
Ini sudah hari keenam mas Rendy dirumah orang tuanya, tapi masih belum juga ada kabar kapan pastinya dia pulang kesini, aku juga sudah tak pernah lagi menghubungi. hanya kemaren ibu mertua nelpon dan menanyakan keadaanku, dasarnya aku sudah kesal jadi kujawab biasa saja.
Siang ini aku masih tidur tiba-tiba ibu masuk kamar lalu membangunkanku dengan terburu-buru."Ros bangun dulu itu Rendy sudah datang."ucap ibu seraya mengguncang pundaku lembut, aku yang masih antara sadar dan tidak hanya mengulet saja lalu kembali memeluk guling.
"Eh Ros yampun gimana anak ini suaminya datang malah ngebo,"ucap ibu, meski tidur nanmun aku bisa mendengarnya.
Tak lama ada suara mas Rendy menyahuti ucapan ibu."sudah bu biarkan saja, mungkin rosa masih ngantuk. aku belum lapar ko bu nanti saja makanya,"ucap mas Rendy samar-samar aku masih bisa mendengarnya.
Setelahnya aku kembali terlelap dan juga sudah tak lagi mendengar obrolan mas Rendy serta ibu.
"Bangun yang aku kangen,"bisik mas Rendy seraya mengecup leherku dari belakang.
mendengar mas Rendy memanggil aku antara sadar dan tidak.
Kubuka kelopak mata perlahan sedikit menyesuaikan cahaya lalu tatapan mataku perlahan turun keperut ada tangan kekar melingkar dengan segera kubalikan tubuh.
"Mas kapan datang?"ucapanku terhenti.
"Sst jangan tanya apa-apa dulu yang, sekarang aku butuh pelepasan."jawab mas Rendy langsung ******* lembut bibirku perlahan turun keleher disana mas Rendy memberikan kecupan-kecupan geli namun nikmat.
Tangan mas Rendy sudah masuk kedalam dress rumahanku lalu meremas buah dadaku meski masih terhalang bra.
"Mas buka pengaitnya sebentar."bisik mas Rendy seraya tanganya telurulur kebelakang melalui ketiak kanan kiriku lalu segera melepas pengait braku, setelah pengaitnya lepas segera tangan mas Rendy meremas buah dada kenyalku.
"Aku kangen ini. sekarang tambah besar."ucap mas Rendy seraya meremas lembut buah dadaku, aku menggelinjang nikmat bercampur geli. seketika semua amarah luruh seiring dengan kenikmatan yang mas Rendy berikan.
"Mas aku mau diatas," bisik sambil mengecup telinga mas Rendy.
Mas Rendy segera mengangkat tubuhku lalu mendudukanku tepat diatas perutnya."basahin dulu sayang biar gak perih,"ucap mas Rendy seraya mengecup buah dadaku.
Perlahan kuturunkan kepalaku meski agak susah terhalang perut besar, aku masih tetap bisa menyenangkan mas Rendy.
Entah kemana perginya amarah yang sudah kupendam berhari-hari, yang ada sekarang hanya kenikmatan. memang benar ya kata orang jika suami istri tengah bertengkar apapun masalahnya, solusinya hanya satu yaitu ranjang dan itu benar aku sendiri yang sudah membuktikanya.
...ΩΩΩ...
Sorenya setelah mandi aku masih dikamar, entah kenapa perutku rasanya gak enak banget. jadi setelah mandi aku memutuskan baring diatas ranjang saja.
"Ros kata Rendy kamu gak enak badan?"tanya ibu sambil membuka pintu kamar.
"Iya bu gatau nih tiba-tiba,"jawabku sambil mengusap lembut perutku.
Dengan segera ibu mendekatiku lalu menyingkap baju yang tengah kupakai."sekarang belum waktunya kan Ros?"tanya ibu, raut muka ibu kini sudah berubah menjadi panik.
"Ya belum bu. inikan haru masuk delapan bulan. kalo ahir bulan depan mungkin bisa jadi aku mau lahiran bu."jawabku sambil mendudukan tubuh lalu bersandar dipinggiran tempat tidur.
"La terus kenapa sakit perut gini?"tanya ibu denga posisi semakin mendekat padaku
"Yang benar Ros, kamu gak lagi boongkan sama ibu?"tanya ibu begitu penasarn.
"Yampun ibu, bukanya dulu ibu udah pernah ngerasain kok sekarang malah bingung."jawabku sambil tersenyum.
"La gatau Ros udah lama banget kejadianya ibu lupa."jawab ibu pelan.
"Iya bu itu benar, dan untuk sekarang lebih baik ibu keluar dulu. mas Rendy mau ganti baju."ucapku sambil menahan senyum melihat ekspresi ibu yang lucu.
"Ah iya ada anak mantu, yaudah ibu keluar dulu. jangan lupa cepat panggil ibu kalo ada apa-apa,"ucap ibu sambil berlalu keluar dari kamar. tak lama setelah ibu keluar, mas Rendy kamar lalu segera mengganti baju.
...ΩΩΩ...
Siangnya selepas makan siang bersama, aku sama mas Rendy sedang duduk santai diteras ditemani kopi juga cemilan."sayang ini duitnya ada tapi cuma sepuluh juta gak apa-apakan yang?tanya mas Rendy.
"Ya gk apa-apa mas, mungkin ayah cuma nyariin uang segitu,"jawabku sambil tersenyum." oiya mas besok pagi sebaiknya kita titip saja biar dimasukin atm sama Dinda,"jawabku pelan.
Jujur saja aku kurang senang dapat uang meskipun itu pinjam dan nanti suatu saat pasti dipulangin.
"Iya yaudah besok suruh bawa Dinda saja,"ucap mas Rendy seraya memijat kakiku.
Perlahan mas Rendy mendekat lalu memegang tanganku."Iya sayang berapun itu nanti kita kasih tau ayah sama ibu sini yang,"jawab mas Rendy dengan tersenyum lebar.
Aku bisa melihat gurat kebahagiaan diwajahnya, aku paham apa yang dipikirkan mas Rendy. namun sekali saja kità berbohong pasti bakal terus berbohong. hmm ulah mas Rendy sangat menyesatkan.
Waktu makan malam tiba, kami segera duduk rapi di kursi makan. sudah menjadi tradisi dirumah ibu jika makan harus bersama, agar terlihat makin hangat."Gimana Rend pesangon kamu udah cair?"tanya ayah seraya mendudukan dirinya dikursi tepat sebelahku.
"Cair yah, meski tidak banyak tapi cukuplah yah buat tambahan biaya persalinan Rosa."ucap mas Rendy seraya memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Iya Rendy, simpan yang baik karna nanti lahiran sudah tentu banyak biaya tak terduga lainya Rend. makanya kita juga harus menyiapkan uang cash,"jawab ayah sambil tersenyum.
Setelahnua kami semua mulai makan malam dalam tenang tidak ada obrolan diantara kami hanya bunyi sendok dan piring yang berdenting.
Selesei dengan acara makan malam, aku sama mas Rendy duduk diteras seraya mengobrol."Apa kabar adek bayi selama aku gak ada sayang rewel enggak?"tanya mas Rendy seraya mengelus perutku.
"Gak yah adek bayi pinter. malahan adek bayi yang jagain ibu,"ucapku seraya mengikuti suara anak kecil.
"Anak pintar, aku kemarin lama pulang kesini karna lagi ikut anak-anak kerja yang, lumayankan bisa buat beli rokok,"jawab mas Rendy.
Mendengar ucapan mas Rendy seketika ingatanku tentang kekesalanya pada mas Rendy kembali teringat.
"Kenapa ko ga bilang mas, malah bilangnya besok terus. padahal besoknya mah entah kapan."ucapku sewot. sedangkan mas Rendy hanya tersenyum melihat aku yang sewot.
Lama kami mengobrol ahirnya kuputuskan masuk kamar terlebih dahulu, sedangkan mas Rendy masih cari angin.
Begitu sampai dikamar segera kurebahkan tubuhku diatas ranjang, tak butuh waktu lama aku sudah terlelap, entah jam berapa mas Rendy masuk kedalam kamar yang jelas aku sudah tidur.