
Reya menatap bayangan dirinya di sebuah cermin besar kuno berbentuk oval dengan pinggiran berupa kayu jati merah yang mengilat. Cermin kuno tersebut memantulkan bayangannya. Seorang perempuan akhir dua puluhan balas menatapnya dengan sorot mata tegas. Rambut panjangnya dikepang ke samping. Sebuah terusan batik selutut yang dia kenakan memberikan aksen lembut pada penampilannya.
Reya tersenyum puas dengan penampilannya. Dan hidupnya. Selama hampir sepuluh tahun dia berkerja keras di ibu kota untuk pendidikan dan kariernya. Dirinya tidak berasal dari keluarga yang menganggap pendidikan tinggi itu penting. Terlebih perempuan. Budhe-budhe-nya berpikir bahwa karier terbaik bagi perempuan adalah ibu rumah tangga. Kedua orangtuanya adalah orang desa dengan pemikiran sederhana. Boleh saja perempuan bekerja untuk membantu perekonomian keluarga—ibunya juga bekerja dengan membuka katering kecil-kecilan. Tapi, perempuan tidak boleh melupakan bahwa tugas utama mereka adalah ibu rumah tangga.
Saat dia berusia tujuh belas, saat pengumuman penerimaan siswa baru, keluarganya tidak terlalu senang dia diterima di jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Kenapa ilmu politik?
Mau jadi apa kamu nanti setelah lulus? Kenapa nggak di IKIP saja, jadi guru?
Pertanyaan semakin menjadi-jadi saat Reya lulus S1 dan langsung melanjutkan S2 dengan beasiswa. Keluarganya selalu mempertanyakan apa yang dia cari dengan pendidikan setinggi itu.
Kini Reya, berdiri di depan cermin, puas dengan hidupnya dengan membuktikan bahwa seorang perempuan bisa berkarier di dunia luar, bukan hanya di dapur. Bahwa dirinya, meskipun perempuan, dapat hidup mandiri, baik secara finansial ataupun mental. Tapi, ternyata, itu justru membuat dengungan di keluarganya semakin besar. Saat dia memutuskan lanjut S3, Budhe berkata: Yo pantes kamu ndak nikahnikah. Orientasi hidupmu mung duniawi. Lupa kalau dirimu iku wong wadon5.
Yang Reya inginkan sekarang adalah membuktikan bahwa seorang perempuan karier dapat menjadi istri yang baik juga. Karena itulah dia memilih mencari orang yang tepat daripada menikah dengan orang yang ada. Reya yakin cinta adalah indikator serta penjaga dari keluarga yang bahagia. Dia tidak mau menikah hanya karena umur. Hanya karena keharusan, bukan karena kemauan.
“Tapi, apa yang kulakukan sekarang?” tanyanya dalam bisikan, sambil merapikan ikatan rambut panjangnya. Yang baru saja dia lakukan justru meruntuhkan prinsip-prinsip yang dia pegang teguh selama ini. Justru mengacaukan pembuktian yang dia rencanakan untuk keluarganya. Justru menghancurkan apa yang sedang dia perjuangkan. Kenyataannya, dia memang menikah dengan pria yang ada, bukan yang dia cintai.
Reya menghela napas dan berkata pada dirinya sendiri. “Well, apa pun yang terjadi, life must go on, Rey.”
Reya mengambil ransel, lalu memperhatikan sekali lagi kamar barunya. Sebuah kamar luas, bahkan terlalu luas, dengan desain rumah tradisional Jawa. Ranjangnya super besar dengan tiang-tiang penuh ukiran dan kelambu yang tertata apik. Ada sebuah lemari buku besar di sudut lain yang masih belum terisi. Rad sengaja menempatkan lemari itu untuk menampung buku-buku Reya yang masih ada di rumah Andini. Tadinya, ini adalah kamar tamu. Namun, atas kesepakatan mereka kemarin, perubahan kilat dilakukan sehingga dia bisa mendapatkan kamar sendiri.
Tak jauh dari lemari buku, ada seperangkat meja kerja di samping sebuah jendela kaca besar yang mengarah ke taman di samping rumah. Dinding pagar bagian samping seratus persen tertutup tanaman merambat. Halamannya berumput. Sebuah meja dan bangku taman dari besi bergaya vintage serta dinaungi atap dari rumbia ada di pojok halaman. Koran-koran bertumpukan di meja. Mungkin di sana Rad melakukan aktivitas baca korannya setiap pagi.
Rad, Reya menyebut nama itu dalam hati dengan helaan napas berat. Sesaat lagi, begitu dia keluar dari pintu jati cokelat itu, dia sudah menyandang nama baru. Sebuah identitas baru. Nama belakangnya akan hilang. Dia bukan lagi Reya Gayatri, tapi Reya Pramoedya. Dia bukan lagi Reya Gayatri M.Sos, tapi Ny. Radina Alied Pramoedya.
Reya menghela napas lagi. Buru-buru dia singkirkan segala kecamuk pikirannya. Teori-teori politik yang akan dia sampaikan di kelas nanti barangkali akan mengurangi rasa gelisahnya.
***
Rad menatap nasi gorengnya yang hampir matang. Aroma keju bercampur daging memenuhi dapur. Dalam waktu dua menit nasi goreng itu akan dihidangkan di sebuah piring putih yang sudah ia siapkan.
Bangun pagi bukan hal yang dia sukai meskipun kerap kali dia harus bangun subuh untuk mengejar pesawat. Jika sedang tidak ada yang benar-benar penting, matahari Rad terbit pukul delapan. Tak ada yang repot-repot menyiapkan makanan untuknya, termasuk Bu Suti sang pengurus rumah, karena Rad memang tidak pernah sarapan. Secangkir kopi hitam pekat sudah cukup menjadi energinya untuk memulai hari. Namun, hari ini, mengabaikan rasa kantuknya, Rad bangun pagi-pagi demi menyiapkan sarapan yang layak untuk istrinya. Menunggu Bu Suti tentu tidak bisa diharapkan karena perempuan itu akan datang sekitar pukul delapan. Sementara, dia tak tahu kapan Reya akan berangkat ke kantor. Seorang akademisi kampus biasanya berangkat pagi-pagi seperti mahasiswa. Rad ingin Reya tidak kekurangan suatu apa pun selama tinggal di rumah ini. Dia ingin menunjukkan bahwa menjadi istrinya tidak seburuk yang perempuan itu pikirkan.
Sambil menunggu nasi gorengnya matang, Rad menatap pintu cokelat yang terletak di depan kamarnya. Jaraknya sekitar lima meter dari dapur tempat dia berjuang menahan kantuk saat ini. Aneh sekali mendapati keberadaan orang lain di rumahnya. Rad terbiasa sendirian setiap malam. Bu Suti datang pagi dan pulang menjelang magrib. Hanya ada Pak Birowo yang selalu siaga di pos sekuriti. Rumah besar bergaya Jawa itu selalu sepi, terutama pada malam hari. Namun, dua malam ini terasa berbeda. Sama-sama sepi memang karena perempuan itu tidak banyak bersuara. Sejak datang ke rumah itu, Reya hanya keluar kamar seperlunya. Mengambil air putih, makan, dan memerlukan sesuatu yang tidak ada di kamarnya. Selebihnya perempuan itu mengurung diri di kamar.
Tidak ada yang berbeda sebetulnya. Namun, kehadiran perempuan itu terasa di mana-mana.
Tepat pada saat itu, pintu cokelat di hadapan Rad terbuka. Reya melangkah keluar dengan pakaian rapi dan tas ransel hijau tua. Rad tidak repot-repot mengalihkan pandangan atau pura-pura sedang melakukan sesuatu. Dia akan merasa lebih konyol jika melakukan itu. Kedua, karena pemandangan cantik di hadapannya terlalu sayang untuk dilewatkan. Perempuan itu terlihat manis dengan terusan batik berwarna pastel. Rambut panjangnya dikepang ke samping. Sedikit kekanakkanakan memang, namun cantik.
“Good morning!” Rad menyapa.
Reya menatapnya sekilas, lalu buru-buru menatap meja makan yang hanya terisi segelas susu dan secangkir kopi.
“Untuk saya?” tanyanya dengan nada datar.
“Yap! Tunggu tiga puluh detik dan nasi goreng super ini siap kamu makan,” kata Rad sambil mengaduk nasi goreng dalam penggorengan. “Duduk yang manis dan tunggu.”
Dengan gerakan kilat, Rad menuangkan nasi goreng ke dalam piring putih yang dia siapkan.
“Saya berangkat.”
Rad menoleh dengan buru-buru. Reya sudah menghabiskan segelas susu yang dia siapkan. Dan kini perempuan itu sudah mengeluarkan kunci mobil dari dalam tas.
“Nggak sarapan dulu?” tanya Rad. “Nasi gorengnya udah siap.”
Reya menggeleng, lalu melenggang pergi.
Di dapur, masih memegang piring berisi nasi goreng yang menaburkan aroma sedap ke mana-mana, Rad berdiri sambil menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya nasi goreng spesial yang sia-sia di tangan. Pria itu merasa usaha bangun paginya sia-sia. Padahal, dia masih bisa tidur pulas sampai saat ini.
“Persetan. Selamat makan!” katanya sambil mengambil sendok dan mulai menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya.
***
“Apa Rad nggak punya TV sampai lo masih nongkrongin rumah gue di jam segini?” tanya Andini, dengan alis yang bertaut dan mata menyipit penuh selidik.
Reya mengedikkan bahu sambil mengambil popcornnya yang tinggal remah-remah dan mengganti saluran TV. Tergeletak begitu saja pada meja di hadapannya, sebuah pigura besar—hadiah pernikahan dari mahasiswanya. Pigura itu berisi foto Reya yang tengah berkacak pinggang dengan ransel hijaunya yang terkenal. Anak-anak itu menambahkan pernakpernik lucu di sekitar foto yang entah mereka dapatkan dari mana. Ada gambar tumpukan buku-buku, donat, dan gitar. Tiga hal yang paling dia sukai. Ada juga tulisan-tulisan pesan dari mahasiswanya angkatan 2010 yang tersebar di sekeliling pigura. Kebanyakan memberinya selamat menempuh hidup baru. Beberapa berbentuk kalimat-kalimat konyol yang mengundang tawa. Tapi, satu hal yang tidak enak dipandang adalah foto Rad, entah mereka gunting dari majalah apa, yang berdiri berdampingan dengannya.
“Gue nemenin lo. Pasti lo kesepian sekarang karena tinggal sendirian.”
“Yah, siapa tahu. Seiring usia yang menua barangkali. ”
“Oh, My Godness! What the hell are you doing here, Reya Gayatri?!”
“Gue malas balik ke rumah itu!” Reya balas berteriak. Andini tidak segera menjawab. Selama beberapa detik, tangannya masih berkacak pinggang. Dahinya juga masih berkerut. Beberapa detik kemudian Andini mulai mengubah ekspresinya. Perlahan dia mendekati sahabatnya dan duduk di sampingnya. Sementara Reya masih memasang wajah masam sambil mengganti-ganti channel TV.
“Lo baru nikah tiga hari udah ribut?” tanya Andini heran. “Apa separah itu nikah sama artis?”
Reya tidak menjawab.
“Astaga, Rey, ini beneran nggak sehat. Tiga hari itu harusnya kalian masih bulan madu! Masih mengobral cinta setiap detik! Masih having sex tiap—”
“Din!” Reya menghardik. “Dari awal, pernikahan ini emang nggak sehat. Gue gila, Rad lebih gila lagi! Ada di rumah itu bikin gue kayak orang sakit jiwa!”
“What what—Rey, gue nggak ngerti.”
Reya menatap sahabat yang masih menatapnya dengan ekspresi bingung. Lalu, diembuskannya napas kuat-kuat. Seumur hidup, baru kali ini dia bingung bagaimana menyikapi keadaan.
“Gue cerita,” kata Reya. “Tapi, weekend ini gue nginep di sini, ya?” Karena dia tahu pasti Rad akan banyak menghabiskan waktu di rumah pada akhir pekan.
Alis Andini yang sudah terangkat, kini benar-benar menghilang di balik poninya. Kebingungannya semakin menjadijadi.
“Rey, rumah ini selalu terbuka buat lo,” jawab Andini serius. “Lo boleh nginep di sini kapan pun lo mau. Tapi, ini ... lo terkesan lagi lari dari Rad?”
“Yes, I am.”
“Jangan bikin gue migrain!”
Reya lagi-lagi menghela napas. Lalu, penjelasannya tumpah. Dia mulai bercerita dari A sampai Z. Dari rasa sedih karena adik-adiknya tidak bisa segera menikah hanya karena dia belum menikah, hingga rasa sedih karena kesadaran bahwa saat ini dia hidup dengan seseorang yang nyaris tidak dikenalnya.
“Dan lo menyadari hal ini di—”
“Malam pertama gue jadi istri orang,” jawab Reya sebelum Andini menyelesaikan pertanyaannya.
Kali ini Andini yang menghela napas panjang. Sedih karena kekhawatiran kecilnya menjadi kenyataan.
“Rey,” Andini menyentuh tangan Reya, “kita udah berapa lama sahabatan?”
Reya mengangkat alis mendengar pertanyaan Andini yang tidak nyambung. Apa-apaan, setelah dia curhat habis-habisan Andini malah mempertanyakan durasi persahabatan mereka?
“Ng ... dua belas tahun, mungkin? Entah. Gue lupa.”
“Well, Rey, demi Tuhan gue berharap bisa menghibur lo. Gue benci hal ini, tapi sebagai sahabat lo selama dua belas tahun atau lebih, gue bertugas untuk membantu mengembalikan otak lo ke tempatnya. Dan dengan sangat menyesal gue harus bilang kalau lo salah kali ini. FOR GOD SAKE!” Andini melotot. “Di mana pikiran lo, Rey? Di mana logika lo yang tingkat dewa itu? Lo terima dengan senang hati ajakan teman lo buat main hujan, tapi ketika lo kena flu, lo nyalahin teman lo? Oh! Gue nggak percaya seorang Reya bisa se ... se ... entahlah!”
Reya menghela napas berat. Kepalanya mendongak bersandar pada punggung sofa. Matanya terpejam, lelah. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Andini andai dia mengatakan yang sebenarnya. Dia tahu pasti karena sebenarnya dia pun tahu bahwa apa yang dilakukannya ini salah.
Dia tahu dia harus menghadapi masalah seperti orang dewasa. Tapi, apa orang tidak bisa memahami perasaannya? Berada di sekitar Rad membuatnya merasa tidak aman. Melihat Rad, membuatnya teringat pada buku kecil berwarna hijau yang dia simpan rapat-rapat di bawah tumpukan baju agar tidak tertangkap mata. Melihat pria itu membuatnya teringat kebebasannya yang kini tak ada, meski Rad menjanjikan kebebasan ketika melamarnya dulu. Rad mungkin mengerti, tapi orang-orang tidak. Dan dia membenci Rad karena itu.
“Dengerin gue,” Andini menepuk pahanya, “lo dan Rad udah menikah. Apa pun argumen yang mendukung penolakan lo, tetap aja udah sah. Dan Rad benar, Sayangku, pernikahan ini bukan cuma menyangkut lo, tapi juga Rad. Orangtua lo, keluarga lo, orangtua Rad, keluarga Rad. Keinginan lo mengakhirinya secara sepihak jelas-jelas egois!”
“Tapi. ”
“Lagi pula, Darling, nggak adil kalau lo menyalahkan Rad atas apa yang kalian SEPAKATI berdua.” Andini memberi tekanan berlebihan pada kata ‘sepakati’. “Jadi, satu-satunya jalan, lo harus terima kenyataan. Udah paling pas tuh solusi yang diambil Rad. Nah, sekarang saatnya lo menghormati komitmen yang udah kalian buat. Hormati kontrak itu. Jalani aja. Toh, setahun itu bahkan cuma seperempat dari masa S1 kita!”
“Gue. ”
“Sekadar saran, nggak ada gunanya lo menghindari Rad. Gue ngerti kalau lo merasa Rad itu orang asing yang sewaktuwaktu bisa saja berbuat buruk sama lo. Kita memang harus selalu waspada pada segala hal. Tapi, bukan berarti lo boleh memasang dinding permusuhan gitu sama Rad. Ada bedanya antara waspada sama memusuhi. Apa coba? Malah bikin lo semakin tertekan, kan?”
Andini mulai tidak terbendung. Reya tahu risikonya meminta saran Andini. Kalimat-kalimat sarkas dan kasar bisa muncul berselang-seling. Tapi, itulah Andini.
“Coba dipikir pakai kepala dingin. Mendingan mana, menjalani setahun dengan hubungan yang baik dan hangat atau menjalani setahun dalam rumah yang kaku dan penuh permusuhan? Percuma Rey lo punya gelar master kalo beginian aja malah galau nggak jelas.”
“Ya, gue—”
“Lagian, apa salahnya bersahabat dengan cowok kayak Rad? Oh, my Godness, itu impian semua cewek kali! Yaaa, walau gue pribadi lebih mimpiin yang lain-lain sih kalau menyangkut Rad.”
Reya semakin merosot di kursinya.