanganya lalu membuang kekotak sampah.
"Makasih bu. kami permisi,"pamitku dan dijawab anggukan oleh bidan Fitri. begitu sampai dirumah aku sudah disambut sama ayah serta ibuku.
"Gimana Ros?"tanya ibu penasaran.
"Udah bukaan satu bu. boleh pulang dulu nanti kalo udah sakit banget baru kembali ke klinik,"jawabku pelan.
"Yaudah kamu jalan-jalan saja dulu Ros. nanti kalo udah capek istrahat, Rend kabari ayah sama ibumu ya,"titah ibu ke mas Rendy.
"Ya bu nanti Rendy telpon,"jawab mas Rendy. aku langsung jalan-jalan diarea dalam rumah saja, karna rumah ibu sudah lebar jadi bolak balik didalam rumah pun sudah cukup.
Sebelum zuhur aku udah istirahat dan juga sakit diperutku semakin tak tertahankan, jarak datang juga perginya semakin sebentar mungkin ini yang dinamakan tambah bukaan.
Saat ini aku sama ibu tengah tiduran dikamar Dinda ibu dengan sabar terus mengusap lembut perutku, sedangkan mas Rendy sedari tadi bolak balik kemini market beli semua yang aku mau.
"Bu sakit banget ini perutnya gimana?"tanyaku sambil mencengkeram sprei. rasanya aku sudah tidak kuat lagi tapi bagaimana ini tinggal menunggu hitungan jam aku bisa bertemu sama adek bayi.
"Sabar ya Ros. ya seperti itu rasanya orang mau melahirkan sakitnya luar biasa,"jawab ibu sambil mengusap keningku yang berkeringat.
"Ya bu. mas Rendy mana si bu lama banget?"tanyaku kesal menunggu mas Rendy dari tadi gk pulang-pulang.
"Sebentar lagi ya,"jawab ibu simple. kadang sakitnya mereda kadang juga datang langsung dahsyat, yang kurasakan jika bertambah bukaanya bertambah pula kadar sakitnya,yaallah sakitnya ternyata seperti ini.
Om Budi sama bi Sari sudah berangkat kesini, om Rizal dan om Pandi pun sudah dikasih tau. perlu kalian ketahui aku ini ponakan tersayang di keluarga ibuku, jadi jika ada apa-apa yang menyangkut aku segera semua berkumpul.
"Sayang makan dulu ini mie ayamnya,"ucap mas Rendy sambil membawa mangkuk berisi mie ayam. entah kenapa aku seperti orang nyidam pinginya macem-macem.
"Suap mas,"jawabku pelan, menahan sakit hampir sepuluh jam ternyata menyita banyak tenaga, aku sekarang ini lemas karna merasakan sakit yang teramat sangat tidak bisa diceritakan.
"Ibu makan dulu. biar Rosa sama Rendy saja,"ucap mas Rendy dan langsung diangguki oleh ibuku. setelah ibu keluar dari kamar, mas Rendy segera memeluku.
"Mas sakit banget mas. aku gak kuat rasanya mau mati mas,"ucapku sambil menangis tersedu.
"Kalo mau dipanggil ibu ya harus seperti ini. kamu bisa aku yakin kamu bisa, kamu pengen cepet ketemukan sama dedek bayi?"tanya mas Rendy dan segera kujawab anggukan kepala.
"Kalau begitu kamu harus berjuang. sakit sebentar nanti kalo udah lahir pasti sembuh sakitnya, ayo makan dulu ya sekarang,"ucap mas Rendy sambil menyuapkan satu sendok mie ayam kedalam mulutku.
Saat tengah enak-enaknya makan kontraksi itu datang lagi, yallah hampir saja aku teriak saking sakitnya. namun aku teringat pesan ibu, tidak baik jika akan melahirkan lalu teriak-teriak untuk melampiaskan sakitnya, lebih baik menarik nafas sambil beristigfar.