After Wedding

After Wedding
menyebalkan



Dua hari sudah aku dirumah mertuaku, mas Rendy setiap malam selalu pergi main. bukan cuma malam siang pun main kadang sampai sore, kemarin kulihat uang didompetnya cuma tinggal 800 ribu. padahal hanya 4 hari itunganya disini, uang 3 juta kok tinggal segitu.


Gak heran sebenarnya, sedari bujangan memang mas Rendy sangat pintar menghabiskan uang. bahkan pernah dulu waktu belum punya anak, semalam mas Rendy hampir ngabisin uang 5 juta. tapi itukan dulu uang masih banyak dan kerjaan masih lancar, sedangkan sekrang kan susah kerjaan juga gak ada kebutuhan justru yang banyak. mikirlah sedikit jangan hanya mentingin nafsu, tanpa memikirkan yang lainya


Mas Rendy kalo sudah campur temanya mesti kaya gitu, gak punya pendirian tetap. udah tau tapi masih saja kaya gitu. udah berkali-kali aku tanya kapan dia mau pulang, soalnya kan tempat usaha yang kupakai budidaya udang itu sewa. dan kalo lama-lama dianggurin waktu nya terus berjalan, nanti aku yang rugi.


"Mas apa enggak pulang aja dulu tanam udang dulu?"tanyaku pada mas Rendy.


"Nanti dulu lah yang, biar aja dulu nganggur."jawab mas Rendy sembari main game mobile legend.


"Iya tapikan eman-eman mas nanti waktunya abis sia-sia."


"Lagian kan mas Rendy udah lama disini, dan gak ada kerjaan juga lo."lanjutku sembari melipat baju Ryu.


Mas Rendy langsung menatapku dengan tatapan tajam, aku yakin dia pasti marah gak trima aku nasehatin.


"Kenapa si Ros kalo aku dirumah orang tuaku kamu pasti cerewet banget pusing tau gak."Bentak mas Rendy.


"Mas, mikir dong usaha kita hanya itu kalo kamu kaya gini males-malesan gimana mau ngurus anak istri."tak mau kalah dari mas Rendy, akupun menaikan suaraku.


"Lagian apa kerjaanmu disini, cuman mainkan iyakan mabuk sama teman-temanmu. mau sampe kapan kamu kayak gitu, ingat mas Ada anak istri yang minta dinafkahi."lanjutku sembari menatap tajam kearah mas Rendy.


"Kamu gausah ngatur aku, aku sudah tahu kewajibanku jadi kamu gausah cerewet."hardik mas Rendy.


"Kalo kamu tau kewajibanku sekarang juga aku minta nafkah, mana nafkah untukku?"tanyaku sembari teriak.


Mas Rendy tak berkutik dia diam, mana bisa menjawab ucapanku. selama ini kan ibuku yang selalu nafkahin aku sama Ryu, mas Rendy rokok aja ngutang diwarung oomku.


"Kenapa diam ha? gak bisa jawabkan? ya gak bisa lah, selama inikan ibuku yang selalu nafkahin aku. mas Rendy boro-boro mau kasih nafkah, rokok aja ngutang."ucapku pedas sembari menatap tajam kearah mas Rendy.


"Iya memang oran tua kamu kaya bisa nyukupin kebutuhanmu, beda sama orang tuaku yang miskin gak bisa ngasih apa-apa."jawaban mas Rendy sedikit merendah.


"Iya memang itulah kenyataanya, orang tua kamu bukan miskin mas tapi pelit!!"


"Tapi aku juga gak sudi nerima bantuan dari orang tua kamu mas, aku males diungkit-ungkit sama ayah kamu itu."lanjutku sembari terus menatap mas Rendy.


"Terus aja kamu omongin orang tuaku yang jelek-jelek."mas Rendy kembali emosi ia kembali membentak aku.


"Aku bicara sesuai fakta aja mas, ingat-ingat apa yang yang udah dikasih sama orang tua kamu."


"Uang 10 juta saja jadi omongan dari mana-mana, ingat mas kamu kalo bukan karan uang dari aku. mungkin sampai sekarang kita belum bisa nikah!"aku juga berteriak didepan wajah mas Rendy.


Mas Rendy langsung diam, tapi tetap menatap kearahku. aku tidak peduli, semua yang aku ucapkan itu benar. bukan aku membuat-buat omongan, nyatanya mas Rendy kalo tidak make uangku sampai sekarang pasti belum nikah.


"Aku kesal aku kecewa sama orang tua kamu mas, tapi kamu apq mau ngertiin perasaanku? yang kamu mau aku akur sama orang tua kamu, aku hormat sama orang tua kamu. tanpa mikirin perasaanku."


"Ucapan yang ayah kamu lontarkan itu mas menyakitkan, kamu tidak apa-apa karna kamu anaknya. tapi tidak buat aku mas, aku ini orang lain seumpama."setelah bicara panjang lebar, aku segera masuk kedalam kamar mandi.


Kubasuh wajahku, untuk menenangkan gejolak amarahku. sungguh aku emosi mendengar ucapan mas Rendy, seandainya belum terlanjur punya anak aku lebih baik pisah saja darinya.


Menikah sama mas Rendy membuatku justru tersiksa dengan sifatnya, belum lagi kedua orang tuanya yang begitu pedas ucapanya dan juga pelit. Ya Allah apa dosaku begitu banyak sehingga dapet cobaan yang bertubi-tubi.


Puas dikamar mandi, aku segera kembali kekamar karna takut Ryu bangun. sampai dikamar ternyata mas Rendy sudah tidak ada, aku yakin dia sudah berkumpul sama temanya. demi apapun aku ingin rasanya meracun mas Rendy, karna melihat kelakuan dia setiap hari membuatku muak dan emosi.


...ΩΩΩΩ...


Jam 5 pagi aku sudah bangun, kulihat mas Rendy juga sudah tidur dibawah beralaskan matras. Ryu mengeliat lalu matanya terbuka sempurna, menatapku lalu tersenyum.


"Loh anak ibu sudah bangun yaa, Ryu mau susu?"tanyaku sembari menciumi Ryu.


Aku segera beringsut turun dari kasur, membuat susu untuk Ryu lalu naik lagi keatas ranjang. dan benar saja tak butuh waktu lama 1 botol susu sudah dihabiskan sama Ryu, Setelah minum susu langsung tengkurep.


Lama aku sama Ryu mainan dikamar, kutengok dari jendela sudah terang lalu aku mengajak Ryu keluar, dengan langkah yang sangat pelan aku berjalan dan membuka pintu. aku langsubg menuju dapur, sampai disana ternyata baru ibu mertua yang bangun.


"Lo cucu nenek udah bangun?"tanya ibu mertua sembari menciumi Ryu yang ada digendonganku.


"Sudah nenek."jawabku.


"Semalam Rewel enggk nduk Ryu?"


"Enggak bu, ya nangis karna minta susu itu aja bu."


"Ayah Ryu semalam pulang jam berapa? ibu denger motornya setelah itu ibu langsung tidur lagi."


"Enggak tau bu, aku bangun tadi pagi sudah tidur kok.".


Aku kurang semangat ngobrol sama ibu mertua, pokoknya setelah kejadian yang sudah-sudah aku jadi kurang respek sama keluarga mas Rendy.


"Yaudah bu aku mau ngajak Ryu jalan-jalan dulu."


"Onty mu mana Ryu? harusnya bangun terus jalan-jalan sama kamu."


"Ya nanti biar nyusul, aku duluan aja."pamitku sembari berjalan meninggalkan ibu mertua.


Kuajak Ryu berjalan kehalaman depan, sampai sana kulihat bi Melati sedang menyapu halaman. kebetulan rumah bi Melati ada sisebelah kanan rumah ibu, sedangkan rumah bude Kalim ada disebelah kiri. Dekat-dekat memang, makanya dulu mas Rendy gak betah tinggal dikontrakan pas awal-awal. alasanya karan sepi, sedangkan kalo dirumah ibunya kan rame dekat sodara.


Kulangkahkan kaki mendekati bi Melati yang sedang asik menyapu, bahkan kedatangankupun tak membuat bi Melati tau.


"Bi!"panggilku sembari menyentuh pundak bi Melati.


Seketika bi Melati melonjak karna kaget, aku sendiripun kaget melihat reaksi bi Melati.


"Astagfirulah mb Rosa."ucap bi Melati sembari mengelus-elus dadanya.


"Yampun bi lebay banget si."


"Bukan lebay ih, tapi emang kaget loh."


"Abisnya bibi asik banget nyapuny, sampai aku datang aja gak denger."ujarku sembari tersenyum.


"Loh ini Ryu sudah bujang, sini gendong mbh."ucap bi Melati sembari mengambil Ryu dariku.


"Ganteng banget si Iyu, putih lagi."ucap Bi Melati sembari menciumi pipi Ryu.


Bi Melati mengajaku duduk di dibawah pohon sawo, dan dibawah pohon sawo itu ada tempat duduk yang sengaja dibuat sama om Tio untuk santai.


"Berapa kg ini Ryu mba?"tanya Bi Melati setelah kami duduk.


"Berapa yah bi 8 kg kayaknya."


"Pantes aja mba, antep banget gendonganya. udah dikasih makan apa mba?"


"Ya belum toh bi, ini loh baru 4 bulan."


"Oalah kirain udah maem kamu nang."ucap Bi Melati sembari menciumi Ryu.


Tak lama kulihat mas Rendy datang menyusul, ia sudah membawa gelas berisi kopi. lalu duduk disampngku sembari menyapa bi Melati.